Rabu, 08 Januari 2014

Reuni Jantungan

"Udah kawin?"

"Belum, Om."

"Umur berapa?"

"Tiga puluh, Om."

Dilanjutkan sedikit tampang kasihan dan ditambahkan kisah anaknya yang umur 28 gak kawin-kawin dan malah mau ngambil spesialis bedah kecantikan.

Sejak papi semakin rajin keluar masuk sayap jantung Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, gue semakin sering bertemu om om tentara jantungan beserta dharma wanitanya yang selalu membuka pembicaraan dengan status perkawinan.

Dan gak mungkin dong gue bilang gue gak mau nikah. Kalaupun nikah maunya perempuan. Tambahlah nanti kerja para dokter jantung RSPAD akibat jantung-jantung mantan jendral mendadak nyut-nyutan. Jadi gue hanya tersenyum manis sambil pasang tampang perawan dua puluhan.

Sekarang aja kerja dokter-dokter itu udah banyak. Selain karena BPJS yang mengacaukan status quo yang sudab nyaman mereka jalani bertahun-tahun, Ibu-ibu jendral pasien mereka tetap anti peraturan walaupun suharto sudah lama pensiun.

Suster ambon bertampang garang mencoba melarang enam emak-emak istri pensiunan jendral yang ngotot mau masuk ke ruang jantung rame-rame. Gak mau sendiri-sendiri. Takut disuntik.

Akhirnya suster ambon menyerah juga. Emak-emak rame-rame memenuhi ruang  dokter agus. Dari luar suara tertawa mereka menyemarakkan ruang tunggu RSPAD.

Di luar, Papi dan kawan-kawan seangkatan yang sekarang semuanya jantungan tertawa-tawa mengenang perang di Natuna.

Ternyata rumah sakit di umur 60-an bukan tempat yang menyedihkan. Malah jadi tempat reuni yang menyenangkan.

Kalau lo 30 dan single, gak semenyenangkan itu sih.

"Cepatlah kau kasih cucu buat bapakmu ini. Kasian udah tua dia."

Kembali senyum perawan.

Selasa, 07 Januari 2014

Resolusi

Apa kabar resolusi?

Baru tanggal 7, gue udah ke kedai Kak Ani dua kali, diselingi selusin cookies percobaan Daud yang semakin kusuka karena kebanyakan telur dan salmonella.

Datanglah si Ci Mei yang kecil mungil dan baru pulang marathon. Tambahlah gue terlihat seperti raksasa di sebelahnya.

Langsung mesen curly fries.

"Pakai mayo ya mbak."

Curly fries lewat begitu saja di mulut, mengembang di perut, dan mendesak celana yang mulai kesempitan. Jerawat di leher pun membesar.

"Detox aja booo minimal 3 hari." kata mbak penari sambil seruput stroberi.

"Lo mah ekstrim. Kalau ga makan bisa ga makan kalau dah makan bisa... ," dia mengangkat tangannya seperti lagi free fall di rolller coaster.

When did I become this weak?

Mungkin karena pressure dua resolusi lainnya -film baru pacar baru- sehingga bodi baru tak juga terwujud.

Gue melihat Kak Ani yang bertubuh tak kalah raksasa dalam baju kurungnya melenggang pede ngajak para customernya untuk mencoba pisang goreng pake ketan gula hitam dan karbo karbo gula lainnya.

I guess I do not need to be slim to be that confident.

"Mbak, lupisnya satu ya. Gulanya yang banyak."

Senin, 06 Januari 2014

Udah ya, Udah dong, Daaaahhh.

I wake up feeling bloated.

Apakah ini karena nasi rames kantin sehat? Onion ring dan kopi tarik jumbo? 2 pizza dan 2 tahu isi goreng? Toge rica rica, terong rica rica, perkedel, dan teh manis panas?

Mungkin celana lucky kesempitan di gue.

I just feel bloated.

And ugly.

Mungkin karena tadi malam gak ikut maskeran dan minum 40 pil cina yang ajaib membersihkan ginjal. Kaya lucky.

Mungkin karena konsep release Selamat Pagi Malam belum nemu.

Mungkin karena gue mimpi ditinggalkan lewat sms.

Mungkin karena gue makan gak berdoa dulu.

Mak Gondut mengawasi gue berdoa dengan nasi rames pertama terlanjur di kerongkongan. Gue tidak melawan dan mengeluarkan segala argumen kenapa Tuhan gak perlu diajak ngomong sambil lipat tangan. Apapun asal dia gak pusing gue masuk neraka di sisa-sisa kehidupannya ini.

Mungkin karena gue marah.

Buat apa marah? Hidup ini hanya sementara. Tertawalah, sayang...

Udah ya. Udah dong. Daaaaah.

