Jumat, 08 April 2016

A Good Film

A good film makes me feel something
Happy, sad, disgusted, angry...
Anything but bored

A good film makes me have expectation
Him to win, her to live, them to be together...
Anything but 'this to end'

A good film makes me care
About someone's feeling, someone's win, and even someone's car
Anything but 'whatever'

A good film makes me want to be something
Be content, Be tolerant, Be passionate...
Anything but be right

But maybe those are not good films
Just films that I happen to like
Sometimes not the films on top of The List
Sometimes they are

Just films that I happen to like
It should be good enough reason
It should be the only reason

Kamis, 07 April 2016

Di Tengah

Seorang sutradara muda belajar film ke Jerman. Sementara belajar bahasa dulu. Kalau bulan depan  dia gak keterima di sekolah yang dia mau, dia mau sekolah film di California aja.

“Kok enak banget ya? Banyak pilihan,” kata seorang Astrada laku yang jadwalnya jarang kosong tapi gak bisa punya rumah.

“Tapi ya mungkin makanya film Indonesia gak napak ya? Sutradaranya kaya semua,” sahut gue.  

“You don’t have to be poor to tell stories about poor people,” kata sutradara kaya yang baru saja membuat film tentang orang miskin yang pengen boker di mall.

Max Havelaar tidak ditulis orang miskin.

“Tapi kan gak semua orang observant kaya lo,” jawab gue. Tadinya gue ingin menyambung dengan cerita kegalauan teman kami sutradara lain yang gue temui minggu lalu, tapi gue putuskan gak jadi.  

Teman kami itu kecewa sekali dengan Pemerintah Jakarta dan Kelas Menengah Jakarta seperti kami yang tidak punya empati. Berhari-hari dia menemani masyarakat miskin kota berdemo di depan kantor presiden yang dulu mereka dukung naik tahta dengan apapun yang mereka punya. Sekarang mereka terancam tergusur kalau tidak mampu bayar uang muka rumah susun. 

“Gimana caranya punya 15 juta? Pakaian aja cuma satu. Lemari aja gak pernah tahu,” katanya sedih.

Yang membuat dia lebih sedih dan marah, komentar teman-temannya sendiri. 

Siapa suruh gak punya KTP.  Siapa suruh bangun rumah di tanah pemerintah. Siapa suruh datang Jakarta. Seakan-akan semua kemiskinan ini hanya karena si miskin malas tak mau bekerja, gak seperti kita kelas menengah pekerja keras yang layak ngupi-ngupi di kafe tiap wiken.

“Gue jadi sadar kalau semua yang bisa naik ini ya orang-orang yang bisa berkompromi. Yang gak punya sikap. Yang cari aman. Yang kaya gue ini emang akan dipinggirkan, dianggap terlalu keras, dianggap gak bisa bekerja sama, mengada-ngada.”

Gue hanya diam.

Dua-duanya sutradara yang gue hormati. Dua-duanya teman yang gue sayangi. Dua-duanya sudah memilih tempatnya.

Yang satu sudah memilih berkompromi. Mungkin duit filmnya tercemar duit pembakaran hutan. Mungkin dia harus berhadapan dengan produser kapitalis tanpa visi film apa yang bisa membanggakan tak hanya menguntungkan. Tapi setidaknya dia banyak berkarya.  Film-filmnya menjadi angin sejuk di tengah-tengah film asal keren yang menggenangi kolam kita.

Yang satu sudah memilih tak berkompromi. Dia akan berjalan bersama masyarakat miskin yang suaranya tidak mau didengar oleh media kelas menengah. Dia akan menjadi suara mereka.  Mungkin karyanya tidak akan banyak, tidak akan kaya, tapi akan menjadi karya yang akan diingat generasinya. 

Dua-duanya sudah menemukan jalannya. Dua-duanya membuat yang terbaik yang dia bisa.

Gue di mana?

Sepertinya bukan dua-duanya.

Yang satu memang anak orang kaya. Sekolahnya aja di Pasadena. Kekayaan keluarganya yang pengusaha kayu tidak akan habis dua turunan. Dan dia tidak mau punya anak, jadi cukup. Memang sudah tempatnya di sana, menjadi suara orang-orang yang berkelimpahan. Bukan berarti tidak peduli kelas lain.

