Rabu, 02 Juli 2014

Balada Sapi Cengeng

Apa yang kamu takutkan hei sapi cengeng kegendutan? 

Takut tulisanmu kurang mengusik dan cuma another bit bit berisik di tengah gemuruh 4% dunia maya.
Takut dicaci maki seperti anjing bodoh tolol tak berotak.
Sebenernya kamu ketagihan dipuji dipuji dan dipuji. Gak tenang kalau ada yang maki-maki.

Padahal maki-maki adalah resiko menulis di internet yang membiarkan penggunanya memaki tanpa dikenali. 

Sudah berlalu masa-masa ketika mengkritik harus membangun. Sekarang kita bisa memaki tanpa perlu koreksi diri.

Tapi biarlah yang memaki terus memaki.

Si pemaki tidak menjelekkan yang dimaki. Dia hanya menunjukkan dirinya sendiri.

Lebih baik dimaki daripada memaki.


Yuk sapi, menulis lagi.




PS: Gambar di atas bukan sapi. 

Naomi

“Bagus ya Selamat Pagi Malam itu. Yang Papi paling senang karakternya Naomi,” kata Papi setelah selesai makan sate daging-dagingan yang diwanti-wanti mami penyebab kanker usus tapi tetap dimakan papi. 

Sate gelatin gue teronggok di kerongkongan, lupa ditelan. Ikut kaget mendengar Papi suka Selamat Pagi Malam, apalagi sampai bisa menyebutkan nama karakternya. 

Naomi.

Biasanya papi tidur kalau nonton film, tapi yang ini bisa ingat?

“Biasanya papi tidur kalau nonton film, tapi yang ini Papi nonton sampai akhir.”

Gelatin masuk ke lambung gue dengan bahagia, bercampur dengan endorphin dan hormon-hormon terharu.  Papi yang tentara orde baru  bisa melekat dengan karakter Naomi. Luar Biasa.

“Mainnya pun bagus si Naomi.”

Gue sudah hendak menelepon Marissa. Atau Lucky. Mengabarkan prestasi ini yang lebih mengharukan dari tangisan penonton manapun.

“Papi senang sekali dia akhirnya menikah sama laki-laki. Ya memang jatuh cintanya sama perempuan, tapi ya memang menikahnya sebaiknya dengan laki-laki.”

Ow.

Gue tertawa terbahak-bahak, tidak jadi whatsapp Lucky.

Ternyata papi masih tetap tentara orde baru. Dilatih bermanuver dan melobi cantik tanpa menyinggung masyarakat.


“Papi mau sate lagi?”





“What is religion to you?”

“What is religion to you?”

Gue memilih kotak paling bawah.  “It can give the wrong people power.”

Mungkin lima tahun lalu gue akan memilih kotak paling atas, “a way of life”. Atau kotak ke dua, “it brings good to people”.

Tapi di saat gue keluar Kalibata City disambut dengan spanduk pendukung Prabowo Hatta yang meneriakkan syariat Islam bergambar Prabowo, Hatta, dan Habib Riziq, berat rasanya memilih kotak ke satu atau ke dua.

Apalagi ketika  timeline FB gue dipenuhi teman-teman yang seharusnya terdidik dan terbuka ternyata mendukung Prabowo Hatta dengan alasan agama. Seakan-akan gue gak pernah ada di hidup mereka.

Agama di tangan manusia-manusia yang merasa benar memang terbukti menjadi  alat yang membutakan untuk menekan yang lain.

Tapi sebenarnya sudah lama gue tidak lagi menjawab satu atau dua. Kelemahan agama paling besar adalah agama tidak memberi gue ruang untuk berpikir dan salah arah dan mencari sendiri jalan untuk bercakap-cakap denganmu. Dari kecil gue sudah dilatih untuk tidak bersandar pada pengertian sendiri dan harus percaya pada kata-kata para guru agama dan pendeta.

Akhirnya gue terkotak dari sesama gue, terutama mereka yang tidak memanggil Yesus tuhan. Dan membuat gue tidak lagi merasa bagian dari alam, melainkan penguasanya. Semuanya diciptakan Tuhan agar bisa kita pergunakan untuk kebaikan si ciptaan tertinggi, manusia, yang akan memelihara alam dan berkuasa atasnya.

And we are not doing a very good job.

Tapi mempertanyakan agama di negara ini mungkin akan disambut dengan babi anjing taik dan tolol. 

Kenapa pengikutmu begitu galak oh tuhan?

Aku ingin lebih bernafas agar bisa menghirup udara dan lebih menyadari sekitar, menjadi bagan dari semut-semut pemakan gula merah yang dibalado Mami di ikan teri dan dicerna di perut ini menjadi taik-taik yang kembali membuat lahan Indonesia menjadi subur, menafkahi padi yang kemudian gue makan lagi, taik lagi, berputar lagi, hingga semuanya menjadi satu lagi.

Bukankah kita dulunya satu?

Siapapun yang menang, semoga kita tetap satu. 

Oh tanggal 9 Juli cepatlah datang. 

