Selasa, 28 Januari 2014

Full Of Self

"Nih anak nih lagi pada di forum malah promosi diri," katanya mengingat gue 4 tahun yang lalu saat dia memproduseri film dokumenter gue. Super malesin.

I am so full of myself. Makanya gue gak suka orang narsis.

Gue cuma tertawa-tawa sambil menambahkan kalau dulu gue lulus dengan TA terbaik dan IP gue 3.5.

Sudah hancurlah harapan gue dicintai karena rendah hati.

"Emak lo waktu itu nge-tweet gue nanyain kenapa gue gak ikutan pas di Just Alvin ada acara artis-artis batak," kata tamunya yang sebenarnya gak kenal emak gue. Tapi Mak Gondut berasa kenal.

Mungkin sesama artis.

Di acara itu Mak Gondut bilang pialanya gak cuma satu, tapi tiga.

Narsis gue ini ternyata turunan.

Tapi narsisme di emak-emak bikin orang ketawa. Kalau narsisme pada wanita 30an bikin orang gak mau cinta ama gua.

Di saat-saat teman-teman gue udah lulus S2 atau S3 dari Eropa, Amerika, Jepang, bla bla bla, gue masih aja inget-inget IP sarjana.

I really am a wreck. But I am out and proud.

Because I know a secret: so is everyone else.

No need to feel inferior.

Did I tell you IP gue 3.5?

Senin, 27 Januari 2014

Everybody A Wreck

"Mbak, ini tiketnya Gambir ke Bandung," kata petugas menghalangi gue masuk stasiun Bandung.

Gue langsung marah-marah.

"Saya jumat lalu baru dari Gambir. Belinya PP dengan tiket saya ke Gambir hari ini. Ga mungkin dong saya beli tiket dua-duanya gambir bandung? Ini pasti kesalahan yang ngeprint."

Dilanjutkan marah-marah di loket.

Marah-marah di customer service.

Kemungkinan gue yang salah nulis formulir sebenarnya sudah menjalari memori, tapi bibir tetap menyerang. Jangan sampai akibat keteledoran gue, Papi gak bisa ke Jakarta hari ini. Harus hari ini. Jantung gak boleh menunggu.

Gue tetap ngotot dengan sisa-sisa kejutekan terakhir, walaupun tahu mungkin ini salah gue. Kalik aja dengan marah-marah Papi bisa sampai Jakarta.

Gak bisa.

Gue cepat-cepat memesan travel, dapat jam 8 pagi untuk satu orang. Masih sempat sampai RSPAD sebelum jam 12, sebelum administrasi tutup. Papi menyusul saja nanti naik kereta.

Tapi papi tetap menemani ke travel dengan harap-harap tiba-tiba ada seat.

Di dalam taksi dari stasiun ke travel, gue baru sadar tas hitam berisi peralatan elektronik gue tertinggal di stasiun.

Tinggal 20 menit menuju jam 8.

Haruskah gue bilang Papi dan mengakui kalau gue sekali lagi ceroboh? Atau diam saja menyelamatkan harga diri gue dan kehilangan headphone, hard disk, mp3 player, power bank, dan semua charger hp tabs dll?

"Papi, tas hitam atid ketinggalan di stasiun."

Papi hanya tertawa. "Jadi nonanya mau balik ke stasiun aja coba nyari?"

Gue melihat jam. Tinggal 15 menit.

Bingung.

"Atid ke jakarta ajalah duluan. Daftar dulu. Toh belum tentu juga tasnya ada. Papi aja yang balik ke stasiun, sekalian papi naik kereta jam 12," usul Papi.

"Maaf ya pi."

Papi hanya tersenyum bulus sambil memberikan 100 ribu untuk ongkos travel.

Ditambah 100 lagi buat taksi, katanya.

Ditambah 100 ribu lagi buat nonanya minum-minum Starbucks di Gambir.

Nonanya gak dimarahi.

Gue duduk tenang di dalam travel. Tidak mengkhawatirkan tas hitam gue lagi. Somehow gue tahu tas itu tidak hilang.

Tiba-tiba HP berdering.

"Dek, tas hitamnya sudah di papi ya. Ketemu di Gambir nanti."

Gue mengurus administrasi di RSPAD dengan tanpa menggerutu seperti biasa.  Tidak sebal melihat PNS underpaid ga becus kerja.

