Jumat, 10 Juni 2016
Cikus Cirani
Rumah Perawan
Rokok, tungau, dan MSG
Rabu, 08 Juni 2016
Filmmaker Gak Muda
Senin, 06 Juni 2016
Stromboli Island
"Pinokio pada awalnya gak tahu dia maunya apa. Tapi karena ada godaan Stromboli Island, pergilah dia ke sana," kata Bu Indah mencoba menjelaskan kenapa semua orang ingin punya rumah.
Hanya saja Pinokio gak tahu kalau kegembiraannya tidak gratis. Dia harus menjadi budak di Stromboli Island, bersama anak-anak lain yang mukanya mulai berubah menjadi monyet dan babi. Begitu juga dengan kita yang berlomba-lomba punya rumah, kadang lebih dari satu. Kita tidak sadar Stromboli Island tidak gratis, harus dibayar dengan uang, waktu, atau wajah yang makin lama makin babi.
Dan sekarang banyak orang tanpa sadar menjadi agen-agen Stromboli.
"Indah, umurmu udah berapa? Haruslah punya rumah."
"Indah, kamu gak mau kawin? Ntar susah punya anak kalau udah tua."
Padahal tidak semua anak ingin punya rumah dan anak. Ada anak yang gak tertarik dengan keriaan Stromboli Island. Lebih tertarik mengelana dunia dan pulang ke rumah Geppeto yang menyayanginya.
"Kok ibu bisa sih tinggal dengan orang tua?" tanya gue heran. Di tengah-tengah para korban mother issue dan father issue, sepertinya lebih enak jadi budak Stromboli daripada harus tinggal dengan father mother si sumber issue.
Respect dan Privacy, katanya.
Dua hal yang dihargai orang tuanya tapi mungkin tidak dimiliki banyak orang tua lain.
"Kok orang jaman dulu bisa ya tinggal dengan orang tua?"
Karena orang tua jaman dulu punya aset sosial dan aset finansial yang membuat keturunan mereka harus tinggal dengan mereka kalau gak mau kehilangan hak sosial dan finansialnya. Jaman dulu kan keluar dari rumah hanya untuk orang-orang yang dikeluarkan paksa karena kawin beda adat atau memalukan keluarga. Sekarang Stromboli Island memanggil-manggil kita dengan janji hidup yang bahagia, bermartabat, dan merdeka.
Apakah kita bahagia, bermartabat, dan merdeka? 60% gaji kita untuk tuan tanah. 100% waktu kita untuk tuan bos, gak ada waktu lagi mengerjakan mimpi. Lambat laun wajah dan kulit kita pun tak seindah dulu, penat jadi budak tak bisa ditutupi.
Dan semua ini bisa selesai kalau saja unit-unit keluarga lebih memelihara respect dan privacy di rumah-rumahnya, agar anak-anaknya tidak berkelana ke Stromboli Island.
Minggu, 05 Juni 2016
Pagar
Gue berjalan melewati jalan, gang, dan kuburan. Semua berpagar.
Ada yang rumahnya gak berpagar, asri serasi cenderung serupa dengan tetangganya, tapi kompleksnya berpagar. Ada yang gak bisa punya pagar, karena pintunya langsung berbatas gang. Tapi pintu itu dikunci ganda.
"Sejak kejadian 98, pagar aja tidak cukup. Sekarang semua jalan kecil punya portal tiap malam," katanya.
"Itu bukan karena makin banyak pencurian ya?" kataku.
Entahlah kenapa. Tapi satu yang gue rasakan di setiap pagar, portal, dan penjagaan.
Fear.
Jadi jika di sepanjang jalan, yang gue lihat hanya pagar... apa yang sebenarnya gue lihat?
No wonder love feels so hided away.
Sabtu, 04 Juni 2016
A Beautiful Tiny Step
Gue pengen bikin film yang adil.
Entah kenapa script ini gak juga bisa gue selesaikan. Hati ini malah pengen ke Bandung. Mungkin gue harus mengikuti kata hati, menemui seorang dosen arsitek yang mungkin akan bisa menjelaskan banyak kekusutan soal bagaimana agar semua orang punya rumah.
