Jumat, 04 Juli 2014

Jakarta Rampok

“Jakarta itu mahal”, katanya.

“Emang lo pernah di Jakarta?” tanya gue.

“Kan gue emang rumahnya di Jakarta. Ampe SMA.” 

“Tapi kan SMA lo masih dibayarin orang tua kan???”

“Tetep. Lo naik angkot 2000. Trus sambung metro mini 4000. Itu sekali jalan. Belum minum, kan harus tuh panas. Trus baliknya kalau kemalaman ga ada angkot harus pake ojeg.”

Taksi is not an option. 

Sementara untuk filmmaker yang harus terlihat produser, mau gak mau naik taksi terus. 

Kadang-kadang ojeg, kalau bukan mau ketemu orang dan gak butuh rambut wangi kalau cipika cipiki.

Pernah mencoba naik metro mini, penuh kepanasan. Kosong, tambah kedengeran bunyi kaleng beradu kaleng.  Pulangnya langsung taksi lagi.

Kereta di beberapa jam oke, kalau gak tiba-tiba nabrak truk minyak. Kalau lagi rush hour, siap-siap tidak berprikepindangan.

Bawa mobil di Kalibata City, siap-siap waktu nyari parkir 2 jam setiap malam. Terpaksa parkir di luar, di jalan depan yang kalau malam 4 jalurnya berubah menjadi lahan parkir di bawah asuhan pemuda-pemuda FBR.  Dengan 10 ribu rupiah mobil anda dijamin masih ada hingga pagi. 

Kelengkapan di luar jaminan.

Tapi besoknya jam tujuh setengah lapanan harus udah dipindahin biar yang lain bisa keluar.

Gue jam tujuh setengah lapanan udah standby di mobil siap memindahkan mobil. Mobil-mobil di depan gue masih parkir dengan sesuka hati dan seprtinya tidak ada tanda-tanda akan dipindahkan pemilik. Para pemuda FBR tadi malam yang semalam menagih 10 ribu pun tidak lagi berkeliaran.  Juga tidak ada tanda-tanda petugas menyegel ban, mungkin terlalu banyak ban yang harus disegel.

Gue menyerah dan kembali nanti sajalah. Kapan-kapan. 

Dengan keadaan kaya gini, naik mobil bukan jawaban. Lebih baik ke mana-mana naik taksi.

Ahok bilang sanggup membuat Jakarta bebas macet dalam 2 tahun kalau warganya semua naik transportasi umum.

Godaan mobil murah pun berdatangan, diijinkan Pak SBY, bertentangan dengan kemauan para pengurus Jakarta.


Waktunya pulang ke Bandung. Nanti saja kembali 2 tahun lagi saat Pak Ahok sudah jadi gubernur dan penghuni Jakarta sudah mau naik angkutan umum.

Modifikasi Diri

Gue menggosok-gosok lengan atas gue yang lebih dingin dari bagian tubuh lainnya. Lemak lemak hilir mudik berlawanan arah dengan arah gosokan. 

Bagian terlemah tubuh ini sepertinya tangan. Terbuka sedikit, langsung gue bersin-bersin. Hilanglah sudah harapan memakai baju tanpa lengan kalau tak mau terserang demam. Tapi toh gak akan juga gue pakai begituan, nanti bisa-bisa lemak tangan gue berkibar ditiup angin, walau tak seberkibar dia.

Dia, leher. Jadinya ke mana-mana pakai syal. Jadi lebih fashionable.

Apa mungkin akan ada suatu hari di mana tangan-tangan ini akan firm seperti mereka para wanita-wanita yoga? Dari jauh seperti berotot, tapi ketika dipegang lembut sangat. 

“Dia baru boobs job ya?” tanya seorang teman yang tak tertarik membahas lengan.

Sesama tetek besar, gue membela dalam ketidaktahuan. Mungkin karena dia mengurus. Mungkin nanti kalau gue mengurus juga, tetek gue pasti lebih disangka boobs job.

