Selasa, 21 Juni 2016

Generasi Menunduk

"Film ini tentang tidak percaya diri. Diceritakan lewat seorang generasi menunduk yang selalu melihat HP dan pengen ganti HP setiap sekitarnya upgrade HP dengan mengorbankan apapun. Genre-nya komedi apokaliptik," kata sutradara kelompok bimbingan gue setelah gue kompori perlahan-lahan gimana caranya membuat konsep visual film ini lebih wah.

Seluruh penduduk bumi menunduk, bahkan ketika berjalan. Si penjual HP digambarkan sebagai preman berbaju pendeta, di tangannya ada keselamatan dan kebinasaan. Dengan HP dagangannya, karakter utama akan bebas dari rasa tidak percaya diri.

"Apokaliptik artinya apa, Mbak?" tanya sutradara.

"Ya kaya film-film distopia yang kamu suka. Kayak the end of the time, kiamat, pokoknya dunia ini udah mau selesai."

Dia mengangguk-ngangguk berusaha terlihat ngerti.

Gue pulang dengan puas setelah menugasi mereka melengkapi cast, lokasi, dan props sepanjang weekend.

H-1, cast belum ada, lokasi belum locked.

"Foto lokasi counter HP-nya mana?"

"Kemaren tutup, Mbak."

"Hari ini buka?"

"Nggak tahu, Mbak."

"Jadi besok kita shooting gimana?"

"Ya besok bisa kok kayanya, Mbak."

Daripada besok gue murka dan apocalypse beneran, komedi ajalah.

New Orange Is The New Black

Akhirnya Orange season baru keluar juga. Katanya season ini season paling dark, paling lucu, dan paling keren karena bisa menceritakan the dynamics of power dan white supremacy yang terjadi di Amerika lewat mbak-mbak penghuni Litchfield.

Yang gue tonton duluan kisah cintanya Piper dan Alex.

Diulang lagi.

Pengen ngulang lagi, content udah diblock Lionsgate.

Dibayang-bayangkan ajalah.

Apa kabar dynamics of power and white supremacy?

Senin, 20 Juni 2016

Seni

Melihat lukisan itu seperti dituntun melihat keindahan, keresahan, dan ke-an lain yang seringkali berserakan di sekitar kita tapi tak lagi kita lihat karena penglihatan terlalu berisik. Karenanya, hari ini gue bela-belain ke sebuah pameran walaupun konon dibayari penjajah.

"Kalau mau beli tiket, harus pakai e-money. Tambah 10.000," kata yang jaga tiket.

Ini pameran atau jualan e-money?

Tapi tetap gue beli.

Di dalam, Millenials silih berganti berfoto di depan karya dengan gaya paling instagramable. Karya apapun, tanpa berminat baca siapa yang bikin atau kenapa dibikin.

Gue memutuskan keluar sebentar, minum Nestle dalam segelas pelastik untuk mengumpulkan mental agar bisa kembali mencuri hikmat dari karya-karya yang ada walau dikelilingi instagrammers.

I'm ready.

"Mbak, kalau mau masuk lagi harus beli tiket lagi."

Pulang.

Sabtu, 18 Juni 2016

Tips Hidup Murah

"Mau mesan minumannya?" tanya si Mbak Pelayan ramah. Terlalu ramah.

"Nanti aja," jawab gue merasa terintimidasi. Takut ketahuan gak mau mesan minuman.

Sekarang gue selalu bawa botol minuman ke mana-mana. Selain karena gak tahan lihat sampah plastik, ogah bayar lebih juga.

Akhirnya gue malah pesan sandwich satu lagi ditambah dessert. Baru dimakan sedikit, sudah minta dibungkus  karena terlalu kenyang.

Walaupun sampai akhir gue gak mesan minum, gue tetap bayar lebih dan nambah sampah buat bungkus makanan pulang. Semua karena insecurity gue gak mau disangka cheapo sama si mbak-mbak pelayan.

Insecurity costs a lot.

