Rabu, 20 April 2016

Hujan Di Akhir April

Jam 7 pagi, berasa jam 5
Matahari belum muncul
Mungkin kembali berselimut
Malas melihat hujan
Yang muncul di akhir April

Yuhuuu hujan... kau terlambat 4 bulan
Ini bulannya aku bersinar

Tapi hujan tetap bertahan
Sambil menari bersama kabut
Matahari pulang ke kandang
Mungkin Al Gore ada benarnya

Selasa, 19 April 2016

Komunitas

"Komunitas itu sebenernya PH tapi gak laku," kata seorang sutradara iklan yang sepertinya gak pernah bikin film bareng-bareng teman tanpa bayar.  Walaupun di kemudian hari gue tahu ternyata dia sering gak bayar orang walaupun bukan teman, kata-katanya masih membekas sampai hari ini.

Komunitas sering berarti no money, no profit, no legal entity, no professional background, no future...  mereka datang dan pergi tanpa ada hukum yang mengikat. Yang menyatukan mereka hanya kecintaan yang sama, kebutuhan yang sama, atau keinginan yang sama. Sampai tiba waktunya, mereka tak lagi sama.

Di dunia neoliberal yang semakin bikin gue ngerasa isolated and helpless ini, komunitas tiba-tiba menjadi jawaban. Sharing economy menjadi dimungkinkan. Tiba-tiba gue gak perlu punya mobil, gak perlu punya villa, gak perlu punya pacar untuk menikmati hidup. Bahkan gue gak perlu kenal sama yang punya mobil, punya villa, atau yang punya pacar. Semua bisa dibagi.

Bagaimana dengan film yang bukan kebutuhan utama dan dananya sampai 5 Miliar? Apakah sharing economy bisa diterapkan di sini?

Coklat Jahat

"Pi, nanti lain kali kalau beli coklat jangan yang ijo ya," kata gue saat sarapan sambil menaburkan bubuk coklat berbungkus hijau yang seharusnya diminum tapi lebih suka gue kunyah bareng roti.

"Kenapa?" tanya Papi.

"Soalnya perusahaannya jahat. Ladang soyanya di Amerika Selatan segede Eropa. Tapi petani di sebelah ladangnya kelaparan."

"Ah semua kau bilang jahat. Bisa aja itu cuma isu lawan bisnisnya," sahut Mak Gondut.

Lalu Mak Gondut lanjut bercerita tentang tontonannya tadi malam,  petinggi BPK yang kurang ajar punya account di Panama  dan betapa Ahok pasti benar.

Mending gue makan coklat hijau.

Sabtu, 16 April 2016

Pegangan Tangan

Pada suatu ketika, mereka berpegangan tangan. Walaupun sebuah cincin melingkar di jari manis si wanita.

Eh, tunggu dulu. Satunya lagi tangan cewe juga.

"Iya mereka emang sempat pacaran dua tahun," kata make up artist, sumber segala pengetahuan di dunia pergosipan. Sering dianggap gak punya telinga, padahal suaranya bisa jalan ke mana-mana.

"Bah! Kok gak cerita kau dari dulu?" kata gue kepo. Kenapa selama ini kalau ketemu kami malah ngomongin gimana caranya membuat film yang adil dan inequality dalam kru film.

Bukannya ngomongin si aktris beranak dua, bersuami sutradara, yang jatuh cinta dengan sutradara lain yang sama-sama perempuan,  putus, lalu sekarang jadian ama penata artistik yang juga perempuan.

Dan gue masih di sini saja.

Pengen pegangan tangan.

Celana Mini

Pagi-pagi ke Rumah Mode, membeli celana mini 70 ribu saja. Lumayan buat di Jakarta, gak gerah di rumah, gak basah di paha.

Test drive dululah di Bandung. Walaupun dingin menyerang, daripada pakai celana kesempitan bikin belahan pantat nampang.

"Pendek kali celana kau. Ingat, kau udah tiga puluhan, bukan anak kecil lagi!" seru Mak Gondut.

Di zaman hot pants berlomba terus memanjat melewati selangkangan, ternyata celana begini bagi Mak Gondut masih kependekan.

Hanya Mak Gondut yang bisa membuatku kangen Jakarta.

Kamis, 14 April 2016

Susu

Ke Bandung lagi, makan Pizza lagi, makan keju lagi, kopi susu lagi.

Semingguan gak makan susu dan keju, gue kembali menjadi turunan sapi.

