Sabtu, 30 Juli 2016

Truk Kostrad

Sebuah truk hijau bertuliskan Kostrad merapat ke pagar Chica. Tiga tentara turun dan membantu mengangkut meja, kursi, patung rusa, alat barbeque, dan treadmill ke dalamnya, membebaskan rumah Chica dari barang-barang tajam dan tidak Sershem friendly.

Dulu Kostrad dibentuk untuk 'membebaskan' Papua yang mereka sebut Irian Barat. Panglima pertamanya Soeharto. Makanya Kostrad-lah yang turun duluan 'menumpas' G30S/PKI dan banyak 'penumpasan' lain di zaman Orde Baru. Termasuk Timor Timur, di bawah Panglima Prabowo. Saat peristiwa 98, Prabowo masih menjabat Pangkostrad.

Tidak ada yang tahu jumlah pasti personil mereka. Rahasia. Hari ini gue bertemu tiga.

"Makasih ya, Mas," kata gue sambil memberikan amplop berisi 120 ribu ke masing-masing tentara.

"Panggil ito aja," kata si tentara yang ternyata Panjaitan.

"Makasih, Ito."

Sebelum berangkat, truk mogok dulu sebentar.

"Biasa kok ini, ito," katanya.

Lima menit kemudian, Truk Kostrad sudah menuju Bandung.

Operasi pembebasan Irian Barat, 65, Tim-Tim, 98... Hari ini porto Kostrad di kepala gue bertambah satu.

Operasi pembebasan Rumah Chica.

Kamis, 28 Juli 2016

Tikus Kambing

Seekor sapi mengunyah rumput, seekor tikus mengunyah kambing.

Sapi serudug-serudug senang, lalu mundur-mundur kebauan.

Tikus... tikus... kau tikus apa kambing?

Tikus merapat, menjilat-jilat. Biar Sapi tertular kambing.

Rabu, 27 Juli 2016

Ghostbusterita

Setelah gue menetapkan 5 prioritas yang akan mengisi waktuku yang terbatas ini, nonton tentpoles Hollywood jadi terasa tak mendesak. Bahkan Jennifer Lawrence dibiruin aja gagal membawa gue ke bioskop.

Tapi Ghosbusters harus. Review di internet terbagi dua ekstrim. Dicurigai karena fanboy-nya Ghostbusters gak suka karena ghostbusters didominasi cewe-cewe yang tak ada seksi-seksinya. In solidarity with the bitches, pergilah gue ke bioskop.

Tapi kali ini gue harus setuju dengan para fanboys. Melissa Mc Carthy dkk lucu sih... hanya ceritanya berantakan banget. Padahal yang bikin Paul Feig, yang nge-direct Mc Carthy di Spy. Ghostbusters ini persahabatannya terlalu dipaksakan, bahkan ketika mereka lari-lari menyelamatkan Kevin, resepsionis mereka yang hot, I honestly don't care.

Tapi tak apa-apalah. Nontonnya bareng salah satu prioritas, jadi 3 jam hidupku tetap layak dikenang.

Selasa, 26 Juli 2016

3500W

Chica diperbolehkan kerja dari rumah. Chica tak menyambut bahagia karena merasa kenapa harus dia yang diasingkan? Karena dia perempuan?

Karena gaji Bang Gigit lebih gede, jawabku dalam hati.

Kenapa gaji Bang Gigit lebih gede? Karena Chica perempuan?

Tak lagi hatiku menjawab. Lebih baik langsung set-up work space buat Chica biar dia nyaman di rumah.

Listrik rumah dinaikkan jadi 3500 W biar ruang tengah bisa nambah AC dan si kembar bisa main di sana.
Beli matras dan pagar biar gak heboh ngejar-ngejar mereka.
Naikin internet jadi 10 MB.
Bandungkan perabotan-perabotan bersudut tajam mumpung Kodam Jaya mau minjemin truk.
Pasang kaca di lubang-lubang angin biar AC lebih dingin.

