Selasa, 19 Juli 2016

Mooncup

"Gue beli online dari sini, tapi ntar dikirim ke rumah lo," rayu gue mumpung doi lagi di Amerika.

"Hahaha apaan ini bo?" tanyanya. Walau  lewat Whatsapp, tetap terbayang muka keponya.

"You don't wanna know," jawab gue malas diskusi vagina.

Si Indri gue suruh pesankan dari Bandung, berhubung internet di apartemen gue gak stabil. Gagal mulu autorisasi kartu kredit.

"Atid, ini apa?" tanya Indri juga kepo.

"Liat aja di website ada tutorialnya," jawab gue. "Kita jadi gak perlu buang softex lagi."

Tiap mau buang softex kan drama banget harus dicuci-cuci dulu. Bisa aja gak dicuci tapi horor mengingat di Indonesia  semua sampahnya masih ditumpuk aja di Landfill. 

"Indri boleh mesan juga gak? Ntar Indri cicil dua bulan dua kali bayar."

"Boleh banget. Nanti kalau oke, kita promoin ya."

Biar Indonesia gak jadi lautan softex bekas berdarah-darah.

Senin, 18 Juli 2016

Sendiri

"What happened? tanyanya penasaran, kenapa dia putus dengan The Puma yang membuat dia gak keluar kamar selama summer.

"Life happened," jawabnya santai.

Orang datang dan pergi. Akhirnya kita sendiri.

Awalnya pun kita sendiri.

Life happened. People grew apart. No need drama.

Minggu, 17 Juli 2016

Draft Layak Share

Akhirnya hari yang gue nanti-nanti ini datang juga. Pagi-pagi script 'Kepompong Mak Gondut' sudah memasuki babak draft  siap share sama para pembaca pertamanya, mereka yang mewakili penonton rata-rata yang belum tercemar teori-teori film dan bakal mengomentari script ini dengan jujur tanpa keinginan menjaga perasaan gue.

"Aduh gak sempet, Tid," kata si Bankir Tak Berbudaya sambil sibuk menyuapi dua baby-nya.

"Bentar ya... lagi ribet daftar-daftar nih," kata yang lain tanpa keinginan menjaga perasaan gue.

Akhirnya di-email ke Deden.

Lalu gue lanjut menulis Dongeng Bawah Angin yang ternyata malam ini memasuki babak draft layak share juga. Horeee! Berbulan-bulan buntu, eh dalam sehari jadi dua script film panjang.

Eh... udah pagi ternyata. Dua hari dong.

Udah lama gak begadang.

Udah lama gak excited.

Sabtu, 16 Juli 2016

Papi Nyetrika

"Nomor telepon si Eni berapa, Tid?" tanya Papi. Dia mau membujuk Eni, mbak-nya Baby Shema dan Sergie biar balik mudik lebih cepat dengan iming-iming duit tambahan.

"Uang kan bisa dicari. Kasihan si Chica ngurus bayi dua. Berat itu," kata Papi.
Tapi jangan bilang-bilang Chica.

Bukannya balik lebih cepat, Eni malah gak akan balik lagi. Papi datang ke Jakarta dengan niat bantu jaga cucu sampai datang suster baru.

Mami juga.

Di hari ke lima, Mak Gondut udah ngeluyur ke mall.  Papi tinggal di rumah, nyetrika baju cucu sementara mamak bapaknya menemani cucu kembar yang merewel sejak mbaknya gak pulang-pulang. Selesai nyetrika, Papi menjemur cucian batch baru dari mesin cuci yang memanggil-manggil tanda selesai bekerja.

"Tid, bantu Papi pindahin cucian ya. Kayanya mau ujan."

Sejak jantungnya di-ring, Papi gak boleh lagi ngangkat barang berat. Kalau tidak terpaksa, pasti Papi gak akan minta bantuan. Gue yang sedang menguras dispenser langsung mindahin jemuran.

"Tid, sibuk gak? Mau nganter Papi beli aqua sebentar?" tanya Papi. Sejak retina matanya dioperasi, Papi gak bisa nyetir lagi.

Kami pun pergi membawa galon-galon kosong untuk ditukar dengan yang berisi. Lalu mampir di tukang kunci, beli kunci baru biar kunci si Eni gak bisa dipakai lagi. Tak lupa beli makanan buat mamak bapak si Kembar.

Sampai di rumah, Papi langsung memasang kunci baru, mengambil jemuran yang sudah kering, lalu menyetrika lagi sampai si Kembar keluar, siap dikasih makan malam.

Selesai makan malam, Papi menggendong-gendong si Kembar. Yang satu digendong, yang lain mengeong iri. Terpaksa Papi gendong mereka bergantian sampai tertidur.

Malam, Mak Gondut pulang membawa Iphone baru.

"Janganlah kau taro foto Papi setrika di Facebook. Kan malu nanti Papi. Masa laki-laki nyetrika?" kata Mak Gondut sewot melihat gue ngepost foto Papi.

"Ah biasa aku dari kecil ngerjain kerjaan rumah," kata Papi.

Gue melihat Facebook.  228 likes. Lebih banyak dari likes foto profile pic gue  mendelik galak yang cuma seratusan likes.

So proud to be his daughter.


Jumat, 15 Juli 2016

Sapi Merindu

Seekor Tikus datang bertandang. Sapi Rindu buntut bergoyang.

