Jumat, 11 Maret 2016

Tips Dicintai

Biar dicintai, ikuti semua maunya. Jangan punya mau sendiri.

Terserah dia makan apa. Terserah dia mau ke mana. Terserah dia mau apa.

Sampai kamu ngantuk dan besok bangun subuh, tetaplah bilang terserah dia.

"Pulang aja deh," katanya setelah mukamu tetap kusut walaupun mulutmu berkata mau.

Biar dicintai, tetaplah mulutmu berkata jujur.

Kalau dia pergi, dia memang tak pernah di sini. Kalau dia kembali, dia memang selalu di sini.

Festival/ Commercial

"Do you do more commercial films or festival films?" tanya gue kepada seorang sutradara Iran di pagi buta di ketinggian 20.000 kaki.

"People in Indonesia keep asking me that question. In Iran, we do not have that distinction. It's all about storytelling."

Well said.

Rabu, 09 Maret 2016

Matahari Sabit

Gue melihat ke kanan, melalui kaca film mobil, sebuah matahari sabit bersinar membuat pagi ini terasa sore.

"Ca, lo gak liat gerhana? Udah mau abis lho."

"Lha katanya 15 menit lagi baru total."

"Di jakarta mah gak akan total."

Chica pun buru-buru keluar rumah. Disusul Bang Gigit, Papi, dan Mbak Eni. Bergantian memandangi langit dengan bantuan hasil ronsen Baby Sergie.

Matahari sabit tetap mempesona walaupun dengan foreground tengkorak Sergie.

Tukang-tukang rumah depan yang gak punya kaca film atau ronsen untuk membantu melihat gerhana malah menonton kami sambil tertawa-tawa.

"Ini cuma seratus tahun sekali ya?" tanya Papi.

"Nggak, Pi. 33 tahun sekali."

Pertama kali terjadi tahun 1983, ketika gue lahir. Berikutnya tahun 2049. Ketika gue mati?

Matahari  dan bulan gak berputar tergantung gue ah.

Selasa, 08 Maret 2016

Revisi

Film sudah dirender. Di-convert ke Youtube HD. Digojekin ke Kepompong. Di-upload ke Youtube.

"Gambarnya sudah oke semua. Hanya font teks dan spasinya bisa direvisi?"

HD harus kembali dikirim ke Editor. Dirender. Di-convert ke Youtube HD. Digojekin ke Kepompong. Di-upload ke Youtube.

"Bisa tapi minggu depan, Bu. Gak bisa hari ini."

"Gapapa deh. Daripada gak maksimal," katanya.

Dia bikin karya hanya sekali-sekali. Font dan spasi tetap harus direvisi.

Sudah lama bikin karya gak harus maksimal, selalu kalah dengan deadline.

Misteri Buku Bagus Banget

Suatu waktu di masa kuliah, sebuah buku enggak banget dihadiahkan seorang penulis berkumis lele bertampang cunihin pada teman kami yang cantik. Ceritanya tentang someone yang pacarnya ternyata keturunan PKI trus tobat atau apalah gitu.

"Ali, coba deh baca. Bagus banget," kata gue gak rela sendiri terbuang waktunya gara-gara buku 'bagus banget' ini.

Karenanya di minggu sore itu Ali sudah membuat teh, bersiap membaca buku bagus banget disinari matahari sore kosannya.

"Apa ini?" kata Ali sewot di Senin Pagi disambut kekehan gue.

"Addiena, baca deh ini. Bagus banget," kata Ali pada Addiena.

"Iya bagus banget," tambah gue penuh bintang kekaguman di mata.

Tentunya 'apa ini' terjadi lagi di lain pagi.

Addiena lalu mencari korban berikut untuk dihabiskan waktunya membaca buku bagus banget itu.

Apa ini terulang lagi. Begitu terus sampai suatu pagi seorang korban berkata...

"Iya ya... bagus banget," katanya. Membuat kami semua yang sudah siap terkekeh ganti ternganga.