Blas!

Tiba-tiba lampu daerah belakang mati, menambah satu lagi to do list.

"Ini bukan korslet, Mbak. Sekringnya udah kendor, jadi sering turun walaupun dayanya belum maksimal."

Harus nunggu PLN yang mengganti kalau gak mau disangka nyuri listrik.

"Harusnya 5000 Watt, mbak," katanya lagi.

AC ruang tengah ternyata 1500 W. Pompa air 800 W. Rice cooker 350 W. Dispenser 150 W. AC kamar masing-masing 220 W, 220 W, dan 400 W. Belum catokan dan setrikaan.

"5000 watt kok udah kaya kantor aja?" kata Bang Gigit.

"Memang kantor," kata Chica bitchy.

Siap, bos.

Senin, 25 Juli 2016

Sepeda Baru, Bubur, dan Martabak

Kring kring kring bunyi sepeda. Sepedaku roda dua. Kudapat dari OLX. Hanya dua juta saja.

Eh tapi kok ada gambar bendera Inggrisnya?

Gak keliatan kalau di foto. Ya sudahlah, toh benderanya black on black. Kebanyakan orang akan menganggap keren, bukan inferior complex.

Langsunglah kukayuh sepeda bekas nan baru itu menuju pasar untuk belanja sayur dan buah-buahan tradisional. Belum setengah jalan, kepala sudah berkunang-kunang.

Biasanya gue gak makan pagi, biasa aja. Biasanya gue gak sepedaan, cuma duduk manis menulis.

Akhirnya berhenti di bubur ayam mengakhiri perjuangan hampir dua minggu tak makan karbo. Oh nikmatnya gula-gula ini mengaliri darah.

Sorenya makan martabak coklat kacang susu.

Piknik Perkotaan

Dua warga Ujung Berung datang berkunjung. Mereka tidur di kamar gue dengan jendela terbuka, menatap lampu-lampu Jakarta.

'Enak juga piknik di perkotaan,' katanya setelah seharian stress melihat riuhnya Jakarta dan padatnya Kalibata City.

Paginya kami jalan-jalan ke taman, dengan seragam lari lengkap dengan botol minuman, tentunya bukan untuk lari. Makan soto mie pedagang dadakan, tak bisa lama-lama karena ditungguin ibu-ibu hamil yang melirik kursi kami. Pindah ke Roti Pisang Bakar yang sudah biasa ditongkrongin ABG, mendiskusikan sejarah yang terus berulang diselingi pisang bakar coklat.

Diskusi dilanjutkan di apartemen ditemani MSG-MSG berplastik.

Lalu mereka pun pulang, kasian kucingnya ditinggal sendirian. Meninggalkan gue kembali menulis sendirian.

Piknik perkotaan telah membawa pencerahan dua skenario, menambah penuh tempat sampah yang selama ini bebas pelastik, dan menyadarkan gue menulis terus bikin gak bisa menulis. Harus banyak piknik.

The Beauty Of Thinking Small

Dia bertanya kalau perang dunia tiga nanti kami milih siapa? Islam atau West? Sejarah terus berulang, semua tanda menunjukkan akan ada perang dunia tiga. Sebagai liberal minority, dia merasa dia lebih baik milih West karena bla bla bla bla...  baca aja link ini, katanya. Link tentang prediksi perang dunia Rusia lawan West.

Seorang teman bilang sebaiknya kita tetap waras dan menjaga populasi orang waras di sekitar kita. Jangan sampai ada yang beda sedikit disikat.

'That reminds me of my mom,' katanya.

Mamanya yang melarang pernikahannya cuma karena agama. Pekerjaannya yang tidak memicu kreativitas, cuma jadi drafter kemauan client. Mimpinya menjadi penulis yang terhalang karena butuh duit.

Lebih seru memikirkan perang dunia tiga, daripada ngobrol dengan mamanya atau mulai menulis.

She sounds just like me.

