Kamis, 07 Januari 2016

A Lot Of Friends

Sebuah foto muncul di Facebook gue. Dari empat tahun yang lalu.

"Mau dipost di timeline gak?" tanya algoritma Facebook. Tentunya dalam Bahasa Inggris yang sopan.

Foto gue dan dia tertawa bahagia.  Hari itu gak ada yang menghujat kita. Support system kita bergembira bersama kita.

Four years ago, I had a lot of friends.

Kalau gue bisa mengulang waktu, apakah gue akan memilih tetap menjadi si  lugu ceria  yang punya banyak teman? Atau tetap menjadi gue yang sekarang?

Gak lugu, gak ceria, gak punya banyak teman.

"Do you want to share your memory?"

Cancel.

Punya banyak teman is overrated.


Those who stay are priceless.

Sepatu Kulit Sempit

"Ini sepatu siapa?" tanya gue melihat sepasang sepatu coklat kulit silang menyilang macam Balenciaga.   

Ternyata punya Mak Gondut. Dia beli di toko satu dollaran di Belevue yang menurut Mak Gondut lebih bagus dari toko satu dollaran di New York.

Curiga maksudnya Goodwill.  Gak mungkin sepatu sebagus ini harganya satu dollar doang. Mungkin bekas salah satu karyawan Bill Gates yang mengira sepatunya akan dibeli orang-orang kurang mampu di Seattle.

"Kalau mau, pakailah.  Gak pernah Mami pakai."

Sempit.

Tapi gue gak mau menyerah. Biasanya kalau kulit, lama-lama melar kok.

Robek.

Gue benerin di Cihapit. Eh, Papi yang benerin. Gue tinggal pake.

Robek lagi.

Gue masih gak rela melepaskan.

Padahal sepatu gue banyak.

Gak ada yang coklat kulit sih.

No Country For Poor Man

Untuk menjual  apartemen ini, Mr. Yoo harus bayar PPN 10% dari harga beli.

Juga  PPh 5%.

Juga administrasi 10%.

"Gak bisa lebih murah?" tanya Mr Yoo dalam Bahasa Indonesia patah-patah.  Toh biaya administrasi ini sebenarnya hanya biaya nge-print selembar surat baru menandakan sekarang unit apartemen ini menjadi punya gue.  Sertifikatnya belum selesai, jadi negara belum ikut-ikutan dalam jual beli ini.

Akhirnya diturunkan menjadi 6%.

Di kios sebelah Rp 1500 per lembar.

"Mr. Yoo, sebenarnya kan dulu waktu beli Mr. Yoo udah bayar PPN 10 %.  Mending Mr Yoo minta bukti bayar pajaknya deh. Saya yakin PPN yang ke dua ini gak dibayarkan ke negara," tutur Bang Gigit yang biasa menangani jual beli tanah di bank-nya. 

"Ya biar sajalah. Daripada nanti usaha saya di sini dipersulit," kata Mr. Yoo yang sudah dua puluh tahun tinggal di Indonesia dan sudah belajar lebih baik bayar daripada bertanya.

Nanti setelah sertifikat keluar, gue juga harus bayar BPHTB, PNBP, biaya notaris, biaya cek sertifikat, PBB dan biaya selisih NJOP.

Total 150 juta disetorkan entah buat apa. Mungkin buat bikin rel yang udah ada sejak zaman Belanda itu, atau bikin tol baru yang lewat harus bayar itu?


Indonesia negara miskin, tapi bukan buat orang miskin.

Papi Mami Berantem

"Atid coba telepon Mami ya," kata Papi tiba-tiba nelepon.  

"Ada apa, Pi?"

"Ya tanya-tanya ajalah. Kan senang dia ditelepon Nonanya."

Gue nelepon Mami. Ternyata Mami Papi lagi berantem.

"Nyebelin banget si Papi itu. Masa dibilangnya mami panjang kaki. Keluar-keluar terus. Gak pernah di rumah. Kalau mami gak keluar-keluar liat-liat tanah, mau dari mana tabungan kita? Ha? Ha? Ha?"

Bukan ha ha ha ketawa. Tapi ha ha ha kaya bertanya tapi sebenernya gak perlu dijawab.

"Mana pernah dia itu mau nabung. Dibagi-baginya semua ama orang. Bla bla bla bla bla bla."

Merepetlah Mak Gondut panjang lebar. Kuhidupkanlah itu speaker phone sambil "he... he.... he..."

Bukan he he he ketawa. He he he retorik biar dikiranya gue masih dengerin.

"Gak mau Mami pulang. Mending Mami beli sarung bantal di BSM. Lucu-lucu kali sarung bantalnya. Nanti aja Mami pulang kalau udah tidur si Papi."

Telepon gue pun berpindah ke Papi.

"Emang Papi bilang apa ke Mami sampai ngamuk gitu?"

"Gak ada Papi bilang apa-apa. Memang mamimu itu sukak-sukaknya aja terus."

Mami memang lebih suka keluar-keluar bersama teman-temannya. Papi lebih senang di rumah, ngurusin piaraan dan belanjaan. Entah kenapa dua orang ini dulu bisa kepikiran berjanji hidup bersama selamanya.

"Coba Atid traktir dululah mami-nya. Nanti Papi ganti. Bilang aja Atid yang bayar."

"Kenapa gak Papi aja yang nraktir? Biar baikan."

"Nggaklah. Kan lebih senang dia kalau ditraktir anaknya."

He...

Apartemen Baru

"Mi, bantuin DP apartemen dong. Nanti bulanannya Atid cicil ke Mami," kata gue pada Mak Gondut mumpung doi baru beliin Deden apartemen. 

Mak pun setuju.

Tapi takdir berkata beda.

Di perjalanan menuju RSPAD bersama Papi, tiba-tiba Mak Gondut sesak napas. Palang kereta di depan mobilnya menutup. Jalur kereta di Senen itu ada delapan, entah kapan palangnya membuka kembali. Mak merasa waktunya sudah tiba.

"Bang, jangan lupa belikkanlah  si Atid itu apartemen ya," sabda Mak Gondut di detik-detik terakhirnya.

Lalu palang kereta terbuka. Mak dilarikan ke IGD. Gak jadi detik-detik terakhir.

Gak jadi beli apartemen.

"Masak Mami gak jadi mati gak jadi beliin apartemen? Harusnya bersyukur dong diberi kehidupan baru. Ngapain harta disimpan-simpan?"

Si Atid pun dibeliin apartemen.

"Nanti kau beli sendiri yang gedelah. Masa mau terus-terusan  kau di sini?"

Gue gak pernah pengen punya rumah gede.  33 m2  untuk satu orang sudah tiga kali lipat standar hidup per orang menurut Neufert. Dan ini satu-satunya daerah di Jakarta yang sepertinya gue masih mau tinggal. Jadi ngapain pindah?

Daripada beli rumah gede, mending kalau punya duit dibagi-bagi ke yang butuh.

Setelah punya satu rumah kecil berumput luas di Bandung, buat tempat bertanam jamur, tentunya.

Eh tapi kan mami punya.


Ya udah dibagi-bagi ajalah.