Karena gue baru sadar hari ini  gue juga ga becus kerja. Dan gue tidak dihakimi.

Dan ketika ternyata terbukti kemudian memang gue yang salah nulis formulir kereta, Papi juga cuma ketawa.

"Ya pengalamanlah," kata Papi sambil memberikan uang dua ratus ribu. Kali ini entah buat apa.

Malamnya gue ketemu si mas mas Laundry Shop Kalibata City yang nyuruh gue datang lagi besok malam. Hari ini dia sudah keburu setoran, gak bisa gantiin duit langganan.

Gue cuma melenggang pergi tanpa marah-marah. Bersyukurlah dia gue sudah pensiun menghakimi.

We're all a wreck here. No need to feel superior.

Today was a very good day.

Minggu, 26 Januari 2014

Roots

"I am like a bird. I only fly away," kata gue   mengutip lagu mbak-mbak Spanyol yang merantau ke LA. Saat itu gue umur 21. Kota kecil di Eropa itu terasa lebih rumah daripada Bandung.

"You should know your roots," katanya serius. "Otherwise you'll fall down."

Gue tidak membantah, walaupun dalam hati tidak mengerti pentingnya asal usul. Masih lebih percaya si mbak-mbak Spanyol. Eh, apa portugis?

Mungkin bagi orang seperti dia penting. Gue menamai dia Czech chick, padahal dia dari Slowakia. Gue mengira dia dari Ceko. Gak tahu kalau Slowakia sudah jadi negara sendiri.

Czech chick tidak berusaha memperpanjang dan kembali ngobrolin hal-hal tak penting macam kaca mata The Beatles-nya yang telat mode 40 tahun.

Tapi 10 tahun kemudian, kata-katanya masih mengiang.

Tahun ini sebuah film The Act Of Killing kembali membawa nama Indonesia dan lagi-lagi tidak boleh beredar di Indonesia. Juru bicara pemerintah menuduh ini usaha orang Amerika untuk menjelekkan Indonesia.

"Bangsa lain kan juga ada sejarah jelek. Contohnya perbudakan di Amerika."

Film perbudakan di Amerika ternyata juga masuk daftar film terbaik Oskar. Yang bikin orang Inggris pula. Tapi film ini tetap tayang di Amerika. Dan juru bicara pemerintahnya tidak menuduh Inggris menjelekkan namanya.

Ingatan gue kembali ke tahun 2000 saat internet belum sefasih sekarang. Saat itu gue 17 tahun, pertama kalinya tinggal di Amerika, pertama kalinya nonton The Year Of Living Dangerously. Baru tahu kalau film ini ada. Gak boleh masuk Indonesia. Baru tahu kalau negara lain tidak melulu melihat Suharto sebagai bapak pembangunan yang selalu dipuja-puja.

Ini memang nasib gue dan angkatan gue yang lahir di tahun 1983, setelah 18 tahun bangsa ini dibutakan  secara sejarah dan harus menelan sistem CBSA yang sama sekali tidak membuat siswa aktif. Gue tumbuh menjadi siswa yang terima jadi, buta sejarah, dan haus approval guru.

Gue cuma tahu rumus, gak tahu logika. Gue cuma tahu akhir, gak tahu asal.

Dari mana gue berasal?

Gue Batak yang lahir dan besar di Bandung. Pulang ke Sigumpar, gue dianggap orang Bandung karena terlalu halus dan bilang punten tiap mau lewat. Di Bandung, gue tetap dianggap Batak Goblok yang berani-beraninya masang baju Persib di anjing.

Kalau menurut tes di Facebook, gue harusnya tinggal di Paris. Tapi memori gue tentang Paris diwarnai bau pesing di tiap stasiun metro. Bukan kota yang tepat untuk hidup, apalagi setelah Paris tak lagi semurah sebelum 1998.

"I don't know where my home is. I don't know where my soul is...," kata gue melanjutkan lirik si Mbak Spanyol/ Portugis/ Amerika.

The Czech Chick kembali ke kamarnya, meninggalkan gue bernyanyi-nyanyi dengan gitar dan Bir cherry dari Belgia. Dia sangat disiplin, harus membaca berbagai buku 6 jam setiap harinya agar wawasannya luas dan kelak bisa menjadi guru yang baik.

Sepuluh tahun yang lalu, gue heran kenapa orang sepintar itu malah jadi guru.