Sepuluh tahun setelahnya, gue masih membahas penyebab kok bisa-bisanya dia suka buku bagus banget itu bersama dua penulis.

Analisanya:

1. Dia memang suka. - didukung oleh Sally. Namanya juga selera. Sama seperti kok bisa-bisanya ada orang yang lebih suka Good Dinosaur dibandingkan Inside Out.

2. Dia gak suka tapi pura-pura suka karena semua temannya suka. - didukung oleh gue.

3. Dia gak suka tapi pura-pura suka buat ngerjain kita. - kata Ifan.

Sampai hari ini masih belum terkuak misteri kenapa dia bisa suka buku itu. Tapi gue malah belajar satu hal tentang gue.

Gue bisa mencurigai dia gak suka tapi pura-pura suka karena yang lain terlanjur suka karena gue juga suka begitu.

Apa yang gue bilang tentang dia gak akan pernah menunjukkan dia siapa, malah menunjukkan gue siapa.

Minggu, 06 Maret 2016

Batas Kecepatan

Sebuah Nissan Livina abu-abu berkali mengkedipkan lampunya dengan barbar, sepertinya menyuruh gue minggir ke lajur kiri. Dia mau lewat.

Sebuah papan biru bertuliskan " KECEPATAN MAX 80 KECEPATAN MIN 60" terpampang di kiri jalan. Karena kecepatan gue sudah 80 km/jam, gue tetap di kanan. Kalau dia mau mebuat aturan sendiri, ya silakan cari jalan sendiri.

Nissan Livina menyalip gue dari kiri. Sekarang dia di depan gue dengan kecepatan 40 km/jam dan lampu sen kanan dihidupkan. Hanya mempercepat mobilnya jika gue mencoba menyalip.

Sepertinya dia hendak menghukum gue karena sudah taat aturan dengan perbuatan yang tidak taat aturan. Padahal setiap kilometer papan biru itu selalu muncul.

Mungkin dia tidak pernah membaca papan biru itu. Mungkin pernah tapi tak peduli. Toh semua orang tak ada yang menuruti.

Kecuali mobil gua. Karenanya gua harus dihukum.

Romo Mangun bilang karakter sebuah bangsa bisa dilihat dari desain bangunannya. Untung bukan dari caranya menyetir.

Tapi sepertinya cara bangsa ini menyetir gak jauh beda dari caranya mendesain kota.

Blanchett dan Gong Li

Bangun tidur ku terus mandi, di kamar mandi baru renovasi yang bebas genangan air menjijikkan.

Gosok kiri, gosok kanan. Sambil goal geol ekor ke samping dan ke depan. Mandi memang membahagiakan.

Sehabis mandi, berjalan jadi terasa ringan dan menyenangkan. Buka pintu lift dengan tangan kanan.

Prang.

Handphone terjatuh. Ternyata bisa pecah juga.

Tapi galau tak mengunjungi hati. Mungkin sudah waktunya handphone ini diganti dengan handphone lain yang bisa gue namai Blanchett.

Iphone 6 sepertinya cocok dinamai Blanchett, makin tua makin menjadi.  Tiga belas juta, tapi kan gak perlu gonta ganti 4 tahun. Tapi kan baru renovasi kamar mandi. Masa handphone lebih mahal dari kamar mandi yang membahagiakan selamanya?

Ternyata Xiaomi under 3 juta dengan spec sama. Kok Iphone bisa semahal itu? Padahal tak ada pun jejak-jejak fair trade yang biasanya bikin mahal. Buruhnya sama aja anak-anak di Cina juga.

"Gong Li juga makin tuamakin menjadi," kata Sunny.

Blanchett ditunda lagi. 

Jumat, 04 Maret 2016

My Pure Joy

"To enjoy talking about what you write more than actually writing... that's..."

That's apa ya? Lupa. Padahal baru kemaren gue nonton 'The End Of The Tour'.

Mungkin buat banci spotlight seperti gue, that's my biggest temptation. Buat penulis   New York best seller yang memilih tinggal menyendiri di Illinois, that's the shit that made him a parody of what he wrote in his book.