“Gue sih mau kalau boobs job. Yang gak mau sedot lemak,’” kataya sambil memperagakan dokter mengubek-ngubek lemak perutnya seperti abang-abang soto angkar mengaduk jeroan dengan dayung. 

“Mending gue diet dan olah raga sampai mampus.”

Tapi boobs job tetap mau. Karena olahraga mampus gak bisa bikin tete gede. 

Gue membayangkan maintenance saat suatu masa dulu gue pakai bulu mata palsu. Membawa-bawa ekstra bulu di mata benar-benar menyusahkan dan menyita waktu gue yang harus seminggu sekali ke salon. Aplagi kalau nambah balon-balonan di dada. 

Kalau orang seperti mereka saja tak pede dengan badannya, wajarlah ya kalau gue juga insecure dengan badan gue.

Gue gak punya waktu buat maintenance boobs job. Gue udh banyak kerjaan: nonton DVD seharian.

“Kalau lo boobs job, lo gak akan sempat nonton DVD seharian. Pasti banyak yang ngajak keluar.”


Bah.

Mimpi Frustasi

Tadi malam gue bermimpi.

Shooting diselingi dengan DJ dan party. Si actress yang tadinya heran ada DJ akhirnya setuju karena dia bisa party sementara kita setting.

Gue menguping pembicaraannya dengan lawan mainnya. Dia ingin meneruskan kisah on screen mereka sehari lagi. Lawan mainnya ragu tapi mau. Sayangnya tidak ada adegan ciuman karena gue keburu pergi. 

Gue mencari taksi, mumpung taksi masih ada di Karawang walau dini hari. Supir taksinya menyebalkan, walaupun penumpangnya lebih menyebalkan. 

Entah kenapa gue minta diturunkan. Dia tidak mau kecuali gue membayar 200 ribu, sesuai ongkos yang dijanjikan membawa gue dari Karawang ke Jakarta.

Gue memfoto-foto semua identitasnya yang sudah tergaruk tak terbaca. Penumpang di belakang (Yes, I suddenly share the cab) bilang biarkanlah gue turun dan biar si bapak-bapak sok bijaksana ala Kolonel Sanders versi Jawa ini yang membayar semua ongkosnya, tak perlu dibagi.

Di pinggir jalan, gue bertanya angkotke mana ke pada segerombolan wanita bisu berjilbab. Angkot nomor 18 disusul metro mini jurusan Cibubui, semuanya dituliskan besr-besar dengan darahnya yang putih di dinding berjamur. 

Gue malah sampai ke sebuah padepokan Cina yang tampaknya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.  Gue disuruh ke kamar mandi dulu sebelum giliran diperiksa.

Kamar mandinya mewah, tapi ketika bilik-bilik itu dibuka, klosetnya  old school dengan kerak-keak jarang dibersihkan dan air stand by kekuningan. Setidaknya tidak ada tahi mengapung.

Gue sedang boker, seorang tentara seenaknya masuk dan memandangi gue tanpa nafsu.  Gue bilang kamar mandi cowo dii bilik sebelah. Dia celingak celinguk enggan pergi. Tidak ada nafsu, hanya angkuh. Terpaksa gue cebok di depan dia.

Keluar kamar mandi, gue melihat sudah ada goodie bags ulang tahun. Satu pasien sebelum gue keluar membawa kue ulang tahun dengan icing  mawar coklat. Kue satunya mawar pink. 

Gue tidak jadi diperiksa dan kembali ke kantor Kepompong Gendut. Entah bagaimana caranya. Seorang teman telah menunggu sambil  menangis.

Gue berikan laptop gue untuk menghibur. Gue keluar sebentar, mencari segelas air untuk dia. 

Begitu kembali dia langsung bertanya dengan kaget, masih di sela-sela tangisnya.

“Do you have sex with her?”

Moral of the story: Jangan lagi meminjamkan laptop ke orang. walau hanya dalam mimpi.

