Senin, 10 Februari 2014

Bahagia

"Lo bahagia gak, Tid?"

"Bahagia," jawab gue.

"Jujur," tanyanya lagi berharap gue berbagi deritanya.

"Bener."

"Bahagia itu apa sih?"

"Nerimo?" tanya gue.

"Grateful?" dia balik bertanya.

"Bisa."

Dapet supir taksi bau, grateful nggak jalan kaki.

Makan siang enak, grateful lahhh...

Diinterogasi Bang Joko, grateful masih ada yang nanya.

Disamperin temen, grateful masih punya temen.

Dinasehatin produser soal duit, grateful biar ga salah lagi.

Nonton film berantakan, grateful bukan film gue.

Wine jatuh, grateful baunya harum.

Menang maen boardgame, grateful yang lain kalah.

Kalah, grateful yang laen menang.

"Focus on yourself. Not on others," kata si pemenang berbagi tips and trik.

Untung kalah. Grateful dapet petunjuk.

Focus on myself ah.

Minggu, 09 Februari 2014

J Law

Bangun tau-tau udah jam 9, anomali buat early bird sepertiku. Gara-gara biasanya gue jam 10 udah bobo. Kemaren baru bobo jam 1.30 karena nungguin Jennifer Lawrence cinta gak ama Peter sambil doi memanahi satu per satu kontestan Hunger Games.

Jadi mengerti kenapa Lionsgate jadi studio kecil yang mendadak kaya raya. Gue yang tante-tante aja demen apalagi remaja masa kini. Jadi ngerti juga kenapa Jennifer Lawrence dipuja-puka remaja sejagat internet raya. Pastinya bukan karena Winter Bones, film yang membawa dia pertama kali ke nominasi oscar.

Mengingatkan gue pada beberapa Selasa malam. Di mana gue ngakunya ngegym, padahal diam-diam nonton Buffy The Vampire Slayer di basement.

'We give them entertainment, so they forget their real life," kata Mas -mas pemabuk mentornya J Law.

Well they certainly did steal me from my real life.

Kalau nonton Winter Bone, gue pasti harus berusaha stay. Karena isinya terlalu real. Dan cuma bisa menghibur kalau gue sudah siap melebarkan definisi gue tentang hiburan.

We need both movies. Hanya budget gue saat ini baru memungkinkan bikin yang lebih real. Lebih murah cyinnn.

Moga-moga suatu hari gue bisa bikin film kaya gini. Ceritanya kuat, karakternya menarik, actress-nya hot, dan 4 film sekaligus biar ga usah promo berkali-kali. Biar kepompong beneran gendut dan makmur, seperti mbak Lionsgate.

Tinggal nunggu novel teen lit berseri-seri yang keren dan laku di pasaran. Kalau kaya Twilight mah malas.

Dan yang maen the next J Law.

Sabtu, 08 Februari 2014

Scarlett & Violett

"Nama Mac lo siapa?" tanya saudara seperguruan sesama pemilik macbook pro hasil belian dari agan kaskus yang sama.

Gue gak pernah kepikiran ngasih nama buat barang apapun. Tapi dia beda. Barang-barangnya selalu terawat dan bernama dan dipakai sepanjang masa. Hokinya sama barang bekas bagus sehingga buka toko barang vintage pun laku.

Karenanya, ketika dia beli macbook pro bekas, gue pun nebeng hoki.

Padahal Papi selalu melarang beli barang bekas. Lebih baik tidak bermerk tetapi baru dan bagus. Tapi mengingat macbook pro baru semakin melambung akibat dollar menggila, gue memberanikan diri mengikuti jejaknya.

Hanya punya dia mulus total, tanpa lecet sedikitpun. Punya gue ada scar dikit tapi tetap cantik sih.

Scarlett?

Karena punya scar dan tetap cantik. Dan mengingatkan gue pada operating system di film Her.

Saudara beda agan-nya, si Imac 2009, ikutan gue kasih nama: Violett. Karena gue baru nonton August Osage County dan acting Meryll Streep sebagai Violette mengagumkan.

Karenanya gue kasih nama Violett, biar sampai tua tetap mengagumkan.

E-nya diilangin biar berima sama Scarlett, biar mereka berasa saudara walau beda dealer.