A product of image driven society who constantly needs to sell sell sell or buy something.

Karenanya hari ini gue kembali ke my one pure joy, menulis.

Pake Adobe Premiere tapi.

Sudah sebulan lebih editan 'Breathe' atau 'The Girl Who Walks Without Shoes' gue tinggalkan. Malas. Bentuknya kan udah jadi. Gak bisa ya ada asisten editor yang ngerjain touch up - touch up akhir biar film ini lebih mengalir?

Gak bisa.

Karenanya gue mulai mengatur napas, pelan- pelan merasakan kapan dia harus di-fade out dan kapan harus diburamkan.

Tahu-tahu sudah jam 8. Bahagia tanpa uang.

Besok mulai nulis lagi ah.

Kamis, 03 Maret 2016

Lupa

Gue menunggu dia sejam lebih di luar aula screening-nya. Sudah enam tahun mungkin kami tidak berjumpa sejak dia memproduseri salah satu film gue.

"Eh... anak Tebet!" katanya menyambut gue.

Kayanya dia lupa nama gue.

"Mbak!"

Gue memanggil seorang penulis di lain kesempatan.

"Eh kok di sini?"

Lalu dia menjelaskan kenapa dia harus ke salon ini. Media tempatnya bekerja tidak punya stylist, karena sebenarnya medianya bergantung pada majalah. TV, internet, koran, dan lain-lain hanya sampingan. Begitu detail seakan-akan gue gak pernah difoto untuk majalahnya dan diwawancara di TV-nya.

Kayanya dia lupa nama gue.

"Mbak!" seru gue kepada penulis lain di kawinan teman.

Kami cipika cipiki. Sepertinya dia lupa nama gua. Padahal dulu tiap ke Bandung dia ngajakin makan.

Gue kira gue wunderkind yang gak akan pernah dilupakan orang.

"Mbak Atid, apa kabar? Lagi di Jakarta?" sapa seorang millenials berjenggot yang sepertinya filmmaker.

"Hei! Iya nih."

Gue lupa nama dia.

Rabu, 02 Maret 2016

Film dan Uang

"Uang gak kenal ideologi," katanya.

Selama uang gak mengatur kita mau bikin apa, ambil aja tuh duit. Gak usah peduli dapat dari mana. Apalagi di dunia film yang butuh duit banyak tapi resiko gak balik besar. Hanya uang-uang mencurigakan yang berani berputar.

Dia mau bikin film tentang si bapak yang membuat TV di Indonesia tapi dihilangkan dari sejarah karena menolak menyensor satu film. Pasti besar biayanya. Dulu sih dia bikin film pake uang yayasan produsen mobil Amerika yang menurutnya gak ada hubungannya sama duit perusahaan si mobil.

Teman lain ingin membuat film tentang anjing-anjing, baik yang ke luar angkasa maupun yang di luar lapo. Tadinya uangnya mau dari menantunya pengusaha penasihat salah satu pemimpin republik. Sekarang belum tahu uangnya dari mana.

Teman lain sementara ini gak bikin film sendiri,  aktif berkarya membuat film pesanan yang dia susupi isu dan memulai media baru berisi hipster kreatif Jakarta yang sepertinya beda geng dengan spesies kreatif langganan produser India. Uangnya dari yayasan yang perusahaannya ikutan ngebakar hutan.

Film gue pun ternyata pernah didanai duit senjata.

Salah sendiri memilih berkarya di ladang yang semahal ini. Mungkin gue akan lebih bangga dan merdeka kalau menjadi penulis saja, murah meriah walaupun gak ada lagi yang membaca.

"Why are you yelling to me about corporate greed? You are all rich," kata Tina Fey menanggapi Hollywood Bullshit di panggung Oscar.

Selama bikin film masih mahal, I will always be part of a bullshit.

Pilihannya adalah tidak membuat film atau membuat film yang tidak menghakimi. Sadar diri gue juga mahkluk bercela.

Gue selalu suka film-film mahkluk bercela.