Sabtu, 08 Februari 2014

Endus-endus

"Menurut gue, lo malah kuatnya di penciuman," katanya mengomentari kelima indra gue.

Bukan penglihatan dan pendengaran layaknya sutradara? Oh no.

Gue mulai mengingat-ngingat. Nonton Perfume, yang gue inget sampai sekarang  aroma yang dia racik.

Pacaran, gue lebih suka ngendus-ngendus mukanya daripada langsung ciuman.

Nyari teman kerja, selalu gue endus-endus.

Nyari tempat, selalu gue endus2 apakah smells like home.

Makan atau minum, selalu gue endus dulu.

Kalau nemu yang cocok, ekor gue goyang-goyang.

Mungkin gue lebih cocok jadi puppy daripada director.

Kamis, 06 Februari 2014

Sejuta

"Mbak ini ya duitnya," kata si asisten sambil senyum-senyum. Mungkin malu juga hanya memberi upah sejuta untuk sutradara.

Seharusnya gue juga tidak mau dibayar hanya sejuta sebagai sutradara. Tapi entah kenapa gue bahagia. Padahal sejuta itu sama saja tidak dibayar, udah habis buat makan dan taksi lima hari di jakarta.

Mungkin karena gue masih butuh approval. Gue dibayar orang lain untuk jadi sutradara. Biasanya gue membayar diri sendiri. Di zaman yang enterpreneur lebih keren dari pegawai ini, sisa-sisa jiwa haus approval guru ternyata masih tertanam di jiwa.

Mungkin karena produsernya sudah banyak berjasa. Menolak berarti gue terpotong akses dari berbagai kebaikan dan keseruannya.

Mungkin gue suka dikelilingi seniman-seniman muda bertalenta. Gue baru sadar ini pertama kalinya gue menyutradarai yang bukan pertama kali main film. Ternyata jam terbang memang mempermudah kerja sutradara.

Mungkin karena gue emang demen nyuruh-nyuruh dan menikmati berasa superior waau hanya di set saja.

Mungkin karena gue suka bercerita.

Rabu, 05 Februari 2014

Monolog

Social media specialist, tertulis di kartu nama resmi dari sebuah brand Malaysia yang semakin merajai jaringan seluler Indonesia. Lima tahun yang lalu, that was not a job.

How time has changed.

"Sekarang kan musik udah internet based banget, sepertinya ke depannya film juga akan begitu."

Sepertinya begitu.

"Film lo ini tinggal cari buzzer yang tepat, langsung menyebar deh di social media."

Di Jakarta yang semakin mahal dan basah ke mana-mana, cuma social medialah pilihan wisata warga yang murah dan kering. Akan tetapi, kelebihan konten menyebabkan warga tidak lagi tahu harus berwisata ke mana.

Makanya social media specialist is a good money making job here.

Tinggal cari buzzer yang tepat dan langsung nyebar di social media? Bisa.

Tapi lima detik kemudian dilupakan, berganti another farhat abbas story.

Mengharapkan perhatian dari generasi instan membuat gue jadi manusia berisik. Mungkin saat ini porsi gue hanya nulis blog dan bermonolog.

Selasa, 04 Februari 2014

Atid Kundang

"Jadi Mak Gondut itu siapa lo sih?" tanya salah satu mantan 'saingan' mak gondut memperebutkan piala citra.

"Bukan siapa-siapa," jawab gue berusaha lucu. Walaupun setelahnya gue berasa gak lucu dan gue akui juga.

"Mak Gondut itu emak asli gue dan emang pengen jadi artis. Hanya sekarang ya gak gue kasih kebanyakan maen film, takutnya ntar ketahuan ga bisa acting."

Agak luculah. Hanya jangan sampai didengar Mak Gondut. Ntar doi sedih.

"Dia ngajar apa?"

Kali ini gue beneran gak mau ngejawab. Tapi si host menebak dengan benar.