Asuransi

Tiga bulan yang lalu Fatwa berhenti asuransi. Rencananya mau ikut BPJS, 60 ribu saja sebulan. Asuransi 100 ribuan.

Tiga hari yang lalu dia gak bisa bangkit dari tempat tidur, kesakitan. Ternyata ada janin di luar kandungan. Operasinya 14 juta.

“Lain kali kalau mau pindah asuransi make sure harus udah masuk asuransi satunya,” sabda Fatwa sambil mengelus-elus baret 14 jutanya.

“Jangan pernah berhenti asuransi.  Gue udah lihat betapa waktu itu klien gue lebih bahagia lihat muka gue datang daripada orang tuanya datang,” kata mantan agen asuransi.

Sementara Paulo Coelho  gak mau punya asuransi karena membatasi keajaiban hidup. Dan Sammaria yang konon gampang banget terpengaruh sama orang yang dia sudah suka, langsung bertahan gak mau punya asuransi.  

“Tapi perusahaan lo punya BPJS kan? Wajib lho,” kata Sally mewanti-wanti.

Gue memandangi wajah Fatwa dan Indri yang sepertinya gak pernah baca Paulo Coelho. Tapi bisa sewaktu-waktu butuh operasi 14 juta.


Yuk antri BPJS.

Cuma Sampai 9 Juli

Dulu kita harus hati-hati. Banyak politikus yang menunggangi untuk mendompleng image.

Kini, Jokowi dan Prabowo yang harus hati-hati. Banyak banci eksis yang menunggangi mereka biar view you tube-nya nambah.

Salah satu cara untuk eksis saat ini adalah bikin video kampanye Jokowi.

Salah satu cara untuk kaya saat ini adalah bikin video kampanye Prabowo.

Nama-nama antah berantah jadi ramai-ramai mendukung Jokowi. Sampai kerjaannya sendiri dilalaikan. Alasannya Jokowi kalau sampai kalah, kita bisa sengsara.

Sumbangsih tebaik untuk bangsa ini  adalah dengan mengerjakan bagian kita sebaik-baiknya. Jokowi dan Prabowo udah banyak yang bantuin, termasuk para pemilik kapling tambang dan properti negeri ini. 

Tapi ada juga yang dengan mengagumkan bisa menyisihkan waktu di tengah-tengah kesibukan mereka tanpa melalaikan kewajibannya.  

Semua orang berhak terlibat dalam pesta demokrasi ini. Toh hanya sampai 9 Juli. Tidak apa-apalah.

*kembali kerja


Bersatu Kita Teguh, Berdua Kita Teguh

























“Males banget deh. Makin kenal makin tak sayang,” katanya di whatsapp group sambil memposting gambar yang menyudutkan Jokowi.

Gue sudah siap memborbardir dia dengan tuduhan bermacam-macam. Gimana mau kenal kalau riset lo sebatas gambar-gambar fitnah?

Black campaign akhir-akhir ini semakin membuat muak.  Dua kubu saling menghina. Yang satu bikin film pendek dengan slogan fun campaign yang sama sekali gak lucu. Yang satu bikin epic battle gak lucu. Mau dukung Jokowi sekalipun, kalau bawaannya udah ngehina-hina sotoy, gue gak ketawa.

Memang Jokowi harus kita dukung karena mencerminkan harapan. Tapi gak usah menghina yang kaum seberang. Di belakang Jokowi pun banyak manusia-manusia menjijikkan. Semuanya sama saja boroknya, hanya yang satu masih ada harapan. Tapi harapan bisa jadi bumerang, melihat  Jokowi  bisa jadi mengulang cerita melempemnya SBY yang dulu kita harapkan. 

Kalau nomor 1 menang, ya gue amini juga. Maybe WE deserve-nya emang dipimpin yang kayak Prabowo.

“Wah Atid bener banget, siapapun pilihannya yang penting kita sebagai bangsa Indonesia tetap bersatu ya gak?” whatsapp teman lain yang dicurigai pendukung 1 tapi gak mau ngaku.