Tapi anggap sajalah masyarakat Indonesia sudah bijaksana, Jokowi udah menang, jadi lebih baik dari sekarang gue mulai merencanakan bagian-bagian pembangunan yang menjadi lahan gue. seperti bikin pilim dan keseruan-keseruan lainnya. 


Kalau ternyata nomor 1 yang menang ya moga-moga ada negara lain yang mau nerima pembuat pilim dan keseruan-keseruan lainnya.

Dua Roti & Dua Milo

“Non sekarang gemuk ya?” kata Mas Yusup setelah dibujuk-bujuk Papi balik lagi dari kampungnya.

Gue gak menggebuk Mas Yusup. Selain takut dia pulang lagi, gue juga setuju dia ada benarnya. 

Besok gue detox air kelapa deh. Tiga hari berturut-turut minum dan makan air kelapa only biar hilang semua sisa-sisa keju susu dan gula di tubuh ini.

Tapi ternyata kelapa pagi-pagi tak kunjung datang. Terpaksa diet ditunda sehari.

Hari ini dibuka dengan dua roti dan dua milo.

Eh, ada beng beng.

Hap.

Siang diisi dengan nasi + 4 sayur yang hanya 6.000 saja tapi ditambah ini itu jadilah 36.000. 

Yang 30.000 gak usah didetail ya.

Sebelum pulang, mampir di toko sebelah, mencoba wedges kentang dengan saus keju dan barbeque pedas level 1.

“Eh level 0 aja deh, Mbak.”

“Wedges Barbeque level nol,” teriak si Mbak Richeese mengulang pesanan ke someone di dapur.

Hari ini tak apalah. Besok kan mulai detox. 

Sore makan nasi dan ikan reri. Dikit kok.

Tapi nambah lagi.

Ok, that’s it for today.

Tapi sebelum tidur, lapar. Ingat ada 2 beng beng sisa di dapur. 

Hap.

Belum kenyang.

Kupandangi kelapa hijau makananku besok.

Salah kau, kelapa. Kenapa tadi pagi kau telat datang.


Tambah dua roti dan dua milo. 

Mari Membuat Angin

“Indri lihat timelinenya Upi sih dia bikin bikin FTV gitu ya tid,” seru Indri sambil mentransfer-transfer sisa-sisa uang Kepompong Gendut kepada mereka yang berhak mendapatkan. “Ya kan namanya tiap bulan harus gaji orang.”

“Emang dia punya PH?” jawab gue sambil merenungi analisa SWOT Kepompong Gendut. Mulai tergoda bikin FTV.

“Ya kan meureun ada supir pembantu… trus kan punya anak pula…”

Sementara buntut gue cuma 2. Itu pun terancam tak dapat THR.

“Kita dapat THR kan, Tid?” 

“Dapet.”

Indri kembali ke laptopnya dengan tenang.

“Tapi FTV kita bikinnya gimana, Ndri? Ada channelnya gak?”

“Indri juga bingung, Tid.”

“Apa kita tutup aja ya ini Kepompong, Ndri?”

“Nanti ajalah abis Raja Kata, Tid.”

“Ya udah kita bikin Raja Kata dulu. Tapi sebelum itu Dongeng Bawah Angin.”

“Ya tapi cari sponsornya yang banyak ya Tid,” wanti-wanti Indri sambil melihat-lihat keuangan Kepompong. Sepertinya masih lebih memilih FTV yang aman dan sentosa.

Jadi ingat dulu pertama kali bikin film. cin(T)a juga sepertinya tidak akan ada yang nonton, tapi malah balik modal. 

Sampai hari ini kita masih selamat tanpa hutang-hutang sebenarnya suatu keajaiban. 

Analisa SWOT hanya membuat gue bersandar pada apa yang ada saat ini,  tidak lagi mengharapkan keajaiban masa depan.

Padahal judulnya aja ajaib. Dongeng Bawah Angin. Masa gak berharap yang ajaib-ajaib di perjalanannya?

Hai kamu yang tidak suka berisik tapi gemar berbisik, bicaralah lewat angin agar kuikuti hembusanmu. Haruskah kubuat FTV atau kuceritakan Dongeng? Mana yang lebih ingin kau dengar?


Angin ini akan menjadi angin ribut yang indah.

Mira W & Chuck Palahniuk

Ada dua yang gaya menulisnya sangat gue sukai: Mira W dan Chuck Palahniuk.

Mira W bisa meloncat-loncat lincah  maju mundur dari satu kejadian ke kejadian lain tanpa meninggalkan bekas jahitan yang membuat tulisannya gampang dinikmati dengan emosi yang terjaga. 

Chuck Palahniuk bisa bercerita tanpa perlu berlama-lama, menampar menonjok menghadang  dengan novel yang dipenuhi paragraf 1 kalimat. 

Dan kalimat 1 kata.

Damn.

No wonder tulisan gue tercabik-cabik tak menentu. Mira W dan Chuck Palahniuk tak akan mungkin disatukan di rak buku Gramedia.

Seandainya aku boleh memilih…


*choke

God Is Love

“What is God?”

*blank

“What is Love?”

“The absence of judgement.”

