Senin, 10 Maret 2014

Weak Minded Vulnerable Ignorant People

Weak minded vulnerable ignorant people contohnya adalah si Philomena, emak2 dari suburb Irlandia yang gak pernah tahu berita terakhir di BBC,  bacanya roman picisan, percaya Tuhan itu ada, dan cuma peduli nyari anaknya yang diambil dari dia sejak kecil.

Seperti gue juga.

Bedanya gue cuma peduli sama film gue dan gak tahu kalau Bandung mau pindah ke Bandung Timur. Gak tahu kalau Malaysia kehilangan pesawatnya. Gak tahu juga kalau industri film Amerika dibuat untuk jualan jagung. That's ignorant.

Weak minded karena gue bangga kalau film gue masuk Cannes atau festival buatan bule-bule lainnya. Gak bisa ngeliat kalau film gue bagus apa adanya tanpa approval siapapun.

Vulnerable karena yang bisa membuat gue menangis hanya mengingat cinta lama yang gak kesampaian. Sementara tetangga-tetangga Kalibata kebanjiran, gue tenang-tenang saja.

Kalau gue ketemu wartawan BBC ini, gue pasti akan digolongkan weak minded vulnerable ignorant people, seperti halnya Philomena.

"I don't wanna be angry like you," kata Philomena di akhir cerita.

Philomena dengan lapang hati memaafkan suster-suster munafik yang menjual anaknya ke Amerika atas nama Yesus. Sementara si wartawan tetap marah , tetap gak percaya Tuhan, dan takjub dengan kelapangan hati Philomena.

Film ditutup dengan si wartawan mendengarkan The weak minded vulnerable ignorant lady menceritakan kelanjutan dari akhir roman picisan bacaannya.

Si wartawan kemudian menuliskan ceritanya, dan film itu kemudian dibuat menjadi film Hollywood dan masuk jadi nominasi Best Film. Philomena diundang ke Oscar.

Masih ada harapan bagi the weak minded ignorant vulnerable people like us.

Just let it go.


Wait, itu film lain.

Selfie

The Act Of Killing  gak menang Oscar.

Indonesia kembali damai. Rakyatnya kembali sibuk mengupload selfie di twitter, path, instagram, facebook, bla bla bla.

Japan has Line. Korea has Kakao Talk. USA has Whatsapp. Indonesians have all the time to use them. No time to watch a losing film tentang sejarah kita sendiri.

Padahal The Act Of Killing adalah selfie kita. Hanya angle-nya kita anggap gak bagus, jadi kita delete dan lupakan. Gak akan pernah masuk timeline kita.

Yang disimpan di timeline yang angle-nya bagus-bagus aja. Biar anak cucu dan Mark Zuckerberg hanya bisa mengakses yang terbaik dari kita.

We hate that part of ourself. So we try to ignore it even though we know it's there. We spend our lifetime berusaha mengupload hanya the good angle of our face.

"Abisnya gue males lihat gue yang culun jaman dulu."

"Yang sekarang, lo suka? "

"Nggak juga sih."

No wonder.

Buat Apa

"Gue boleh minta payment gue sebagian dibayarkan duluan gak?" pinta graphic designer film Selamat Pagi, Malam yang rumahnya kebanjiran di kawasan Bandung Selatan.

Banjir kali ini tidak hanya datang dari bawah, tapi juga dari atap. Angin kencang mengusir genteng-genteng dan mengundang air bah masuk rumah.

Untung macbook-nya yang biasanya nongkrong di atas tempat tidur hari itu tidak di sana. Jadi seluruh pekerjaan poster Selamat Pagi Malam dan lain-lain masih selamat.

Kepompong Gendut yang sedang sangat aware dengan cash flow pun mulai menghitung. Fee-nya belum seharusnya jatuh tempo. Bisa mengganggu cash flow kepompong gendut yang semakin menipis, berbanding terbalik dengan air di Bandung Selatan.

Banyak penderitaan yang sedang terjadi dan kadang gue bertanya kenapa gue masih membuat film, bukannya jadi urban designer dan mendesain kota biar gak lagi kebanjiran.

Film tidak bisa merubah keadaan. Cuma masturbasi si pembuat?

"A film offers an escape, a hope that you cannot get from reality," kata Ellen de Generees di tengah-tengah para nominasi Oscar yang malam itu berasa seperti teman-teman ngumpul-ngumpul makan pizza sambil bagi-bagi piala.