"Ke Bandung macet banget," kata seorang penduduk Bekasi yang lagi dijodohin Mak Gondut ama Deden. Tadinya gue males ikut, tapi karena kasian ama Papi ya ikut juga.
Untunglah gue ikut. Akhirnya gue memutuskan naik kereta aja.
"Ini tiket terakhir, Mbak. Gak bisa milih tempat."
"Bah beruntung kali," kata Chica yang mengantarkan ke stasiun on the way beli popok.
Bukan beruntung. Sepertinya gue memang harus ke Bandung.
Gue menghubungi si dosen anti kusut, tapi dia gak bisa hari ini dan besok. Ya udah gue berhenti pijit di Zen ajalah. Mumpung angkot ini lewat sana.
Selesai pijit, entah kenapa pengen banget ke Sate Pak Gino. Padahal gue gak makan daging.
Selesai makan, seorang adik kelas arsitek datang. Dia mau ketemuan dengan temannya yang datang dari Jakarta dan masih terjebak macet di tol. Sambil menunggu temannya, gue undang duduk sama gue aja. Tempat lain penuh.
Ini pertama kalinya gue ngobrol dengan dia. Di kuliah, dia cuma another adik kelas. Ternyata dia punya jawaban atas banyak pertanyaan gua. Di usia yang masih sangat muda, minatnya dengan social housing membawanya pernah kerja di Perumnas, Developer damai yang tidak damai, tim Tsunami, tim yang mengusulkan pembangunan kampung deret sebagai alternatif penggusuran Kampung Pulo, sampai tim yang ikut menjadi konsultan di titik-titik pengembangan sekitar stasiun kereta cepat.
"Gue gak pengen punya rumah. Gue cukup ngekos aja," katanya.
Umurnya 32. Gajinya 7.5 juta. Harga kosannya 5% gaji. Ke mana-mana naik angkot dan sepeda. He seems like a true hipster, bukan hipster instagram. Jangan-jangan hipster sejati memang cuma bisa ditemukan di kota murah seperti Bandung.
Tiga setengah jam kemudian, baru temannya sampai. Sepertinya tiga setengah jam ini memang waktunya gue ketemu dia. Dan dia ketemu gue.
"Lo kayanya strategis banget," katanya.
"Bikin film yang gue mau mah gak bisa strategis. Cuma bisa beriman. Gak tahu di depan ada apa. Cuma bisa banyak berdoa sambil berjalan selangkah selangkah. Mungkin samalah sama lo, yang milihnya malah jadi arsitek social housing."
Sepertinya dia dapat sedikit kelegaan.
Padahal sudah lama gue tidak beriman. Terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Karir film gue dimulai dengan iman kalau film ini harus dibuat. Dan satu per satu langkah gue dituntun sampai film itu selesai. Tidak bagus, tapi mendamaikan hati ini soal kenapa kita diciptakan beda-beda kalau Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara.
Every step is a step of faith. And every step is a beautiful surprise. Seperti ketemu dia hari ini yang sama sekali di luar rencana.
Rencana gua.
Jumat, 03 Juni 2016
Kata Mamak
"Kok badanmu tambah besar?" sulut Mak Gondut ketika gue jemput di stasiun hampir tengah malam.
Hari ini gue jalani dengan resign dan napas teratur, berusaha tidak terganggu dengan segala kelucuan Jakarta. Berhasil. Tapi baru ketemu Mak Gondut 5 detik, napas gue langsung pendek-pendek.
"Kalau gak ada kerjaan, kau jadi supir Uber ajalah," sambung Mak Gondut begitu masuk mobil.
Tambah pendek.
"Ya bersyukur ajalah ada nona manisnya yang mau jemput-jemput kita," kata Papi melihat gue becut.
Gue tetap becut.
