Kamis, 11 Agustus 2016

Pelukan Rica-Rica

Seekor tikus merica seekor sapi lewat whatsapp

Sapi balas mengeong dan meraung

Si Tikus tiba-tiba melembut dan berjanji besok datang

Datang-datang, sapi langsung dirica lagi

Belum sempat mengeong, sapi dibekap di dada

Memang dirica lebih enak kalau dipeluk

Rabu, 10 Agustus 2016

Ismail Marzuki

"Tahu lagu-lagunya?" tanyanya.

"Beberapa," jawab gue.

"Coba sebut apa aja."

Gue terkekeh, ketahuan bohong.

"Itu namanya nggak tahu."

Yang gue tahu cuma doi sepenting itu sampai dijadiin nama taman yang bukan taman. Ternyata banyak sekali lagu wajib jaman SMP ternyata ciptaan doi. Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Sepasang Mata Bola, Juwita Malam, Selendang Sutera, Bandung Selatan Di Waktu Malam...

"Gue ketemu istrinya di Dayeuh Kolot," katanya menceritakan betapa sedih dan terpinggirkannya akhir hidup mereka. Dia berjanji suatu hari akan membuat film tentang Ismail Marzuki, dan kisah cintanya dengan Eulis si penyanyi keroncong yang hidup terlupakan di ujung Bandung.

Sudah tiga puluh tahun berlalu.

Ismail Marzuki masih cuma taman di benak pemuda pemudi macam gua.

"Sedih ya? Banyak ide tapi gak dibuat-buat," katanya tanpa meminta dikasihani.

Sempat sedih, tapi langsung ingat Jodorowsky's Dune.

"Kayanya waktunya sebentar lagi," katanya menyemangati diri sendiri.

Gue mengangguk-ngangguk.

Senin, 08 Agustus 2016

Modif Savage Garden

I believe I place my happiness in my own hands
I believe that I am what I eat and what I wear
I believe my parents did the best job they knew how to do
I believe I'm loved  when I need no love
I believe love comes with no conditions
I believe the grass is no greener on the other side
I believe I can't control or choose my sexuality
I believe that trust is more important than monogamy
I believe my most attractive features are my heart and soul
I believe I should choose my family
I believe the struggle for financial freedom is unfair
I believe the only ones who disagree are millionaires
I believe transparency keeps me from being unfair
I believe forgiveness is the key to my own happiness
I believe that God does not endorse TV evangelists
I believe in love surviving death into eternity

I believe what I think of people will reflect onto me

Nyumput

"Haiii!" katanya.

Gue menyambut cipika cipikinya sambil bersyukur untung tadi gue sempat sisiran dan ganti baju yang gak bangun tidur banget. Tak menyangka kalau Mom's Bakery di jam 7 pagi akan dipenuhi banyak orang yang gue kenal.

Gak banyak sih. So far baru dua.

Dua banyaklah untuk ukuran subuh-subuh.

"Di dalam ada direktur kita," katanya menyebutkan sebuah nama yang gue curigai sama dengan orang yang kemaren gue email mintain duit.

Gue melipir, bersembunyi di balik Shema ketika keluar.

Cukup dua saja yang gue kenal pagi ini.

Minggu, 07 Agustus 2016

Bedol Baby

Seminggu ini gue sibuk mempersiapkan kepindahan Chica ke Bandung biar kamarnya higienis dan baby friendly. Kukira sudah packing si Chica.

Dua jam sebelum mobil box datang, belum juga dia packing.

"Udah masuk-masukin asal aja. Mumpung kopernya gede-gede," kata gue melihat Chica ogah-ogahan packing.

"Pusing gue mau pindahan," jawabnya.

"Di sini pun kau pusing. Apa bedanya pusing di Bandung?" jawab gue sambil terus memasukkan kulkas, dispenser, dan semua barang di list gue ke mobil box sementara Chica memilih-milih baju.

"Itu kasur geser sini," kata gue.

Chica tidak bergerak.

"Gue kan Ibu Menyusui," katanya malas.

"Bah... kau puas-puaskanlah. Dua bulan lagi gak bisa kau pakai alasan itu," kata gue sambil menggeser kasur.

Jam 9.30 tepat mobil box dan semua barang sudah berangkat menuju Bandung.

Satu setengah jam kemudian, baru Chica siap bersama berplastik-plastik barang yang 'lupa' kebawa mobil box.

Bandung, we come home.


Harta Mak Gondut

"Itu koper jangan dibawa. Masukin lagi," kata Mak Gondut melihat koper Delsey Deden yang selalu dia pakai karena paling mahal dikeluarkan dari lemari gudangnya. Enam koper besar-besar lain yang gak pernah dia pakai tapi gak rela dikasih orang boleh dipakai.

"Mi, koper yang itu untuk baju bayi. Kan yang lain udah berdebu. Kasihan kalau Sergie Shema bajunya kotor," bujuk gue mengeluarkan jurus Sergie Shema yang selalu ampuh untuk Mak Gondut.

Berangkatlah gue membawa 6 koper ke Jakarta. Mak Gondut ikut.

"Mami lagi gak punya duit ya. Kau kan yang bayar bensin?"

Gue mengangguk.

Padahal Chica.

"Sekarang Mami harus punya uang 85 juta sebulan untuk bayar cicilan rumah," raung Mak Gondut sedih.

Dia membeli 5 apartemen/ rumah kos biar bisa jadi passive income di hari tua. Harus dicicil selama 6 bulan ke depan. Tadinya mengharapkan salah satu rumah yang dia punya sekarang terjual. Taunya susah sekali.