“Ya nggaklah. Kalau Prabowo menang gue langsung cabut dari negara ini. Hidup ini singkat, ngapain dihabisin berkarya di negeri yang menterinya Tifatul? There’s no place for us here,” jawab gue sambil tetap promo film Selamat Pagi, Malam.

“Udah pada nonton belum tuh?” Kata si makin kenal makin tak sayang mempromosikan film gue. Sepertinya cuma dia yang sudah nonton di whatsapp group yang lebih tertarik meributkan calon presiden ini.

Dilanjutkan dengan dia curhat betapa tiga tahun belum pernah diperbolehkan cuti.  Di kantornya dia sudah apatis,  tidak berguna proaktif. Mending nunggu dikasih THR baru resign.  Dia pengennya tidur-tidur meluk anaknya. Tapi uang tetap dibutuhkan.

Tak ada yang peduli dengan dia.

Gue jadi malu sendiri sudah menghamikimi membayangkan sulitnya hidupnya. Di negara yang masyarakatnya sudah jenuh dan resah ini, mungkin memang riset politik adalah prioritas nomor ke sekian. Lebih baik waktunya dipakai meluk-meluk anak sehabis kerja seharian.

Mungkin kalau gue jadi dia, gue pun demikian.

Kita hanya sesama warga yang butuh berjuang. Siapapun pemimpinnya, tetap 5 tahun ke depan akan susah. 


Lebih baik tidak saling memusuhi. Kita saling membutuhkan.

Albert dan Lez

Konon ada dua mahkluk yang menghuni diri kita. Si rasional bernama Albert yang menuntun kita ke jalan yang benar, dan  si reptil pemalas Lez yang selalu mengajak kita tidur dan bermain. Kalau kita dengerin Lez terus, kita akan menjadi manusia yang  tidak bertanggung jawab. Karenanya, Albert kita harus dilatih agar bisa menguasai Lez.

Begitulah teori sebuah artikel whatever yang baru setengah baca gue sudah open new window.

Sebagai insinyur yang terlalu banyak dididik di ITB, gue percaya Lez lah yang menuntun Albert ke personal legend-nya menjadi scientist. Kalau nggak, Albert pasti akan lebih memilih jadi engineer yang lebih pasti banyak duit.  Joy has been my guide since the beginning of my happiness, ketika gue resign dan mengikuti jalan hidup sebagai storyteller.

Teringat cerita Sally tentang Yori Sebastian. Setiap ditawari pekerjaan, dia selalu menutup mata  dan membayangkan apakah pekerjaan ini akan membuat dia bahagia. 

Kalau iya, baru liat duitnya.

Kalau duitnya cukup,walau tak banyak,  pasti dia kerjakan dengan bahagia.

Tapi akhir-akhir ini gue mulai lupa apa yang membuat gue bahagia. Terlalu banyak terjebak dengan image dan katanya katanya dan ketakutan gak punya uang yang akhirnya membuat gue lupa tutup mata dan membayangkan apakah ini akan membuat gue bahagia.

*tutup mata


Ayo Lez, kita panggil uang.

Nabi Nuh Menari

“Nabi Nuh dan tiga anaknya dan tiga menantunya…”

Sebuah kaset bernyanyi rebek, dan boneka-boneka yang digerakkan orang dari balik kotak di bawahnya bergerak-gerak seakan merekalah keluarga Nuh yang naik perahu di tengah banjir sambil bernyanyi  tentang kisah  mereka sendiri.  

Di belakang keluarga Nuh, ada singa harimau gajah dan Finding Nemo ikut menari. 

Gue mendengarkan kisah banjir yang sudah gue dengar sejak kecil. Tapi kali ini tidak terdengar lagi kisah betapa besarnya iman Nuh seperti yang sudah mereka doktrinkan.