Gue takjub melihat tulisan gue sendiri di buku kawinan Rani dan Budi.

Who wrote this? Was I ever that wise?

Mungkin gue abis nonton film apa gitu kalik ya pas nulis ini. Atau abis nguping siapa yang ngomong.

But very true indeed.


*blank

TV, Bir, dan Vespa

“Televisi sekarang tipis-tipis ya. Padahal dulu harus pake tabung panjang besar-besar,” seru Papi mengenang TV-TV yang dulu disetor padanya oleh para penyelundup di perbatasan Indonesia - Singapura. 

Saat itu Papi masih berpangkat kapten, belum beristri, dan menjadi penguasa perairan berstatus Danramil.  Saat itu Batam belum ada apa-apa, Orde Baru sedang memacani Asia, guru-guru Indonesia masih dibayar mahal di Malaysia, dan Singapura lebih murah dari Indonesia. Semua barang mulai dari pakaian elektronik sampai bir diselundupkan dari Singapura ke Indonesia.

Sekarang arus berbalik. 

Toke-toke Batam menyelundupkan segala rupa benda ke Singapura. Semua ada, kecuali guru-guru kita yang tak laku lagi diekspor ke Malaysia. 

Tinggallah orang tua Indonesia membanggakan anaknya yang kuliah di NUS Nan Yang Penang La Salle. Lulus, ditawari warga negara dan diharapkan jangan pernah pulang ke Indonesia, kecuali ditawari posisi menteri. 

Biarlah Indonesia dihuni para mahasiswa pas-pasan yang bangga dengan TV flat terbaru buatan Korea.

“Papi mau beli TV gini?”

Papi tidak menjawab, kembali bercerita tentang para nahkoda kapal yang selalu setor satu krat bir dan susu setiap mereka lewat. Kamar Papi akhirnya dipenuhi bir yang tidak bisa dihabiskan Opung tiap sore. Setelah kamar Papi dihuni Mami, bir berkerat-kerat itu ditukar Vespa. 

“Trus sekarang vespanya di mana?”

“Dijual karena waktu itu musim abu galunggung, padahal Deden baru lahir.” 


Easy come, easy goes. 

Hidung Tikus Merah Jambu

Di kegelapan, seekor pug menyeruak.

Ada hidung tikus di antara bulu-bulu kumis. Pug membayangkan pastilah warnanya pink kalau terang.

Di kegelapan, Pug mendekat serudug-serudug mengendus gemas si hidung tikus yang semakin diendus semakin basah. 

Pug mentoel-toel hidung tikus. Tikus mendecit pelan, mungkin bahasa tikus untuk tertawa senang.

Ternyata tikus-tikus suka ditoel.

Pug kembali muncul dari kegelapan, mengintip-ngintip tikus yang menggelinjang.


Pug tersenyum senang. 



Selasa, 01 Juli 2014

Bandung, Hari Ini.



Akhirnya,  Bandung. 

Mandi air Bandung berbeda, gak meninggalkan licin-licin di kulit seperti air Kalibata yang tercemar sungai sebelah atau kuburan sebelah. Sedikit hilang kelelahan setelah berbulan-bulan di Jakarta, kembali ke rumah, kalah. 

Film Jakarta tentang Jakarta yang tayang di ulang tahun Jakarta ternyata gak ditonton orang Jakarta.

Mungkin Lucky benar. Industri film sudah mati, kita aja gak mau ngaku. Tapi melihat antrian Transformer jam 2 siang sudah habis sampai show terakhir padahal dapat  jatah 3 dari 4 layar yang ada, gue seharusnya mengakui. Orang masih nonton film, tapi bukan film kita.

Kalau gue jadi pihak 21 sih gue juga taro tuh bioskop semua Transformer. Persetan ada undang-undang yang mengharuskan film Indonesia harus mendapat jatah 60% layar. Masih banyak cara lain membangun kepribadian bangsa. Jangan di bioskop gua.

Karenanya gue tidak marah. Gue kembali ke Bandung dengan lelah, walau tak rela mengaku kalah.

Teringat sebuah lagu yang gue ciptakan pada saat sebelum gue resign dari arsitek. Lebih seperti janji, bukan prophecy. I will have no glory, but somehow it’s  enough.

But You never said no money juga lehhh.

Di saat Fatwa operasi dan butuh 14 juta dan dia tahu diri gak minta ke gua, seharusnya gue bersyukur. Walalupun miskin, teman-teman gue setia.

“Kita bikin FTV ajalah,” kata Indri sambil mengabari uang kepompong tinggal 9 juta.

Gue menunda berpikir, lebih memilih nonton House Of Cards season 2. Dilanjutkan Orange Is The New Black season 2. Dilanjutkan Games Of Thrones season 3. Dan Scandal. Dan Homeland. Dan Breaking Bad.

Di antara semua dan ini, masih perlu gue buat film? 

Untuk menyenangkan diri sendiri? Masturbasi?

Ama guling lebih murah.

Kalau gue pintar, sebaiknya gak bikin film lagi.

Untungnya gue gak pintar-pintar amat.