Kamis, 07 Januari 2016

Salary Man

Seorang urban designer muda ingin berkontribusi membangun  Indonesia. Pekerjaannya di sebuah biro arsitek korporasi di Singapura tidak memuaskan hatinya.

Karenanya, di sela-sela pekerjaan korporasinya dia ikut sayembara urban design yang diselenggarakan berbagai Pemda.

Kemaren juara tiga.

Sekarang juara satu.

"Amerika udah kebangun. Jepang udah kebangun. Vietnam belum matang. Ya yang bisa dikerjain urban design-nya sekarang Indonesia," tuturnya, membuat gue berhenti mikir sejenak.

Jadi motifnya nasionalisme atau oportunisme?

Oportunisme lebih mudah dipercaya daripada nasionalisme.

"Lo gak mau balik, bikin biro sendiri?" tanya gue.

"Ah gue mah salary man."

Dia menerawang.

"Kenapa ya salary man suka dianggap negatif?"

"Kayanya cuma negatif kalau itu bukan yang lo mau deh. Kalau lo emang maunya jadi salary man...  ngasih security buat keluarga lo, kenapa negatif?"


Jangan-jangan dia bukan salary man.

Mata Papi

Gue melihat papi dibaringkan di meja operasi dari balik kaca. Papi melambai sambil tersenyum bandel. Matanya bercahaya, seperti anak domba lugu yang pasrah disembelih.

Saat itu, Papi baru beberapa kali operasi.

Hari ini operasi Papi yang sudah entah ke berapa kali. Matanya sudah tiga kali. Yang ke dua kurang sempurna sehingga harus ada yang ke tiga. Yang ke tiga penyembuhannya lama. 

Sampai hari ini mata Papi masih merah.

Tapi bukan warnanya saja yang berbeda. Mata Papi tidak lagi seperti anak domba lugu yang pasrah disembelih. Sekarang mata itu marah dan membenci.

"Dokternya bego," kata Papi.

Semua dokter dia bilang bego. 

Pernah suatu hari dia menelepon seorang dokter senior, menjelek-jelekkan dokter yang mengoperasi dia.

Gue takut Papi terkena karma. Padahal dokter itu terlihat bekerja keras melayani sekian banyaknya pasien BPJS.

"Papi jangan gitu dong. Papi bayangin aja kalau ada yang bilang kerjaan Atid gak becus ke Ridwan Kamil. Padahal belum tentu Atid yang gak becus," seru gue.

Gue dibentak balik.

Gue diam, tidak lagi berusaha mengingatkan. Mungkin Papi kesakitan, makanya dia negatif.


Atau dia negatif, makanya kesakitan?

Tiarap

Versi online sebuah acara berita TV mengabarkan kalau di Indonesia ada webseries gay perusak moral. Yang nulis anak baru lulus di tempat dia mengajar.

Seorang anggota DPR diwawancarai soal tanggapannya dan dijawab tentunya dengan  jawaban standar menghujat tanpa perlu perenungan apa isi webseries ini.

Lalu berita itu dicopy paste modif modif oleh banyak web online lainnya. Seolah-olah banyak yang peduli, bukan karena media masa kini malas nulis berita sendiri.

Belajar dari kasus Demi Ucok,  gue menyarankan dia lebih baik tiarap. Berita beginian di Indonesia cuma heboh sehari, besoknya hilang.  Kecuali kalau ditanggepin.

Besoknya hilang.

"Gue diundang majalah Forbes buat ngomongin film Indonesia di pasar internasional.  Kita mau wajah Indonesia yang kaya apa? Yang toleran dan terbuka ama perbedaan? Atau yang galak dan backward, gak suka kalau ada yang berbeda dari apa kata agama kita benar? Lo kira mana yang akan lebih disambut pasar internasional?" tanyanya.

Mungkin mereka suka yang galak. Biar brand  kita sebagai sarang fundamentalis semakin mantap.


Kembali berdiri, gak tiarap lagi.

Keplak Aparat

Indri dan motornya lewat di depan markas tentara. Seorang tentara memberi kode dengan tangannya.

Indri minggir ke kiri, melaju perlahan melewati si tentara.

Indri dikeplak dari belakang. Kuat, sampai motor Indri hampir terjungkal.

Ternyata maksud kode tangannya nyuruh Indri berhenti karena di depan sana lagi apel.

Indri terus melaju dengan gemetaran.  

Seharusnya dia diberi tahu dengan lebih jelas. Gak perlu dikeplak.

Gue menyetir dengan tenang di hari Minggu, masuk ke jalur Busway. Serombongan polisi  dengan senyum minta uang sudah menunggu di ujung sana.

Gue minta dijelaskan pilihan gue, tapi dia tidak mau menjelaskan sebelum gue ngasih SIM dan STNK gue. Gue kembali ke dalam mobil , menghidupkan mesin. Dia langsung berteriak mengancam dan mengambil kunci mobil gue. Mobil polisi disuruh mepet di depan mobil gue agar tidak ke mana-mana.

Akhirnya gue berteriak-teriak histeris.  Polisi lain mengambil alih dan semuanya selesai dengan baik. Gue dikasih surat tilang dan dipersilakan mengikuti prosedur yang ada.

Sampai malam gue masih gemetaran.

Seharusnya gue diberi tahu dengan lebih jelas. Gak perlu diteriakin.


Aparat. 

Tambah keplak,  jadi keparat.

Empat Marga

Menurut analisa Chica, ada empat marga yang mempengaruhi sifat kami, anak-anak si Lina dan Mondang ini.

Simanjuntak (marga Papi), Marpaung (marga Mami), Siagian (marga mamaknya Papi), dan Silaen (marga mamaknya Mami).

Simanjuntak itu birokrat, bagus jadi pegawai, gak suka kanan kiri.

Marpaung itu ilmuwan dan seniman, suka berimajinasi.

Siagian itu pemimpin, sukanya bagi-bagi duit tapi ada aja rejekinya.

Silaen itu pedagang, jago nyari duit walau agak bulus.

Papi itu Siagian agak Simanjuntak. Birokrat yang kelakuannya persis Opung Mak, suka bagi-bagi duit tapi gak pernah kekurangan.

Mami itu Silaen agak  Marpaung.  Jago nyari duit, bulus, dan ngartis.

Deden itu Silaen agak Siagian, jago nyari duit tapi juga suka bagi-bagi duit.

Chica itu Simanjuntak agak Marpaung, ilmuwan plek plek plek yang  yang paling bersinar kalau jadi pegawai.

Gue?

"Kau itu Marpaung campur Siagian," kata Chica. "Ilmuwan, seniman, dan suka bagi-bagi duit tapi ada aja rejekinya."


Unsur Siagian harus ditingkatkan nih.