Jumat, 01 April 2016

Anak Senja

Aku dilahirkan saat matahari mau tenggelam
Nggak sore, nggak malam
Senja.

Mereka bilang aku perempuan
Tapi aku lebih senang memakai sepatu bapakku

Mereka bilang aku extrovert
Tapi sering aku lebih senang duduk membaca buku

Mereka bilang aku otak kanan
Tapi aku tak tahan berantakan

Mereka bilang aku kaya
Tapi bertahan hidup aku harus bekerja 

Mereka bilang aku babi air
Tapi aku lebih bahagia bermain-main di lumpur

Aku ini si anak senja
Yang tidak takut siang dan tak gentar malam
Walaupun merahku cuma sekejap
Tapi indah dan mengharukan

Aku hanya harus diam dan bersabar
Sampai merah itu menyala
Bersama kuning abu dan jingga
Untuk menikmati senja yang hanya sebentar

Lalu terbakar

Lalu menghilang

Kamis, 31 Maret 2016

Minyak Narwastu

Ucu bercerita tentang seorang anak yang tidak pernah kenal apa itu lemari. Bajunya hanya satu. Jika kotor, dicuci dan ditunggu sampai kering, lalu dipakai lagi.

Ini hanya salah satu dari sekian banyak warga Jakarta yang miskinnya udah gak masuk akal, malah tergusur dari gubuknya, dan tak bisa melawan demi Jakarta yang semakin seperti Singapur  dan nyaman bagi Kelas Menengah.

"Ya tapi gue yakin Ahok udah berusaha melakukan apa yang terbaik yang bisa dia lakukan," kata seorang kelas menengah yang baru beli lemari 10 juta di Ikea. "Mungkin saat ini dia ya bisanya itu, harus kompromi ama Developer."

Gue mengangguk walau masih bingung. Memang tidak ada gunanya menyalahkan kerjaan orang lain.  Lebih baik memikirkan apa yang bisa gue lakukan.

Bikin film?

Segini banyaknya orang butuh uang, masa gue menghabiskan duit milyaran buat bikin film?

"Orang miskin itu akan selalu ada. Minyak narwastu lo tuh harus dipakai untuk memuliakan Dia," katanya mengingatkan gue akan cerita Yesus diurapi.

Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu mahal pakai rambutnya sendiri. Yudas protes bilang Maria buang-buang duit. Lebih baik dijual lalu dibagikan ke orang miskin.

Yesus menjawab, "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi aku tidak akan selalu ada pada kamu."

Jadi kaki Yesus lebih penting dari orang miskin? Ayat ini mengganggu gue walaupun gue tahu memang Yudas gak peduli ama orang miskin dan cuma pengen sok protes aja.

Sabda Yesus  bukan wahyu yang harus diikuti buta kalau gak mau masuk neraka. Tapi Yesus adalah salah satu tokoh pergerakan yang muncul dari orang biasa dan berhasil menggerakkan kelas menengah ngehek untuk mengubah cara hidupnya. Banyak sekali yang bisa gue pelajari dari perkataannya.

Apa minyak narwastu gue? Siapa yang dengan bahagia gue basuh dengan rambut gue? 

Walaupun gak punya lemari, dia pun punya minyak narwastu  sendiri.

Superman Lawan Batman

Superman dan Batman, kok bisa berantem?

Mungkin karena Metropolis dan Gotham itu sebenarnya kota yang sama,  New York. Hanya jagoan yang satu keluarnya siang, yang satu keluarnya malam.  Mungkin di film ini mereka rebutan korban yang harus diselamatkan.

Ternyata beda kota bo. Yang New York itu Metropolis. Hanya Batman_ secara doi  konglomerat warisan Papa Mama_ tentunya punya gedung pencakar langit di New York.  Ketika New York eh Metropolis diserang kapal alien, Superman bertempur menyelamatkan Metropolis. Sangkin asyiknya berantem dengan sesama alien, gak sadar Superman malah bikin gedungnya Batman runtuh sampai membunuh banyak pegawai kesayangan Batman.

At least runtuhnya ke samping ya bo. Di sini sutradara Zack Snyder menggambarkan gedung runtuh ditabrak benda terbang dengan lebih masuk akal dibanding sutradara 9/11 yang menggambarkan WTC runtuhnya rapi turun ke bawah.

Sambil memeluk seorang anak pegawainya yang hampir saja kejatuhan gedung, Batman menatap sebal Superman yang sedang asyik baku hantam di langit sana, tapi gak bisa ngapa-ngapain tanpa gadget-gadget mahalnya.

Superman ceritanya sejenis Tuhan yang maha kuasa, dan karenanya gak mungkin maha pengasih karena kekuasaan mutlak hanya akan melahirkan tyrant kalau kata para Senator Roma ketika Julius Caesar mau menguasai Republik Roma.