Sekarang gue merasa bodoh.



The Great

"Lo udah pernah nonton The Great Gatsby?" tanyanya.

"Baca novelnya udah. Kenapa?"

"Nggak. Cewenya mirip dia. Gak bisa milih mau cowo yang mana."

Gue gak bilang kalau gue belum selesai baca novelnya. Di tengah novel, Daisy masih bilang kalau cintanya hanya Gatsby. Masih ngajak Gatsby lari bersama. Masih bilang andaikan Gatsby selalu ada di sisinya.

Mana gue tahu ternyata di akhir film si Daisy juga cinta suaminya. Mana gue tahu ternyata di akhir film Daisy gak menikahi Gatsby karena dulu Gatsby penniless. Mana gue tahu kalau akhirnya Daisy memilih suaminya dan terlalu penakut untuk ngasih tahu pilihannya ke Gatsby.

Gatsby ditinggal menunggui telepon yang gak pernah berdering. Sekalinya berdering, bukan dari Daisy.

Gatsby oh Gatsby... Ganteng ganteng kok delusional. Gak bisa lihat kalau Daisy lebih cinta security daripada segalanya.

Gatsby is a man of hope. His vision brought him to his American Dream. His vision is so clear, his belief is so strong, he cannot see that Daisy is just a coward who is used to live in the other side of the river where all the Old Money are.

Gue menangisi Gatsby yang tampan dan kaya raya, mengambang di kolam renang impiannya yang airnya berubah merah. Dia baru 32.

Kalau saja dia mau melupakan Daisy dan move on, hidup sampai 65, seperti Jep di The Great Beauty, dia pasti akan bahagia hidup dari party ke party berganti-ganti wanita dan tetap menjadi The Great Gatsby.

Tapi nggak. Setelah berbagai macam wanita, Jep masih penasaran kenapa Elisa meninggalkannya 48 tahun yang lalu.

Mungkin Elisa hanya mau hidup aman bersama suami yang bisa jadi a good companion. Kaya Daisy.

Tak ada gunanya menyalahkan Elisa. Atau Daisy. We all did what we did to survive.

"No need to feel superior. You are 53, with a shattered life, just like we all here. You should see us with affection. Just look at each other's face, keep each other's company, joke a little..."

Gue tersenyum memandangi Jep menjalani Roma. Di kanan kiri semua  jenis ugly, but somehow it feels beautiful in the movie.

Mungkin sudah waktunya memaafkan dan terus berjalan. Air mata hanya mengaburkan the great beauty di kanan dan kiri.

"Do you know why I eat only roots?" kata si nenek ala Mother Teresa pada Jep.

"Because roots are important."

Penting tapi tidak terlihat, hanya diam-diam di dalam tanah. Tidak berusaha memamerkan keindahannya. Biarlah buah yang kebagian dikagumi. Sudah terlalu banyak The Great di muka bumi.

Besok gue makan kentang ah.

Jumat, 24 Januari 2014

Pembantu

"Rumah saya kebakaran, Mbak," kata si Neneng sudah dengan Lepis dan kemeja bunga-bunga.

"Ibu saya sakit," kata si Depi. Dua-duanya mau pulang tapi gak berani bilang ke Mami.

Kebetulan hari ini tepat 1 hari setelah 1 bulan kedatangan mereka. Jadi Mami gak akan bisa minta ganti ke agen mereka. Garansinya cuma sebulan.

"Ini bukan rumah saya," kata gue gak mau ikut-ikutan administrasi Rumah Tangga Mak Gondut. Bisa-bisa gue yang kena libas.

Tapi kasian juga mereka. Pasti berat harus bekerja 24 jam 7 kali seminggu dengan gaji hanya 600 ribu. Berkali-kali gue bilang ke Mak Gondut pembantu jam 7 malam jangan disuruh-suruh lagi. Biarin aja santai-santai nonton TV. Tadi malam malah disuruh ngerok.

"Mending kalian bilang ke Papi," saran gue. Papi pasti bisa membujuk mereka.

Manusia  cuma butuh dihargai. Kalau mereka dihargai, hasutan agen pun gak akan mempan.

Lima menit kemudian, sudah terdengar omelan non stop mami dari lantai bawah. Tampaknya Neneng dan Depi gak kesampaian ngomong ke Papi, keburu diberondong Mami dengan pertanyaan kenapa pagi-pagi sudah pakai baju dan gincu.

