Kamis, 07 Januari 2016

Piring

"Yang ini buat Deden. Yang itu buat si Atid aja. Jelek," kata Mak Gondut.

"Mami ini gimana sih? Maksud Mami kalau jelek buat si Atid?" protes Deden.

Mak Gondut terbata-bata tak bisa menjawab. Baru sadar kalau pilih kasih di dirinya sudah mendarah daging, genetik dari mamaknya dan opungnya, sampai gak menyadari kalau dia juga lebih milih anak cowo.

Gue diam saja sambil mengamati piring dengan motif gak tipikal piring Mak Gondut yang Roccoco di mana-mana.  Gue balik pantatnya, ternyata Saint James Hankook.

"Ini buat Atid ya," sambar gue.

"Ya ambillah," kata Mak Gondut lega keluar dari tuduhan pilih kasih.


Kayanya Mak Gondut gak tahu kalau Saint James mahal.

Ketek dan Feminisme

Gue punya epilator baru. Kali ini bahannya bukan keramik. Besi. Jadilah  beberapa bagian ketek gue iritasi.

Terpaksa gue mengepakkan sayap gue sepanjang hari. Ketek gak bisa dibiarkan nempel ke dada samping. Sakit.

Gue harus beli epilator keramik.

Sebulan kemudian, belum beli. Ternyata di Indonesia gak ada.

Dua bulan kemudian, belum beli juga. Terpaksa di epilator besi dipakai lagi. Kali ini hati-hati banget.

Berhasil bebas iritasi.

Jadi mengerti kenapa banyak cewe-cewe masa kini sudah menolak mencukur ketek.  Bulu ketek katanya lambang kebebasan. Tubuh kita milik kita sendiri, jangan didikte standar beauty lelaki.

Tapi kalau gak dicukur ketek gue bau. Dan lengket-lengket.


Feminisme pun kalah oleh bau ketek.

Birthday Surprise

Sebuah whatsapp group dibentuk untuk membuat kejutan tengah malam untuk ulang tahunnya yang ke 35.  Diadakan groupies-nya yang satu dekade lebih muda.

Gue ikut aja sum-sum buat kue dan kado. Gue gak bisa datang karena harus ke Bandung nemenin bokap.

Lagian bangun tengah malam buat tiup lilin gak lagi exciting setelah gue 32.

Dari foto-foto di group, dia tampak bahagia.


Jangan-jangan gue juga bahagia kalau didatangi orang pas ulang tahun. 

Hampir Empat Puluh

Ucu berulang tahun. Hampir empat puluh. Kali ini dia hanya ingin menghabiskan ulang tahunnya dengan gue dan Lucky.

Gue lupa hari ini Ucu ulang tahun. Pantesan tadi ngajakin makan-makan.

Semakin tua, pesta ulang tahun semakin tidak bermakna buat gua. Lebih baik dihabiskan dengan refleksi tahun ini mau apa.

"Nyokap gue tuh udah tua, sakit-sakitan. Pengen liat gue kawin," kata Ucu.

Ucu pun menikah. Dari wajahnya sepertinya tidak sekedar demi mama. Ucu tampak bahagia.

"Gue pengen punya anak, Tid," kata Ucu. "Tapi si Tri-nya gak mau. Cobain aja minjem anak bentar, katanya. Masih mau nggak?"

Sepertinya Tri tak rela kalau sutradara wanita kesayangannya tidak lagi membuat film-film  yang menggugat pikiran.


Diam-diam, gue mendukung Tri.

Bubur Manado

 "Sini Mami ajarin bikin bubur Manado. Gampang kali," sabda Mak Gondut sombong.

"Pertama potong-potong batang kangkung. Gak usah satu-satu. Lama"

Grekkk! Seikat kangkung langsung terpotong.

"Terus keprok aja bawang. Gak usah dipotong. Lama"

Grekkk! Bawang putih pun terpencet.

"Masukkanlah nasinya. Nasi merah aja, lebih sehat buat Mami."

Kumasukkanlah semua bahan itu bersama nasi merah ke rice cooker.

Tunggu ditunggu, nasi merah tak juga menggumpal.

"Ah lama. Kasian udah lapar Papi."


Hari itu, kami makan Sop Manado.

Penyelundupan Hagen Das

"Jadi boleh minum Hagen Das, dok?" tanya gue kepada dokter paru Mami.

"Boleh. Susu kan bagus untuk paru. Paling hati-hati gulanya," jawab si dokter disambut haleluya puji Tuhan oleh Mak Gondut.

"Mana bisa batuk minum es," larang Papi sengit pas tahu Mak Gondut mau beli Hagen Das.

Padahal pakai BCA lagi buy 1 get 1.

Tapi bukan Mak Gondut kalau gak banyak akalnya. Enam pitcher Hagen Das dibungkus rapi, disembunyikan di belakang baju-baju belanjaan.

"Nanti kalau Papi udah tidur baru masukin ke kulkas ya," titah Mak Gondut sambil berbisik.

Setelah Papi tidur, Hagen Das gue masukkan ke kulkas.

Besoknya Mami Papi pulang ke Bandung, lupa bawa Hagen Das.


Lumayan.