Batman ceritanya juga konglomerat yang sepertinya gak jenius karena diperankan Ben Affleck, bukan Matt Damon.  Tapi harta warisan Batman membuatnya mampu membayar Alfred yang kemudian membuatkan Batman beragam baju tahan segala, mobil balap hitam doff bisa segala, dan mengoperasikan segala teknologinya dari jauh sehingga Batman datang-datang tinggal colok USB atau tekan satu tombol.  

Tuhan yang tirani lawan Konglomerat yang tak kalah tirani.

Kalau saja ceritanya cuma itu, film Superman lawan Batman ini bisa jadi masuk akal. Hanya saja ternyata dua pahlawan kita ini berantem cuma gara-gara diadu domba Lex Luthor, konglomerat jenius tapi jahat yang diperankan pemeran Mark Zuckerberg, bukan karena masalah ideologi seperti diceritakan di awal. Diakhiri dengan Tuhan dan Konglomerat ini tiba-tiba baekan karena mamaknya namanya sama. 

Tapi ya sudahlah. Syukur juga ada karakter Lex Luthor ini. Setidaknya  ada karakter yang bisa gue mengerti daripada dua abang-abang berdada bidang yang sepanjang film cemberut mulu.  Solusi Batman menghadapi si Maha Kuasa ini adalah pake baju besi yang lebih bulky dari biasanya kalau doi ngegebukinnya penjahat jelata proletar biasa.

Di akhir cerita, Tuhan dan Konglomerat bersekutu, membentuk Trinity bersama seorang Wonder Woman yang memang membuat kita wonder wonder semalaman kok doi bisa malam-malam keluar cuma pake baju renang tapi gak kedinginan.

Eh bukan itu ding akhirnya.   Akhirnya Superman mati, tapi pasti belum mati karena di ending film peti matinya getar-getar menandakan akan ada sekuel-nya. Mana rela mereka membiarkan si Maha Kuasa mati begitu saja tanpa mendatangkan uang lebih banyak lagi.

Yang pasti bukan uang gue.  Cukup sekali gue bayar buat film kaya gini.

Selasa, 29 Maret 2016

Gue Benar

"Ya nggak usah bentak-bentak deh, Pi," balas gue sewot.

Cuma karena salah milih jalan keluar, yang ini ditutup, harusnya yang sana, gue dibentak seakan anak paling bodo sedunia.

"Siapa yang bentak-bentak? Memang sama aja kau sama mamimu," bentak Papi.

Di malam tahun baru kemaren Mami memang protes pada Papi yang dia anggap selalu membentak. Papi diam saja, tapi dari mukanya jelas dia tidak pernah merasa membentak.

"Abang kan memang budeg. Suka gak nyadar kalau ngebentak," kata Mami sok ngeledek Papi, berusaha mencairkan suasana.

"Ah memang gak tahu adat aja anak ini!" jawab Papi.

Gue langsung menekan gas sekuat tenaga, menyerudug ganas berbagai mobil Kelapa Gading, membelok ke kiri tanpa kedap-kedip, mengetes batas pacu jantung Papi yang baru dipasang minggu lalu.

"Mana sini kuncinya!" bentak Papi.

Langsung gue kasih tuh kunci mobil. Gue banting pintu depan dan belakang. Pergi bersama Uber.

Padahal sudah terbayang-bayang Sapo Tahu A Hwuat. Tapi daripada gue harus lihat muka bengis Papi, mending gue kelaparan malam ini.

Ternyata gak cuma kelaparan. Gelisah juga.

Gimana kalau Papi kepikiran? Terus nanti jantungnya kenapa-napa?

Tapi kan gue benar. Emang Papi suka ngebentak orang sembarangan. Ya biar dia tahu rasa.

Tapi kan...

Dan banyak tapi lainnya yang gue harus bungkam. Masih dengan bersungut-sungut dan sebal di hati, gue mengetik SMS berusaha tak berpikir.

"Sori ya Pi tadi Atid marah-marah."

"Iya manis. Biasa itu dinamika. Tks. Gbu."

Lega.

Minggu, 27 Maret 2016

Merdeka

Hari sebelumnya gue buka dengan hot chocolate dan croisant coklat Oh La La. Belum siang, sudah kelaparan. Begitu sampai Seribu Rasa, langsung menyantap daun singkong, Lontong Medan, dan Mie Jawa. Untung Terong kosong. Disambung dessert di Kitchenette. Belum dua jam, tambah kentang dan wedges di Holy Cow.

Semakin banyak makan, semakin cepat gue lapar.

Hari ini gue buka dengan air putih. Disambung dengan air putih. Lalu air putih lagi. Lalu air putih lagi.  Mungkin sampai malam akan air putih lagi kalau Papi gak minta ditemenin makan. Gue pun mesen capcay.

Semakin sedikit makan, semakin gue tidak lapar.

Semakin gue merdeka.

"Tid, ke tempat gue yuk. Ada Aglio Olio."

Berangkat.

Di Belahan Lain Brussel

"Kalau jahat, ya jahat. Gak ngaruh miskin atau kaya," kata Chica mulai sebal.

