Senin, 10 Maret 2014
Selimut Bulu Putih
Kamis, 27 Februari 2014
Teman
Naik ojeg Matraman Cipete ternyata berkhasiat membuat paha zig zag dan pantat bahenol reloaded. Semua demi subtitle Selamat Pagi Malam. Subtitle Demi Ucok dia anggep gagal karena banyak yang gak nyampe maknanya, jadi dia ngotot mau bantuin meriksa subtitle sebelum Sabtu dibungkus.
Setelah ini masih harus melototin credit title akhir yang udah dua minggu gak bungkus juga. Selalu ada s atau d atau link i tunes yang tertinggal.
"Emang kaya gitu bok!" kata si teman menceritakan filmnya sendiri. Terlihat remeh temeh tapi penting bagi yang punya nama.
"Sayang ya dia terlalu cepat menikah," katanya menerawang sambil menonton salah satu pemeran Selamat Pagi Malam. Tanpa perlu bertanya siapa gue langsung mengendus cinta lain di balik tawanya.
Memang susah menyembunyikan rahasia dari dia. Satu Jakarta temannya. Makanya mungkin dia bisa jadi produser yang baik. Butuh media, tinggal telpon teman. Butuh uang, telpon teman. Butuh artis, telpon teman.
"Bawain yoga mat dong," telpon seorang teman yang sudah seharian pegal melototin suara SPM.
Tadinya mau pulang. Udah dekat kalibata.
Mulai membayangkan naik ojeg cipete matraman di tengah kemacetan malam.
"50 ribu ya, bang."
Rabu, 26 Februari 2014
Sofia
Harus punya nama panggung dong. Sammaria kurang menjual untuk dipajang di Lone Star, bar dangdut khayalan yang ternyata ada dalam kenyataan Jakarta.
Bagaimana kalau Zahara? Seperti Gael Garcia Bernal di La Mala Educacion.
Tapi Sammaria bukan banci. Dia akhirnya memilih nama lain, Mademouselle Gendut, in memoriam akan sebuah cinta berekor yang teringat olehnya setelah melihat lirik lagu yang harus dinyanyikannya.
Dia tertawa-tawa menulis lirik di Ipad-nya, tapi hati Sammaria teriris sedikit.
"Kalau saja kita bertemu lebih dulu. Sebelum cincin melingkar di jarimu...," nyanyi Sammaria.
"iii di "jarimu' bisa lebih didangdutin gak?" tanya si sound engineer.
"Sebelum cincin melingkar di jariiiiiimu."
Si sound engineer bertepuk tangan.
"Mungkin kita kan berdua hidup dalam bahagia... Wahai Sofia, hidup dalam durjanaaaa..."
Kali ini tanpa disuruh Sammaria sudah ngageol. Mungkin kalau nanti tak jadi sutradara, Sammaria bisa menjadi penyanyi dangdut di bar kelas dua.
"Habiskan malam berdua denganmu bercinta. Meski ku bukan yang pertama bagimu Sofia. Bagai karang dihantam ombak badai samudera... tak akan patah, cintaku takkan musnah."
Tapi Sammaria bukan karang dihantam ombak badai samudera. Dia hanya wanita lemah yang berharap cintanya cepat patah dan segera musnah.
"Bintang yang sendiri... datang malam ini..."
Gantian dia yang menyanyi. Dia kebagian lagu yang sendu mendayu dan kemungkinan laku dijual di i-tunes. Beda nasib dengan lagu Sofia yang cuma dijadikan background samar-samar nun jauh dari dialog para pemeran utama.
"Bintang yang sendiri itu gue tulis untuk lirik karena line yang gue paling inget di film ini: Selamat datang di Lone Star," katanya di sela-sela interview Behind The Scene.
"Baru putus tuh bok," bisik mak comblang mak comblang dadakan.
Sensitif, good looking, dan baru putus. Mungkinkah dia the next Sofia?
"Ternyata sendiri enak juga ya," katanya setelah semua rekaman berlalu.
"Iya. Enak," jawab Sammaria.
Sammaria kembali mengerjakan credit title Selamat Pagi Malam.
Selasa, 25 Februari 2014
My Third Act Twist
Mbak Diet?
What is your real place in the film industry?
Art In Jakarta
Kutuk Rambut Pendek
Kamis, 20 Februari 2014
How do we fix Indonesia?
"Just kill anyone over 30," katanya gampang.
Sebagai warga negara Singapura keturunan Indonesia, dengan gampang dia bisa mencium kebobrokan akut melihat truk rongsokan Pertamina yang belum diupdate dari entah tahun kapan lewat membawa tabung-tabung hijau tanpa pengamanan. Sementara Petronas yang sekecil itu bisa punya tower tertinggi di Asia Tenggara.
Saat itu gue 26. Jawabannya terdengar seperti sebuah solusi radikal yang seru dibikin film noir dengan warna hitam putih merah dan dibintangi Bruce Willis.
Tapi ketika gue sekarang 30, solusinya tidak selucu dulu. Gue sekarang sudah masuk golongan harus dibasmi demi kemajuan Indonesia.
Gue gak mau dibasmi.
Melihat wajah para ketua partai peserta Pemilu 2014, tampaknya tidak akan banyak perubahan di 5 tahun mendatang. Dan melihat generasi muda yang semakin ingin menjadi orang Korea, belum tentu yang di bawah 30 bisa memperbaiki apapun.
Tapi ya tentunya yang bisa dirubah hanya diri sendiri jadi sudahlah tak usah menghakimi.
Bikin film aja deh.
Kalau Kamu sudah muak dengan dunia ini dan tiba-tiba pengen mendatangkan air bah lagi, siapa yang Kamu pilih untuk selamat? Same old rules. Cuma bisa milih satu keluarga ya.
Keluarga Jokowi?
Keluarga Ahok?
Keluarga Ibu Risma?
Afghan? Biar gak pada selingkuh?
Papi? Biar gue ikut selamat. Hehehe.
Ariel? Biar keturunan selanjutnya cakep-cakep dan cepat beranak pinak.
Secara doi kan Noah ya bok. Jadi le histori nya le repete gitu deh.
Aduh gak mudah ya milih satu.
Kok dulu bisa Noah?