A simple lyrics from John Lennon bisa merubah mindset satu generasi jadi anti perang. Tapi kita bukan John Lennon. Mungkinkah film kita membawa perubahan?

Mungkin kita cuma masturbasi dan menyenangkan diri sendiri. Tapi saat ini, apa yang bisa dilakukan ya dilakukan.


*transfer succeed

Seluloid

"Seluloid itu penting karena..."

Mereka dengan semangat mempromosikan seluloid sebagai si medium seksi bagi para storyteller serius yang berani berkonsep dan gak asal shoot. Tidak seperti medium digital yang membuat para storyteller suka asal ambil tanpa tahu mau bercerita apa. 

Gue terharu dengan semangat mereka menginvestasikan waktunya mengajarkan seluloid ke mahkluk cheapo budget conscious seperti gue. Gue cuma ingin bercerita, dan harga seluloid tidak menyisakan ruang buat filmmaker tak berduit seperti gue untuk trial and error.

Hari ini gue ikutan workshop seluloid seharga 500 ribu selama 2 jam untuk footage hanya 60 detik. Harga yang sangat mahal dengan alat-alat yang tidak praktis.

Tidak heran sekarang teknologi seluloid ditinggalkan, karena dianggap terlalu mahal. Seperti juga gedung ini, Gedung Perfilman Negara, yang konon dipenuhi para pekerja industri film dengan alat-alat impor Amerika dan Eropa terbaru di jamannya.

Sekarang alat-alat mahal itu hanya teronggok bergitu saja.  Sebagian terlihat bolong-bolong, mungkin dijual kiloan sebagai besi tua oleh para pegawainya yang rata-rata tua dan tidak pernah membuat film lagi. Reel-reel bertuliskan serial Unyil dan film-film populer lainnya digeletakkan di rak-rak tak terurus. Bahkan lampu saja tidak lagi hidup di gedung ini. 

Setelah workshop selesai, gue tetap si cheapo yang sama, yang masih akan terus membuat film dengan medium digital. Tapi hari ini gue mengeluarkan uang  500 ribu dengan bahagia. Gue gak cinta cinta seluloid, tapi gue cinta mereka.

Orang-orang yang mau susah payah membuat film seluloid di tengah kemudahan digital ini tentunya punya hati dan energi untuk menghargai sejarah.


Mereka yang tidak mengenal sejarah tidak akan pernah menjadi sejarah.

Badak Berhati Marmut

"Ini memang terbaik bagi SPM, but I am not happy," katanya mengakhiri Whatsapp di tengah malam buta.

And there goes my international career. Habis ini jangan harap film gue akan dia bawa ke festival film manapun.

Ternyata I have the mamak-mamak batak inside me. Kalau my baby ditayangkan jam 9 malam ke 200-an manusia yang gue gak tahu siapa, the mamak-mamak batak inside me will fight stubbornly for her baby.

Untunglah gue kemaren udah rekaman jadi penyanyi dangdut pengisi salah satu soundtrack film "Selamat Pagi, Malam". Jadi kalau nanti karir gue sebagai produser tamat, gue tinggal pindah jalur jadi penyanyi dangdut.

"Bisa nggak lo ngomongnya lebih soft, gak offensive dari awal?" tanya seorang teman yang khawatir kalau gue jadi penyanyi dangdut, kupingnya akan merasakan derita utama berhubung kami bertetangga.

I guess seharusnya this mamak-mamak batak inside me bisa dididik sedikit ya. Karena ribut-ribut begini memang membuat sedikit kerutan di wajah. Padahal sebagai penyanyi dangdut nanti kan gue butuh bebas kerutan biar banjir saweran di dada.

Tapi sebagai produser, kulit wajah gue terlanjur menebal, lebih tebal dari badak agar tak terusik dengan segala penolakan hinaan cacian dan ancaman. Tapi hati gue harus dijaga tetap selembut marmut, jadi tetap sensitif dengan cerita dan visi yang harus dijaga si kulit badak.

Tapi juga harus lihai seperti ular.  Kulit setebal apapun pasti hancur kalau semua diseruduk.


*pasang senyum ular

Ah gue gak cocok jadi ular.  Aku cuma seekor badak berhati marmut yang lebih kebayang jadi produser daripada penyanyi dangdut.

*Tetangga-tetangga sujud syukur. Badak gak jadi nyanyi.