"Apa papi pindah ke rumah kecil aja biar ga usah pakai pembantu?"

"Kalau pembantu pulang ya cari lagi," kata Papi santai.

Udah gatel ingin mengomeli Mak Gondut. Kalau dia gak mau ngurus suami dan lebih suka ngurus Dapil 1  Bandung Cimahi, setidaknya jangan bikin pembantu pulang.

"Be nice to your parent" gampang kalau ke Papi. Dua tahun setelah Demi Ucok, ternyata gue masih gak suka ama pilihan hidup emak gue.

"Semua itu harus dilihatnya dari positifnya. Kan bagus dia ada kegiatan di luar, gak ngomelin kita di sini," kata Papi.

Ingat sebulan lalu pembantu pulang. Papi juga yang kebagian bersihin rumah dan mandiin anjing. Ujung-ujungnya jantungan karena kecapaian. Kasian Papi.

"Papi sih cuma kasian ama dia. Udah tua pikirannya gak tenang... Pasti susah hidup kaya dia..."

Dan Papi kembali hepi-hepi.

People will never change, so don't even try changing them.

Mending hepi-hepi.

Mondang, 1965

Mondang, 18 tahun, tiba-tiba gak jadi ujian akhir. SMA 4 Medan ditutup karena katanya negara dalam keadaan darurat.

Saat itu Oktober 1965. Mondang yang gak terlalu suka sekolah, tidak terlalu peduli saat sekolah diliburkan. Gak mau juga ikut-ikutan membunuhi keluarga komunis seperti pemuda lainnya. Gak juga ikut demo seperti para mahasiswa. Mondang lebih suka di rumah membantu Mamak mengurus 5 adik perempuannya.

Mondang suka belanja di pasar, tidak seperti lelaki Medan pada umumnya yang lebih suka duduk-duduk membicarakan politik. Tapi Mondang gak mau beli ikan lele, padahal lele tahun 1965 besar-besar. Puas melahap tubuh-tubuh tertuduh PKI yang mengambang berdesakan di sungai-sungai perkebunan Sumatera Utara.

Mondang di rumah saja membantu Mamak, berusaha agar uang belanja dari pensiun dini Bapak sebagai bendahara Pos mencukupi di saat-saat sulit pangan ini.

Saat sekolah kembali dibuka, Mondang ikut juga sekolah. Mondang baru tahu betapa bengisnya gerakan kaum tak mengenal Tuhan yang mencongkel mata para Jendral tahun lalu. Karenanya memang sudah seharusnyalah pengikutnya dibunuh tanpa pengadilan. Semua demi keselamatan bangsa yang berketuhanan  yang maha esa ini.

Sejak saat itu kenaikan kelas di Indonesia bergeser ke tengah tahun. Tidak lagi akhir tahun. Dan komunis menjadi bahaya laten yang haram dibaca bukunya.

Mondang lulus dengan nilai biasa saja, dan melanjutkan studi ke fakultas ekonomi. Seperti abangnya. Dan seperti kelak 7 adik perempuannya.

Dua tahun berlalu, sekolah ekonomi semakin menyulitkan keuangan. Iseng mengantarkan teman ujian masuk tentara, Mondang disuruh ikutan tes dengan administrasi menyusul.

"Gampang. Ikut tes aja dulu."

Mondang malah lulus. Si teman jadi petugas kereta api.

Mamak tentu tidak mengizinkan kehilangan anak laki-lakinya masuk ke gerombolan menyeramkan itu. Lebih baik hidup biasa-biasa saja sebagai sarjana ekonomi atau pendeta. Mondang nekat mencuri cincin Mamak dan pergi ke Jawa.

Mondang menjalani pendidikan tentara di Magelang mulai tahun 71. Gratis, malah semua keperluan ditanggung. Gak kaya sekolah ekonomi. Semua perintah ia jalankan tanpa banyak berpikir, seperti memang seharusnya tentara. Jalankan perintah atasan, tanpa pertanyaan.

Tahun terus berganti, pemimpin negara tetap tak berganti, masih dari golongan jalankan perintah atasan. Teman-teman sekolah Mondang ada yang jadi bupati, walikota, menantu presiden, menteri, direktur BUMN, dan segala jabatan  berduit di balik slogan dwi fungsi ABRI. Ternyata dengan menjadi tentara di negeri ini bisa merangkap fungsi sarjana ekonomi.