"Pasti ngajar agama!" serunya. Semenjak dia bermertua inang batak, dia jadi lebih jitu menebak tabiat dan kecenderungan mereka.

"Hahahaha pantesan kemaren ngomonginnya dosa dosa... Hahahaaa..."

Gue cuma mengangguk masam.

Setahun lebih sudah Demi Ucok release. Ternyata gue belum bisa berdamai dengan emak gue. Kadang-kadang masih malu melihat spanduk bermuka dia di ujung jalan meminta orang untuk nyoblos dia di pemilu mendatang.

Mungkin karena Mak Gondut juga malu punya anak kaya gue.

"Maunya si Atid cepat-cepat kawinlah..." katanya di suatu malam.

Sementara si Atid gak mau kawin dan hanya dunia kelam perpiliman ini yang kadang-kadang tidak menghakimi dia. Si Atid takut kalau Mak Gondut malah membuat dia kehilangan habitat.

Tapi seperti pesan papi, lebih baik dilihat positifnya.

Mungkin dengan masuknya Mak gondut ke habitat Atid, dia jadi lebih mengenal.

Tak kenal kan maka tak sayang.

Semoga kita tambah saling menyayang.

Senin, 03 Februari 2014

Kobel

"Langsung ketemu udah dikobel," kata si Cong seru berambut Jennifer Lawrence kurang vitamin. Tapi lucunya ngalahin JLaw.

"Dia sih gak gay. Langsung cipokan ama temen gue perempuan. 4 orang pula," kata si hitam manis yang film pertamanya langsung basah-basahan panas sama Nicholas Saputra.

Mak Gondut terbengong-bengong melihat dia yang dituduh gak gay. Masih gak percaya ada laki-laki yang bisa pacaran sama laki-laki.

Dan semua lelaki di ruangan itu ternyata pernah pacaran sama laki-laki.

Jennifer Lawrence lelaki masih terus melanjutkan cerita kobel. Mak Gondut hanya senyum-senyum tanpa berani nanya apa itu kobel.

Gue khawatir Mak Gondut langsung merajuk dan mengeluh kelam kali dunia perfilman itu. Tapi dia terlihat sangat menikmati bercanda tawa bersama mereka yang biasanya hanya dia lihat di layar kaca. Walaupun pacar mereka ternyata laki-laki.

Mak Gondut pulang ke Bandung, berjanji Kamis datang lagi untuk shooting.

"Emak lo gak papa tuh?" tanya si sutradara queen bee yang gay friendly.

"Bagus kok Teh. Biar lebih kebayang temen-temen anaknya kayak apa."

Dari kereta api Mak Gondut mengirim SMS:
"Mami pulang dulu ya dek."

Gereja

Tiba-tiba satu jam sudah berlalu. Sudah waktunya pulang.

Gue kembali dari alam khayalan gua, ke gereja yang sudah gue datangi sejak pindah ke Bandung. Sebenarnya gue bukan terdaftar anggota gereja sini. Hanya Mak gue lagi gak suka ama gereja sana jadi gue pun ikut hijrah.

"Apa itu gereja?" tanya salah satu jemaat dalam gaya MC. Ternyata ada acara tambahan menyambut sebentar lagi gereja mereka genap 100 tahun.

"Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya."

Gue dong?

Tapi gue bukan anggota.

Berbeda dengan mesjid yang bisa di mana aja, semakin jauh semakin berpahala, di gereja lebih dianjurkan jadi anggota. Karena gereja gak cukup hari minggu dengerin khotbah. Ada interaksi anggota sepanjang minggu untuk membuat ikatan persaudaraan. 

Interaksi persaudaraan ini membuat mak gue tersinggung dan gak lagi ke gereja sana.

Buat Mak gue,  gereja tempat untuk didengar. Untung-untung dapat suara di Pemilu depan.