Ternyata kisah Alkitab pasca membaca Sejarah Alkitab, Sejarah Tuhan, dan Utusan Damai di Kemelut Perang  sangat berbeda. Gue tidak lagi melihat Nuh sebagai karakter yang beriman dan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan. Nuh telah berubah menjadi alegori yang tidak bisa gue percaya bulat-bulat.

Tapi di negara di mana Noah dilarang tayang karena dianggap menggambarkan nabi, teater boneka dengan Nuh berkaca mata dan Finding Nemo ini mungkin sudah dianggap progresif. 


Jadi pengen nonton Noah. 

Jerawat Jijik

Jerawat jijik muncul di hidung kanan, apa artinya?

Katanya ada yang rindu.

Rindu palamu.

Gue jorok dan tak merawat diri. Tidur tanpa cuci cuci di atas seprai yang sudah menumpuk debu dua bulan tak diganti.

Juga karena detoks yang tak jadi-jadi padahal sudah beli kelapa ijo di kosambi.

Akhirnya jerawat jijik ini bersarang di hidung, membuat gue malas keluar-keluar. Padahal hari ini harus merekam gambar Mak Gondut mau pentas wayang.

Gue pandangi foto gue di kaiwinan Jihan tahun lalu. Not bad.  Really good compared to now.

Atau emang dasar gue  fotogenic? 

Ya udahlah kalau gitu gue di rumah aja seumur hidup. Fotonya aja yang beredar.

Tenang. Semua orang sudah sibuk kok dengan jerawat masing-masing. Gak akan ada yang merhatiin jerawat lo.

*kembali bobo tanpa cuci cuci

Eh tapi kan kalau gak ada jerawat nih muka nggak sakit-sakit. Udahlah berhenti pemalas dan bergerak sikit. Enak kok cuci muka.

Akhirnya mandi.


Byur.

Mak Tampil

“Mak Gondut tuh bisa jadi icon banget sih,” katanya.

Gue diam tidak menjawab.

“Karakternya unik soalnya. Gak ada lagi yang kaya dia.”

Baru setengah jam yang lalu gue nangis-nangis. Mak Gondut menuduh orang mengganti password facebook-nya. Padahal gue yakin ini akibat dia gaptek. Tapi memang dia tidak pernah mau menyalahkan diri sendiri. Selalu ada orang lain yang menyebabkan.

Lalu kenapa gue yang nangis?

Mungkin karena gue berharap emang Mak Gondut bisa jadi icon ibu yang penyayang dan segalanya demi anak walau rese? Tapi tidak. Dia hanya emak-emak rese biasa.

Padahal tadi siang gue udah yakin akan membuat Kepompong Mak Gondut dengan Mak Gondut sebagai bintangnya.  Tapi malam ini gue gak mau lagi kerja sama Mak Gondut. Yang dia pedulikan cuma spotlight untuk dirinya sendiri. Mungkin ini waktunya papi yang dapat spotlight.

“Ya asal mami senang papi pun senang,” kata papi bulus sambil duduk-duduk di teras. Kebayang kalau bikin film tentang papi isinya cuma duduk-dduk di teras dan mandiin anjing. Gak menarik dibuat film tapi sangat menarik di kehidupan nyata. Gak banyak orang yang gak self centered kaya Papi.

Lihat aja Mami. Gue takut kalau gue bikin Kepompong Mak Gondut, dia semakin gila spotlight. Dan kebanyakan spotlight bisa membutakan.

“Ya namanya juga orang tua, atid. Ya gapapalah,” kata Indri menyuruh gue mengenang gue di masa bayi yang tentunya tak gue ingat.

Dulu gue diurusi dan seluruh dunia Mak Gondut  berpusat di gue. Mungkin ini waktunya dia menikmati spotlight. 

“Mami ini relalah demi kalian main pilim. Mami cuma bantu anak. Kalau judulnya Mak Gondut, mami perhatikan pasti laku,” kata Mak Gondut dengan pengertiannya sendiri.

Gue menghela napas panjang.

Be nice to your parent? Ternyata Demi Ucok aja gak cukup.

So help me God.