Jadi tentara juga membawa Mondang berkeliling Indonesia tanpa biaya. Mondang baru menyadari kalau dia suka sekali jalan-jalan, sama seperti Mamaknya. Mamak mengunjungi Mondang ke mana pun dia ditempatkan, dari Natuna sampai Jayapura.

Sudah lupa Mamak soal cincinnya yang hilang. Sudah lupa kalau gerombolan itu menyeramkan.  Foto Mondang dengan seragam berbintang satu dipajang di ruang tamu.

Mondang pensiun masih dengan bintang satu di bahu. Mondang tidak pernah jadi pangdam apalagi dankopassus. Tahun-tahun tentaranya lebih banyak dia habiskan menjadi guru. Setelah pensiun Mondang tetap bisa bertualang tanpa membawa uang ke bagian Indonesia manapun karena pemimpinnya pasti bekas muridnya.

Ke Amerika pun bisa. Selama masih ada atase pertahanan. Mondang tertidur pulas di dalam Broadway saat dijamu muridnya ke sana. Nonton pilim anaknya saja Mondang tidur, apalagi nonton singa dan monyet nari-nari hakuna matata.

Sampai jantung Mondang harus dikateter, di-EPS, di-ring, ablasi, ablabla sehingga jalan-jalan Mondang ditunda dulu. Sekarang Mondang harus puas jalan-jalan dengan kereta api Bandung Jakarta mengunjungi dokter-dokter RSPAD.

"The Act Of Killing?" tanya Mondang heran kepada anaknya yang menceritakan tentang sebuah film dokumenter yang mengikuti salah satu veteran Pemuda Pancasila di Medan bernama Anwar Congo.

"Papi gak kenal."

"Masuk Oskar, Pi. Pertama kali orang Indonesia masuk Oskar tapi gak bisa bilang namanya siapa," kata si anak bersemangat menceritakan co-director film itu asli Indonesia. "Papi mau nonton?"

"Ah nanti sajalah. Dua tiga hari lagi," kata Mondang tak bersemangat. Baru 2 jam yang lalu jantungnya dimasuki kabel-kabel panas. Belum waktunya menonton film walaupun katanya ada muka si Samsul, teman Mondang yang dulu gubernur.

Sekarang dipenjara.

Lebih baik nonton TV. Ada istri tetangganya dulu curhat karena dihina-hina rakyat akibat main Instagram sementara Sinabung darurat.

"Zaman Suharto itu, gak akan pernah ada yang berani ngehina Bu Tien. Besoknya pasti sudah hilang," komentar Mondang menyesali adik kelasnya yang dia anggap kurang wibawa.

Anak Mondang hendak mengeluarkan berbagai bantahan.

Gak jadi.

Biarlah Papi tidur tenang dengan pikirannya sendiri. Bu Ani dan para korban Bu Tien punya jalannya masing-masing.

Rabu, 22 Januari 2014

Mediocrity

"Belum disetrika mbak. Yang nyetrika cuma satu," kata mas mas laundry shop kalibata tanpa merasa bersalah.

"Mas, saya udah datang kemaren dan mas bilang selesai sore ini."

"Ya saya juga udah bilangin mbak." Dia kembali ke hp esia bututnya ngobrol dengan perempuan beraksen betawi teriak-teriak.

"Besok katanya mbak," tambahnya dengan muka songong.

"Mas. Awalnya mas janji tanggal 18. Ini udah tanggal 22. Mas ini niat usaha gak sih?"

Dia kembali kasak kusuk dengan si suara betawi.

"Mbak ngomong sendiri deh," tambahnya malas sambil memberikan hp esianya.

"Mas yg ngomong ama dia. Bukan urusan saya. Mas kerjain tugas mas."

"Malam ini deh mbak jam 12."

"Jam 10 mas. Saya udah harus ke bandung."

"Ya udah deh saya ke sana ambil sendiri mbak. Belum disetrika gapapa?"

Gue mengangguk kesal. No option. Gue gak punya baju lagi.

Jam 10 gue kembali ke tokonya. Ditutup rapi dengan gembok dan telponnya gak ada yang aktif.

Gue menendang pintu Laundry Shop dengan kesal.

