Kamis, 07 Januari 2016

Rebranding Me

Awal membuat PT Kepompong Gendut, terpaksa. Gak ada yang mau/ mampu memproduseri Demi Ucok. 

Terpaksa gue bikin PT.

Dua tahun terakhir pun gue habiskan mencari produser.  Atau at least partner produser yang bisa promo. Gue pengennya jadi sutradara aja. Gak mau capek-capek promo.

Gak nemu juga.

Mungkin sudah waktunya gue tidak lagi menghindar. Gue harus mengurus PT Kepompong Gendut yang sudah dua tahun terakhir ini gak gue apa-apain, padahal namanya lucu banget.

Gambarkan Kepompong Gendut dalam tiga kata!

Small - karena gue lebih suka small intimate films.
Fresh - karena film yang gue mau bikin emang beda.
Joyful - karena emang cuma itu tugas gue di dunia yang tak bermakna ini.

Gambarkan Sammaria dalam tiga kata!

Small pastinya nggak.

Smart ajalah. Karena gue gak suka komedi masa kini. Gak lucu.

Woman, karena kerjaan gue akhir-akhir ini dapetnya karena gue cewe.

Eh... tapi masa hari gini masih maen gender?

Smart, Fresh, Joyful aja deh.

Ternyata mood gue emang joyful, seperti babi air dalam comberan lumpur lainnya. Mungkin sudah waktunya gue menerima kalau gue memang babi air dan mulai bermain-main di lumpur.

Gue mau memelihara cerita-cerita kecil yang punya dampak besar.

Nah lo dah punya tagline.

Small stories, Big differences.

Off The Record

 "Tapi ini off the record ya..." kata Papi.

Gue paling malas kalau Papi sudah memulai kalimat dengan kata-kata itu.

"Mamimu itu... bla bla bla..."

Papi  dari dulu memang bulus, tapi selalu positive thinking. Papi sekarang malas gue dengerin karena yang dia omongin gak jauh-jauh dari kejelekan Mami.

Kalau ke orang lain, ngomonginnya gue.

"Tapi ini off the record ya. Si Atid itu udah bagus kali furniture-nya. Tapi dia malah ganti, " katanya pada Indri. Membuat gue seakan-akan an ungrateful bitch.

Gue teringat dulu ada cowo yang baik banget ama gue, selalu berusaha membantu. Tapi gue selalu cranky kalau dia dekat-dekat.

"He talks like my dad," jawab gue sebal. Gaya bahasa ala tentara yang sok mengayomi masyarakat, semua beres, padahal di belakang beda.

"Interesting," jawabnya tanpa menyuarakan apa yang ada di benaknya. Tapi gue merasa dia merasa jawaban gue adalah tip of an anger berg.

Gue tahu gue gak suka emak gue, tapi Papi kan baik hati. Dengan segala kebaikan hati Papi, jangan-jangan gue juga gak suka bapak gue sendiri.

Dan gue gak mau mengakui, karena dia sudah banyak berkorban demi kami.

Harusnya gue gak begini.

Ini off the record ya.

Fat Kid


Sudah lima bulan gue berkubang di apartemen ini. Baru lima kali gue berenang.

Belum pernah gue jogging di Taman Tebet.

Belum pernah gue nge-gym.

Apalagi ke sauna.

Baru dua kali pakai Busway.

Dua kali pakai kereta. Itu pun mau mijit ke Kalibata.

Tapi sudah lebih dari lima kali ke restoran bernama Fat Kid.

Mau terus ke Fat Kid?

Kalau fat kid sehat sih gapapa. Tapi ini gigi bolong, jantung deg-degan, dan tagihan nambah karena malas jalan.

Dulu padahal beli apartemen ini karena ada kolam renang, dekat Taman Tebet, dekat Busway, dan dekat Kereta Api.


For once in my life, I wanna feel fabulously healthy.

Virtue Masyarakat Kita

"Dalam rangka Sumpah Pemuda, tadinya brand ini mau bikin dokumenter tentang Pemuda Indonesia yang menginspirasi. Tapi FGD mereka bilang fiksi lebih menarik. Jadinya mereka mau bikin film pendek aja," kata Ibu Produser.

Film pendeknya masing-masing berdasarkan 5 virtue masyarakat Indonesia menurut FGD mereka: berbagi, sopan santun, ramah tamah,... sama apa lagi ya?

Gue kebagian berbagi.

Mulailah gue memikirkan cerita-cerita tentang berbagi di Indonesia. Kayanya cerita tentang berbagi rumah menarik. Toh rumah tradisional masyarakat kita sebenarnya sangat komunal.

Si asisten produser me-whatsapp. Film pendek ditunda dulu nungguin si orang Brand yang dipanggil meeting ke Hongkong gara-gara krisis duit melanda dunia. Nanti dikabari lagi jadi apa nggak.

28 Oktober pun berlalu tanpa adanya kabar.

Sepertinya sopan santun bukan virtue masyarakat kita.

Sehari Satu

Suatu hari di bulan Mei, gue berulang tahun ke 32. Gue berjanji mulai hari itu gue akan kembali menulis blog sekali sehari. Menulis tiap hari adalah solusi tepat, murah, dan bebas psikiatris buat potential psycho macam gue. Dan menurut Jimmy Kimmel, writing everyday is the best advice he got for his professional career.

Lima bulan berlalu, blog belum juga tertulis. At least gue punya 150 ide tulisan blog yang rencananya akan gue tulis selama 15 hari di bulan Oktober.  Sehari sepuluh. I did it before.

Datanglah Oktober. Ada film festival ini. Ada si itu berkunjung. 

Kayanya 20 blog sehari bisa deh. Jadi cuma butuh berkubang 8 hari.

Hari ini Desember. Gue cuma punya sisa 4 hari lagi di tahun ini. Hutang nulis blog masih 150 judul. Sehari gue harus nulis 40 judul sehari. Dua puluh aja gue stress.

"Kau jangan bikin goal gak realistis lah," omelnya melihat cara gue yang terlalu manic. Bukannya menulis, gue malah golar goler di kasur, stres membayangkan gue harus menulis 1 judul  dalam sepuluh menit.

"Jadi sehari gue nulis berapa?"

"Satu," jawabnya. "Lebih dari satu paling hasilnya gak akan bagus."

Indahnya menulis sehari satu. Tapi gue merasa berhutang kalau gak menyelesaikan 150 hutang ini. Gue butuh detox pikiran yang sudah terlalu banyak diracuni fear and doubt. Mungkin gak akan bagus, tapi setidaknya sampah-sampah ini akan terbuang.


Sepuluh menit satu.