Senin, 04 Juli 2016

Akibat Malas Jalan


Dari Kayumas, Uber berjalan lancar sampai mendekati Bundaran HI. Sudah setengah jam kami di sini, menanti giliran diperbolehkan menyeberang ke bundaran.

"Orang-orang dapat THR berapa ya, Mbak? Kok belanjanya di Plaza Indonesia?" tanya supir Uber.

"Paling belanjanya di Grand Indonesia, Mas. Kata kakak saya yang lagi di Plaza Indonesia, di sana sepi."

Tiba-tiba polisi menutup jalan di depan kami. Kami gak boleh menyeberang, diarahkan belok ke kiri, mutar di bawah jembatan Tosari. Gue terlalu malas untuk jalan kaki saja ke Plaza Indonesia yang sebenarnya sudah di depan mata. Uber gue biarkan nurut belok kiri.

Macet. Sejam kemudian, belum juga bergerak.

"Mbak kita balik lagi aja ke tempat tadi trus mbak jalan dikit gimana?"

"Boleh deh," jawab gue.

Dia pun mengembalikan gue ke tempat awal. Gue berjalan dengan rasa menyesal. Tau gini gue jalan aja dari awal. Gak buang waktu. Gak buang ongkos.

Bon Uber datang. taunya Hanya 22000. Tarifnya flat karena gue memakai Uber Pool walaupun cuma sendirian. Berarti si supir pun hampir dua jam nyetirin gue gak dapat uang tambahan?


Tambah menyesal.

Jalan Strategis

Di antara tempe-tempe Jogja yang dibukus daun segitiga, tiga filmmaker gak puasa bercerita.

Yang satu sadar dia tidak bisa idealis. Dia memilih jalan strategis biar bisa berkarya sambil tetap menghidupi anak istri. Caranya dengan bikin film setahun 3 film dengan rasa beda-beda. Yang satu rasa arthouse. Yang satu rasa penonton ratusan ribu. Yang satu rasa campur-campur, festival bisa bioskop bisa.

"Biar gak ada yang bisa nge-klaim aku tuh apa," katanya.

Teman yang lain ingin mengikuti jalannya, ingin mapan secara finansial, ingin kejar setoran. Ia baru saja bercerai dengan istrinya yang selama ini  menjadi breadwinner sementara dia mengambil peran jaga anak di rumah.

"Kalau gue jadi lo sih gue balik ke Banyuwangi, kelola tanah keluarga lo, sambil bangun komunitas atau festival di sana," usul gue.

Mumpung dia punya aset dan mantan istri yang bisa nyari duit. Jalan strategisnya bisa berbeda. Tidak semua orang harus bikin film di industri. Kita butuh jenis film lain.

Kami kembali makan tempe.

Too Much Pride Here

"Ya aku mau  bikin film pake caraku. Kalau salah, ya salah aku. Resikoku," kata seorang peserta mengkritik mentor kelompoknya.

Gue teringat hasil kerjanya di kelas sutradara kemarin. Filmnya paling buruk, bikinnya paling lama, tapi paling belagu.

Gue pun dulu begitu.

Sampai gue sadar ego gue lebih gede daripada bakat gue. Untungnya bikin film gak perlu bakat. Cuma perlu kerja keras dan banyak mengamati dengan hati terbuka. Jadi anak-anak kurang berbakat kaya gue masih ada harapan.

Makanya gue lebih suka denger roundtable actress daripada roundtable directors. Gue belajar lebih banyak dari sana karena actresses lebih handal mendengarkan daripada directors. Bahkan actress paling diva sekalipun selalu mendengarkan. Roundtable-nya jadi lebih rileks, menyenangkan, dan menginsipirasi. Beda dengan roundtable directors  yang lebih berasa me me me.

Tapi directors bagus beda. Mereka juga selalu gemar mendengar.  Bahkan yang terkenal paling keras kepala dengan visinya macam David Fincher atau Ridley Scott surprisingly sangat kolaboratif kalau kita nonton behind the scenes mereka.  

Pantas gak banyak director bagus di sini. Too much ego. Gak banyak mendengar. Padahal sebagai sutradara, banyak sekali suara-suara kecil yang harus kita suarakan. Suara-suara yang terlalu kecil untuk didengarkan kalau kta kebanyakan ngomong.

Tapi gue memilih diam, membiarkan dia mengira dia memang hebat adanya.

Ada banyak hal yang memang tak bisa diajarkan. 

Doa Pendosa

 Dulu, doa penting banget buat gue mengawali hari. Gue jadi lebih tenang kalau ada masalah karena gue tahu tujuan gue dan yakin kalau semua yang datang hari ini akan mengarahkan gue ke arah yang benar.

Sejak gue jadi pendosa dan makin terpesona dengan semesta, gue gak berdoa lagi.  

Dan gue semakin berasa sendirian, nyinyir, dan penakut.

Justru pendosa yang butuh banyak berdoa.

Travel atau Kereta


Kalau naik Travel, tinggal ngesot dekat rumah. Tapi harganya lebih mahal 30,000 dari tiket kereta. Bisa dipake buat ongkos taksi ke stasiun.

Kalau naik Kereta, sepanjang jalan bisa bebas nyolok laptop, bebas kebelet, bebas jalan-jalan, dan bebas macet. Hanya harus bangun lebih pagi, naik taksi, dan menambah carbon footprint.

Akhirnya naek travel.

Gue memilih kursi paling depan, teringat dulu pernah duduk sempit-sempitan dengan bapak-bapak ngorok. Gue mencoba menutup pintunya yang mulai kropos. Sunshade-nya ditulisi 'Jangan Lupa Berdoa' dengan spidol buluk dan font berusaha metallica.

Supir mengerem mendadak. Besi-besi karatan truk aqua beserta galon-galonnya seperti berguling menuju muka gue. Memang terhalangi kaca mobil. Tapi  biasanya ada muncung mobil yang menambah jarak. Mobil ini tak bermuncung.

Pantas harus ditulisi 'Jangan Lupa berdoa'.


Next time naik kereta.