Rabu, 02 Juli 2014

Mari Membuat Angin

“Indri lihat timelinenya Upi sih dia bikin bikin FTV gitu ya tid,” seru Indri sambil mentransfer-transfer sisa-sisa uang Kepompong Gendut kepada mereka yang berhak mendapatkan. “Ya kan namanya tiap bulan harus gaji orang.”

“Emang dia punya PH?” jawab gue sambil merenungi analisa SWOT Kepompong Gendut. Mulai tergoda bikin FTV.

“Ya kan meureun ada supir pembantu… trus kan punya anak pula…”

Sementara buntut gue cuma 2. Itu pun terancam tak dapat THR.

“Kita dapat THR kan, Tid?” 

“Dapet.”

Indri kembali ke laptopnya dengan tenang.

“Tapi FTV kita bikinnya gimana, Ndri? Ada channelnya gak?”

“Indri juga bingung, Tid.”

“Apa kita tutup aja ya ini Kepompong, Ndri?”

“Nanti ajalah abis Raja Kata, Tid.”

“Ya udah kita bikin Raja Kata dulu. Tapi sebelum itu Dongeng Bawah Angin.”

“Ya tapi cari sponsornya yang banyak ya Tid,” wanti-wanti Indri sambil melihat-lihat keuangan Kepompong. Sepertinya masih lebih memilih FTV yang aman dan sentosa.

Jadi ingat dulu pertama kali bikin film. cin(T)a juga sepertinya tidak akan ada yang nonton, tapi malah balik modal. 

Sampai hari ini kita masih selamat tanpa hutang-hutang sebenarnya suatu keajaiban. 

Analisa SWOT hanya membuat gue bersandar pada apa yang ada saat ini,  tidak lagi mengharapkan keajaiban masa depan.

Padahal judulnya aja ajaib. Dongeng Bawah Angin. Masa gak berharap yang ajaib-ajaib di perjalanannya?

Hai kamu yang tidak suka berisik tapi gemar berbisik, bicaralah lewat angin agar kuikuti hembusanmu. Haruskah kubuat FTV atau kuceritakan Dongeng? Mana yang lebih ingin kau dengar?


Angin ini akan menjadi angin ribut yang indah.

Mira W & Chuck Palahniuk

Ada dua yang gaya menulisnya sangat gue sukai: Mira W dan Chuck Palahniuk.

Mira W bisa meloncat-loncat lincah  maju mundur dari satu kejadian ke kejadian lain tanpa meninggalkan bekas jahitan yang membuat tulisannya gampang dinikmati dengan emosi yang terjaga. 

Chuck Palahniuk bisa bercerita tanpa perlu berlama-lama, menampar menonjok menghadang  dengan novel yang dipenuhi paragraf 1 kalimat. 

Dan kalimat 1 kata.

Damn.

No wonder tulisan gue tercabik-cabik tak menentu. Mira W dan Chuck Palahniuk tak akan mungkin disatukan di rak buku Gramedia.

Seandainya aku boleh memilih…


*choke

God Is Love

“What is God?”

*blank

“What is Love?”

“The absence of judgement.”

Gue takjub melihat tulisan gue sendiri di buku kawinan Rani dan Budi.

Who wrote this? Was I ever that wise?

Mungkin gue abis nonton film apa gitu kalik ya pas nulis ini. Atau abis nguping siapa yang ngomong.

But very true indeed.


*blank

TV, Bir, dan Vespa

“Televisi sekarang tipis-tipis ya. Padahal dulu harus pake tabung panjang besar-besar,” seru Papi mengenang TV-TV yang dulu disetor padanya oleh para penyelundup di perbatasan Indonesia - Singapura. 

Saat itu Papi masih berpangkat kapten, belum beristri, dan menjadi penguasa perairan berstatus Danramil.  Saat itu Batam belum ada apa-apa, Orde Baru sedang memacani Asia, guru-guru Indonesia masih dibayar mahal di Malaysia, dan Singapura lebih murah dari Indonesia. Semua barang mulai dari pakaian elektronik sampai bir diselundupkan dari Singapura ke Indonesia.

Sekarang arus berbalik. 

Toke-toke Batam menyelundupkan segala rupa benda ke Singapura. Semua ada, kecuali guru-guru kita yang tak laku lagi diekspor ke Malaysia. 

Tinggallah orang tua Indonesia membanggakan anaknya yang kuliah di NUS Nan Yang Penang La Salle. Lulus, ditawari warga negara dan diharapkan jangan pernah pulang ke Indonesia, kecuali ditawari posisi menteri. 

Biarlah Indonesia dihuni para mahasiswa pas-pasan yang bangga dengan TV flat terbaru buatan Korea.

“Papi mau beli TV gini?”

Papi tidak menjawab, kembali bercerita tentang para nahkoda kapal yang selalu setor satu krat bir dan susu setiap mereka lewat. Kamar Papi akhirnya dipenuhi bir yang tidak bisa dihabiskan Opung tiap sore. Setelah kamar Papi dihuni Mami, bir berkerat-kerat itu ditukar Vespa. 

“Trus sekarang vespanya di mana?”

“Dijual karena waktu itu musim abu galunggung, padahal Deden baru lahir.” 


Easy come, easy goes. 

Hidung Tikus Merah Jambu

Di kegelapan, seekor pug menyeruak.

Ada hidung tikus di antara bulu-bulu kumis. Pug membayangkan pastilah warnanya pink kalau terang.

Di kegelapan, Pug mendekat serudug-serudug mengendus gemas si hidung tikus yang semakin diendus semakin basah. 