Banyak yang tidak bisa gue ubah. Yang bisa gue ubah hanya diri gue sendiri.

Ramai Gulita

Kemaren Chica gak punya pembantu, gue sibuk jadi infal. Tiba-tiba hari ini ada empat, kukira aku sudah bebas.

Empat orang clueless yang belum tentu bisa dipercaya ternyata membutuhkan kesabaran lebih, sementara Chica sibuk mengasuh dua baby-nya dengan harapan dua mbak-mbak ini berinisiatif mempelajari caranya mengurus anak. Gue di belakang,  mengatur dua lainnya agar rumah ini tak jadi sarang tikus, kadal, dan biawak seperti sebelumnya.

"Tapi tidurnya di mana?" tanya gue mengingat cuma ada dua tempat tidur di kamar mereka. Memang Chica hanya mengharapkan ada dua orang buat jaga baby, satu lagi pulang pergi aja buat ngurus rumah. Eh taunya papi bawa dua.

"Ya suruh aja berdua-berdua," kata Mak cuek.

Gue pun mengatur kasur tambahan untuk mereka.

Lalu lampu mati.

Jumat, 22 Juli 2016

Di Rumah Aja

"Atid seharian di rumah aja?" tanya Papi.

"Tadi keluar kok meeting," jawab gue berbohong.

Mau bilang 'iya seharian nulis' malas. Sudah delapan tahun gue jadi filmmaker. Tapi Papi belum juga ngeh kalau di rumah seharian bukan berarti gak kerja.

Mau bilang 'papi juga di rumah aja' gak tega. Karena Papi sebenarnya suka sekali jalan-jalan. Karena penyakit-penyakitnya, Papi jadi harus nyesuaikan jadwal Mami dulu biar jalan-jalan ada temannya.

Sebenarnya pengennya memang keluar-keluar sih. Jalan-jalan, bikin film, promo film...

Tapi Paulo Coelho aja diam di rumah 6 bulan nulis sebelum 6 bulan lagi jalan-jalan.

Tapi gue diemnya udah hampir dua tahun.

Berarti jalan-jalannya dua tahun.

Kamis, 21 Juli 2016

Minta Maaf

The verdict from IPT 1965 is in. Genocide!

Indonesia dibantu US, UK, dan Australia terbukti telah melakukan 10 kejahatan perang, salah satunya genocide. Negara gue di mata internasional sekarang sama seperti Rwanda, Kamboja, dan negara-negara menyeramkan lain  di berita TV.

Eh, beda. Kita lebih jugul.

Seorang mantan jendral yang kuasanya seperti presiden langsung membuat pernyataan kalau negara tidak akan meminta maaf sesuai rekomendasi IPT. Janganlah diharap memulai penyelidikan atau ngasih kompensasi, seperti 2 rekomendasi lainnya.

'The Act Of Killing' dan 'The Look Of Silence' aja masih dilarang.

Teringat beberapa moment di 'The Look Of Silence'. Beberapa keluarga pelaku malah menyerang Adi, menambah luka. Tapi ada juga keluarga pelaku yang langsung meminta maaf, membuat Adi lebih lega, dan tidak mengurangi martabat si peminta maaf sedikitpun.

Gue jadi termenung sendiri memikirkan, "Kenapa minta maaf lebih sulit dari memaafkan?"

Tapi lagi-lagi gak bisa mengubah orang lain. Apa yang bisa gue lakukan untuk sedikit mengobati luka kita?

Yang pertama kepikiran adalah roadshow cin(T)a. Jalan-jalan putar film sambil ketemu penonton menjadi healing process tersendiri buat gue dari penyakit kronis self rightousness. People came to me and tell me their personal stories. Mungkin 'Dongeng Bawah Angin' pun harus gue bawa roadshow seperti cin(T)a biar memecahkan diam-diam tanpa maaf ini.

Ironisnya... dulu roadshow cinta dibayari banyak orang, di antaranya si jendral dan om-om gubernur di 'Act Of Killing'.