Buat papi, gereja adalah kebiasaan yang gak boleh dipertanyakan. Walaupun dia memilih bobo daripada mendengar khotbah pendeta yang menganjurkan kebencian.

Buat gue, gue gereja buat nemenin Papi.

Dulu ada masa di mana gue merasa ini rumah gue. Saat itu gue mengira hanya Orang Kristen Protestan yang masuk surga.

Sekarang tidak.

Tapi Alkitab semakin menarik dibaca justru ketika gak lagi untuk dikagumi dan dianggap suci. Karakter-karakternya busuk tapi tetap disayang Tuhan. Ada yang pemabuk. Ada yang pencuri istri orang. Ada yang pengecut. Ada yang sex addict. Ada yang membawa pedang dan tetap dianggap Tuhan.

Dulu dia hidup di negara jajahan sebagai anak middle class yang kritis dan di umur 30 mulai memimpin Mindful Revolution. Kalau dia hidup sekarang, dia pasti jadi orang Indonesia.

Dan tetap disalib.

Sabtu, 01 Februari 2014

Almost Famous

Wajah Kate Hudson muda mengerling nakal, mengajak gue keluar dari kota kecil bersalju di tengah Amerika Utara, menuju Los Angeles 70an yang hangat, keemasan, dan dipenuhi bintang terkenal.

Saat itu gue 17 tahun. Malam minggu malah nonton bioskop sama host parent gue yang lovely tapi tua, bukannya ke rave party atau nonton hockey seperti senior lainnya.

Bioskop di Amerika ternyata sekali bayar bisa nonton berkali-kali tanpa ada petugas menghalangi. Host Parent gue cukup berbudaya untuk langsung pulang dan tak pindah ke lain film. Si anak dunia ke tiga ini berasa rugi kalau nonton kurang dari tiga film. Mulailah bioskop menjadi tempat pelarian gue dari kehidupan sebagai exchange student kurang teman.

Sembilan tahun kemudian, bioskop berubah menjadi sarana curhat. Kali ini bukan Kate Hudson yang memenuhi layar. Saira Jihan yang menjelma jadi Annisa memenuhi layar bersubtitle, mengucapkan kata-kata  yang gue tulis, mengajak gue keluar dari bioskop kecil di pinggir sungai Thames kembali ke kamar gue di Bandung.

Ternyata berdiri di depan bioskop menjawab pertanyaan wartawan sangat menyenangkan. Gue tidak lagi hanya bisa menatap the famous one dari kejauhan. Setelah foto gue memenuhi 2 halaman Tempo, mungkin sebentar lagi gue juga terkenal.

Kalau dia beda, dia kayanya memang cinta film. Sejak masih SD dan kurus kecil, dia bela-belain nonton ke bioskop malam-malam berbekal cutter biar ga dihadang preman Sukoharjo.

"Film kungfu kok," lapornya kepada sang Ayah. Pada saat itu film kungfu terdengar tidak berbahaya bagi Pak Ustad. Kalau saja dia tahu kelak anaknya akan menggemari wanita Cina dari agama berbeda, mungkin kungfu akan jadi genre terlarang.

Dia beda lagi. Dia tumbuh di bioskop karena ayahnya pelukis poster film bioskop. Saat ibunya melacur atau menjajakan gadis lain, dia keluar masuk bioskop dengan sesuka hati. Kadang untuk nonton film. Kadang untuk disodomi ayah.

"Nanti kalau kamu bikin film, ayah yang lukis posternya ya."

Saat itu dia merasa dicintai ayah. Tapi ketika usia 15 tahun, ayah meninggalkan dia dan ibunya, dia mulai merasa ada yang salah. Bioskop berubah menjadi tempat yang menakutkan. Baru masuk saja, dia sudah gemetaran.

