Sabtu, 16 Januari 2016

Kingsmen, Spy, dan Sepet

Stucked menulis lagi. Lebih baik bergembira dan nonton film yang membuat gue gembira. Kalik aja dapat ide.

Tadi pagi Kingsmen. Kali ini Spy-nya Melissa Mc Carthy. Dua-duanya komedi action.

Baru lima belas menit, langsung gue matikan.

I love these films. Tapi dengan budget yang gue punya, mungkin hanya cukup untuk bikin satu adegan mereka.

Gue akhirnya nonton Sepet-nya Yasmin Ahmad.

Plot filmnya sekilas memang seperti plot  action B movie produksi Cina atau India, tapi karakter-karakternya nggak. Gadis Melayu yang suka film Cina dan cowo Cina. Cowo Cina yang suka baca puisi India dan joget Melayu. Semuanya terasa sangat dekat dengan sekitar gue.

Tidak ada adegan bombastis, tapi ngomongin hal-hal yang menurut gue penting untuk negara se-segregated Malaysia.

I am not spending ratusan juta hanya untuk bikin adegan action bombastis sementara adegan action di sekitar gue sangat  Adidasbastis,  Guccibastis, atau Coachbastis.

Bomnya gak bastis.

Apa yang penting untuk gue?

Mulai Menulis

Hari ini gue mulai menulis Kepompong Mak Gondut. Terakhir gue menulis empat tahun lalu.

Gue sudah suka karakter-karakter gue. Gue sudah tahu mau bikin film kaya apa. Gue udah membuat plot dengan ending yang bijaksana tapi tetap playful. Gue siap membuat komedi yang gak lucu-lucuan doang.

Babak 1 selesai ditulis.

Ada 7 babak lagi.

Daripada lanjut menulis Babak 2, gue memilih mengantarkan mobil ke rumah Chica. Lalu nemenin Chica belanja. Lalu nemenin Chica ngasuh Duo Mokmoks. Lalu ketiduran.

Lalu gue pulang, masih ada waktu menulis babak dua.

Besok aja deh.

Malam ini mending nonton Ex Machina.

Indah sekali film ini. Pintar. Penting. Well made.

Jadi takut menulis.

Besok paginya bangun, menulis babak dua. Not that funny.

Langsung nonton Stephen Chow - Journey To The West. Gak seindah Kungfu Hustle, tapi tetap bijaksana.

Tambah takut menulis.

Untuk apa gue membuat film kalau Stephen Chow dan Alex Garland sudah membuat film-film bijaksana dengan sangat indahnya?

Biar Mak Gondut eksis.

Masa Shu Qhi aja yang eksis.

Kamis, 14 Januari 2016

Efek Terorisme

Semua whatsapp group di handphone gue diiisi dengan live updates bom dan penembakan di Sarinah. Lebih cepat dari portal berita manapun.

"Source, please," kata seorang teman menyambut update bom di BPPT setelah Bom Palmerah ternyata hoax.

Source berita besar pun banyak yang salah. Gak rela kalah cepat dengan Whatsapp Group.

Gue duduk di sebuah kafe di Kalibata, yang biasanya menakutkan karena terlalu banyak pengajian militan tapi kali ini berasa sangat aman karena jauh dari tempat para Amerika beredar. Gue memandangi video-video di whatsapp. Berusaha merasakan sesuatu dari menonton adegan yang seperti film action low budget dengan one take wide shot. 

Pria itu terduduk di antara mobil parkir. Sepertinya kelelahan. Di depannya terbaring dua orang yang sepertinya barusan dia tembak. Lalu dia menarik sesuatu dari balik temannya. Sepertinya tidak sengaja. Lalu bom meledak.

"Maaf terlambat. Tadi baru pengajian dulu," kata orang yang gue tunggu, datang dengan baju koko putih, topi Muslim putih, dan jenggot.

Lalu kami ngobrolin tentang kemungkinan sponsorship film Kepompong Mak Gondut. Lalu tentang film yang ingin dia buat, tentang beragamnya manusia di gang tempat dia tinggal. Lalu gue pulang, mandi, dan makan. Lalu nominasi Oscar diumumkan.

Sedih karena Todd Haynes dan Carol dianggap terlalu biasa-biasa saja untuk dinominasikan jadi Best Film dan Best Director.

'Till it happened to you'-nya Lady Gaga dinominasikan menjadi Best Song. Sebuah lagu tentang bagaimana kita gak akan tahu perasaan korban pemerkosaan sampai kita sendiri yang diperkosa.

Sepertinya sampai terjadi pada gue, baru gue tahu rasanya jadi korban pengeboman. Atau merasakan kelelahan si pelaku sampai akhirnya meledakkan dirinya sendiri.