Ah dangdut tali kecapi, biar gendut yang penting seksi...

Atau dangdut tali kecapi, biar gendut yang penting hepi...

Bisakah gendut tetap seksi dan hepi?

Bisa ah.

Rabu, 13 April 2016

Ngajar

Hari ini kelompok yang gue mentorin menang lagi. Untuk ke tiga kalinya berturut-turut. Yang batch sebelumnya gak menang, tapi film mereka jadi satu-satunya yang terpilih masuk sebuah festival.

"Yah kebetulan gue dapet anak-anaknya selalu yang niat," kata gue.

"Ah kalau menurut gue tergantung mentornya kok anak-anaknya jadi niat atau nggak," kata mentor lain.

Tentunya hanya satu yang ngomong gitu. Yang lain menganggap gue beruntung saja. Jadi memang gapapa gue gak ngajar lagi di workshop kali ini.

"Lo tuh bisa  ngajar! Ilmu tuh harus dibagi," katanya mencoba menyemangati.

Tapi malah mengingatkan gue ke hari-hari gue ngajar di sebuah universitas.

Seorang anak bertanya, gue suruh google aja. Jangan apa-apa nanya gua. Dia membalas dengan membuat sinopsis tentang seorang filmmaker wannabe yang kebetulan jadi sutradara karena gak ada yang lain yang bikin film. Maksudnya gue, kayanya.

Lalu ada juga anak lain yang merasa gue permalukan karena gak boleh punya dua DoP. Dua DoP menunjukkan dia gak punya visi filmnya butuh look DoP seperti apa, dan gak punya kepemimpinan untuk bikin salah satu temannya gak ngotot jadi DoP. Dia yakin gambarnya akan luar biasa dengan punya dua DoP.

Melihat hasil filmnya, at least nih anak bisalah jadi videografer prewed. Tentunya kalau client-nya mau kerja ama videografer muka jutek.

Ada juga seorang anak yang menurut gue berbakat dan gue kasih workshop gratisan 3 wiken berturut-turut. Di hari seharusnya ngumpulin script, dia gak ngumpulin script karena memilih ngerjain  proyek KAA yang duitnya lebih gede.

Mereka-mereka inilah yang muncul di kepala gue tiap gue disuruh ngajar. Padahal banyak anak lain yang menginspirasi gue. Ngajarin gue after effect. Ngajarin gue ketawa-ketawa. Ngajarin gue kerja sama. Andaikan yang gue ingat mereka, pasti gue akan lebih semangat mengajar.

Ya ingat merekalah. Gitu aja kok repot.

Pasti

"Jadi kau di Jakarta ngapain aja? Duduk-duduk aja gak kerja?" tanya Mak Gondut sebal begitu gue sampai ke Bandung.

Daripada menjelaskan panjang lebar dan terdengar seperti alasan, mending gue beliin dia Terong Raos.

Mak Gondut mulai terbiasa dengan film ditulis sebulan, shooting sebulan, 4 bulan kemudian udah tayang.  Melihat anaknya berbulan-bulan nulis satu script tanpa kepastian akan jadi atau nggak mungkin memang bikin dia frustasi.

Bayangkan aja rasanya jadi anaknya, nulis berbulan-bulan tanpa ada yang membayar. Bagaimana frustasinya.

Tapi anaknya gak frustasi. Karena di kepala anaknya semua ini pasti. Seperti ketika dia resign untuk bikin film pertamanya. Atau ketika dia bikin PT untuk bikin film ke dua. Makanya dia selalu menulis, walau mamaknya selalu frustasi.

"Dia udah mau bikin PH lho, Tid," kata Indri menceritakan seorang teman.

"Bagus dong?" jawab gue.

"Iya kau kayak dialah. Tangguh. Kerja keras," kata Mak Gondut.

Sepertinya temperamen teman kita itu cocok untuk punya PH di industri film seperti Indonesia. Dia bisa bekerja dengan orang-orang yang terlalu bikin frustasi untuk gue temui sering-sering.

Orang kaya gue mungkin harusnya jadi filsuf, bukan filmmaker.

Eh tapi kan kita generation who gets philosophy in a movie. Udah bener dong jadi filmmaker?

Nggak. Sekarang we get philosophy in Pinterest.

Dan banyak alasan lain untuk gak bikin film.

Tapi gue tetap menulis. Mungkin karena frustasi. Mungkin karena gak tahu mau ngapain lagi. Mungkin karena belum tenang mati kalau ini belum jadi. Mungkin karena menulis menenangkan hati sendiri.

