Kamis, 27 Maret 2014

Laku

"Gue suka kagum ama sutradara kaya Bang Joko yang masih bisa punya idealisme dan brand sendiri," kata seorang produser muda yang sekilas terlalu banyak bicara dan kurang banyak wawasan. Tapi ternyata filmnya sudah banyak sekali. Dan jaketnya mahal.

Mungkin memang harus produser yang banyak bicara dan berjaket mahal baru laku di Indonesia. Orisinalitas bukan faktor penting di sini.

"Menurut gue, lo juga punya brand," katanya.

Gue tidak menjawab. Gue tahu gue berbeda dan film kami bukan film kebanyakan. Kalau crowd yang tepat pergi menonton film ini, mereka pasti akan suka.

Tapi seberapa banyakkah crowd yang tepat itu ada di Indonesia? 

Apalagi film 'Selamat Pagi, Malam' tayangnya bersamaan dengan serbuan Hollywood summer movies, Piala Dunia dini hari, dan Pemilihan Presiden Republik Indonesia. 

"Wah kalau itu pasti laku tuh," kata Ucu nimbrung pembicaraan gue dan Lucky.

Ternyata maksudnya bukan 'Selamat Pagi, Malam' tapi film lain yang masih di angan-angan pengembangan.

"Kalau yang Selamat Pagi Malam, Cu?" tanya gue penuh harap.

"Wah itu gak tahu deh tuh. Tapi filmnya bagus sih," katanya.

"Ga takut. Kalau memang mereka pengen nonton they will watch it," kata Lucky.
Yang penting kita bikin mereka pengen banget nonton dengan...

1. Advanced buzz yg hits 
- Well, the first crowd love it.
2. Kesan film ini bagus bgt dan ga boleh dilewatkan
 - it is.
3. Soundtrack theme song yg melejit - Nunggu Ipong skripsi kelar baru dimixing.
4. Festival buzz
- I don't know about this.
5. This film is about them, biar mereka relate. -  Crowd Anggia sih bakal suka. Gak tau deh crowd Indri dan Ci Surya. Konon mereka lebih suka cerita-cerita escapism, sejauh mungkin dari realita mereka.

Otak kiri gue masih menghitung angka. Dengan jumlah kopi dan layar yang ada, mustahil mencapai BEP 2 minggu setelah 19 Juni 2014, sebelum layar Jakarta didominasi Angelina Jolie.

Menarik napas panjang.

Ini pertama kalinya gue release film tanpa yakin akan balik modal.  

Thank you. More reason to rely more not on myself.



Jas 1 juta

"Lo mau pakai baju itu?"  tanya sang Wardrobe Designer dan Make Up Artist sambil memandang gue nista.

Gue menciut. Apa yang salah dengan kaos kuning dan legging ini? 

"Lo kan produser Tid. Harus berwibawa dong."

Malam ini Selamat Pagi, Malam limited screening untuk pertama kalinya. Hari ini gue producer only, gak merangkap director and writer. Jadi gak ada alasan berpenampilan busuk kaya waktu cin(T)a atau Demi Ucok. 

Sutradaranya aja trendy. 

"At least leggingnya jangan yang terang juga, Tid," katanya sambil melambaikan legging hitam. Lumayan diskon 20%.

Ditambah jas seharga 999,000. Jas-jas di toko lain lebih mahal lagi. Di tokonya Bang Alexander Mc Queen kemeja aja 3.5 juta.

Ternyata orang Jakarta kaya-kaya ya.

"Ah kan yang dateng temen-temen semua. Gak usahlah rapi-rapi," raung gue tak rela mengeluarkan sejuta untuk jas. 

"Tapi kan ada calon sponsor juga!" 

Oh iya. Lupa.

Dibelilah itu jas satu juta demi membuat gue terlihat lebih presentable. 

Dan ternyata malam ini calon sponsor  gak ada yang datang.

Salah gue juga sih ngundangnya bukan yang top of the top. Ngundangnya masih para bawahan yang boro-boro punya taste dan keberanian untuk mendukung film indie tanpa nama. Mereka udah overload kerja dan kecapean berusaha memuaskan selera bos mereka. 

Kalau saja mereka datang sesuai kata-kata mereka saat mengkonfirmasi kedatangan, mereka tentunya bisa merasakan genuine pleasure dan kebahagiaan yang memenuhi studio 6 Plaza Senayan saat itu.

"I rediscovered my faith in Indonesian dramas," kata Melissa Karim.

"Ini film favorit gue sepanjang perfilman Indonesia," kata Nia Dinata.

"Kurangnya pilim ini ya gak ada aku aja," kata Joko Anwar.

Dan gak perlu jas satu juta untuk membuat mereka terkesan. Gue tersenyum bahagia menyadari masih ada orang-orang seperti mereka di Jakarta.