Yang satu memang tidak kaya. Anak emaknya ada banyak, janganlah mengharap warisan. Bisa bertahan hidup di kontrakan saja sudah bersyukur. Sudah pas-pasan, kemalingan pula. Memang sudah tempatnya di sana, menjadi suara orang-orang yang kekurangan. Bukan berarti  tak punya harga diri dan keyakinan.

Gue berbeda. Gue tidak kaya, tidak miskin. Tidak pagi, tidak siang. Tidak air, tidak tanah. 

Sejak dilahirkan senja hari, takdir selalu membawa gue berjalan di tengah. Gue belum tahu apa artinya berjalan di tengah. Mungkin gue tidak akan pernah bersinar merah menyala. Mungkin gue akan berakhir seperti Sukarno dan gerakan Non Bloknya. Mungkin gue hanya akan menjadi lumpur karena tidak pernah memilih air atau tanah.


Tapi lumpur kan bisa jadi masker. 

Bahagia

Kata Socrates biar bahagia aku gak boleh jadi domba
Mengekor domba lain yang lebih tahu mau ke mana
Berpikir, bertanya, analisa!
Agar bisa bersuka tanpa kata mereka

Kata Epicurus biar bahagia aku harus merdeka
Nikmati makan, minum, dan bekerja 
Bersama teman senasib sepenanggunan
Menjalani hidup yang teranalisa

Kata Seneca biar bahagia aku harus berserah
Jangan berharap hidup selalu cerah
Karena hidup cuma rangkaian chaos yang terarah
Berserah menjauhkan marah-marah

Kata Montaigne biar bahagia aku harus terima diri
Terima bodi ini memang tak seksi
Terima orang lain akan selalu menghakimi
Terima diri tak pintar tak jeli

Kata Schopenhauer biar bahagia aku tak boleh buta 
Cinta datang dan pergi kadang kadaluarsa
Berharap cinta selamanya hanya kan menyiksa
Plot realita gak sefokus buku cerita

Kata Nietzche biar bahagia aku harus menderita
Jangan mau dimabukkan alkohol dan agama
Yang menjanjikan hidup indah dalam delusi surga
Hadapi, jalani, nikmati perihnya

Kata Lana Del Ray a.k.a Lizzie Grant 
Just do what you love and do what you can

Kata gue

Mandilah dan berbahagialah

Rabu, 06 April 2016

Shaking Tebet

Gue tertidur dilindungi tirai dim out dari kelap kelip gedung sebelah yang sepertinya gak lelah-lelahnya bekerja. AC dipasang ke mode Auto Econavi 24 derajat, suhu yang pas untuk mendengkur di malam sejuk imbalan setelah siang yang terik.

Gue membayangkan hari ini. Hari ini gue tidak keluar dari kotak ini.

Untuk apa?

Mau makan, tinggal pesan. Mau kerja, tinggal buka laptop. Mau bercakap-cakap, tinggal telepon. Mungkin hanya gempa yang akan membuat gue keluar dari kotak nyaman gue, seperti Hikikomori di film Shaking Tokyo.

Lalu tempat tidur gue berderit-derit. Sinar-sinar gedung sebelah yang berhasil menyelinap ke langit-langit memanjang, sepertinya gedung ini sedang membungkuk.

Gempa?

Gue melonjak dari tempat tidur, memeriksa Google apakah barusan gempa tapi sinyalnya tak even H+. Gue buka balkon. Kolam renang di bawah sana tetap tenang, tak bergejolak. Satpam-satpam masih santai memandu parkir mobil-mobil yang tak perlu dibantu, berharap dua ribuan.

Masa sih yang tadi bukan gempa? Gimana kalau ada gempa susulan?

Google tak kunjung menjawab. Ya gue tidur lagi aja.

Ternyata gempa pun tak mampu membuat gue keluar dari kotak ini.

Baru ingat, di film Shaking Tokyo juga dia akhirnya keluar bukan karena Tokyo gempa.

Karena cinta.

