Minggu, 10 Juli 2016

Tukang Gigit Yang Sensitif

Baby Sergie di kasur, diam-diam mengulat.
Baby Shema di kasur, diam-diam merayap.

Hap.
Kaki Sergie dilahap.

Baby Sergie mengeong, meraung kesakitan.
Baby Shema celingak celinguk, berseri-seri.
Gue  tertawa-tawa.

Hap.
Jari gue pun dilahap.

Gue menarik tangan kesakitan, mungkin terlihat marah.
Baby Shema menangis.

"Adu... maap ya, Shema... Icil gak marah kok. Yuk gigit lagi yuk...," kata gue sambil menawarkan kelima jari.

Shema menjauh, nemplok ke mamaknya. Gak mau lagi gigit-gigit.

Lima menit.

Bersih Gudang Chica

Dari hasil bersih-bersih rumah Chica, gue berhasil menjaring 9 blouse, 5 kaos, 2 outerwear, 2 sepatu, 3 set kartu, 1 modem, dan 1 selimut.  Si Eni (atau gantinya berhubung doi gak balik lagi) dapat dua karung pakaian. Pak Brewok tukang sampah kompleks dapat TV, kipas angin, rak piring, rak sepatu, dan berkarung-karung aneka barang yang selama ini numpuk di ruang belakang.

"Nah lo liat kan betapa banyaknya sampah yang lo hasilkan? Abis ini kalau beli barang harus lebih conscious deh, soalnya ini sampah-sampah di negara kita belum diolah. Dibiarin aja numpuk di Landfill."

Chica mengangguk-angguk bagaikan setuju.

"Atau at least kalau beli barang, pastiin yang kualitasnya bagus doang biar tahan lama. Gak bentar-bentar buang."

Chica kembali mengangguk-ngangguk sambil bertanya...

"Jadi kapan kita ke Ikea?"

Jamur @ Steak House

Karena gue berhasil membereskan gudang rumah Chica dari sampah, tikus, dan kadal, gue diajak Bang Gigit makan di Steak House yang satu porsinya 400 ribu. Gue hanya bisa makan jamur 68 ribu, sementara Chica mesen burger 250 ribu.

Ternyata sapi mahal sekali.

Dulu pernah nemenin Chica makan di steak house yang lebih merakyat, harga satu porsinya 200 ribu. Gue makan potato wedges, 20 ribu saja.

Kenapa daging sapi mahal sekali? Wajar mengingat luas lahan dan banyaknya air dan pangan yang dikorbankan buat menggemukkan satu sapi saja. Belum lagi kalau daerahnya bukan padang luas, entah berapa banyak hutan harus ditebang biar sapi-sapi bisa berkeliaran sempurna.

Kenapa kita masih makan sapi?

Chica memandang gue dengan tatapan 'dasar sutradara ada gilak-gilaknya' sambil kembali menikmati burger 250 ribunya. Gue membalas dengan tatapan 'dasar bankir tak berbudaya' sambil menikmati jamur garlic dan menyerempet ke mac and cheese Chica.

Keju kan hasil sapi juga.

Eni Tak Pulang Lagi

Diiringi bunyi petir palsu dari youtube 'lullaby with rain drops', kabar itu datang. Si Eni, mbaknya Shema dan Sergie tak pulang lagi.

Mau kawin, katanya. Ke Batam. Gak bisa ngabarin sendiri. HP-nya yang masih nyicil ke Bang Gigit kecemplung di kali. Disampaikanlah lewat adiknya yang kerja di rumah Papi.

Mama Singa mengaum, merasa dikhianati.

Sebentar.

Di petir berikutnya, Mama Singa sudah sibuk memikirkan nasib anaknya. Haruskah dia resign? Bisakah dia nyari nanny lain yang bisa dipercaya? Bisakah dia mengurusi dua anaknya sendiri?

Ternyata Chica tak sendiri. Banyak nanny lain di rumah lain yang juga tak pulang lagi. Industri nanny memang menggiurkan, karena new parents yang clueless adalah target market yang mau mengeluarkan uang berapa pun untuk anaknya.

Sementara di Finlandia sana, urusan nanny menjadi urusan negara. Karena orang tua dan anaknya adalah aset negara. Orang tua usia produktif penting bagi produktivitas negara. Anak adalah masa depan negara, sebaiknya di siang hari diurus oleh tenaga profesional yang jelas lebih ahli dari orang tuanya sendiri dan lebih terpercaya karena dijamin negara. Dibuatlah sebuah sistem daycare yang affordable.

