Senin, 17 Juni 2013
Narasi Membumi
Episode 1 dan 3 Demi Turki sudah memasuki tahap piclock yang membuat makan gue tidak lagi berantakan. Lebih tenang, lega dengan hasilnya.
Ceritanya menyenangkan dan mudah dinikmati. Pace-nya cepat dan banyak animasi lucu.
Gue berharap observasi editor ini cuma karena tadi nontonnya pake laptop tua pinjaman dengan speaker rebek. Kalau Fatwa Indri dan Ridla bisa mendengar narasinya, mungkinkah mereka ketawa?
Apakah narasinya terlalu banyak? Apakah gue terlalu banyak bicara?
Apakah ego gue menghambat gue menyadari kalau narasinya kurang lucu ?
Atau Fatwa Indri dan Ridla yang terlalu rata-rata?
Gue yang gak bisa deliver cerita kok malah nge-judge mereka rata-rata?
Tapi kalau gak pakai narasi, gue gak kepikiran cara lain untuk membuat pace Demi Turki lebih cepat.
Episode 1 dan 3 sepertinya sudah menarik. Tapi episode 2, 4, dan 5 butuh materi tambahan untuk mengisi screen time, kalau gak mau ceritanya jadi draggy.
Bisakah gue menciptakan narasi yang lebih membumi?
Minggu, 16 Juni 2013
Papi Ulang Tahun
"Benar-benarlah kau anak bungsu tak berbakti," aum Mama Singa.
Papi lagi di Manila, mengurangi satu list negara yang ia ingin kunjungi sebelum ia meninggal, bersama Mami. Tadinya Papi mau pulang ke Bandung tanggal 18, tapi diundur jadi tanggal 16. Gue gak ngeh kenapa Papi ngundurin jadwal pulangnya. Ternyata mungkin karena dia ulang tahun.
Ingin menebus dosa, gue berpikir apa yang bisa gue belikan pada Papi untuk dia ulang tahun.
HP baru, ah nanti dia ilangin lagi.
Topi pet baru, ah nanti dia ilangin lagi.
Sepatu lari baru, ah nanti dia gak pakai lagi. Bagi papi sepatu cukup satu.
Papi adalah manusia yang sangat sederhana. Bajunya itu-itu melulu kalau nggak dibeliin Mami. Papi tidak pernah suka barang bermerk. Semua barang yang dia pakai akan terlihat mahal, menurut dia.
Papi gak punya pengetahuan soal keindahan. Semua ruangan di rumah gue ditempeli kalender gratisan dari Apotik Bintang Semesta.
Hobi Papi adalah menyenangkan keluarga. Waktu gue kuliah, setiap pagi mobil gue sudah terisi penuh dengan bengbeng dan aqua nangkring di jok depan. Gue bahkan tidak pernah tahu berapa harga bensin premium sampai 2007, saat uang Papi tak lagi sebanyak sebelum pensiun.
Waktu gue mulai diet, di dapur selalu tersedia pisang, pepaya, dan aqua 1,5 liter berbotol-botol.
Hadiah ulang tahun apa yang perlu gue belikan untuk Papi?
Papi gak minta apa-apa. Mungkin cukup kalau gue gak nyusahin Papi.
Hhhh...
Sabtu, 15 Juni 2013
Another Risk
Teringat sebuah pentas drama musikal ambisius yang konon akan tampil di Jakarta Teater selama sebulan. Sebulan menjelang tampil, produsernya mengaku mereka tidak punya investor dan semua pentas dibatalkan hanya dengan kompensasi 50% fee yang baru akan dibayar pada 2015.
Gue tidak mau jadi produser seperti itu. Gue harus tahu bagaimana menghargai waktu dan mimpi orang lain. Bukan hanya merpati yang tak pernah ingkar janji. Produser pun seharusnya demikian.
Tapi bagaimana jika investornya menarik diri? Produser si drama musikal tadi juga mungkin tidak pernah berniat membatalkan karyanya sendiri. But shit happens. Investor bisa jadi mnarik diri, apalagi menjelang Pemilu 2014.
Papi menyarankan sebaiknya film ke tiga dan seterusnya dibayari sendiri. Kalau mau besar, harus berani ambil risiko.
Film pertama dan kedua gue dibayari orang lain dan selalu balik modal. Dengan hanya 'meminjamkan' sebentar 100 juta, dia udah bisa dapat rights cin(T)a. Dengan hanya 'meminjamkan' sebentar 1 miliar, yang lain udah bisa dapat rights Demi Ucok. Tahu akan balik modal, kenapa gak pake uang mami dulu?
Tapi gue takut, bagaimana jika gak balik modal? Investor Demi Ucok gak akan pusing kalau kehilangan 1 atau 2 M. Mami gue tahu uangnya tidak banyak. 2 M besar buat dia. Lebih baik dia pakai jalan-jalan menikmati masa tuanya, bukan dihabiskan untuk memuaskan ego anak bungsu.
Makanya jangan merugi.
Tapi bagaimana gue tahu tabiat penonton Indonesia dan cuaca Jakarta?