Dan alasan-alasan lain yang gak cukup menenangkan Mami.

Yang membuat gue tetap tenang, karena di lubuk hati ini berdendang sebuah lagu yang gue tulis di hari gue memutuskan resign dari arsitektur. Sebuah janji dari yang memegang tangan gue sejak hari itu.

No glory, but somehow it's enough.

Senin, 11 April 2016

Rumah Lagi

Kenapa gue nggak mau tinggal ama orang tua? 

Kapitalisme membuat gue lebih menghargai  manusia-manusia yang bisa punya rumah sendiri. Gue gak mau dianggap kurang sukses karena gak punya rumah sendiri. 

Padahal harga sebuah image sukses adalah kita melupakan budaya leluhur kita yang  sebenarnya sangat komunal. Kebanyakan rumah tradisional di Indonesia dihuni bersama satu keluarga besar. Bapak, Mamak, Namboru, Amang Boru, Opung, Ponakan… dengan open lay out yang memungkinkan fungsi ruang berubah dari waktu ke waktu. 

Sangat modern, sebenarnya. Tahan gempa pula.

Dengan hidup komunal, gue gak harus sendirian menghadapi dunia neoliberal yang semakin kejam ini, yang tuntutan hidupnya gak lagi memberi gue ruang bermain-main. Harus selalu kerja kerja kerja dan produktif. Padahal dunia tetap berjalan dengan atau tanpa film gua. Barang dia. Jasa dia.

Tapi emang gue mau balik lagi ke masa komunal ketika hidup gue ditentukan satu keluarga besar? Jodoh ditentuin. Hobi dibatasin. Pakaian dilarang. Kerjaan diatur.  Belum lagi tetangga kanan kiri kepo ngurusin orang lain karena gak ada yang sibuk bekerja.

Dunia non komunal yang merebut sebagian kemerdekaan gue menjanjikan kemerdekaan lain. Bisa bangun jam berapa aja. Bisa telanjang guling-guling di rumah gak ada yang rewel. Bisa nanam makanan sendiri. Bisa seharian nonton DVD tanpa ada yang nyuruh kerja. Bisa pacaran.

Tentunya kalau ada pacar. 

Gak perlu berbagi sabut cuci piring dengan Mami yang lebih sayang sabun daripada takut kuman. Bisa punya kamar mandi bersih mengkilap tanpa dahak-dahak jijay.  Bisa milih furniture praktis multi fungsi tanpa ukir-ukir abad Roccoco. Pokoknya yang lebih gue.

Mencerminkan apa yang penting buat gue.

Gue.

Begitu banyak alasan kenapa hidup sendiri lebih menyenangkan. Orang dulu mungkin ketakutan hidup sendiri karena tantangan alamnya beda. Mau keluar makan, ada beruang. Mau nanam, harus bareng-bareng. Sekarang setelah ada Uber, Gojek, dan Happy Fresh, hidup komunal jadi kehilangan daya tawarnya.

Tapi mungkin ini karena kemampuan berpikir gue yang terbatas, self centered, dan gak mau berpikir panjang. Coba lihat dampak hidup non komunal yang gue bilang indah itu ke masyarakat secara luas. 

Fear. A broken society. No strong labour movement.

Kita kehilangan semua aspek yang konon syarat sebuah kumpulan orang baik satu  RT maupun satu negara berhasil membuat perubahan yang lebih baik.

Love. A united society. A strong labor movement.

Mungkin jawabannya ada di tengah-tengah. Bukan komunal. Bukan non komunal. Sebuah desain rumah komunal yang masih memberi ruang-ruang buat individu mengekspresikan diri.

Bentuknya seperti apartemen mix use saat ini tapi Fasum dan Fasos-nya lebih dominan dan dikelola bukan oleh swasta, tapi oleh penduduknya sendiri sehingga semakin hari akan semakin mencerminkan apa yang penting bagi warganya. Lingkungannya tidak dipagari tinggi biar isolated dari sekitarnya tapi connected dengan lingkungan lain.

Jadi gue bisa tetap pacaran tapi sekali-sekali ke apartemen Mami.

Dasar anak senja. 

Minggu, 10 April 2016

Rumah Kita

Kata Alain De Botton, rumah seharusnya mencerminkan apa yang penting bagi si yang punya.  

Jadi buat gue, rumah itu yang penting apa?