Mungkin gue bisa sebal karena gue sebenarnya setuju ama Mak Gondut. Gue pengen badan gue gak sebesar ini. Dan gue pengen gue udah mulai bikin film lagi. Dan gue pengen emak gue gak bikin gue berasa lebih worthless.
Pengen #1 dan #2 segara kerjakan!
#3 ?
Cuma gue yang bisa bikin gue berasa worthless.
Kamis, 02 Juni 2016
My Life Theme
"Saya memang family man banget. Kalau pisah ama keluarga pasti dicium pipinya. Bukan cipika cipiki ya. Beneran dicium," katanya saat QnA filmnya yang baru menang Critics Week Cannes sambil melirik kru cantik di kanannya yang sepertinya diproyeksikan menjadi keluarga.
Karenanya tema kehilangan keluarga sangat dekat dengan dia. Bertahun-tahun sekolah film di Jakarta membuat dia jauh dari mereka.
24, knows what he wants, and celebrates his simple life. Menonton dia membangkitkan pertanyaan buat gue yang sepertinya tidak tahu lagi maunya apa setelah terlalu lama hidup ribut dan mahal di Jakarta. Kayanya pas 24 gue malah tahu gue maunya apa.
What is my life theme?
"Film-film lo tuh mencari cinta," kata Ucu dulu mencoba menganalisa.
Mungkin. Gue kan memang paling suka nonton film cinta. Tapi bukan hanya cinta antara dua manusia horny. Cinta yang lebih luas, lebih condong ke persahabatan. Antara cowo dan cewe. Ibu dan anak. Musuh dan musuh.
Berarti bukan cinta, lebih tepatnya persahabatan. Persahabatan yang menerima apa adanya. Karena seumur hidup gue gak pernah merasa diterima apa adanya. Entah karena agama. Karena pilihan karir. Karena berat badan. Karena orientasi seksual. Karena suka salah ngomong.
Makanya gue juga gak bisa nerima orang apa adanya.
Mungkin dunia akan lebih indah kalau orang-orang lebih nerima satu sama lain apa adanya. Mungkin nggak.
Mungkin harus dimulai dengan gue menerima kalau dunia memang begini adanya.
Dan gue memang begini adanya.
Bah. Kok jadi basi. Terlalu bijaksana.
Mungkin bukan diterima, tapi diketawain ajalah. Lebih cocok buat orang-orang tak bijaksana seperti gua.
Rabu, 01 Juni 2016
22
Pagi ini gue bangun kepikiran ya olo Uma Thurman di Pulp Fiction itu udah 22 tahun yang lalu. Sandra Bullock di Speed juga. Dulu mereka seumur Jennifer Lawrence. Sekarang udah hampir 50.
Kayanya gara-gara kemaren gue baca artikel di Facebook.
It was 1994. Gue masih 11, SMP kelas 1. Diajak Mami nonton Forrest Gump yang gue ketiduran karena udah kemalaman. Di bioskop murahan yang ngantrinya dikit dan sekarang udah kebakaran, gak kepikiran suatu hari gue bakal pengen bikin film kaya Forrest Gump.
Tapi tahun itu gue bikin drama di kelas, buat tugas Bahasa Indonesia. Gue sutradara, penulis, merangkap aktor untuk 3 peran sekaligus. Gue gak inget lagi ceritanya apa, something about guru dan murid. Yang gue inget malah ekspresi pacar teman gue pas gue gak sengaja expose kutang ketika berusaha ganti baju di luar kelas untuk peran ke tiga.
Dia tutup mata. Padahal gue belum masanya pakai BH.
22 tahun berlalu, gue gak pernah berhubungan lagi dengan teman-teman SMP. Tapi poster Pulp Fiction masih tergantung di dinding kamar. I still think Shawshank Redemption, Forrest Gump, and Pulp Fiction great. Speed nggak great sih, tapi Sandra Bullock tetap hot.
Uma Thurman juga.
Gue masih malu expose kutang depan umum.
Gue pengen mulai sekarang sampai 22 tahun ke depan nyaman expose kutang. Biar almost 50 dan tetap hot kaya Sandra Bullock dan Uma Thurman.