Ah itu bukan urusan gua. Ada sutradara lain yang sudah merencanakan semuanya. Tugas gua adalah mempersiapkan film ini sedalam mungkin tapi tetap bisa dicerna bankir2 tak berbudaya seperti Chica.
Today is another risk.
Pipis Berdarah
Bangun-bangun pipis gue berdarah.
Apakah ini ginjal, infeksi virus, atau gonorhea?
Gue ke Anmo Peter Cung, berharap ini anyeng-anyengan biasa.
Gak sembuh.
What did I do? Tiap hari gue minum banyak air dan rajin bolak balik kamar mandi, sekalian menambah langkah pedometer.
Malas ke dokter karena pasti akan diberi segala macam obat-obatan yang belum tentu menyembuhkan.
Badan kita punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Tapi gimana? Biasanya gue banyak minum air putih. Kali ini bingung harus ngapain karena semakin banyak minum, semakin sering pipis, semakin sakit.
Mulai hari ini gak boleh lagi begadang demi apapun. Badan gue harus lebih dihargai.
Gue melihat kursi editor yang dipakai berhari-hari, membuat sakit punggung dan potensi penyakit-penyakit lain. Gak worth it menyiksa diri cuma demi pekerjaan.
Tapi kursi editor bisa 10-13 juta.
Kesehatan kita tak terbeli.
Besok cari kursi bekas.
Kamis, 13 Juni 2013
My fourth 14.
4 bulan sejak 14 Februari 2013, gue menggendut lagi.
14 Februari berat gue 94 kg.
14 Maret 86 kg.
14 April 82 kg.
14 Mei 80 kg.
14 Juni 84 kg.
Padahal sudah 6 minggu shooting Demi Turki berjalan. Seharusnya berat gue sudah turun 4 kg dari 80, bukan malah naik 4 kg.
Kenapa gue semakin menggendut?
1. Gak renang. Gak yoga. Gak lari lagi.
2. Gak makan buah pagi malam lagi.
3. Gak mindful lagi.
Kenapa gue gak renang gak yoga dan gak lari lagi?
Karena banyak kerjaan ngedit.
No.
Karena waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka.
Kenapa gue gak makan buah pagi malam lagi?
Karena pikirannya gak mindful. Semua yang lewat depan mata dilahap.
Kenapa gue gak mindful lagi?
Karena waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka.
Kenapa waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka?
Karena gak mindful.
Lain kali mau berburuk sangka lagi, lebih baik sambil lari.
Run, Atid... Run...
Another Parent
Selasa, 11 Juni 2013
Ever After
Sampai meninggal, Mama tidak juga menceraikan. Pernah sih minta cerai tapi gak dikabulkan Pengadilan karena Bapaknya minta cerai secara Islam padahal nikahnya Katolik.
Melihat mamanya menderita sampai sakit-sakitan demi perkawinan yang tidak layak diperjuangkan, wajar dia tidak percaya manusia boleh diperangkap dalam ikatan yang dosa kalau diputuskan. Apalagi setelah menonton Borgias 2 season, ternyata Paus Vatikan pun punya selingkuhan.
Gue tumbuh di keluarga besar yang bebas perceraian. Dulu ada om gue yang mau cerai karena ketahuan selingkuh, disidang satu keluarga besar dan dimasukin penjara sama bapak gue. Tentunya sekarang mereka tidak jadi bercerai walau gue yakin si om masih selingkuh.
Papi Mami tidak pernah selingkuh. Tapi gue gak yakin mami cinta sejati papi. Papi orang yang baik dan bersyukur. Semua yang diberikan Tuhan padanya akan dirawat dan dimanjakan dengan penuh perhatian.
Mami, sepertinya paling cinta dirinya sendiri. Jadi kalau ada yang merawat dia segitunya pasti akan dipertahankannya.
Pasangan cerai pertama yang gue kenal adalah mama teman SMP gue. Mungkin ayah barunya bisa sayang pada mamanya, tapi bisakah sayang juga pada dia?
Pasangan cerai ke dua di hidup gue ketika gue exchange student di Amerika. Host Mom gue anaknya dua, beda-beda nama keluarga dengan dia. Jadi at least dia sudah cerai tiga kali.
Setelah bercerai dengan Host Dad gue, hidupnya berantakan. Tidak lagi tinggal di rumah berjacuzzi. Cerai terlihat jadi the easy way out, dan setelahnya hidupnya tidak juga lebih baik. Kalau saja dia stick to any of her husband, mungkin dia bisa tua bersama seperti mami dan papi. Gak terlalu happy tapi at least gak berantakan.
Gue gak mau menikah seperti mami dan papi. Gue mau hidup dengan seorang partner yang bisa gue puja dan gue manjakan. Gue bilang cantik tiap hari. Gue teriakkan ke semua orang lewat lagu, film, dan tulisan.
"Trophy dong?" kata si pro perceraian.
A trophy with a hint of slavery. Kalau trophy kan dipajang doang, kalau ini gue pengen dia ngerasa paling cantik sedunia dan rela dijadikan budaknya.