Kemaren bom meledak di Brussel. Bukannya ikut menghujat para pengebom, gue malah menganggap mereka korban kemiskinan dan ketidaksetaraan yang suaranya tidak akan didengar kalau gak meledakkan diri.

"Tapi kan mereka ngebom bukan tanpa alasan. Ya kaya Paris kemaren, kan Perancis duluan yang ngebom Syria."

"Tapi kan ini ngebom rakyatnya."

"Emang di Syria gak kena rakyatnya?"

Untunglah jamur keju 80K + tax 10% + service 5% pesanan Chica datang, memutus perdebatan tentang bom Brussel di hari ulang tahun Chica. Toh gue pun sebenarnya gak tahu-tahu amat apa yang terjadi di Eropa dan Timur Tengah.

Masa ulang tahun Chica diisi dengan ngobrolin kemiskinan, ketidaksetaraan, dan bom? Lebih baik gue menghabiskan Frappe 40K  + tax 10% + service 5%  gue sambil ngobrolin sebaiknya Chica beli tas Celine atau Givenchy.

Ternyata di Plaza Indonesia ini gak ada yang bagus.  Chica akhirnya beli foundation yang di arisan kemaren kata Jacqueline bagus.

Chanel.

Sabtu, 26 Maret 2016

Tiga Oma

Mak Gondut jadi extras, ngobrol-ngobrol dengan Tiga Oma yang salah satunya bercucu tiga dara jelita. Dapet satu line: "Cucumu jodohin sama anakku aja!"

Gue langsung request ke sutradara Behind The Scene biar  ngambil shot Mak Gondut ngomong dialog itu lalu cut-to ke muka gue sedang sujud syukur alhamdulilah.

Sutradara pun dengan suka rela naro gue jadi extras lewat-lewat di belakang Mak Gondut biar gue tetap masuk ke filmnya saat adegan itu.

Lalu hujan pun turun. Shooting pun batal.

Bah.

Tahu Tidak Tahu

"Kenapa di sini gak ada antena TV, Tid?"

"Kan enak damai kaya gini."

"Ya tapi kan jadi nggak tahu di luar ada apa. Gak bisa nimbrung kalau ada yang ngobrol. Kayak kau, banyak yang gak tahunya."

"Jadi menurut Mami dengan nonton TV banyak yang mami lebih tahu dari Atid?"

"Ya iyalah."

"Mami tahu gak semua TV ada yang punya? Jadi yang mereka beritain ya yang mereka mau beritain. Belum tentu yang paling penting."

"Ya makanya mami nonton semua TV. Dibanding-bandingkanlah."

"Lebih baik gak tahu apa-apa daripada tahu dikit trus jadi sok tahu."

"Mulutmu itu kadang-kadang suka seenak perut sama orang tua."

"Mami juga gitu ama Atid."

Lalu kami makan kue.

Rabu, 23 Maret 2016

Nonton Dan Kerja

Dulu gue merasa nonton adalah bagian dari pekerjaan sutradara. Tapi setelah 4 tahun gak bikin film, jangan-jangan nontonlah yang bikin gue gak kerja-kerja.

Tapi siapa bilang gue harus bekerja? Gue cuma harus makan, minum, dan bernapas. Kalau bekerja bisa menghasilkan makan dan minum, barulah gue bekerja. Tapi kalau makan dan minum sudah ada, buat apa gue bekerja?

Biar eksis di kehidupan maya yang cuma sekejap ini?

Gue gak perlu kerja. Toh semua berakhir sia-sia. Gue gak punya kewajiban apa pun di dunia ini. Terserah gue mau ngapain aja.

Jadi pengen bikin film.

A Wholistic Filmmaking

Gue mengunjungi lokasi shooting seorang teman disambut pemandangan seperti...

Seperti shooting.

Artis-artis ber-make up tebal di ruang ber-AC. Kru-kru kurang tidur menunggu mereka siap ganti baju. Sutradara main HP. Asisten-asisten keringetan mondar-mandir berusaha shooting segera dimulai. Filmmaker wannabe celingak-celinguk clueless menunggu teriakan.

Gue duduk di sebuah kursi baso dikelilingi kotak bekas makanan, kabel, tumpukan tas-tas, dan entahlah. Yang rapi di lokasi shooting hanya area seuprit di depan kamera.

Semua sampah ini, semua keringat dan bau ini, semua hanya untuk membuat film yang terkenalnya tergantung pemilik media, tayangnya tergantung pemilik bioskop, lakunya tergantung penonton. Kalaupun laku, tetap bioskop yang dapat uang lebih banyak.

Dikelilingi semua sampah ini, mungkinkah bisa menghasilkan sebuah film indah yang ingin gue kenang?

Gue butuh cara baru membuat film yang gak cuma indah di depan kamera. Yang budget-nya  berkeadilan sosial, makanannya gak dibeda-bedain, gak nyampah, gak tergantung bioskop, tv, apalagi media. Kalau pemodal dan penonton, bolehlah masih gue dengerin.

Kalau nggak, ya mending gak usah bikin film. Toh film bagus udah banyak.