Sapi merapat minta disayang. Tikus kepanasan, malah ditendang.

Sapi menjauh, menangis bombay.  Tikus tahu, langsung disangray.

Sapi sapi kok sensi kali. Udah sensi diam sendiri.

Tikus tikus kok galak kali. Walau galak, cantik sekali.

Kamis, 14 Juli 2016

Kurang Nemplok

"Waktu bayi Atid baik, gak pernah ngerepotin," kata Papi mulai cranky mengawasi Shema dan Sergie yang lebih memilih meraba-raba engsel pintu extra debu daripada Mothercare mereka.

Dulu gue bisa dibiarkan main sendiri, gak perlu diekorin seperti Shema dan Sergie. Gak suka nangis-nangis. Gak suka rewel kalau disuapin. Gak suka lasak ke sana kemari meraba-raba yang tak boleh diraba. Gak pernah jatuh-jatuh. Jalan selalu hati-hati.

Mungkin gue bukan baik, hanya malas gerak. Mungkin mamak bapaknya udah sibuk dengan dua balita lain, gue jadi malas mengeong. Gak guna. Lebih baik main sendiri. Mungkin gue emang terlahir baik, makanya dicuekin dan mereka ngurus yang lain yang lebih ngerepotin.

Pantas sekarang sukanya nemplok. Dulu kurang.

Rabu, 13 Juli 2016

Puji Diri

"Semua anak Mama, memuji nama Mama, Glory glory Halemama...," nyanyi Chica narsis sambil memandikan Baby Shema.

Gue tertawa.

"Ini semuanya maunya ama Opungnya aja ya," kata Papi narsis sambil mengambil Baby Sergie yang menangis dari gendongan gue.

Gue sebel.

Puji diri versi Chica menyenangkan karena she didn't mean it. Puji diri versi Papi menyebalkan karena he did mean it, and in the process he implies that other people (me) is worse than him.

Kenapa kalau sensi gue jadi pake bahasa Inggris?

Tapi mungkin Papi memuji diri karena anak-anaknya kurang memuji. Kalau Chica kan selalu dibanjiri dengan tatapan kagum baby-baby yang belum tahu dunia ini. Anak Papi udah tahu dunia, udah tahu ada yang lebih keren dari bapaknya.

So?

Gue harus lebih banyak memuji Papi.

Selasa, 12 Juli 2016

Rewrite

Sebelum mulai menulis, gue kira film ini adalah film paling keren sedunia. Lebih keren dari Labirinnya Del Toro. Setelah sejam menulis, gue mulai sadar film ini dangkal sekali.  Setelah dua jam, gue mulai gak pede. Siapa yang mau nonton?

Tapi kita tetap menulis, dan mengedit  dan mengedit, membuang all the keren darlings.

What is left is not that keren. Tapi penting untuk gue.

Senin, 11 Juli 2016

Hak Mamak-Mamak

Lima hari ini gue menjadi nanny Shema dan Sergie, sementara Indonesia Mudik. Rasanya seperti tanggung jawab tanpa henti, bahkan kebawa sampai mimpi. Jangan sampai Sergie kepentok. Shema kenapa gak mau makan? Mau minum? Digendong?

Di hari ke lima, gue pulang ke apartemen dengan merdeka. Tidur hari ini terasa lebih bahagia. Sementara Chica tetap di sana, seumur hidup memastikan anaknya baik-baik saja tanpa ada tempat untuk tidur merdeka.

Setelah lima hari ngerasain ngurus anak, gua makin yakin kalau mamak-mamak itu memang berhak rese. Jangankan mereka mau kerja... mau foya-foya pun seharusnya kita dukung.

"Tid, ipod mami kok baterenya mati-mati?" kata Mak Gondut.

"Ntar kita beli baru ya."

Minggu, 10 Juli 2016

Women Directors

"I don't like directors. They always talk about their works," kata seorang sutradara cewe di sela-sela chinese food 10 dollaran.

Bapaknya sutradara. Mamaknya sutradara. Pacar mamaknya pun sepertinya orang film. Mereka semua ada di sini, di Hawaii, walaupun bukan buat liburan keluarga. Buat festival film.

Tujuh tahun kemudian, gue melihat dia lagi. Kali ini di Youtube. Di antara 9 filmmaker cewe lain yang dikasih duit oleh sebuah majalah untuk membuat dokumenter pendek tentang women of the year pilihan majalah mereka. Kali ini dia mendengarkan sutradara lain dengan penuh perhatian sampai giliran dia bicara tentang her woman of the year, seorang billionaire cewe muda yang sangat detail dibandingkan dengan semua orang yang pernah dia temui sebelumnya.

Gue mencoba menerka-nerka kenapa dia berubah. Mungkin tujuh tahun telah membuat dia lebih mengerti pentingnya basa-basi, bahkan sekarang dia full make up dengan rambut di-blow sempurna. Mungkin talk kali ini buat dia lebih menarik karena semua background-nya bukan film. Ada yang penari, actress, fotografer, psychologist/ theologist... hanya dia yang film. Mungkin kali ini sutradaranya cewe semua.

"How is it different to be a woman director in Hollywood?"

"You bring not only a different perspective to the table, but a whole different way of work. We were talking about how she (the billionaire) was involved in all aspects of her business. A man would never do that," kata seorang sutradara lain.

She worked with Steve Jobs before.