Selasa, 18 Februari 2014
Money en Scene
Minggu, 16 Februari 2014
Women and Their Calling
Gue yakin memang dia tidak akan jadi gubernur atau presiden. Tapi gue menghormati dia. Tak lebih rendah dari gubernur atau presiden manapun.
Approval
Valentine (-1) Day
Rabu, 12 Februari 2014
Undersexed
"Yes, you are!" serunya tegas menyemangati gue untuk lebih banyak eksplorasi sex.
"You need a really good cock."
Gue dibesarkan di berbagai HKBP di berbagai kota kecil sampai besar di Indonesia. A really good cock bukanlah salah satu prasyarat "Hidupku dalam tangan-Mu Tuhan".
But I do wanna have a lot of good sex. So help me God.
Mungkin bisa dimulai dengan take more care of my body dan mulai percaya it is meant to be beautiful.
Semoga tahun ini ada yang berpikir gue wonderful. Dimulai dari gue.
Selasa, 11 Februari 2014
Inferior Complex
Setahun setelah 1998, Gus Dur memberlakukan libur bagi bulan puasa dan seterusnya. Pertama kalinya dapat libur panjang, berasa bagaikan summer seperti anak-anak SMA di Beverly Hills 90210. Gue mengunjungi Papi yang sedang dinas di Papua yang saat itu entahlah masih bernama Irian Jaya atau nggak.
13 jam di pesawat. Begitu turun, gue langsung dikawal seorang tentara dengan AK 47 di bahunya. Wajahnya tidak sangar seperti teroris bersenapan sama di film-film. AK 47 terlihat seperti mainan di bahunya. Tapi dia tetap harus bawa karena konon ada gerombolan perusak keamanan yang siap sedia menculik gue di kesempatan pertama.
Di belakang rumah dinas Papi, langsung terbentang pemandangan indah mengarah ke danau yang dipanggil Sembat. Tapi sepanjang summer gue tidak pernah ke danau itu walaupun katanya melewati hutan warna warni.
Gue lebih tertarik nonton TV atau mengunjungi sebuah perumahan lain yang dikelilingi pagar berduri. Perumahan ini hanya dihuni orang yang kulitnya putih kaya Brenda dan Kelly 90210. Tidak sembarang putih. Tidak ada Jawa di sana. (semua orang Indonesia non papua mereka sebut jawa, termasuk batak kaya gue)
Tidak semua Jawa bisa masuk ke sana. Untung gue disetiri si om ber-AK 47 jadi gue bebas masuk. Tujuan gue hanya satu: foto sama bule. Yang kulitnya seperti para pemeran Beverly hills 90210.
Tiga cewe remaja lagi duduk-duduk di rumput, langsung gue samperin dan ajak foto. Mereka terlihat kaget dan tidak nyaman. Mungkin karena AK 47 si om. Mungkin karena abang gue merokok di kompleks yang ternyata gak boleh merokok bahkan di luar ruangan. Mungkin karena mereka bukan Kelly atau Brenda tapi tiba-tiba diajak foto artis. Saat itu gue gak peduli. Gue bangga bisa foto sama bule.
Saat ini gue tidak lagi menteror bule random untuk foto bareng. Sudah tahu kalau itu namanya inferior complex, warisan mental jajahan beratus-ratus tahun yang membuat nenek moyang gue dan gue selalu menganggap yang dari Barat itu lebih baik.
Sudah tahu kalau Marlboro gak laku di Amerika. Sudah tahu kalau bule itu beragam negaranya. Sudah tahu kalau AK 47 itu bikin Rusia kaya. Sudah tahu kalau kompleks berpagar duri itu bisa rumahnya bagus-bagus karena menjual kekayaan alam Papua. Sudah tahu kalau gerakan pengacau keamanan sebenarnya cuma ingin merdeka. Sudah tahu kalau Sembat itu mungkin sebutan lidah-lidah "jawa" yang gak bisa bilang swim bath. Sedikit menyesal kenapa dulu tidak pernah melewati hutan warna warninya.
"Kenapa kita bisa inferior gini ya?" tanyanya di tengah-tengah taksi di kemacetan ibukota pulang kantor.
"Mungkin kelamaan dijajah kalik ya," jawab gue.
Dia kembali melanjutkan membaca buku tentang Cina dengan sisa-sisa matahari Jakarta. Bagaimana Cina pada masa Mao banyak sekali menggunakan kata 'people' dan sekarang tidak lagi.
Gue kembali membaca buku tentang Jepang. Bagaimana masyarakat Jepang di tahun 1850 merasa semua yang barat itu lebih baik tapi kemudian mereka invest besar-besaran di pendidikan yang melahirkan orang-orang seperti Okakura yang menulis betapa budaya Jepang itu bukan inferior, hanya beda.
Bahkan seorang Roland Barthez pun akhirnya ikutan menulis buku yang membuka mata orang Jepang sendiri betapa menariknya budaya mereka.
"Ada gak ya yang bakal nulis buku tentang Indonesia?" tanyanya.
"Kita, mungkin?" jawab gue. Disambut dengan tawa. Dilanjutkan pembicaraan tentang seorang muridnya yang saat ini membuat novel tentang Jepang. Dia bersyukur muridnya sudah jadi published writer.