Kembali kemari, Chica masih pusing resign atau tidak. Bang Gigit gak mau Chica resign, takut Chica jadi bitchy. Sementara para menteri sibuk meributkan reklamasi yang konon akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita.

Toh manusia kita banyak.

Rabu, 06 Juli 2016

Ngejodohin Deden

"Bukan ngejodohin. Ngenalin!" koreksi Mak Gondut.

Gue dilarang pulang ke Jakarta sampai hari ini biar bisa ikut ketemu sama keluarga cewe Batak berikutnya yang mau dia jodohin eh kenalin. Bukan buat gue, sayangnya. Buat Deden. Kalau gak ada gue, Deden gak mau ikut.

Kukira udah bebas aku dari perjodohan.

"Di Kedai Mandiri mau?" tanya gue mencoba mencari alternatif yang lebih murah.

"Di Hummingbird lah," sahut Mak Gondut gak mau kalah gaya.

"Asal kau siap bayar," kata Papi becut, ingat dia yang selalu jadi korban pembayaran.

Kali ini targetnya cantik. 27. Pendiam, tapi abangnya nggak. Abangnya bercerita tentang betapa seni rupa Indonesia terlalu elit dan betapa dia kecewa fashion Indonesia tidak punya identitas. Tapi sepertinya enggan gue sarankan menelusuri roots dan sejarahnya. Lebih tertarik urban, katanya.

Target hanya diam memperhatikan, sambil sesekali  tersenyum ramah tiap mata gue ketemu matanya sampai pesanannya datang. Sebuah steak ayam porsi besar bersama kentang-kentang.

"Makannya banyak, tapi langsing ya. Si Atid makannya secuil-secuil tapi tetap gendut," kata Papi disambut delikan sebal gue.

Dia hanya tersenyum sopan, macam bukan cewe Batak.

"Jadi gimana, Den?" tuntut Mak Gondut begitu sampai di rumah.

"Masa baru ketemu sekali udah mami tanya gimana?" sahut Deden judes, membuat Mak Gondut kembali ke sofanya. Nyari kutu anjing, sambil kupingnya tetap dipasang mendengarkan gue dan Deden ngobrol.

"Tapi pasti di rumah, itu anak dominan. Mamak bapaknya nurut ama dia," kata Deden menganalisa hati-hati. Mungkin takut terjebak sama cewe-cewe sejenis Mak Gondut. Mungkin malah nyari.

Mak memites kutu anjing sambil tersenyum.

Selasa, 05 Juli 2016

Move To Trash

Seharian menyortir foto-foto lama, gue baru sadar gue menyia-nyiakan banyak waktu.

Banyak foto yang gak meninggalkan emosi. Misalnya foto diri di negara-negara eksotis dengan muka berusaha eksis. Foto Group dengan pose standar dan senyum kelamaan nunggu click. Yang gue keep malah foto-foto candid dengan emosi seadanya, gak penting tempatnya di mana.

Sisanya move to trash.

Gue juga baru sadar ekspresi gue paling truthful itu kalau sedang memperhatikan. Terlalu banyak senyum atau tertawa demi keriaan.

Move to trash.

Dan ternyata dulu gue gak jelek-jelek amat. Berat gue 78, saat itu rasanya gendut. Kalau gue ngeliat sekarang, I really should have no reason to be insecure. Ada banyak foto-foto gue cakep di periode tanam bulu mata yang cukup girly jadi umpan menangkap suami walaupun senyumnya palsu.

Move to trash.

So many time wasted for making trash. Sekarang gue sedikit lebih paham apa yang gak mau gue kerjakan di sisa hidup gue.

Langsung memperhatikan.

Senin, 04 Juli 2016

Banyak-banyaklah Belanja Agar Ekonomi Terus Bertumbuh

Itulah salah satu judul artikel tabloid anak koran terbesar di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I tahun 2016 hanya 5 persenan karena pemerintah berhemat. Jadi diharapkan masyarakatlah yang belanja lebih banyak biar pertumbuhan ekonomi kita sama dengan tahun lalu.

Apa artinya pertumbuhan ekonomi 5% itu?

Kalau saja tak kubaca itu buku 'Capital In The 21st Century', gak ngertilah aku kalau pertumbuhan 5% itu udah gede banget. Cuma terjadi di saat-saat negara lagi membangun. Sekarang pun gak ngerti-ngerti amat sih.