Minggu, 05 Januari 2014

Fantasy

We are what we believe we are.

Seorang pembunuh ratusan nyawa bisa percaya kalau dirinya adalah pahlawan, dan dengan bangga menceritakann jasa-jasanya menumpas kaum komunis kepada dunia lewat media kesukaannya: film koboi dan musikal.

Seorang seniman rata-rata bisa percaya kalau dia the wonder kid of bandung karena dia tidak pernah mau nonton film. Baginya menonton karya orang lain membuatnya jadi penjiplak. Tidak menonton membuatnya jadi maestro.

Gue bisa percaya kalau gue dicintai dan mencintai padahal semua fakta berkata beda. Mungkin karena gak pernah dicintai sebelumnya.

Fakta ternyata hanya binatang berupa banyak. Tiap sisinya berbeda. Tergantung mata mana dan dari mana ia melihat.

Banyak-banyaklah mendengar. Banyak-banyaklah menonton. Banyak-banyaklah bercinta.

Jangan-jangan kita bukan pahlawan. Hanya pembunuh yang kurang mendengar.

Sabtu, 04 Januari 2014

Selamat Tinggal Kasih

Walaupun langit pada malam itu, bermandikan cahaya bintang...

Bulan pun bersinar menambah indahnya, namun menambah kesedihan...

Adinia Wirasti memeluk Marissa Anita in a very slow dance diiringi sisa-sisa suara Dira Sugandi sebelum air mata pertama turun.

Any beautiful dance will end.

Hanya sekejap saja ku akan kembali lagi,  asalkan engkau tetap menanti...

Gue tertidur meninggalkan hidup mereka di Macbook Lucky. Malam ini tampaknya tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Semua usaha membuat film Selamat Pagi Malam lebih Tsai Ming Liang sesuai selera festival telah dilupakan.

Film ini telah kembali kepada bentuk jujur-nya, dipenuhi emak-emak gosip yang kurang eksotis untuk festival, dan emak-emak joget yang kurang menarik untuk masyarakat penonton Pevita Pearce dan sekitarnya.

But this is us.

Gue bangun pagi, mencoba menonton hidup mereka sekali lagi sebelum dikunci dan diwarnai.

Langit tidak lagi berbintang, digantikan awan berbentuk hati.

Selamat Pagi :D

Jumat, 03 Januari 2014

Joy

What brought me joy yesterday?

Gue menyisir hari mencoba mencari momen indah yang ingin gue kenang di antara letupan letupan emosi kemarin hari.

None.

Padahal hari gue diawali dengan one of the best princess tale yang mengajarkan cinta sejati bukan ciuman pangeran. An early lesbo tale for kids. Dan princess-nya hot walau di sekelilingnya es.

Dilanjutkan menyaksikan seorang batak jerman yang ngotot nikah dengan sunda totok akhirnya menortor juga  setelah sudah lebih  seperempat abad menikah.  Suaminya diberi marga, pernikahan mereka sah secara adat, dan anak mereka dapat marga. Semua demi si anak yang ketiban jodoh batak totok dari medan.

Nyalon di gang dan ngobrol dengan si cici- cici wonosobo pemilik salon yang memulai dari satu cermin di ruang tamu.

Nambal gigi sambil diceritakan bagaimana si dokter sunda sekarang punya anak angkat bermarga siahaan.

Makan malam dengan seniman yang bukan actress tapi sense dan referensi filmnya menjanjikan.

Pulang-pulang disambut bobot si tikus cantik sambil kibas-kibas ekor.

Dan sekotak bengbeng hasil papi belanja di pasar.

Dan segudang aktivitas hari ini tidak terhambat macet bandung sumbangan jamaah liburiyah jakarta berkat mobil mami.

Diakhiri dengan nonton glee season satu, di mana semua masih cupu-cupu kaya gua.

Wait. Gue gak cupu. Film gue udah mau tiga. Waktunya untuk lebih bahagia.

Kapan terakhir gue bahagia? Gue selalu kembali ke masa shooting demi ucok. Saat di mana gue belum tahu gue bisa munafik.

Apakah semua yang gue lakukan dua tahun ini gak membuat bahagia?

Gue bahagia. Hanya bedanya, bahagia yang gak bisa dipamerkan dengan orang lain karena mereka gak akan mengerti perasaan ini.

Apakah gue gak bahagia kalau gak bisa pamer?

Mungkin gue cuma kurang bersyukur.

It is not happy people who are thankful. It is thankful people who are happy.

I guess joy is not a temporary high because I do something joyful. It's a state of mind that makes me do things happily.

So how do I get to that state of mind?

Kata lady gaga, just dance.

Kata michelle branch, just breathe.

Kata forrest gump, just run.

Kata gue?

