Senin, 25 Juli 2016

Ramai Gulita

Kemaren Chica gak punya pembantu, gue sibuk jadi infal. Tiba-tiba hari ini ada empat, kukira aku sudah bebas.

Empat orang clueless yang belum tentu bisa dipercaya ternyata membutuhkan kesabaran lebih, sementara Chica sibuk mengasuh dua baby-nya dengan harapan dua mbak-mbak ini berinisiatif mempelajari caranya mengurus anak. Gue di belakang,  mengatur dua lainnya agar rumah ini tak jadi sarang tikus, kadal, dan biawak seperti sebelumnya.

"Tapi tidurnya di mana?" tanya gue mengingat cuma ada dua tempat tidur di kamar mereka. Memang Chica hanya mengharapkan ada dua orang buat jaga baby, satu lagi pulang pergi aja buat ngurus rumah. Eh taunya papi bawa dua.

"Ya suruh aja berdua-berdua," kata Mak cuek.

Gue pun mengatur kasur tambahan untuk mereka.

Lalu lampu mati.

Jumat, 22 Juli 2016

Di Rumah Aja

"Atid seharian di rumah aja?" tanya Papi.

"Tadi keluar kok meeting," jawab gue berbohong.

Mau bilang 'iya seharian nulis' malas. Sudah delapan tahun gue jadi filmmaker. Tapi Papi belum juga ngeh kalau di rumah seharian bukan berarti gak kerja.

Mau bilang 'papi juga di rumah aja' gak tega. Karena Papi sebenarnya suka sekali jalan-jalan. Karena penyakit-penyakitnya, Papi jadi harus nyesuaikan jadwal Mami dulu biar jalan-jalan ada temannya.

Sebenarnya pengennya memang keluar-keluar sih. Jalan-jalan, bikin film, promo film...

Tapi Paulo Coelho aja diam di rumah 6 bulan nulis sebelum 6 bulan lagi jalan-jalan.

Tapi gue diemnya udah hampir dua tahun.

Berarti jalan-jalannya dua tahun.

Kamis, 21 Juli 2016

Minta Maaf

The verdict from IPT 1965 is in. Genocide!

Indonesia dibantu US, UK, dan Australia terbukti telah melakukan 10 kejahatan perang, salah satunya genocide. Negara gue di mata internasional sekarang sama seperti Rwanda, Kamboja, dan negara-negara menyeramkan lain  di berita TV.

Eh, beda. Kita lebih jugul.

Seorang mantan jendral yang kuasanya seperti presiden langsung membuat pernyataan kalau negara tidak akan meminta maaf sesuai rekomendasi IPT. Janganlah diharap memulai penyelidikan atau ngasih kompensasi, seperti 2 rekomendasi lainnya.

'The Act Of Killing' dan 'The Look Of Silence' aja masih dilarang.

Teringat beberapa moment di 'The Look Of Silence'. Beberapa keluarga pelaku malah menyerang Adi, menambah luka. Tapi ada juga keluarga pelaku yang langsung meminta maaf, membuat Adi lebih lega, dan tidak mengurangi martabat si peminta maaf sedikitpun.

Gue jadi termenung sendiri memikirkan, "Kenapa minta maaf lebih sulit dari memaafkan?"

Tapi lagi-lagi gak bisa mengubah orang lain. Apa yang bisa gue lakukan untuk sedikit mengobati luka kita?

Yang pertama kepikiran adalah roadshow cin(T)a. Jalan-jalan putar film sambil ketemu penonton menjadi healing process tersendiri buat gue dari penyakit kronis self rightousness. People came to me and tell me their personal stories. Mungkin 'Dongeng Bawah Angin' pun harus gue bawa roadshow seperti cin(T)a biar memecahkan diam-diam tanpa maaf ini.

Ironisnya... dulu roadshow cinta dibayari banyak orang, di antaranya si jendral dan om-om gubernur di 'Act Of Killing'.

Selasa, 19 Juli 2016

Mooncup

"Gue beli online dari sini, tapi ntar dikirim ke rumah lo," rayu gue mumpung doi lagi di Amerika.

"Hahaha apaan ini bo?" tanyanya. Walau  lewat Whatsapp, tetap terbayang muka keponya.

"You don't wanna know," jawab gue malas diskusi vagina.

Si Indri gue suruh pesankan dari Bandung, berhubung internet di apartemen gue gak stabil. Gagal mulu autorisasi kartu kredit.

"Atid, ini apa?" tanya Indri juga kepo.

"Liat aja di website ada tutorialnya," jawab gue. "Kita jadi gak perlu buang softex lagi."

Tiap mau buang softex kan drama banget harus dicuci-cuci dulu. Bisa aja gak dicuci tapi horor mengingat di Indonesia  semua sampahnya masih ditumpuk aja di Landfill. 

"Indri boleh mesan juga gak? Ntar Indri cicil dua bulan dua kali bayar."

"Boleh banget. Nanti kalau oke, kita promoin ya."

Biar Indonesia gak jadi lautan softex bekas berdarah-darah.

Senin, 18 Juli 2016

Sendiri

"What happened? tanyanya penasaran, kenapa dia putus dengan The Puma yang membuat dia gak keluar kamar selama summer.

"Life happened," jawabnya santai.

Orang datang dan pergi. Akhirnya kita sendiri.

Awalnya pun kita sendiri.

Life happened. People grew apart. No need drama.

Minggu, 17 Juli 2016

Draft Layak Share

Akhirnya hari yang gue nanti-nanti ini datang juga. Pagi-pagi script 'Kepompong Mak Gondut' sudah memasuki babak draft  siap share sama para pembaca pertamanya, mereka yang mewakili penonton rata-rata yang belum tercemar teori-teori film dan bakal mengomentari script ini dengan jujur tanpa keinginan menjaga perasaan gue.