Berdua

Diiringi musik Sunda-Sundaan
Si cantik berdiri di ujung jembatan
Tangannya tersimpan ke belakang
Badannya bergoyang ke kiri dan kanan

Kamu ngapain, tanyaku
Menungguku, jawabnya
Lalu kami berkendara bersama
Mumpung 3 in 1 boleh berdua

Senin, 04 April 2016

Orang Merdeka

Aku ini orang merdeka
Yang berdaulat atas waktunya sendiri
Mau pijit mau kerja sesuka hati
Tanpa tuan client ngasih perintah

Aku ini orang merdeka
Yang berdaulat atas perutnya sendiri
Gak habis waktu memamah gula
Tanpa Mbak Cacing mengatur lapar

Aku ini orang merdeka
Yang berdaulat atas lemarinya sendiri
Gak habis waktu memilih baju
Gak nindas Buruh Dunia Ketiga

Aku ini orang merdeka
Yang berdaulat atas kakinya sendiri
Mau macet mau demo tetap melangkah
Gak jadi penunggu si mobil Jepang

Aku ini orang merdeka
Yang berdaulat atas mulutnya sendiri
Yang bersuara ceria menyebar cinta
Tanpa didikte media dan social media

"Tapi penemu 4G LTE tuh bukan orang Jember. Nih lihat deh di Detik. Dia cuma menemukan salah satu cara buat bikin 4G LTE," kata Bang Joko.

"Berarti gue udah jadi bagian menyebarkan propaganda dong?" kata gue yang cuma ceknya ke Wikipedia.

"Iya."

Orang merdeka pun tetap harus riset sebelum bersuara.

Sabtu, 02 April 2016

Rapi

A day trip to Ikea, membeli rak laundry tak sembarang rak laundry. Yang ada 4 kompartemen, jadi baju kotor bisa dipisah-pisahin menurut warna. Rumah lebih rapi, hidup pun lebih rapi.

"Sejak kapan sih lo jadi OCD gini? Perasaan dulu nggak deh," protes Chica yang lemarinya jadi sering kena gue beresin.

Bukan sejak slogan Ikea berubah mengajak kita biar membuat rumah kita lebih rapi dengan membeli produk-produknya. Dicetak gede-gede di setiap sudut toko agar gue gak lupa betapa pentingnya produk doi, eh rapi.

Tapi sejak hidup gue tak lagi rapi.

Jumat, 01 April 2016

Tikus dan Sapi

Alkisah di dunia tanpa dosa
Di mana Tikus dan Sapi makan bersama
Si Tikus melenguh
Si Sapi mencicit
Si Tikus tambah melenguh, sebal kok Sapi malah mencicit
Si Sapi tambah mencicit, senang melihat Tikus sebal

Sampai lewatlah kawan Si Sapi
Sapi tak lagi mencicit, kembali menyapi

Tikus terkekeh-kekeh menyadari
Sapi mencicit hanya untuknya

Why So Serious

Kenapa serius-serius kali kau, Anak Sapi?
Masalah datang dan pergi
Begitu pun kekasih

Lebih baik makan pisang sambil nonton serial bajakan
Tentang Roma menjelang tuhannya banyak orang lahir
Di tanah jajahan yang merasa The Chosen One
Kaisarnya yang tampan dan senatornya yang pintar
Di mana jatuh cinta sesama dianggap wajar
Dan aktor sama hinanya dengan pelacur

Atau berkelana bersama Avatar The Last Airbender
Mengunjungi negeri-negeri untuk belajar air, tanah, dan api
Harus berurutan, gak boleh api duluan
Karena api liar dan tak bisa dikendalikan 
Melahap semua mahkluk yang dia lewati
Tapi air tenang dan tanah kokoh
Hanya si tenang dan kokoh 
Yang bisa kendalikan api

Sampai tiba waktunya
Kita menulis lagi

Anak Senja

Aku dilahirkan saat matahari mau tenggelam
Nggak sore, nggak malam
Senja.

Mereka bilang aku perempuan
Tapi aku lebih senang memakai sepatu bapakku

Mereka bilang aku extrovert
Tapi sering aku lebih senang duduk membaca buku

Mereka bilang aku otak kanan
Tapi aku tak tahan berantakan

Mereka bilang aku kaya
Tapi bertahan hidup aku harus bekerja 

Mereka bilang aku babi air
Tapi aku lebih bahagia bermain-main di lumpur

Aku ini si anak senja
Yang tidak takut siang dan tak gentar malam
Walaupun merahku cuma sekejap
Tapi indah dan mengharukan

Aku hanya harus diam dan bersabar
Sampai merah itu menyala
Bersama kuning abu dan jingga
Untuk menikmati senja yang hanya sebentar

Lalu terbakar

Lalu menghilang