Kamis, 02 Januari 2014

Percaya

"Untuk mereka yang masih percaya akan kekuatan cinta," bunyi tagline promosi sebuah musikal 4 tahun yang lalu. Optimis dan membuat gue keluar dengan bibir sumringah dan hati percaya kalau cinta akan merubah negara munafik ini.

Si pembuat dikelilingi believer baru yang semua sumringah dan ikut percaya  akan kekuatan cinta.

Apa yang gue percaya?

4 tahun yang lalu gue akan menjawab dengan pasti Yesus Kristus dan segala cintailah musuhmu-nya. 4 tahun berlalu dan cinta dijadikan alasan perzinahan, ditinggalkan, dan menyaksikan dia tetap menikah padahal katanya cinta, apa yang masih gue percaya?

"Lie to me," kata Pepa kepada Ivan yang akan meninggalkannnya. Padahal Pepa tahu Ivan sudah membohongi banyak sekali wanita bermodal suaranya yang meneduhkan. He will tell you anything you want to hear.

A woman will believe in anything she wants to hear.

Apa yang gue percaya?

Kata an alien in New York, No lie no defense.

Tapi lo harus kuat hidup sendirian kaya dia. Society are not used to the defenseless truth. Bukan cuma wanita yang nyaman dibohongi.

Kata Ellen de Generes, in kindness.

Hahaha...

Hari ini gue gak tahu apa yang gue percaya. 

I guess that's my truth for today.

Be close tho those who are looking for truth...and stay away from those who have found it.

Rabu, 01 Januari 2014

Sendiri

"A woman will do anything not to be alone," kata Manuela.

Manuela fucked a macho transvestite, got pregnant, and build a loving family together with her son.

Yang lain nerimo dikhianati berkali-kali by her young drug addicts lesbian lover yang akhirnya kawin ama orang lain dan melahirkan bayi yang buruk rupa.

Yang lain mau aja ngewe sama bencong penuh virus HIV dan akhirnya mati muda.

Ada yang menikah biar gak sendirian.

Ada yang melacur.

Ada yang punya anak.

Ada yang menikah, melacur SGD 500 sebulan, dan mencicil Bassura City.

Ada yang bikin film.

"Mending lo cari suami deh," katanya. Biar gue gak sendirian, dapat 500 SGD sebulan, dan mencicil Bassura City.

Ada hari-hari di mana gue mengira dia teman yang gak akan membiarkan gua sendirian.

Tiga Tahun Baru gue menangis sendirian tanpa suara, hanya bunyi gemeretak gigi dan sayup-sayup kembang api. Sementara dia bersandiwara bahagia.

Atau dia memang bahagia? Gua saja yang tolol percaya dia tidak lagi bisa tertawa.

Tahun ini gue gak akan sendirian.

Selasa, 31 Desember 2013

My Own Ending

Dito suka banget nonton Sound Of Music. Dia sudah nonton berkali-kali, tapi DVD selalu diberhentikan di scene menari-nari dikelilingi biru langit danau dan hijau rumput Austria. Tidak pernah ada Nazi di Sound Of Music  Dito. Mereka terus menari dikelilingi langit rumput dan danau.

Gue selalu menertawakan Dito. Sampai gue nonton Blue Is The Warmest Color. Setelah si rambut biru tidak lagi biru, gue gak kuat lagi nonton. Adele terlalu banyak menangis, terlalu membangkitkan emosi-emosi yang gue gak ingin ingat. Karenanya, film Blue Is The Warmest Color selalu gue hentikan saat semua masih biru dan hangat.

Sejak kapan gue jadi mbak-mbak melankolis? In my defense, Lea dan Adele adalah actress pertama dalam sejarah yang dapat Palme Dor di Cannes. Jadi acting mereka memang luar biasa.

Bukan karena gue mbak-mbak melankolis?

I guess gue lebih kuat nonton tentara Nazi mengobrak abrik Austria daripada Mbak-Mbak Perancis berbibir seksi menangis.

Selasa, 18 Juni 2013

BIrthday Wish

Tumpengan hari ini merayakan ulang tahun Papi yang telat 2 hari. Papi tampaknya senang ulang tahun dikelilingi anak-anak angkat kepompong gendut.

"Papi mau dibikinin pilim gak?" tanya gue pada Papi.

"Papi mana bisa main pilim," Mami langsung nimbrung minta diajak main.

"Yang main jangan Papi, Slamet Raharjo," tangkis gue menepis Mak Gondut. Kan film buat Mami udah, sekarang giliran film Papi. Tapi Mak Gondut tetap merapat, berharap diajak maen.

"Papi mau yang maen siapa?" tanya gue manis.

"Mami,"  jawab Papi dengan senyum bulus.

Mami tersipu-sipu.