Kenapa si macbook pro gak Blanchett aja? Kan makin tua juga makin menjadi.

Macbook pro ini baru 2012 akhir sih, gak setua itu juga.

"Men still maintain that sex appeal when they get old. Women just get ugly," kata Violette sambil memandangi foto masa mudanya yang hot.

Violette, I think you're beautiful and more interesting than Scarlett. She still has a lot to catch on.

So...

Scarlett dan Violett, let's make some good movie and a lot of money.

Endus-endus

"Menurut gue, lo malah kuatnya di penciuman," katanya mengomentari kelima indra gue.

Bukan penglihatan dan pendengaran layaknya sutradara? Oh no.

Gue mulai mengingat-ngingat. Nonton Perfume, yang gue inget sampai sekarang  aroma yang dia racik.

Pacaran, gue lebih suka ngendus-ngendus mukanya daripada langsung ciuman.

Nyari teman kerja, selalu gue endus-endus.

Nyari tempat, selalu gue endus2 apakah smells like home.

Makan atau minum, selalu gue endus dulu.

Kalau nemu yang cocok, ekor gue goyang-goyang.

Mungkin gue lebih cocok jadi puppy daripada director.

Kamis, 06 Februari 2014

Sejuta

"Mbak ini ya duitnya," kata si asisten sambil senyum-senyum. Mungkin malu juga hanya memberi upah sejuta untuk sutradara.

Seharusnya gue juga tidak mau dibayar hanya sejuta sebagai sutradara. Tapi entah kenapa gue bahagia. Padahal sejuta itu sama saja tidak dibayar, udah habis buat makan dan taksi lima hari di jakarta.

Mungkin karena gue masih butuh approval. Gue dibayar orang lain untuk jadi sutradara. Biasanya gue membayar diri sendiri. Di zaman yang enterpreneur lebih keren dari pegawai ini, sisa-sisa jiwa haus approval guru ternyata masih tertanam di jiwa.

Mungkin karena produsernya sudah banyak berjasa. Menolak berarti gue terpotong akses dari berbagai kebaikan dan keseruannya.

Mungkin gue suka dikelilingi seniman-seniman muda bertalenta. Gue baru sadar ini pertama kalinya gue menyutradarai yang bukan pertama kali main film. Ternyata jam terbang memang mempermudah kerja sutradara.

Mungkin karena gue emang demen nyuruh-nyuruh dan menikmati berasa superior waau hanya di set saja.

Mungkin karena gue suka bercerita.

Rabu, 05 Februari 2014

Monolog

Social media specialist, tertulis di kartu nama resmi dari sebuah brand Malaysia yang semakin merajai jaringan seluler Indonesia. Lima tahun yang lalu, that was not a job.

How time has changed.

"Sekarang kan musik udah internet based banget, sepertinya ke depannya film juga akan begitu."

Sepertinya begitu.

"Film lo ini tinggal cari buzzer yang tepat, langsung menyebar deh di social media."

Di Jakarta yang semakin mahal dan basah ke mana-mana, cuma social medialah pilihan wisata warga yang murah dan kering. Akan tetapi, kelebihan konten menyebabkan warga tidak lagi tahu harus berwisata ke mana.

Makanya social media specialist is a good money making job here.

Tinggal cari buzzer yang tepat dan langsung nyebar di social media? Bisa.

Tapi lima detik kemudian dilupakan, berganti another farhat abbas story.

Mengharapkan perhatian dari generasi instan membuat gue jadi manusia berisik. Mungkin saat ini porsi gue hanya nulis blog dan bermonolog.

Selasa, 04 Februari 2014

Atid Kundang

"Jadi Mak Gondut itu siapa lo sih?" tanya salah satu mantan 'saingan' mak gondut memperebutkan piala citra.

"Bukan siapa-siapa," jawab gue berusaha lucu. Walaupun setelahnya gue berasa gak lucu dan gue akui juga.

"Mak Gondut itu emak asli gue dan emang pengen jadi artis. Hanya sekarang ya gak gue kasih kebanyakan maen film, takutnya ntar ketahuan ga bisa acting."

Agak luculah. Hanya jangan sampai didengar Mak Gondut. Ntar doi sedih.

"Dia ngajar apa?"