Gue kembali melihat ke luar jendela. Jakarta masih merayap. Mobil buatan Jepang Jerman dan Amerika berdesakan ingin cepat sampai tujuan. Argo sudah di atas 70 ribu. Jalan layang baru ini sepertinya hanya menambah kemacetan.
Gue menghela nafas, berusaha mencari bangga yang tidak sekedar pakai batik hari Jumat.
Semoga nanti ada.
Senin, 10 Februari 2014
Bahagia
"Lo bahagia gak, Tid?"
"Bahagia," jawab gue.
"Jujur," tanyanya lagi berharap gue berbagi deritanya.
"Bener."
"Bahagia itu apa sih?"
"Nerimo?" tanya gue.
"Grateful?" dia balik bertanya.
"Bisa."
Dapet supir taksi bau, grateful nggak jalan kaki.
Makan siang enak, grateful lahhh...
Diinterogasi Bang Joko, grateful masih ada yang nanya.
Disamperin temen, grateful masih punya temen.
Dinasehatin produser soal duit, grateful biar ga salah lagi.
Nonton film berantakan, grateful bukan film gue.
Wine jatuh, grateful baunya harum.
Menang maen boardgame, grateful yang lain kalah.
Kalah, grateful yang laen menang.
"Focus on yourself. Not on others," kata si pemenang berbagi tips and trik.
Untung kalah. Grateful dapet petunjuk.
Focus on myself ah.
Minggu, 09 Februari 2014
J Law
Bangun tau-tau udah jam 9, anomali buat early bird sepertiku. Gara-gara biasanya gue jam 10 udah bobo. Kemaren baru bobo jam 1.30 karena nungguin Jennifer Lawrence cinta gak ama Peter sambil doi memanahi satu per satu kontestan Hunger Games.
Jadi mengerti kenapa Lionsgate jadi studio kecil yang mendadak kaya raya. Gue yang tante-tante aja demen apalagi remaja masa kini. Jadi ngerti juga kenapa Jennifer Lawrence dipuja-puka remaja sejagat internet raya. Pastinya bukan karena Winter Bones, film yang membawa dia pertama kali ke nominasi oscar.
Mengingatkan gue pada beberapa Selasa malam. Di mana gue ngakunya ngegym, padahal diam-diam nonton Buffy The Vampire Slayer di basement.
'We give them entertainment, so they forget their real life," kata Mas -mas pemabuk mentornya J Law.
Well they certainly did steal me from my real life.
Kalau nonton Winter Bone, gue pasti harus berusaha stay. Karena isinya terlalu real. Dan cuma bisa menghibur kalau gue sudah siap melebarkan definisi gue tentang hiburan.
We need both movies. Hanya budget gue saat ini baru memungkinkan bikin yang lebih real. Lebih murah cyinnn.
Moga-moga suatu hari gue bisa bikin film kaya gini. Ceritanya kuat, karakternya menarik, actress-nya hot, dan 4 film sekaligus biar ga usah promo berkali-kali. Biar kepompong beneran gendut dan makmur, seperti mbak Lionsgate.
Tinggal nunggu novel teen lit berseri-seri yang keren dan laku di pasaran. Kalau kaya Twilight mah malas.
Dan yang maen the next J Law.
Sabtu, 08 Februari 2014
Scarlett & Violett
"Nama Mac lo siapa?" tanya saudara seperguruan sesama pemilik macbook pro hasil belian dari agan kaskus yang sama.
Gue gak pernah kepikiran ngasih nama buat barang apapun. Tapi dia beda. Barang-barangnya selalu terawat dan bernama dan dipakai sepanjang masa. Hokinya sama barang bekas bagus sehingga buka toko barang vintage pun laku.
Karenanya, ketika dia beli macbook pro bekas, gue pun nebeng hoki.
Padahal Papi selalu melarang beli barang bekas. Lebih baik tidak bermerk tetapi baru dan bagus. Tapi mengingat macbook pro baru semakin melambung akibat dollar menggila, gue memberanikan diri mengikuti jejaknya.
Hanya punya dia mulus total, tanpa lecet sedikitpun. Punya gue ada scar dikit tapi tetap cantik sih.
Scarlett?
Karena punya scar dan tetap cantik. Dan mengingatkan gue pada operating system di film Her.
Saudara beda agan-nya, si Imac 2009, ikutan gue kasih nama: Violett. Karena gue baru nonton August Osage County dan acting Meryll Streep sebagai Violette mengagumkan.
Karenanya gue kasih nama Violett, biar sampai tua tetap mengagumkan.
E-nya diilangin biar berima sama Scarlett, biar mereka berasa saudara walau beda dealer.
Kenapa si macbook pro gak Blanchett aja? Kan makin tua juga makin menjadi.
Macbook pro ini baru 2012 akhir sih, gak setua itu juga.
"Men still maintain that sex appeal when they get old. Women just get ugly," kata Violette sambil memandangi foto masa mudanya yang hot.
Violette, I think you're beautiful and more interesting than Scarlett. She still has a lot to catch on.
So...
Scarlett dan Violett, let's make some good movie and a lot of money.