"Aduh gak sempet, Tid," kata si Bankir Tak Berbudaya sambil sibuk menyuapi dua baby-nya.

"Bentar ya... lagi ribet daftar-daftar nih," kata yang lain tanpa keinginan menjaga perasaan gue.

Akhirnya di-email ke Deden.

Lalu gue lanjut menulis Dongeng Bawah Angin yang ternyata malam ini memasuki babak draft layak share juga. Horeee! Berbulan-bulan buntu, eh dalam sehari jadi dua script film panjang.

Eh... udah pagi ternyata. Dua hari dong.

Udah lama gak begadang.

Udah lama gak excited.

Sabtu, 16 Juli 2016

Papi Nyetrika

"Nomor telepon si Eni berapa, Tid?" tanya Papi. Dia mau membujuk Eni, mbak-nya Baby Shema dan Sergie biar balik mudik lebih cepat dengan iming-iming duit tambahan.

"Uang kan bisa dicari. Kasihan si Chica ngurus bayi dua. Berat itu," kata Papi.
Tapi jangan bilang-bilang Chica.

Bukannya balik lebih cepat, Eni malah gak akan balik lagi. Papi datang ke Jakarta dengan niat bantu jaga cucu sampai datang suster baru.

Mami juga.

Di hari ke lima, Mak Gondut udah ngeluyur ke mall.  Papi tinggal di rumah, nyetrika baju cucu sementara mamak bapaknya menemani cucu kembar yang merewel sejak mbaknya gak pulang-pulang. Selesai nyetrika, Papi menjemur cucian batch baru dari mesin cuci yang memanggil-manggil tanda selesai bekerja.

"Tid, bantu Papi pindahin cucian ya. Kayanya mau ujan."

Sejak jantungnya di-ring, Papi gak boleh lagi ngangkat barang berat. Kalau tidak terpaksa, pasti Papi gak akan minta bantuan. Gue yang sedang menguras dispenser langsung mindahin jemuran.

"Tid, sibuk gak? Mau nganter Papi beli aqua sebentar?" tanya Papi. Sejak retina matanya dioperasi, Papi gak bisa nyetir lagi.

Kami pun pergi membawa galon-galon kosong untuk ditukar dengan yang berisi. Lalu mampir di tukang kunci, beli kunci baru biar kunci si Eni gak bisa dipakai lagi. Tak lupa beli makanan buat mamak bapak si Kembar.

Sampai di rumah, Papi langsung memasang kunci baru, mengambil jemuran yang sudah kering, lalu menyetrika lagi sampai si Kembar keluar, siap dikasih makan malam.

Selesai makan malam, Papi menggendong-gendong si Kembar. Yang satu digendong, yang lain mengeong iri. Terpaksa Papi gendong mereka bergantian sampai tertidur.

Malam, Mak Gondut pulang membawa Iphone baru.

"Janganlah kau taro foto Papi setrika di Facebook. Kan malu nanti Papi. Masa laki-laki nyetrika?" kata Mak Gondut sewot melihat gue ngepost foto Papi.

"Ah biasa aku dari kecil ngerjain kerjaan rumah," kata Papi.

Gue melihat Facebook.  228 likes. Lebih banyak dari likes foto profile pic gue  mendelik galak yang cuma seratusan likes.

So proud to be his daughter.


Jumat, 15 Juli 2016

Sapi Merindu

Seekor Tikus datang bertandang. Sapi Rindu buntut bergoyang.

Sapi merapat minta disayang. Tikus kepanasan, malah ditendang.

Sapi menjauh, menangis bombay.  Tikus tahu, langsung disangray.

Sapi sapi kok sensi kali. Udah sensi diam sendiri.

Tikus tikus kok galak kali. Walau galak, cantik sekali.

Kamis, 14 Juli 2016

Kurang Nemplok

"Waktu bayi Atid baik, gak pernah ngerepotin," kata Papi mulai cranky mengawasi Shema dan Sergie yang lebih memilih meraba-raba engsel pintu extra debu daripada Mothercare mereka.

Dulu gue bisa dibiarkan main sendiri, gak perlu diekorin seperti Shema dan Sergie. Gak suka nangis-nangis. Gak suka rewel kalau disuapin. Gak suka lasak ke sana kemari meraba-raba yang tak boleh diraba. Gak pernah jatuh-jatuh. Jalan selalu hati-hati.

Mungkin gue bukan baik, hanya malas gerak. Mungkin mamak bapaknya udah sibuk dengan dua balita lain, gue jadi malas mengeong. Gak guna. Lebih baik main sendiri. Mungkin gue emang terlahir baik, makanya dicuekin dan mereka ngurus yang lain yang lebih ngerepotin.

Pantas sekarang sukanya nemplok. Dulu kurang.

Rabu, 13 Juli 2016

Puji Diri

"Semua anak Mama, memuji nama Mama, Glory glory Halemama...," nyanyi Chica narsis sambil memandikan Baby Shema.

Gue tertawa.

"Ini semuanya maunya ama Opungnya aja ya," kata Papi narsis sambil mengambil Baby Sergie yang menangis dari gendongan gue.

Gue sebel.

Puji diri versi Chica menyenangkan karena she didn't mean it. Puji diri versi Papi menyebalkan karena he did mean it, and in the process he implies that other people (me) is worse than him.

Kenapa kalau sensi gue jadi pake bahasa Inggris?

Tapi mungkin Papi memuji diri karena anak-anaknya kurang memuji. Kalau Chica kan selalu dibanjiri dengan tatapan kagum baby-baby yang belum tahu dunia ini. Anak Papi udah tahu dunia, udah tahu ada yang lebih keren dari bapaknya.

So?

Gue harus lebih banyak memuji Papi.