Kamis, 07 Januari 2016

Harapan Di Lumpur

Seorang teman pindah warga negara ke Singapur.

"Kalau gue gak ada anak dan suami sih, gue juga pindah. Tapi suami gue tuh nasionalis banget," katanya.

Di negara yang semakin kubangan ini, kenapa kita masih di sini?

"Amerika juga dulu kaya kita kok. Kita kan masih muda banget. It's getting better," kata teman lain.

Mungkin dia sangat optimis karena dia tinggal di luar negeri. Gak harus lumpur-lumpuran tiap hari.

"Kalau gak ada harapan, ngapain lagi kita hidup?" tanyanya.

Segala argumen berbunga langsung ditolak ama akal sehat gue.

Gue pun mulai meriset Kanada. At least perdana mentrinya hot.

Ternyata sama saja.  Spesies rese dan bodoh sepertinya disebar merata di seluruh dunia.

Bukan waktunya melarikan diri. Ada sebabnya gue ditaro di sini. Harapan memang satu-satunya alasan untuk tetap berbahagia di lumpur ini.

Bersyukurlah kau hidup di lumpur.  Teratai kan cuma tumbuh di lumpur. Jadi bisa kau berbunga.

Sebentar.


Sebelum jadi lumpur lagi.

Bayi-Bayi Mahal

Sudah dua bulan Bang Gigit gak bekerja, gak dibayar. Padahal Baby Sergie masih di NICU.  Seharinya empat juta.

"Kasihan, Tid. Lo gak lihat sih dia pas sebelum dioperasi. Selang di mana-mana," kata Bang Gigit mengenang Sergie umur seminggu yang beratnya hanya satu kiloan.

Kirain kasihan si Chica ngurus dua bayi sendirian.

"Itu juga," katanya. "Tapi si Sergie emang butuh dipeluk sering-sering. Udah kelamaan di NICU. Bayi kan pengennya dekat-dekat jantung induknya."

Bang Gigit pun mengajukan unpaid leave ke kantornya. Setidaknya sampai Sergie beratnya 2,5 kg.

Bang Gigit ditawarin kerja di rumah aja.  Bosnya tahu Bang Gigit butuh banyak uang.

"Masih ada kok duitnya. Kan tadinya mau beli mobil. Ya gapapalah pake yang ada dulu."

Bang Gigit ingin perhatian untuk Sergie gak terbagi. 


Semoga Sergie dan Shema tahu mereka lebih mahal dari mobil.

Safe Haven

Papi Mami nginep di Signature Park. Gue mempersiapkan diri merelakan rumah ini berantakan untuk beberapa hari.

Tiang shower patah.

"Nanti Atid panggil tukang benerin."

Mesin cuci kesiram air shower.

"Kalau mandi, tutup tirainya ya."

Celana dalam digantung di kamar mandi.

"Barang Papi gantung di kamar aja ya."

Pakai sepatu di karpet.

"Papi buka sepatu di bangku ini aja ya. Atid suka tidur-tiduran di karpet."

Jemur baju di sofa.

"Mami jemurnya di luar aja ya. Ini hanger-nya."

WC gak disiram.

Hadeuh... gue siram aja deh.

Baru dua hari, gue udah mau meledak. Kok bisa gue bersih banget sementara orang tua gue begini?

Dimarahin, durhaka.

Kucarilah kunci kamar kecil. Kukunci. Gue butuh safe haven di rumah gue sendiri.


Biarlah di luar sana suka-suka mereka.

Around The World In 80 Faiths

Seorang pendeta gereja Inggris dibiayain BBC berkeliling dunia merasakan langsung 80 cara manusia-manusia mencari Tuhan di berbagai pelosok dunia.

Ih gue mau dong jadi presenternya.

Tapi setelah nonton, emang harus orang kaya dia deh yang bikin. Dulunya dia kerja di advertising sebelum jadi pendeta.  Dia jadi bisa sangat sensitif ketika agama dijadikan produk buat jualan.

Dan gue gak bisa deh naik turun bukit. Menonton aja udah berasa terberkati banget. 

Kok bisa gue baru tahu ada serial ini?

Gue awalnya ngeri kok ada aja agama yang berdoa aja harus pake ular berbisa.  Ternyata mendekatkan diri dengan yang bahaya membuat kita harus extra tenang dan extra percaya.  Atau kok ada yang harus bugil rame-rame lompat ke Sungai Gangga? Ternyata ritual malam-malam itu membuat mereka jadi sadar mereka bukan siapa-siapa. Atau kok ada yang harus berkubang rame-rame di tai sai. Ternyata lempar-lemparan tai sapi membuaat persaudaraan mereka lebih kental.

Hanya adalam 8 episode, gue bisa menonton Tuhan hadir dalam berbagai cara.

"The one I am weary about is the one that says I am right and you are wrong.  The one I hope will be more in the future is those who are open to others' faith," kata si pendeta di episode terakhir.


Amin.

Komedi Rasis

Gue mendekatkan tumpukan duit ke mata gue, coba mencari uang dua ribuan di antara beragam duit sepuluh dan dua puluh ribuan. Gelap.

Dengan gesit dia mencomot salah satu lembaran dan memberikannya ke tukang parkir.

"Kok lo bisa tahu sih yang mana yang dua ribu?" tanya gue takjub.

"Ya kan gue Cina," jawabnya.

"Lo tuh emang rasis ya," sambung another Cina.

"Kan bukan gue yang bilang Cina," tangkis gue.

"Tapi kan pertanyaan lo mengarah ke sana."

"Beda lho being racist and talking about race."

"Kalau lo, rasis."

Secara gue ngakak-ngakak kalau nonton Kevin Smith, Tina Fey, Kathy Griffin, Joan Rivers... sepertinya orang Indonesia gak suka gaya becandaan mereka.

Mungkin takut terjadi kekerasan. Orang kita kan galak-galak. Apa-apa maen bakar. Indonesia terlalu beragam untuk menertawakan ras.

Tapi Amerika kan juga beragam.  Gak ada tuh maen bakar-bakaran.  Mungkin justru komedi ras memberi arena untuk menertawakan hal-hal rasis yang diam-diam kita yakini di belakang. Biar kita ngeh betapa konyolnya rasisme.


Kalau biar gak bakar-bakaran mah urusannya perkuat hukum dan aparat. 

Bukan seleksi komedi.