Tapi mendengus sebal mengingat para sponsor ingkar janji.

"Kalau sampai film ini gak laku, there is something seriously wrong with our people," tambah Melissa.


Well, di tengah-tengah Jakarta palsu yang manusia-manusianya overwork dan ignorant ini... maybe there is something seriously wrong with us. 

Sensor

Selamat pagi, Indonesia.

Congratulation. We're one of those countries that don't screen Noah.

Alasannya karena Noah menggambarkan nabi dan nabi seharusnya tidak digambarkan.

We should be proud of ourselves because we understand our religion so much.

And as for you, "Selamat Pagi, Malam"... tolong potong 13 detik lagi dari reel yang kemaren ya.

Gue membaca catatan sensor film Selamat Pagi, Malam. Panjangnya 2517 meter, lebarnya 35 milimeter, banyaknya 5 reel.

SPM gak punya format 35mm, hanya DCP. Dan sekali bikin DCP kalau masih ada yang dipotong lagi itu harus mastering ulang.

Mungkin mereka salah film. Yang seharusnya dipotong ulang film lain.

Ternyata tidak. 

Apakah mereka tidak tahu kalau motong ulang DCP itu harus mastering ulang lagi? Bayar lagi?

Gue mencoba protes tapi dia sepertinya bapak ini sudah tahu segalanya.



Tugas mereka menjaga agar moral bangsa tidak rusak dan moral tidak pernah berubah dari masa ke masa. Jadi tidak ada lagi yang perlu dipelajari. Tidak perlu tahu kalau DCP itu tidak lagi berpanjang dan berlebar. 

"Ini bisa dibaca ya wawancara saya," katanya sambil memberikan majalah yang diterbitkan lembaga sensor.  Ada artikel tentang dia pada saat nonton bareng film inspiratif.

There's no place for us here.

Musisi

"Mbak Atid suka ya?" tanya si musisi setengah mabok sambil membelai-belai mesra cewe yang dia tuduh gue suka.

Secantik apapun kalau udah manggil gue Mbak Atid, langsung ada stempel non halal yang membuat gue haram hukumnya untuk mendekati.

Tapi berhubung nih anak selalu cerita kalau dia gak pede, gak mungkinlah gue bilang nggak.

"Iya gue suka," jawab gue.

Si cewe memilih bobo sambil dibelai-belai musisi yang sudah beristri.

Dan botol Truth Or Dare mengarah ke gue lagi.

"Mbak Atid suka ya?" tanyanya lagi.

"Iya, gue suka," jawab gue berusaha cuek. Si cewe langsung tambah tidur sambil dibelai mesra.

Nih anak-anak udah pada mabok jadi ya sudahlah ya. Apalah artinya perasaan gue. Besok pagi juga mereka dah lupa.

Kali ini botol mengerah ke si musisi.

"Lo suka ya ama dia," tanya gue membalas.

"Nggak mungkin," jawab si musisi.

Botol ke si cewe.

"Lo suka ya ama dia?"

"No way," katanya.

"Booooo pas lo pada pulang mereka ciuman," kata si host menceritakan drama kamar mandi setelah si musisi muntah-muntah.

Musisi oh musisi. Kenapa wanitamu banyak sekali.

*Langsung belajar gitar.




Rabu, 26 Maret 2014

Mother Complex

"Aduh Sorrrriii banget. Dia tuh udah mau dateng. Tapi tiba-tiba harus nemenin emaknya," kata si Mak Comblang yang gagal mendatangkan pasangan untuk gue malam itu. Padahal udah beli baju baru.

"Tapi kan good thingnya ketahuan dia sayang emak boooo.... kaya elo juga." 

"Ihhhhh gue mana sayang emak. Ada juga gue musuh kalik ama emak gue."

"Elo tuh mother complex, tauk!" kata si sutradara pemerhati gerak gerik sesama dan dampaknya pada orientasi seksual manusia.

"Nggak lah. Orang gue gak pernah akur ama emak gue." tampik gue menceritakan berbagai alasan kenapa gue tidak mother complex. Walaupun dalam hati teringat foto Mak Gondut muda yang masih langsing dan ternyata mirip kakak kelas kecengan gue.

Langsung ilfeel begitu tau dia mirip Mak Gondut. 

Ganti topik.

"Film berikut gue itu judulnya Dongeng Bawah Angin. Dark thriller gitu... musiknya ada unsur sordam pemanggil arwah... pokoknya kaya Black Swan tapi versi Asia. Batak tepatnya. Yang gue bayangin paling keren sih adegan membangkitkan si anak dari kematian tapi pakai tarian..."

"Ceritanya tentang apa?"

"Ibu dan anak..."

Eh...

Jeng jeng.