Whatsapp Group tetap dipenuhi live updates. Kali ini diisi meme himbauan RM Sederhana untuk menjauhi Restoran Amerika dan meme  polisi ganteng bersepatu Gucci dan berkacamata Clark Kent.

Lalu foto tentara-tentara hot.

Whatsapp group diisi perdebatan lebih hot tentara atau polisi.

Rabu, 13 Januari 2016

The Power Of Nodding

Dear Atid,

Some people will puke when you talk.

Some people will say movie like Carol has no significance.

Some people will love Ricky Gervais more than Tina and Amy.

Some people will see only Kate Beckinsale, and never Cate Blanchett.

Some people will have no sense of humor when you say Indonesia has no film industry.

Some people will do more movies than you.

Some people will never admit you did something right even when you won something.

On a day like this, you'd better do what Robert Downey Jr. and all the rest of the humankind who would rather spend their lives enjoying themselves did.

Nod, smile, and do whatever fuck you want.

Selasa, 12 Januari 2016

Selalu Dapat Parkir

Gue memasuki halaman parkir kumpulan jajanan Bandung yang selalu penuh. Sebuah mobil mundur, seakan mempersilahkan mobil gue parkir. Tepat di depan entry.

"Wah kayanya rejeki tempat parkir lo udah balik nih," kata Sally. Dulu gue selalu sompral PD dapat tempat parkir, dan memang selalu dapat.

Beberapa tahun terakhir ini nggak.

Akhir-akhir ini gue selalu dapat tempat parkir lagi, walaupun gak lagi PD seperti dulu.

"Mungkin karena akhir-akhir ini gue sering nganterin Papi ya?"

"Be nice to your parent...," kata Sally mengulangi kunci sukses Qazrina Umi di Demi Ucok yang sebenarnya gue curi dari blog Yasmin Ahmad.

Akhir-akhir ini gue nganterin Papi bukan dalam rangka be nice. Tapi memang Papi yang meminta. Orang semandiri Papi kalau sampai sudah minta pasti memang sudah butuh banget. Operasi mata papi yang ke tiga membuat Papi tidak boleh menyetir lagi.

Entah sampai  kapan.

Karenanya hidup gue akhir-akhir ini dipenuhi menyetir mobil sambil dengerin keypads HP hitam putih papi ditekan-tekan untuk mengirim ayat-ayat Alkitab mumpung XL 4G gratis 200 sms per hari. Atau menelepon Dandim sebuah pulau dekat Batam yang dia gak kenal tapi akan dia datangi Sinchia depan.

Atau gosip-gosip tentara Orde Baru. Bagaimana ajudan-ajudan Presiden digilir oleh anak Presiden.  Bagaimana si ajudan mandadak jadi pemimpin Angkatan setelah si pemimpin angkatan lama nempeleng taipan kesayangan presiden di lapangan golf.

"Tadinya Papi udah mau jadi Dandrem Pontianak.Eh ganti pemimpin, tiba-tiba semua nama dia ganti," kata Papi mengenang awal mulanya dia dibuang ke Irian.

Ternyata di Irian sedang ada pelatihan PNS untuk penduduk asli Irian. Pemda dan lain-lain menolak melatih mereka melihat apa yang terjadi pada Pelatihan PNS di Timtim. Karenanya saat Papi dipanggil mantan Danyon-nya yang sudah menjadi pejabat Depdagri, Papi memberanikan diri mengambil proyek tersebut walaupun 20% anggaran sudah dipotong.

"Itulah pelatihan termewah yang pernah ada di Rindam. Duitnya gak habis-habis. Padahal apa aja mereka mau makan, sudah kita sediakan. Semua kasur udah diganti sama si Om yang dari Surabaya itu. Semua mayor-mayor udah dapat Vespa Spring. Wadan Papi udah dapat Kijang..," kata Papi mengenang pelatihan yang biasanya dikerjakan Pemda dengan biaya lima kali lipat. 

"Memang gak adalah yang lebih korup dari Pemda," kata Papi yang menganggap Vespa Spring dan Kijang belum korupsi.

Cerita Papi hanya berhenti ketika kami sampai di tempat pijit Papi.

Gue langsung parkir. Pas di depan gang.

Senin, 11 Januari 2016

Actors And Directors

"David, where is David?" tanya J Law ketika untuk ke tiga kalinya dia naik di panggung Golden Globes.

Kamera Close Up ke David O Russell dengan bekas lipstick di pipi kanan.

"Every time I am on this stage, It is all because of you."

Tiga kali J Law menang Golden Globe, semuanya di film yang disutradarai David O Russell.

"When I died, I want us to be buried next to each other," katanya mengakhiri acceptance speech yang penuh pujian kepada sutradara yang menurut J Law selalu bikin film tanpa peduli ada yang nonton... atau the fame... atau the glory.