Pug mentoel-toel hidung tikus. Tikus mendecit pelan, mungkin bahasa tikus untuk tertawa senang.

Ternyata tikus-tikus suka ditoel.

Pug kembali muncul dari kegelapan, mengintip-ngintip tikus yang menggelinjang.


Pug tersenyum senang. 



Selasa, 01 Juli 2014

Bandung, Hari Ini.



Akhirnya,  Bandung. 

Mandi air Bandung berbeda, gak meninggalkan licin-licin di kulit seperti air Kalibata yang tercemar sungai sebelah atau kuburan sebelah. Sedikit hilang kelelahan setelah berbulan-bulan di Jakarta, kembali ke rumah, kalah. 

Film Jakarta tentang Jakarta yang tayang di ulang tahun Jakarta ternyata gak ditonton orang Jakarta.

Mungkin Lucky benar. Industri film sudah mati, kita aja gak mau ngaku. Tapi melihat antrian Transformer jam 2 siang sudah habis sampai show terakhir padahal dapat  jatah 3 dari 4 layar yang ada, gue seharusnya mengakui. Orang masih nonton film, tapi bukan film kita.

Kalau gue jadi pihak 21 sih gue juga taro tuh bioskop semua Transformer. Persetan ada undang-undang yang mengharuskan film Indonesia harus mendapat jatah 60% layar. Masih banyak cara lain membangun kepribadian bangsa. Jangan di bioskop gua.

Karenanya gue tidak marah. Gue kembali ke Bandung dengan lelah, walau tak rela mengaku kalah.

Teringat sebuah lagu yang gue ciptakan pada saat sebelum gue resign dari arsitek. Lebih seperti janji, bukan prophecy. I will have no glory, but somehow it’s  enough.

But You never said no money juga lehhh.

Di saat Fatwa operasi dan butuh 14 juta dan dia tahu diri gak minta ke gua, seharusnya gue bersyukur. Walalupun miskin, teman-teman gue setia.

“Kita bikin FTV ajalah,” kata Indri sambil mengabari uang kepompong tinggal 9 juta.

Gue menunda berpikir, lebih memilih nonton House Of Cards season 2. Dilanjutkan Orange Is The New Black season 2. Dilanjutkan Games Of Thrones season 3. Dan Scandal. Dan Homeland. Dan Breaking Bad.

Di antara semua dan ini, masih perlu gue buat film? 

Untuk menyenangkan diri sendiri? Masturbasi?

Ama guling lebih murah.

Kalau gue pintar, sebaiknya gak bikin film lagi.

Untungnya gue gak pintar-pintar amat.




Minggu, 13 April 2014

Desain Ekor

Ekor yang lebih nyaman dan praktis kalau harus duduk banyak atau bobo.

Jumat, 04 April 2014

She who never was here

What's with the tears oh you the weak minded vulnerable girl?

Just because some last goodbye from she who never was here

How can she say goodbye when she was never here anyway?

So get up and walk all the sugar you crave

Cause she was never here anyway

She was never here

She never was here

She never was here

Kamis, 03 April 2014

Validasi Orang

“Emang pencapaian film itu harus diukur dari masuk festival ya?” tanyanya risih melihat posting seorang teman yang dengan bangga menyebutkan berbagai penghargaan festival manca negara yang dia akui dia produseri . 

“Kalau buat orang2 insecure kaya gue, validasi festival sih penting banget. Tapi only the brave one yang gak perlu validasi yang akhirnya bisa bikin something new sih,“ jawab gue mengingat manusia-manusia pembuat Facebook, Google, dan Apple.

Tapi walaupun tahu only the brave one yang bisa benar-benar mendrobrak, tetap saja gue berharap 17 April nanti ada keajaiban Selamat Pagi Malam lolos seleksi Cannes bersama filmnya  Innaritu, Welsch, Frears dan nama-nama besar lain yang validasinya  dibutuhkan festival agar mereka tetap hits.

Ternyata bukan cuma gue  yang butuh validasi. Festival pun butuh validasi.

“Buat gue saat ini sih festival udah nggak penting ya. Filmnya jadi dan truthful ama situasi sekitar gue aja buat gue udah pencapaian,” katanya yang gak kebayang juri-juri Cannes akan mengerti lucunya 4 orang selfie-selfie dengan tas 12,000 Euro. Hanya manusia Jakarta yang akan ketawa. 

“Tapi kan lebih enak lo bilang festival gak penting kalau lo emang masuk festivalnya,” jawab gue yang masih butuh validasi.

“Buat gue sih yang penting dari festival ya emak-emak kita bisa jalan-jalan di red carpet. Ya biar mereka pada senanglah,” katanya melihat daftar festival.

“Shanghai aja deh atau Korea. Emak gue kayanya kenalnya Gong Li atau artis-artis Korea deh. Mana dia tahu Lea Seydoux siapa,” katanya.


Shanghai deadlinenya 11 April. 

Selasa, 01 April 2014

Pug dan Tikus

Pug berbulu sapi ngintip-ngintip. Si tikus berekor merak sedang makan banyak-banyak.

Tiba-tiba tikus menoleh. Pug tertangkap ngintip-ngintip.

Pug langsung sembunyi dengan kaki-kaki kecilnya. Ekornya yang hendak bergoyang diselipkan ke kaki.

Pug terduduk jauh-jauh. Takut ditendang lagi.

Tikus mendekat. Pug pura-pura tidur.

Tikus mengelus-elus Pug.

Ekor Pug bergoyang pelan.