Kamis, 16 Juni 2016

Tobat

Lasagna, cheese cake, dan latte. Saat adzan berkumandang masih duduk manis di meja, menanti gue habiskan.

Hap. Hap. Hap.

Lasagna, cheese cake, dan latte. Enam jam kemudian sudah berserakan di lantai kamar mandi, bersatu menjadi bubur-bubur kekuningan dengan ijo di sana sini. Bau kejunya sudah bercampur asam yang membuat ingin memuntahkan lebih banyak isi perut yang sudah terlanjur kosong.

Maag, jantung, atau kebanyakan makan?

Ingat hari ini.


Rabu, 15 Juni 2016

Sebelum 98

Sebelum 98, mahasiswa jenis aktivis itu paling  heits di kampus. Tujuan mereka hanya dua, menjatuhkan Soeharto dan nyari cewe.  Kalau tulisannya masuk di koran nasional, currency percewean nambah.

Gue mendengarkan cerita mereka dengan takjub. Tentang strategi mahasiswa melawan tentara yang sudah seperti cerita perang jaman Romawi lengkap dengan kode bendera dan legion-nya. Cerita tentang kondom yang berserakan setelah hari-hari pendudukan gedung MPR. Cerita tentang dewa-dewa mahasiswa ber-IP kecil tapi khatam Habermas.

"Masa lo gak pernah denger cerita ini?" katanya takjub melihat gue takjub.

Nggak pernah.

Angkatan gue semua digembosi untuk jadi enterpreneur. Aktivis gondrong-gondrong merdeka bukan lagi pujaan wanita. Yang penting kuliah bener, lulus cepat, kerja di perusahaan multinasional, lalu jadi enterpreneur bikin lapangan kerja baru. Gak perlu tahu bagaimana caranya membuat bom molotov, gak peduli di Senayan lagi ngapain.

Padahal gue kuliah cuma 3 tahun setelah 1998. Dalam 3 tahun, gue tidak lagi tahu rasanya berjuang rame-rame.

Mungkin karena gue di ITB juga. ITB pernah diduduki tentara berkali-kali jaman 70an dan 80an.  Jangankan angkatan gue, angkatan yang melewati 98 pun mungkin sudah sibuk jadi enterpreneur.

Tapi setelah 98, ITB mulai dimasuki politik. Hanya saja gue tetap tidak ngeh karena gue tidak pernah main ke sana. Sampai satu per satu celana mereka mulai naik melebihi mata kaki dan tidak lagi pulang ke rumah.

Sementara gue mengerjakan TA.

Selasa, 14 Juni 2016

Baby Pose

Tubuh kita bisa menyembuhkan diri sendiri. Dengan mengatur makanan, minuman, dan olah tubuh.

Untuk sakit ekor belakang, paling gampang dengan child pose. Duduk bersujud dan perlahan-lahan julurkan kedua tangan ke depan. Jari jemari merayapi kasur, berusaha menjauhi lutut sambil menarik sulur-sulur ekor.

Atau bisa juga dengan berbaring sambil mengangkat kedua kaki tegak 90 derajat sampai terasa ekor-ekor meregang.

Kurangi menunduk, terutama gara-gara kebanyakan maen HP atau laptop. Dagu selalu angkat ke atas ketika sempat. Gapapa dibilang sombong asal tulang ekor sehat.

Atau untuk mereka yang beruntung punya pacar berdada empuk, bisa dengan baby pose. Miringkan kepala dan tempelkan telinga dan pipi di dada pacar paling sedikit tiga menit. Semua encok, nestapa,  dan semua masalah hidup akan menghilang.

Home.

Suatu Siang Di Mersi Mami

"Mami di mana? Kalau masih sibuk, Atid naik Uber aja," we-a gue menjelang siang.

"Udah dekat."

Yang artinya baru mau berangkat.

Tapi ternyata tak lama kemudian Mersi Mak Gondut sudah parkir di depan rumah, menunggu siap mengantarkan gue ke travel. Jarang-jarang Mak begini. Mungkin karena kemaren gue baru terkapar kesakitan.