Hanya bayangin aja kalau negara ini rumah. Pas kita bangun rumah, tentu  banyak sekali perubahan.  Otomatis belanja kita gede. Kalau diindeks, pasti angkanya gede.

Tapi setelah rumahnya jadi, kita butuh apa lagi? Ya paling perabot,  dan printilan-printilan, makanan, hiburan... Belanja kita menurun. Indeks juga turun. Bukan berarti kita gak sejahtera.

Bayangin kalau rumah kita udah jadi dan  belanja kita tetap sebesar ketika kita bangun rumah? Mau jadi apa rumah kita? Overfloaded ama barang yang gak kita perlu.

Di saat kita sudah menyaksikan mas-mas ambisius di Wallstreet hanya bikin negara bangkrut, sementara di Canada yang bankir-bankirnya cuma ngurusin pensiun dan  hidup secukupnya malah baik-baik aja... kok bisa ya ada yang masih menyarankan kita mengikuti gaya hidup ekonomi yang jelas-jelas udah gagal? Kenapa kita masih merasa ekonomi yang cuma bisa jalan kalau kita belanja belanja belanja itu satu-satunya gaya hidup?  

I have enough.

Lapar

Sudah tiga hari gue hanya makan 4 tahu dan banyak air putih. Semakin gak lapar.

Katanya kita bisa tahan 8 minggu gak makan sebelum perut kita mulai melilit dengan dan akhirnya mati dengan perut menempel tulang. Delapan minggu itu dua bulan dong?

Sebenarnya tubuh gue ini butuh berapa banyak makanan sih? Kok sepertinya 4 tahu juga cukup ya?

Semakin banyak makan, semakin lapar, semakin terpenjara.

Semakin sedikit makan,  semakin merdeka, semakin bebas mengerjakan yang lainnya. Seperti script yang gak jadi-jadi.


Aduh, jadi lapar.

Akibat Malas Jalan


Dari Kayumas, Uber berjalan lancar sampai mendekati Bundaran HI. Sudah setengah jam kami di sini, menanti giliran diperbolehkan menyeberang ke bundaran.

"Orang-orang dapat THR berapa ya, Mbak? Kok belanjanya di Plaza Indonesia?" tanya supir Uber.

"Paling belanjanya di Grand Indonesia, Mas. Kata kakak saya yang lagi di Plaza Indonesia, di sana sepi."

Tiba-tiba polisi menutup jalan di depan kami. Kami gak boleh menyeberang, diarahkan belok ke kiri, mutar di bawah jembatan Tosari. Gue terlalu malas untuk jalan kaki saja ke Plaza Indonesia yang sebenarnya sudah di depan mata. Uber gue biarkan nurut belok kiri.

Macet. Sejam kemudian, belum juga bergerak.

"Mbak kita balik lagi aja ke tempat tadi trus mbak jalan dikit gimana?"

"Boleh deh," jawab gue.

Dia pun mengembalikan gue ke tempat awal. Gue berjalan dengan rasa menyesal. Tau gini gue jalan aja dari awal. Gak buang waktu. Gak buang ongkos.

Bon Uber datang. taunya Hanya 22000. Tarifnya flat karena gue memakai Uber Pool walaupun cuma sendirian. Berarti si supir pun hampir dua jam nyetirin gue gak dapat uang tambahan?


Tambah menyesal.

Jalan Strategis

Di antara tempe-tempe Jogja yang dibukus daun segitiga, tiga filmmaker gak puasa bercerita.

Yang satu sadar dia tidak bisa idealis. Dia memilih jalan strategis biar bisa berkarya sambil tetap menghidupi anak istri. Caranya dengan bikin film setahun 3 film dengan rasa beda-beda. Yang satu rasa arthouse. Yang satu rasa penonton ratusan ribu. Yang satu rasa campur-campur, festival bisa bioskop bisa.

"Biar gak ada yang bisa nge-klaim aku tuh apa," katanya.

Teman yang lain ingin mengikuti jalannya, ingin mapan secara finansial, ingin kejar setoran. Ia baru saja bercerai dengan istrinya yang selama ini  menjadi breadwinner sementara dia mengambil peran jaga anak di rumah.

"Kalau gue jadi lo sih gue balik ke Banyuwangi, kelola tanah keluarga lo, sambil bangun komunitas atau festival di sana," usul gue.

Mumpung dia punya aset dan mantan istri yang bisa nyari duit. Jalan strategisnya bisa berbeda. Tidak semua orang harus bikin film di industri. Kita butuh jenis film lain.

Kami kembali makan tempe.