Kali ini gue beneran gak mau ngejawab. Tapi si host menebak dengan benar.

"Pasti ngajar agama!" serunya. Semenjak dia bermertua inang batak, dia jadi lebih jitu menebak tabiat dan kecenderungan mereka.

"Hahahaha pantesan kemaren ngomonginnya dosa dosa... Hahahaaa..."

Gue cuma mengangguk masam.

Setahun lebih sudah Demi Ucok release. Ternyata gue belum bisa berdamai dengan emak gue. Kadang-kadang masih malu melihat spanduk bermuka dia di ujung jalan meminta orang untuk nyoblos dia di pemilu mendatang.

Mungkin karena Mak Gondut juga malu punya anak kaya gue.

"Maunya si Atid cepat-cepat kawinlah..." katanya di suatu malam.

Sementara si Atid gak mau kawin dan hanya dunia kelam perpiliman ini yang kadang-kadang tidak menghakimi dia. Si Atid takut kalau Mak Gondut malah membuat dia kehilangan habitat.

Tapi seperti pesan papi, lebih baik dilihat positifnya.

Mungkin dengan masuknya Mak gondut ke habitat Atid, dia jadi lebih mengenal.

Tak kenal kan maka tak sayang.

Semoga kita tambah saling menyayang.

Senin, 03 Februari 2014

Kobel

"Langsung ketemu udah dikobel," kata si Cong seru berambut Jennifer Lawrence kurang vitamin. Tapi lucunya ngalahin JLaw.

"Dia sih gak gay. Langsung cipokan ama temen gue perempuan. 4 orang pula," kata si hitam manis yang film pertamanya langsung basah-basahan panas sama Nicholas Saputra.

Mak Gondut terbengong-bengong melihat dia yang dituduh gak gay. Masih gak percaya ada laki-laki yang bisa pacaran sama laki-laki.

Dan semua lelaki di ruangan itu ternyata pernah pacaran sama laki-laki.

Jennifer Lawrence lelaki masih terus melanjutkan cerita kobel. Mak Gondut hanya senyum-senyum tanpa berani nanya apa itu kobel.

Gue khawatir Mak Gondut langsung merajuk dan mengeluh kelam kali dunia perfilman itu. Tapi dia terlihat sangat menikmati bercanda tawa bersama mereka yang biasanya hanya dia lihat di layar kaca. Walaupun pacar mereka ternyata laki-laki.

Mak Gondut pulang ke Bandung, berjanji Kamis datang lagi untuk shooting.

"Emak lo gak papa tuh?" tanya si sutradara queen bee yang gay friendly.

"Bagus kok Teh. Biar lebih kebayang temen-temen anaknya kayak apa."

Dari kereta api Mak Gondut mengirim SMS:
"Mami pulang dulu ya dek."

Gereja

Tiba-tiba satu jam sudah berlalu. Sudah waktunya pulang.

Gue kembali dari alam khayalan gua, ke gereja yang sudah gue datangi sejak pindah ke Bandung. Sebenarnya gue bukan terdaftar anggota gereja sini. Hanya Mak gue lagi gak suka ama gereja sana jadi gue pun ikut hijrah.

"Apa itu gereja?" tanya salah satu jemaat dalam gaya MC. Ternyata ada acara tambahan menyambut sebentar lagi gereja mereka genap 100 tahun.

"Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya."

Gue dong?

Tapi gue bukan anggota.

Berbeda dengan mesjid yang bisa di mana aja, semakin jauh semakin berpahala, di gereja lebih dianjurkan jadi anggota. Karena gereja gak cukup hari minggu dengerin khotbah. Ada interaksi anggota sepanjang minggu untuk membuat ikatan persaudaraan. 

Interaksi persaudaraan ini membuat mak gue tersinggung dan gak lagi ke gereja sana.

Buat Mak gue,  gereja tempat untuk didengar. Untung-untung dapat suara di Pemilu depan.

Buat papi, gereja adalah kebiasaan yang gak boleh dipertanyakan. Walaupun dia memilih bobo daripada mendengar khotbah pendeta yang menganjurkan kebencian.

Buat gue, gue gereja buat nemenin Papi.

Dulu ada masa di mana gue merasa ini rumah gue. Saat itu gue mengira hanya Orang Kristen Protestan yang masuk surga.