Yang penting fungsional, nyaman buat gue pake tidur, mengulat, leha-leha, dan aktivitas lain yang pengen gue kerjain sendiri, gak bareng teman-teman. Kamar mandinya bersih dan membahagiakan.  Kalau kadang-kadang pengen masak, bisa. Kalau mau bekerja di rumah juga bisa. Kalau sesekali ada teman bertandang, bisa ditampung. Jangan kebesaran biar gak usah pake pembantu. Bisa dibersihin sendiri, hitung-hitung meditasi.

Airnya bersih. Listriknya gak mati-mati. Udaranya gak polusi, makanya mungkin harus tetap banyak hehijauan, gak didominasi beton beton dan beton.

Kalau dari tampak, yang penting pake bahan-bahan lokal yang bikinnya gak merugikan orang lain dan spesies lain. Gak perlulah pake bata korea atau keramik Italia atau segala macam yang bukan kita. Yang penting kualitas tinggi,  tahan seumur hidup setidaknya, biar gak usah gonta ganti dan menambah sampah dunia.   

Gak usah pake pagar tinggi maupun pendek. Jelek, kaya penjara.  Gak masalah lihat-lihatan sama tetangga kadang-kadang. Kalau malas ketemu orang ya tinggal tutup tirai. 

Makanya tetangganya jangan yang rese-rese. Kalau bisa semuanya teman-teman semua, jadi kalau mau maen ke rumah teman gak usah naek mobil. Yang sama-sama suka film. Sama-sama menganggap seni, budaya, sejarah, dan science penting. Jadi bisa make ruang publik sama-sama karena hobinya sama. 

Masa daerah rumah dibagi berdasarkan hobi?

Ya daripada sekarang, dibagi berdasarkan penghasilan? Makanya mungkin kita jadi malas ketemu tetangga. Lebih menyenangkan kan kalau pembagian kompleknya berdasarkan hobi. 

Dekat ke pasar. Dekat ke kerjaan. Dekat ke sekolah. Dekat ke tempat olah raga. Kalau anak si Chica datang, ada tempat maen-maen di luar, jangan rumahku dirusaknya.

Yang ada Art center. Museum. Cultural Center. Science Center. Pokoknya tempat-tempat yang memang didedikasikan untuk maen-maen sambil berpikir gimana membuat kehidupan kita lebih baik lagi. Bolehlah center-center ini agak jauh, di tengah kota, biar seluruh kota bisa make. Kalau bikin banyak di tiap komplek pasti terlalu mahal dan kurang seru. Lebih baik satu aja. Pengen juga sekali-sekali ketemu mahkluk dari distrik lain yang hobinya gak sama ama kita.

Tapi ke sananya gak boleh rempong. Harus ada transportasi massal, biar gak perlu pake mobil masing-masing, trus bikin macet. Sebenarnya memang lebih menyenangkan hidup tanpa mobil kalau transportasi umumnya bener. Malas kali ngabisin hidup cuci mobil, ganti oli, isi minyak, service. 

Mata pencaharian utama warganya difokuskan memenuhi kebutuhan warga kota, bukan membantu perusahaan multinasional yang keuntungannya buat kemajuan negara lain. Industrinya jadi cukup memproduksi makanan sendiri, pakaian sendiri, alat-alat sendiri. Sisanya bekerja di bidang jasa yang berfokus mencari solusi agar kehidupan kita lebih baik. Karenanya paling utama pendidikan.

Dengan menanyakan ke diri sendiri sebuah pertanyaan sederhana rumah itu yang penting apa,  sebenarnya gue sedang mendesain sebuah kota ideal tanpa perlu mengerti teori-teori Urban Design.

Kata Romo Mangun, karakter bangsa bisa dilihat dari arsitekturnya. 

Gue memandang keluar, ke kota ini. Rumah-rumah kecil beratap tanah liat berbagai warna berjejal-jejal sejauh mata memandang, sampai terhalang kompleks apartemen baru yang berkumpul menjulang. Semuanya berpagar, mungkin takut kecurian, takut dikepoin tetangga.  Di kejauhan terlihat kumpulan gedung-gedung di gedung Sudirman, tampak seperti versi KW Detroit atau New York.

Kata Romo Mangun, karakter bangsa bisa dilihat dari arsitekturnya. 

Apa yang bisa kita lihat dari kota ini?

Fear. Broken Society. Insecurity. 

We do not have to live like this.