"Tapi biasanya kalau kejual, pasti harganya bagus," kata Mak Gondut yakin mengingat pengalamannya dulu-dulu. Tidak mempedulikan ekonomi dunia tengah berubah dan kemungkinan orang sudah kebanyakan rumah.

Gue tergoda ngomongin investasi itu sebaiknya yang produktif buat masyarakat, jangan jual beli rumah. Negara ini masih butuh makanan, baju, dan pendidikan yang bagus. Kalaupun mau investasi di rumah, lebih baik invest di anak-anak muda yang bervisi membangun kota yang lebih inklusif, bukan cuma meraup keuntungan dari selisih harga jual atau sewa.

"Mami mau pisang goreng?" tanya gue.

"Mau. Sama koran Kompas ya."

Gue membayar.

Padahal Chica.

Jumat, 05 Agustus 2016

Raungan Mami

Pagi-pagi Mak Gondut udah pergi gerak jalan ke Tahura. Cepat-cepat gue masukkan gendang-gendang Papua dan perisai-perisai perang yang sudah belasan tahun numpuk di gudang ke mobil, siap dikasih ke group seni anak yang sepertinya bisa membuat gendang-gendang ini lebih berguna. Daripada jadi sarang tikus. Kasihan baby-baby nanti kalau rumahnya penuh tikus.

Pulang-pulang, gue disambut raungan mami.

"Itu kan mami simpan buat hiasan kalau Mami bangun rumah bambu nanti..."

Terpaksa perisai-perisai gue ambil kembali.

"Gendangnya?"

"Pinjem dulu ya. Nanti kalau rumah bambunya jadi, Atid ambil lagi."

Lalu Mas Ucup disuruh masukin barang-barang kembali ke Gudang.

Kamis, 04 Agustus 2016

Bad Boy

"My teacher and my mom always said I was a bad boy," katanya menyesal setelah temannya menangis.

"No, I know you are not a bad boy. I saw you being nice," kata mamak anak yang dibikinnya nangis.

Gue hanya diam-diam di kursi depan, no comment. Malas dekat-dekat anak itu.

Baru masuk mobil, dia udah teriak-teriak histeris 'you are not welcomed in this car'. Turun dari mobil, dia menusuk-nusuk pantat dan perut gue sambil teriak 'why is it so big'. Sebelumnya gue melihat dia memegang-megang dada teman gue padahal sudah dilarang.

"Dia selalu dimarahin ama orang tuanya, Tid. Kasihan," kata mamak si anak nangis mencoba sabar. Sudah sebulan si bad boy dan mamaknya di Indonesia, menginap di rumah mereka. Waktu dipeluk-peluk suaminya, si bad boy langsung melembut. Kelihatan banget kayanya dia kurang dipeluk bapak.

"So why do you think Indonesia is a sexist country?" tanya mamak si bad boy untuk disertasinya, setelah anak-anak berhasil diungsikan ke bioskop.

"I don't even know where to start," jawab gue diplomatis. Partly karena banyak sekali statement sexist yang diterima wajar di negeri ini. Partly karena gue merasa anaknya sendiri potensial tumbuh jadi cowo sexist.

Lalu gue bercerita tentang kasus perkosaan dan bagaimana pejabat public menanggapinya di media sambil berharap dalam hati anaknya akan tumbuh menjadi nice boy.

Tahu Terakhir

"Sal, kemarilah kau! Ada tahu enak kali," kata gue. Daripada gue nungguin doi di rumah, mending gue menanti di sebuah surga tahu di Banceuy.

Tahunya nyesss, sambelnya full bawang putih. Kangkungnya segar. Jus jeruknya kuning menggoda.

"Ini kan yang punya wong itu," kata Sally menyebutkan seorang bapak norak yang pernah membuat poligami award dan tak pernah lagi gue datangi restorannya.

"Hah? Masa sih?" tanya gue tak rela mencari kebenaran. Baru menyadari font restorannya memang norak-norak mirip.

Tapi kenyataan memang menyakitkan.

"Mbak, pesan tahunya satu porsi lagi ya," kata gue dengan sedih.

Porsi perpisahan. Ini terakhir kalinya kumakan kalian.

Hik.

Rabu, 03 Agustus 2016

Beda-Beda

"Bilanglah ama si Chica itu, kalau bukan Mami yang bayarin jangan mau rombak rumahnya," kata Papi tiba-tiba. Padahal minggu lalu bilangnya 'ya papi ikut mami aja, kalau dia mau bangun ya biarlah'.

Tentunya gue gak bilang ke Chica. Sudah setengah jalan semua dikerjakan, baby-baby dipindahkan, demi bisa bangun kamar Papi Mami di belakang, masa mau dibatalkan cuma karena Papi lagi gak suka ama Mami. Alasannya entahlah. Mungkin bukan karena Mami, mungkin Papi frustasi sendiri karena semua rumahnya belum ada yang bisa dijual. Renovasi rumah seperti membuang-buang uang.

Papi langsung nelepon Chica. Alasannya beda lagi. 'ngapain kau bangun-bangun kalau sertifikatnya belum nama kau.' Dijawab dengan bijak oleh Chica 'ya yang penting niatnya buat nyenengin Papi Mami'. Chica mengira Papi terharu dengan jawabannya.

"Si Chica bilang memang dia yang mau bangun. Ya suka-suka dialah," kata Papi menyimpulkan pembicaraannya dengan Chica.

Gue mengangguk-angguk mengiyakan, lalu lanjut briefing tukang.