Tidak hanya J Law. Aktor-aktor pemenang Golden Globes tahun ini banyak yang menggunakan their one minute of fame untuk sutradaranya. Leonardo dan Innaritu. Matt Damon dan Ridley Scott. Kate Winslet dan Danny Boyle. Brie Larson dan Lenny Abrahamson. Lady Gaga dan Ryan Murphy...

Berbeda dengan acceptance speech tahun lalu yang dipenuhi isu sosial. Transgender, Black movement, ALS awareness, dan lain-lain.

Tahun ini terasa lebih personal.

Tahun depan, J Law akan jadi sutradara.

Minggu, 10 Januari 2016

Bad Fan Fiction

"I did ask her out, but she never returned my calls," kata J di sebuah talk show terkenal.

Si host bengong, tidak menyangka mendapat jawaban yang terlalu jujur dari actress seterkenal J.

"Maybe you can invite her to your show. Then I can sneak in and ask her myself."

Media dihebohkan dengan pengakuan cinta J pada R di TV nasional. Terganggu, R akhirnya mau juga datang ke acara talk show itu.

"You are aware that J is hiding behind and will pop up anytime soon to ambush you with the question."

"Yes. I think I need to come and put all this to rest. It is getting uncomfortable."

J pun muncul dari backstage disambut tatapan dingin R.

"I think you are very beautiful and any man or woman will be lucky to be your object of affection. Not me. I am in a steady relationship and I am not looking for a quick sensation."

"You cannot say that what happened between us was nothing."

"Whatever that was, it is gone now. I do not enjoy love as a circus on national television," jawabnya dingin.

J tenggelam dalam patah hati berkepanjangan. Untungnya dia ditawari peran dalam sebuah film patah hati. Tahun itu J dan R bersaing mendapatkan best actress Oscar.

J menang.

"Playing a brokenhearted girl when you are broken hearted is really not acting. I think you gave me the Oscar just cause you wanna hear what I will be saying here," kata J sambil tertawa riang disambut tawa seluruh hadirin.

Kamera cut ke close up R yang tetap dingin sementara sekitarnya senyum-senyum kepo.

"To the girl that broke my heart... I just wanna say... I love you," kata J.

R dan J tidak pernah terlihat bersama setelah itu. Hanya para  paparazzi kepo,  fans ngarep, dan produser mencium duit yang selalu berusaha untuk mempertemukan mereka.

Sampai 4 tahun kemudian, R dan J tampil bersama di acara talk show yang sama.

"I did not trust J. She is very young, impulsive and so excited for life. I was scared I was just another exciting moment for her that doesn't last that long. It is already four years now and I still fear that I am just a moment for her..."

J duduk di sampingnya, tetap tersenyum lebar penuh kemenangan.

"She's saying she's my girlfriend," kata J sambil tersenyum lebar, tidak sedikit pun terpengaruh insecurity R.

"So the Oscar speech really works?" tanya si host takjub.

J hanya mengangguk-angguk senang. R tetap ingin menjelaskan.

"Well, it did make me want to have a leap of faith to give this feeling a chance. But we still don't know what will happen in the future. She might get bored of me and  find another object that interest her more. Or I might get tired of feeling overwhelmed like this all the time and settle for a more peaceful life..."

"Then I will just have to win myself another Oscar to get you back," jawab J santai, membuat muka R merah padam.

Two American swethearts in love.

Saat tahun itu J dan R dinominasikan Best Actress Oscar lagi,  giliran R yang menang.

"I have a feeling you all voted for me just to hear what I am gonna say. So I made myself a long list cause I know I won't be cut off," kata R playful.

Kamera cut  ke close up J yang tersenyum bangga, tidak peduli dia baru saja kalah.

R mengeluarkan sebuah kertas panjang sampai ke lantai. R mulai membaca tanpa dipotong bunyi-bunyian pengusir.

"And last..."

R diam sebentar. Tetap tidak ada bunyi-bunyian pengusir.

"To the girl whose heart I broke... and then steal my heart away on this very stage..."

Hadirin menahan napas menanti I Love You Too.

"SUCK IT," teriak R sambil mengangkat tinggi-tinggi pialanya.

J tertawa terbahak-bahak.

R dibawa ke belakang panggung, ke tempat press conference para pemenang.  Acara dilanjutkan dengan hadirin gelisah menanti kepulangan R ke tempat duduknya.

Neil Patrick Haris terpaksa menghentikan acara sebentar ketika mata semua hadirin malah berpaling ke belakang, kepo menatap R yang menghampiri J. 

J langsung berdiri dan mencium R dalam. Lama...

"Well, ladies... That's what you get if you tell someone to suck it," katanya.

