Kamis, 07 Januari 2016

Apartemen Baru

"Mi, bantuin DP apartemen dong. Nanti bulanannya Atid cicil ke Mami," kata gue pada Mak Gondut mumpung doi baru beliin Deden apartemen. 

Mak pun setuju.

Tapi takdir berkata beda.

Di perjalanan menuju RSPAD bersama Papi, tiba-tiba Mak Gondut sesak napas. Palang kereta di depan mobilnya menutup. Jalur kereta di Senen itu ada delapan, entah kapan palangnya membuka kembali. Mak merasa waktunya sudah tiba.

"Bang, jangan lupa belikkanlah  si Atid itu apartemen ya," sabda Mak Gondut di detik-detik terakhirnya.

Lalu palang kereta terbuka. Mak dilarikan ke IGD. Gak jadi detik-detik terakhir.

Gak jadi beli apartemen.

"Masak Mami gak jadi mati gak jadi beliin apartemen? Harusnya bersyukur dong diberi kehidupan baru. Ngapain harta disimpan-simpan?"

Si Atid pun dibeliin apartemen.

"Nanti kau beli sendiri yang gedelah. Masa mau terus-terusan  kau di sini?"

Gue gak pernah pengen punya rumah gede.  33 m2  untuk satu orang sudah tiga kali lipat standar hidup per orang menurut Neufert. Dan ini satu-satunya daerah di Jakarta yang sepertinya gue masih mau tinggal. Jadi ngapain pindah?

Daripada beli rumah gede, mending kalau punya duit dibagi-bagi ke yang butuh.

Setelah punya satu rumah kecil berumput luas di Bandung, buat tempat bertanam jamur, tentunya.

Eh tapi kan mami punya.


Ya udah dibagi-bagi ajalah.

Dua Kartini

Ada dua yang mau bikin film Kartini.

Yang satu gak mau bikin film pahlawan yang terlalu serius. Mending bikin Kartini versi romcom. Bukan antara doi dan Stella, tentunya. Tapi antara doi dan tukang pos imajiner yang nganterin tuh surat-surat. Gak peduli tukang posnya historically beneran ada apa nggak, yang penting yang maen jadi Kartini harus gadis sampul jelita dan tukang posnya berdada bidang.

Yang satu lagi kayanya versi yang disebut si romcom film pahlawan serius . Sutradaranya aja langganan biopic yang  biasa membuat pahlawan-pahlawan jadi extra serius.  Lihat aja lighting teaser poster-nya yang soft-soft macam mau pre wed.  Kartini terlihat sangat lemah gemulai, menatap entah apa di bawah sana. Mungkin posternya emang ngambil dari album kawinan si gadis sampul masa lalu sama anak salah satu anak raja minyak Indonesia.

Dua-duanya tidak ada yang mau memotret Kartini sebagai cewe pemberontak yang jauh dari profil wanita Jawa lemah gemulai nan penurut, istri idaman Bupati Rembang.  Sepertinya di dua film ini jangan harap Kartini  mempertanyakan agamanya.

Gue pengen Nonton Kartini dan bapaknya. Atau Kartini dan abangnya. Cowo-cowo macam apa yang mempengaruhi pemikirannya sampai dia jadi Kartini? Cowo macam apa yang bikin si pemberontak ini akhirnya mau nikah juga?

Atau romcom Kartini dan Stella.

Atau apapun yang ceritanya Kartini tapi soundtrack-nya Koil.


Mungkin harus bikin sendiri.

Pojok Batavia

Setiap lihat tempat ngopi berdesain masa kini, anything selain Starbucks dan kawan-kawannya, apalagi yang namanya hybrid dua bahasa, pantat gue selalu tertarik nempel di sana.

Kali ini pantat gue nempel di Pojok Batavia.

Selain punya efek bebas rasa bego udah ikut-ikutan memperkaya koruptor pemilik chain coffee shop, duduk di tempat begini membuat gue berasa bagian dari masyarakat fusion yang lebih inklusif ke beragam budaya.  Gak ada yang rese kalau gue nyampur-nyampur bahasa apapun ke Bahasa Indonesia yang aslinya memang campuran banyak bahasa.

Sampai kutahu harga ketopraknya hampir gocap.


Kembalilah pantat gue ke bangku ketoprak non fusion.

X Trail Hitam

Si DoP datang  ke lokasi dengan Nissan X-Trail hitam. Gue datang dengan Agya kecil, punya Mak Gondut pula.

More reasons to encourage people to be a DoP instead of a director.

"Alhamdulilah ya karena Demi Ucok juga, Bu. Saya jadi ada bahan jualan," katanya.

Demi Ucok adalah film pertamanya. Sejak itu dia sudah mengerjakan banyak sekali film.

"Kemaren saya udah mulai nge-direct juga, Bu. Kalau yang lebih gambar bagus, gak perlu storytelling sih saya berani," katanya.

Sementara list gue belum nambah.

"Nah sekarang saya ditawarin nyutradarain. Pengen sih nyoba-nyoba. Ajarin sayalah ya, Bu," katanya lagi.

"Kok lo laku banget sih? Kayanya gue deh yang perlu belajar sama lo."

"Ah itu kan pake marketing aja, Bu. Kalau dapat, tinggal bayar 20%," katanya.

Gambar bagus dan marketing.

Bukan 'having something to say'.

Biarlah.


Gue toh gak pengen  X-Trail.

Istri Baik

Kenapa gue bahagia nonton The Good Wife padahal judulnya macam kampanye hendak menginsyafkan gue kembali menjadi 50's housewives?

Karena ceritanya gak gampang ditebak. Ditulis veteran-veteran hukum beneran. Ngasih gue banyak 'ooo gitu toh' moment  soal hukum di negara yang pengacara memang harus pintar.

Really? Nothing else?

All right.  Ada mbak-mbak hot berjaket kulit dan bersepatu boots, Kalinda.  

Cewe-cewe doi pun hot. Apalagi mbak-mbak FBI yang namanya Lana.

Sayangnya pemeran Kalinda dan pemeran utama slash mbak produser berantem.  Setelah ber-season-season Kalinda dan si Good Wife gak pernah satu scene bareng,  akhirnya  season ini Kalinda cao juga.

Scene terakhir Kalinda say goodbye ke Alicia di-shoot terpisah, disatukan dengan CGI, dan tak patut dikenang.

Jadwal pemeran Lana pun gak masuk, membuat doi gak pernah muncul lagi, memupuskan harapan gue akan hadirnya beberapa scene romantis.  

Jadi sekarang  gak ada lagi alasan nonton The Good Wife.

Dan produser pun menambahkan mbak-mbak hot baru berambut pixie.


Semoga doi lesbi.