Sekarang tidak.

Tapi Alkitab semakin menarik dibaca justru ketika gak lagi untuk dikagumi dan dianggap suci. Karakter-karakternya busuk tapi tetap disayang Tuhan. Ada yang pemabuk. Ada yang pencuri istri orang. Ada yang pengecut. Ada yang sex addict. Ada yang membawa pedang dan tetap dianggap Tuhan.

Dulu dia hidup di negara jajahan sebagai anak middle class yang kritis dan di umur 30 mulai memimpin Mindful Revolution. Kalau dia hidup sekarang, dia pasti jadi orang Indonesia.

Dan tetap disalib.

Sabtu, 01 Februari 2014

Almost Famous

Wajah Kate Hudson muda mengerling nakal, mengajak gue keluar dari kota kecil bersalju di tengah Amerika Utara, menuju Los Angeles 70an yang hangat, keemasan, dan dipenuhi bintang terkenal.

Saat itu gue 17 tahun. Malam minggu malah nonton bioskop sama host parent gue yang lovely tapi tua, bukannya ke rave party atau nonton hockey seperti senior lainnya.

Bioskop di Amerika ternyata sekali bayar bisa nonton berkali-kali tanpa ada petugas menghalangi. Host Parent gue cukup berbudaya untuk langsung pulang dan tak pindah ke lain film. Si anak dunia ke tiga ini berasa rugi kalau nonton kurang dari tiga film. Mulailah bioskop menjadi tempat pelarian gue dari kehidupan sebagai exchange student kurang teman.

Sembilan tahun kemudian, bioskop berubah menjadi sarana curhat. Kali ini bukan Kate Hudson yang memenuhi layar. Saira Jihan yang menjelma jadi Annisa memenuhi layar bersubtitle, mengucapkan kata-kata  yang gue tulis, mengajak gue keluar dari bioskop kecil di pinggir sungai Thames kembali ke kamar gue di Bandung.

Ternyata berdiri di depan bioskop menjawab pertanyaan wartawan sangat menyenangkan. Gue tidak lagi hanya bisa menatap the famous one dari kejauhan. Setelah foto gue memenuhi 2 halaman Tempo, mungkin sebentar lagi gue juga terkenal.

Kalau dia beda, dia kayanya memang cinta film. Sejak masih SD dan kurus kecil, dia bela-belain nonton ke bioskop malam-malam berbekal cutter biar ga dihadang preman Sukoharjo.

"Film kungfu kok," lapornya kepada sang Ayah. Pada saat itu film kungfu terdengar tidak berbahaya bagi Pak Ustad. Kalau saja dia tahu kelak anaknya akan menggemari wanita Cina dari agama berbeda, mungkin kungfu akan jadi genre terlarang.

Dia beda lagi. Dia tumbuh di bioskop karena ayahnya pelukis poster film bioskop. Saat ibunya melacur atau menjajakan gadis lain, dia keluar masuk bioskop dengan sesuka hati. Kadang untuk nonton film. Kadang untuk disodomi ayah.

"Nanti kalau kamu bikin film, ayah yang lukis posternya ya."

Saat itu dia merasa dicintai ayah. Tapi ketika usia 15 tahun, ayah meninggalkan dia dan ibunya, dia mulai merasa ada yang salah. Bioskop berubah menjadi tempat yang menakutkan. Baru masuk saja, dia sudah gemetaran.

Untungnya sekarang nonton film gak harus di bioskop. Sejak film-film bisa didonlot gratis dan dijinjing ke manapun bersama Galaxy Note warisan Deden, gue juga sudah tidak lagi ke bioskop. Bioskop menjadi alternatif tempat pacaran, di saat Jakarta terlalu panas untuk pelukan.

Saat ini antrian penonton bioskop tidak sepanjang antrian film yang berebut ditayangkan. Bioskop semakin sulit untuk cari makan. Dan ketenaran tidak bisa lagi dijanjikan industri yang semakin hari semakin murah ini. Film-film datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan bintang.

Tapi ternyata gue tetap membuat film sambil  berharap ada keajaiban.

Mungkin sebentar lagi gue tenar.

Mungkin gue cuma ingin didengar.