"Now can we please go back to The Oscars? We still have some Oscars to give away... anyone?"

J dan R berhenti ciuman cuma biar acara ini cepetan selesai dan mereka bisa cepat-cepat pulang. Ciuman lagi.

Nah abis ini gue gak tahu deh mengakhirinya gimana. Tapi harus tetap di panggung. I love the love story announced to the world.

Mungkin bagusnya R  dibikin mati biar ada scene dramatis romantis J menangisi R di panggung yang sama.

Hahahaha... what a bad fan fiction. Tapi gue ulang2 terus di kepala sepanjang nyetir Jakarta - Bandung.

Memang gue harus nulis film cinta.

Menulis Harapan

Gue terbangun di sofa. Ternyata jam 5 pagi.

Terakhir gue inget, gue sedang tidur-tiduran di sofa setelah menerima feedback script terbaru gue. Terlalu komik.

Memang.

Setelah bertemu banyak produser yang sepertinya tahu film apa yang bisa dijual, gue tidak berani lagi menyentuh hal-hal yang meresahkan gue.

Mulai teman-teman yang gak ngucapin selamat natal sampai the rise of fundamentalism. Mulai Jaguar yang gak mau ngantri sampai the lost of self respect. Mulai budaya ngopi impor sampai the fools of capitalism.

Yang gue tulis malah adegan action lucu-lucuan tanpa menyentuh suku, agama, ras, dan IP. No wonder pagi ini gue bangun dengan perasaan gak guna gue nulis.

Memang gak guna.

Kalau isinya begitu. Sama sekali gak mengobati keresahan gue. Ngapain dibikin mahal-mahal.

Mungkin film ini cuma akan jadi kicau kecil di tengah banyaknya film impor yang dengan sangat universal menyuarakan kegelisahan gue. Tapi gue butuh menulis yang sejujur-jujurnya. Barulah at least film ini berguna buat gue,  bikin gue sedikit punya harapan.


Kalau yang nonton juga jadi punya harapan, even better.

Sutradara Muda

"Tid, sori banget. Mereka mau sutradaranya yang muda."

Once upon a time, hanya actors yang dikatain tua di umur 32.

"Soalnya nanti kan mereka ada acara off air kaya press conference gitu-gitu..."

Gue jadi membayangkan yang buruk-buruk. Mungkin mereka maunya yang fabulously healthy sesuai image yang ingin dibentuk brand mereka.

I am not.

Gue jadi mempertanyakan self value gue.

Padahal gue bahkan gak suka makan produk mereka, coklat wannabe untuk cewe-cewe  yang konon terlalu sibuk mengejar karir sampai ga sempet makan. Tapi mendengar alasan mereka gak mau gue yang direct karena umur dan mungkin alasan lain yang menurut mereka politically incorrect dikasih tahu ke gue... gue jadi down.

Sebentar.

Detik berikutnya gue sudah kembali menulis film yang sepertinya memang sudah waktunya gue kerjakan. Jangan ditunda untuk membuat film tentang coklat jadi-jadian. Self value gue tidak ditentukan sebuah brand yang berpikir sutradara muda lebih baik.


Langsung makan coklat beneran.

Gigi dan Napas

Gue meringkuk kesakitan di tempat tidur karena sebuah gigi. Padahal hari ini gue mau meriset tentang The Science Of Breath biar cepat bikin film.

Dua hari yang lalu, gigi itu ditambal setelah mungkin setahun dibiarkan.

"Bau ya?" katanya hari itu ketika gue mengendus-ngendus giginya. Ada titik hitam di gigi belakang.

Gue mengangguk.

"Berarti setahun kemaren gue bau dong?" Hitam gue tak lagi titik. Sudah garis.

Dia mengangguk.

"Kok lo gak bilang?"

"Kan udah gue suruh ke dokter gigi."

"Kok gak bilang bau?"

"Abis lo gampang tersakiti."

Maksudnya hati, bukan gigi.

Dua hari yang lalu gue tambal gigi karena sakitnya sudah tak tertahankan lagi. Hari ini gue coba-coba ngunyah pakai gigi itu, ternyata tetap sakit.

Menurut The Science Of Breath, tubuh kita adalah sebuah sistem. Kalau ada satu yang terganggu, semua akan terganggu. Dengan pernafasan yang benar, sebenarnya kita bisa menyembuhkan diri sendiri. 

Pernafasan yang benar adalah dengan diafragma, membuat perut atas semakin membuncit.

Tapi gue tidak pernah bernafas dengan benar.

Gue teronggok di tempat tidur di hari yang harusnya berkarya.

"Body, mind, and soul. No one can be a master ignoring one of these three."


Gigi kecil pun tetap harus disayang.