Tapi gue gak pernah kawin. Mungkin Papi, Mami,dan lain-lainya juga pengen bahagiakan pasangannya di awal perkawinan. And long years of marriage brought them here.
Semua orang tahu yang terbaik buat dirinya sendiri. Si mama yang diselingkuhi sampai sakit-sakitan mungkin tidak merasa perlu dikasihani, dia malah merasa telah sukses menjadi istri yang setia sesuai iman Katoliknya. Si Papa yang gemar selingkuh juga tidak perlu dikasihani, mungkin dia telah menjalani hidup yang penuh passion tanpa penyesalan. Om gue yang tetap diam-diam selingkuh juga tidak perlu disalahkan, mungkin itu satu-satunya cara dia agar bisa survive hidup dengan tante gue yang kejam. Tante gue yang kejam juga tidak bisa disalahkan, mungkin itu satu-satunya cara dia menjaga agar perkawinanya tidak retak sesuai doktrin Protestannya. Host Mom yang hidupnya tidak lagi berjacuzzi juga tidak perlu dikasihani, karena mungkin dia bahagia bisa hidup mandiri.
Semua orang punya jalan sendiri, tidak boleh dihakimi.
Lebih baik menyanyi sambil menyiapkan diri untuk cinta yang hanya hari ini.
Senin, 10 Juni 2013
Sepatu Crocs Merah
Hari ini gue menjelajahi Jakarta bersama sepatu crocs merah yang gak mungkin gue beli sendiri. Bentuknya seperti sepatu mbak-mbak kebanyakan. Dan merahnya mencolok mata.
Tapi hari ini gue memakainya dengan bangga dan tanpa lecet di kaki. Beda banget dengan hari kemaren.
Kemaren hari gue diawali dengan boots baru yang membuat gue terlihat edgy dan masa kini. Belum 2 jam menjalani lantai tak berkerikil Kelapa Gading 3, gue sudah meraung minta pulang karena kaki lecet kanan kiri.
Untung Mama Singa baru beli crocs merah, dengan berat hati dipinjami ke gue. Tanpa mikir warnanya gak matching dengan jeans Lazuli Sarae gue, gue langsung pakai.
Ternyata yang nabrak bukan berarti tak serasi.
Dan yang kebanyakan bukan berarti tak nyaman.
Mulai hari ini, gue tidak akan lagi menghakimi sepatu sebelum menanyakan ke kaki gua.
Terima kasih, mama singa.
Dijodohin
"Tadi tension banget ya," kata co-director Demi Turki setelah adegan di butik.
Echa dijodohin Mak Gondut dengan cowo yang gue yakin gak akan menghargai paha gempal Echa. Gue menentang habis-habisan dan malah dituduh Melda dan Chica pengen dijodohin juga.
Gue menepis tangan Chica dengan kesal.
"Tadi cuman adegan film kan?" tanya Chica.
Gue diam saja.
Setelah 30 tahun dijodohin dan ditolak dan membuat self image gue di ada di bawah batas kewarasan, gue tidak mau Echa melewati apa yang gue lewati. Echa butuh lelaki yang bisa menghargai dia apa adanya.
Dan dia juga harus belajar menghargai lelaki apa adanya. Jangan mencari Mr. Right hanya untuk menutupi ketidak pedean dia dan membiarkan The Geek In The Pink dan Skater Boy lewat begitu saja.
Ah kenapa ngurusin Echa? She has her own journey.
Gue harus belajar menghargai manusia apa adanya. Jangan mencari Miss Right hanya untuk menutupi ketidakpedean gue dan membiarkan The Geek In The Pink dan Skater Girl lewat begitu saja.
I love me.
Apocalypse
After Earth, another post-apocalyptic movie buatan Amerika. Semua penghuni Bumi sudah transmigrasi ke planet lain. Bukan karena Soeharto bangkit kembali dan menggalakkan Repelita V, tapi karena Bumi tidak lagi bisa dihuni. Semua mahkluk di bumi sudah berevolusi dengan satu tujuan, memusnahkan spesies rakus bernama Homo Sapiens yang sudah membuat Bumi menderita.
"Kenapa orang Amerika takut banget sama apocalypse?" tanyanya.
Mungkin karena American belum pernah mengalami apocalypse beneran. Karenanya kiamat menjadi begitu menakutkan. Yang kaya 9/11 saja dibuat jadi dama besar dan harus dibalas dengan membabibuta se-dasawarsadengan alasan nyari Osama.
Bandingkan dengan film-film apocalypse Jepang. Akhir dunia dihadaopi dengan hening dan puitis. Tidak ada jerit-jerit histeris dan efek-efek bombastis.
Mungkin karena orang Jepang sudah terbiasa dengan apocalypse. Nagasaki. Hiroshima. Meiji. Pearl Harbor.
Bagaimana kalau orang Indonesia yang bikin film apocalypse?
Setiap hari kita sudah dibombardir dengan apocalypse sehingga sudah imune dengan segala hal yang tidak berjalan seperti seharusnya.
Mungkin filmnnya isinya twitter semua.