Tapi gue terlalu penakut untuk menendang lebih keras. Akhirnya cuma nge-sms ke hp hp matinya: "Tolong hubungi saya secepatnya. Saya minta baju dan uang langganan saya dikembalikan secepatnya. Anda janji akan diberikan malam ini jam 10 tahunya toko anda ditutup dan semua hp mati. Segera kabari atau saya hancurkan toko anda."

Hancurkan toko anda?

I guess gue udah kebanyakan nonton Sherlock Holmes.

Ngapain merusak pikiran gue dengan kemarahan? Cucian gue harganya 2 juta, duit membership 120 ribu. My mind is worth more than that.

Siapa suruh pilih laundry 7000an.

In this land of mediocrity, you get what you pay.

Selasa, 21 Januari 2014

Top Of The Lake

"Your body is very intelligent. It knows what it needs," katanya di Paradise, pinggir sebuah danau indah dengan gunung mengelilingi.

Di Jakarta, will your body know what it needs?

All it says is I need to sleep or I need to eat.

Di saat Jakarta macet dan banjir di mana-mana, janjian ketemu orang pun batal karena doi terhalang banjir, tambah banyaklah alasan tubuh lebih memilih diam di lantai dua puluh.

Gak ada niat menolong korban banjir?

"Everyone wants to help someone. That one wants to help Africa," katanya sambil menunjuk Mbak-mbak jaket biru.

"All you need to help is yourself."

Dia terdiam.

Gue terdiam.

It is easier to help others than to help ourselves. Helping ourselves requires admitting that we were weak.

I don't wanna be weak. I am a tough girl.

"You are not what you think you are. Just lose everything, what do you have left? That's you." katanya menambah khotbah dari dalam Galaxy Tabs 10 gue. Dibajak langsung dari Bit Torrent tanpa bayar apapun ke Jane Campion.

On top of my lake, I am a strong bitch. What do I have underneath?

Senin, 20 Januari 2014

Why Jakarta Doesn't Need A Film

Banjir di mana-mana.

Film-film bagus tinggal download. Gak habis-habis.

Masyarakat dari kelas gak biasa download, punya taste film beda.

Sponsor lebih tertarik ngasih duit ke hal-hal yang massa peduli. Kanker. Banjir. Colour Race.

Mahal.

Dan sejuta alasan lain kenapa gak harus bikin film.

Dan sejuta alasan kenapa hari ini gur gak perlu bangun untuk ke Gedung Sensor. Ada Top Of The Lake episode 4 di tabs. Hujan. Macet di mana-mana. Ke sana juga ujung2nya bayar juga. Dan lain-lain.

Tapi gue bangun juga.

Minggu, 19 Januari 2014

Hujan

Air menetes turun miring sikit digeser angin kereta parahyangan. Sawah hijau bertingkat-tingkat dan langit kelabu berduet menjadikan  lukisan agak monokrom dengan tambahan hijau hijau.

Hujan pagi hari di dalam kereta api eksekutif 110 ribu ini memang romantis. Membuat hati mensyukuri walau masih sendiri.

Sudah lupa berita air sudah 6 meter di kampung pulo tadi pagi. Atau iringan manado2 kaya tomohon yang mengusung peti sanak keluarganya akibat banjir bandang.

Kembali menikmati sawah hijau sepanjang padalarang... Sampai ke karawang, sawah hijau berganti danau coklat. Di sisi2nya tenda darurat para pengungsi.

Haruskah gue berhenti di Jatinegara saja, keluar dari kereta api eksekutif dan bergabung dengan para relawan?

Ah tapi kan sudah ada jokowi. Dan dedi mizwar. Dan caleg2 partai.

Apakah gue harus ada interest politik dulu untuk turun tangan jadi relawan?

Tapi banjir jakarta bukan bencana alam. Ini bencana yang memang sudah direncanakan. Ketika kita mendesain gorong-gorong seupil, menyesakinya dengan pipa dan kabel, membiarkan waduk dipenuhi rumah warga,  dan pohon berganti villa. I am not going to sacrifice myself for someone else's mess.

Really? Are u sure this is not your mess? Dengan lo sekolah disubsidi dan sekarang lo malah bikin film aja lo sudah menyia-nyiakan subsidi negara 15 juta per tahun.

Tapi bingung mulai dari mana.

I guess I am a selfish ignorant bitch. And unfortunately, I am not the only one.