Untungnya sekarang nonton film gak harus di bioskop. Sejak film-film bisa didonlot gratis dan dijinjing ke manapun bersama Galaxy Note warisan Deden, gue juga sudah tidak lagi ke bioskop. Bioskop menjadi alternatif tempat pacaran, di saat Jakarta terlalu panas untuk pelukan.

Saat ini antrian penonton bioskop tidak sepanjang antrian film yang berebut ditayangkan. Bioskop semakin sulit untuk cari makan. Dan ketenaran tidak bisa lagi dijanjikan industri yang semakin hari semakin murah ini. Film-film datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan bintang.

Tapi ternyata gue tetap membuat film sambil  berharap ada keajaiban.

Mungkin sebentar lagi gue tenar.

Mungkin gue cuma ingin didengar.

Jumat, 31 Januari 2014

Mata

"Hopefully I will believe you," kata gue manis mengakhiri meeting itu.

"Hopefully? You're cautious," jawabnya sambil tertawa.

"But I like your eyes," tambah gue tanpa flirting. Mas-mas Perancis mau seganteng apa juga bukan selera gue.

Hasil google tentang dia memang gak terlalu mengesankan. Tapi matanya bukan mata penipu.

There are a lot of things eyes can tell you.

Mungkin kalau gue lebih banyak mendengar mata, gue gak perlu menghabiskan waktu dengan dia-dia yang tak seharusnya kupandang.


Kamis, 30 Januari 2014

Cycle Of Pain

Tiap bulan kita berdarah dan menghasilkan telur baru.

Bulan depan  berdarah dan bertelur lagi. Kalau tak berdarah, beranak.

Semua sudah ada ordernya. Semua diganti baru.

Yang sehat seharusnya gak menyakitkan.

Rabu, 29 Januari 2014

Will You Still Love Me When I No Longer Young and Beautiful

Gue gak pernah beautiful. Karenanya getting older gak pernah jadi menakutkan. Gak kaya Lana del Ray, dan dia.

Tapi gue bisa jadi the You dalam liriknya. You know I will. You know I will.

Tapi dia sudah punya orang yang akan mencintai dia saat dia tua dan buruk rupa.

"Baru nonton A Walk To Remember. Kayanya kalau aku mati, kamu pasti kaya gitu ke aku," whatsapp-nya pada suaminya yang gak sengaja gua baca.

I am on a lonely road to find my own Young and Beautiful.

"Gue tuh sangat sensitif ama suara, makanya muka orang gak terlalu penting buat gue," kata mbak-mbak sutradara yang akhirnya menemukan cinta di Heidelberg di umur 38 tahun. Bisa berbunga-bunga hanya dengan suara skype-nya tiap pagi siang dan malam waktu Indonesia Jerman.

Gue gak cukup suaranya bagus. Gue suka yang beautiful audio dan visual. Seperti sutradara kebanyakan, selalu tersedot ke mereka yang menarik mata dan memanjakan telinga.

"Tuh anak makin gak banget deh. Masa ditanya di twitter kok kakak bisa diundang ke premiere tom cruise, eh jawabannya ketus banget. Dibawa asik aja gak bisa ya?" katanya membicarakan mbak-mbak artis cilik yang pengen go international.

And my first reaction malah, "ih pengen gue sayang-sayang."

Disambut tatapan ketus mereka.

The broken and beautiful, tipe gue banget. Tipe-tipe yang selalu menjauhkan gue dari cita-cita hidup simple.

"Dari awal gue udah tahu kalau sama si Om itu gue gak akan benar karena mulainya gak benar," kata si sensitif telinga mengenang kisah selingkuhnya dengan suami orang. Kalau dengan si Heidelberg, dia bisa terbayang membangun usaha bersama berdua.

Mungkin cuma gue yang selingkuh dan terbayang membangun usaha bersama berdua.

Mungkin saat itu gue cuma terlalu muda. Dan dia terlalu beautiful.

"Will you still love me when I have nothing but my aching soul?"

I know she won't.

I know you will.

I know I will.