"Kitalah paling enak di dunia ini ya, Tid. Supirnya artis," kata Papi sambil mendelik bulus ke gue.

"Bukan karena artis. Karena Mersi. Abang udah rasakan kan enaknya naek Mersi, di mana-mana dikasih tempat parkir?"  sabda Mak Gondut yang tentunya diakhiri dengan khotbah betapa sebaiknya bensin Mersi ini Papi yang bayar. Padahal di saat beli dulu, Mak Gondut sudah berjanji Papi gak perlu ngisiin bensin.

Di akhir khotbah, gue sudah sampai di travel. Mersi Mak gak dapat parkir, terpaksa nyelip di pinggir jalan bersama tukang batagor dan teh botol.

"Hati-hati ya Dek...," kata Mak dari balik kemudi dengan foreground senyum bulus Papi di kursi penumpang.

Gue melambai lebih lama, melihat Mak selesai nyari receh buat Abang Parkir dadakan yang tetap menagih duit walau Mak cuma berhenti sebentar, sampai Mersi itu menyetir menjauh dengan rusuh.

There are some random moments in life, that you will remember as long as you can, cause in that moment you know you are loved.

This is one of them.

Toleransi

Di sebuah workshop film untuk anak SMA, segerombolan cowo-cowo SMA katolik berambut gondrong dengan keinginan mengubah dunia duduk di sana.

"Apa satu hal yang bisa membuat dunia lebih baik?"

Jika semua orang membuat film yang menyebarkan toleransi.

"Apa krisis terbesar yang dihadapi dunia saat ini?"

LGBT.

Gue duduk di sini dengan murid gue yang hanya tersisa satu, sementara kelompok lain delapan. Bersyukur.

Jawaban dia integritas.

Minggu, 12 Juni 2016

Terkapar

Sudah setengah jam gue terkapar gak bisa bergerak di lantai ini. Percuma berteriak. Kamar ini di lantai 3, jauh dari telinga-telinga lain.

Cuma gara-gara ngebungkuk mau ngambil softex di kotak yang berfungsi ganda jadi bangku, tiba-tiba pinggang ini diserang nyeri tak tertahankan disusul pandangan menghitam. Untung gue masih cukup sadar untuk merebahkan diri ke lantai dan gak membiarkan tubuh ini gedebug bebas ke lantai yang mungkin akan mencederai lebih dari ekor.

"Non?" tiba-tiba suara Mas Yusuf mendekat dari bawah tangga.

"Mas! Jangan naik ke sini."

Gue gak pakai celana. Malu banget terlihat terkapar tak berdaya hanya pakai celana dalam.

"Disuruh Ibu mundurin mobil," katanya, tidak lagi mendekat.

"Bilang Mami kata Atid tolong naik ke atas."

Suara iya mengiringi langkah kaki menjauh.

Tentunya Mak Gondut gak datang-datang. Mungkin sanggulnya belum selesai disasak.

Teringat seorang dosen yang tinggal sendiri dan ditemukan meringkuk kesakitan di kamar setelah beberapa hari gak muncul di kampus, gue langsung berusaha menggerakkan diri.

Tetap gak bisa.

Gue nangis-nangis. Gue gak mau ditemukan mati pake celana dalam doang.

Gue kembali merayap dan berhasil menggapai rok yang terjulur di sofa. Memakainya butuh beberapa jeritan setiap ada gerakan ekor.  Tapi gue tahankan biar ketika Mak Gondut akhirnya datang, gue terkapar dengan pakaian lengkap.

"Ini karena kau kegendutan ini!" kata Mak Gondut tak peka anaknya sedang meregang ekor di lantai.

Tapi mungkin Mak ada benarnya.

Jadi ingatlah hari ini. Pilihannya cuma dua. Tobat dan mulai sayangi badanmu! Atau setiap saat setiap waktu berpakaian lengkap!

Karena kita gak tau kapan maut dan Mak Gondut menjemput.