Sabtu, 15 Juni 2013
Pipis Berdarah
Bangun-bangun pipis gue berdarah.
Apakah ini ginjal, infeksi virus, atau gonorhea?
Gue ke Anmo Peter Cung, berharap ini anyeng-anyengan biasa.
Gak sembuh.
What did I do? Tiap hari gue minum banyak air dan rajin bolak balik kamar mandi, sekalian menambah langkah pedometer.
Malas ke dokter karena pasti akan diberi segala macam obat-obatan yang belum tentu menyembuhkan.
Badan kita punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Tapi gimana? Biasanya gue banyak minum air putih. Kali ini bingung harus ngapain karena semakin banyak minum, semakin sering pipis, semakin sakit.
Mulai hari ini gak boleh lagi begadang demi apapun. Badan gue harus lebih dihargai.
Gue melihat kursi editor yang dipakai berhari-hari, membuat sakit punggung dan potensi penyakit-penyakit lain. Gak worth it menyiksa diri cuma demi pekerjaan.
Tapi kursi editor bisa 10-13 juta.
Kesehatan kita tak terbeli.
Besok cari kursi bekas.
Kamis, 13 Juni 2013
My fourth 14.
4 bulan sejak 14 Februari 2013, gue menggendut lagi.
14 Februari berat gue 94 kg.
14 Maret 86 kg.
14 April 82 kg.
14 Mei 80 kg.
14 Juni 84 kg.
Padahal sudah 6 minggu shooting Demi Turki berjalan. Seharusnya berat gue sudah turun 4 kg dari 80, bukan malah naik 4 kg.
Kenapa gue semakin menggendut?
1. Gak renang. Gak yoga. Gak lari lagi.
2. Gak makan buah pagi malam lagi.
3. Gak mindful lagi.
Kenapa gue gak renang gak yoga dan gak lari lagi?
Karena banyak kerjaan ngedit.
No.
Karena waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka.
Kenapa gue gak makan buah pagi malam lagi?
Karena pikirannya gak mindful. Semua yang lewat depan mata dilahap.
Kenapa gue gak mindful lagi?
Karena waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka.
Kenapa waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka?
Karena gak mindful.
Lain kali mau berburuk sangka lagi, lebih baik sambil lari.
Run, Atid... Run...
Another Parent
Selasa, 11 Juni 2013
Ever After
Sampai meninggal, Mama tidak juga menceraikan. Pernah sih minta cerai tapi gak dikabulkan Pengadilan karena Bapaknya minta cerai secara Islam padahal nikahnya Katolik.
Melihat mamanya menderita sampai sakit-sakitan demi perkawinan yang tidak layak diperjuangkan, wajar dia tidak percaya manusia boleh diperangkap dalam ikatan yang dosa kalau diputuskan. Apalagi setelah menonton Borgias 2 season, ternyata Paus Vatikan pun punya selingkuhan.
Gue tumbuh di keluarga besar yang bebas perceraian. Dulu ada om gue yang mau cerai karena ketahuan selingkuh, disidang satu keluarga besar dan dimasukin penjara sama bapak gue. Tentunya sekarang mereka tidak jadi bercerai walau gue yakin si om masih selingkuh.
Papi Mami tidak pernah selingkuh. Tapi gue gak yakin mami cinta sejati papi. Papi orang yang baik dan bersyukur. Semua yang diberikan Tuhan padanya akan dirawat dan dimanjakan dengan penuh perhatian.
Mami, sepertinya paling cinta dirinya sendiri. Jadi kalau ada yang merawat dia segitunya pasti akan dipertahankannya.
Pasangan cerai pertama yang gue kenal adalah mama teman SMP gue. Mungkin ayah barunya bisa sayang pada mamanya, tapi bisakah sayang juga pada dia?
Pasangan cerai ke dua di hidup gue ketika gue exchange student di Amerika. Host Mom gue anaknya dua, beda-beda nama keluarga dengan dia. Jadi at least dia sudah cerai tiga kali.
Setelah bercerai dengan Host Dad gue, hidupnya berantakan. Tidak lagi tinggal di rumah berjacuzzi. Cerai terlihat jadi the easy way out, dan setelahnya hidupnya tidak juga lebih baik. Kalau saja dia stick to any of her husband, mungkin dia bisa tua bersama seperti mami dan papi. Gak terlalu happy tapi at least gak berantakan.
Gue gak mau menikah seperti mami dan papi. Gue mau hidup dengan seorang partner yang bisa gue puja dan gue manjakan. Gue bilang cantik tiap hari. Gue teriakkan ke semua orang lewat lagu, film, dan tulisan.
"Trophy dong?" kata si pro perceraian.
A trophy with a hint of slavery. Kalau trophy kan dipajang doang, kalau ini gue pengen dia ngerasa paling cantik sedunia dan rela dijadikan budaknya.
Tapi gue gak pernah kawin. Mungkin Papi, Mami,dan lain-lainya juga pengen bahagiakan pasangannya di awal perkawinan. And long years of marriage brought them here.
Semua orang tahu yang terbaik buat dirinya sendiri. Si mama yang diselingkuhi sampai sakit-sakitan mungkin tidak merasa perlu dikasihani, dia malah merasa telah sukses menjadi istri yang setia sesuai iman Katoliknya. Si Papa yang gemar selingkuh juga tidak perlu dikasihani, mungkin dia telah menjalani hidup yang penuh passion tanpa penyesalan. Om gue yang tetap diam-diam selingkuh juga tidak perlu disalahkan, mungkin itu satu-satunya cara dia agar bisa survive hidup dengan tante gue yang kejam. Tante gue yang kejam juga tidak bisa disalahkan, mungkin itu satu-satunya cara dia menjaga agar perkawinanya tidak retak sesuai doktrin Protestannya. Host Mom yang hidupnya tidak lagi berjacuzzi juga tidak perlu dikasihani, karena mungkin dia bahagia bisa hidup mandiri.
Semua orang punya jalan sendiri, tidak boleh dihakimi.
Lebih baik menyanyi sambil menyiapkan diri untuk cinta yang hanya hari ini.
Senin, 10 Juni 2013
Sepatu Crocs Merah
Hari ini gue menjelajahi Jakarta bersama sepatu crocs merah yang gak mungkin gue beli sendiri. Bentuknya seperti sepatu mbak-mbak kebanyakan. Dan merahnya mencolok mata.
Tapi hari ini gue memakainya dengan bangga dan tanpa lecet di kaki. Beda banget dengan hari kemaren.
Kemaren hari gue diawali dengan boots baru yang membuat gue terlihat edgy dan masa kini. Belum 2 jam menjalani lantai tak berkerikil Kelapa Gading 3, gue sudah meraung minta pulang karena kaki lecet kanan kiri.
Untung Mama Singa baru beli crocs merah, dengan berat hati dipinjami ke gue. Tanpa mikir warnanya gak matching dengan jeans Lazuli Sarae gue, gue langsung pakai.
Ternyata yang nabrak bukan berarti tak serasi.
Dan yang kebanyakan bukan berarti tak nyaman.
Mulai hari ini, gue tidak akan lagi menghakimi sepatu sebelum menanyakan ke kaki gua.
Terima kasih, mama singa.
Dijodohin
"Tadi tension banget ya," kata co-director Demi Turki setelah adegan di butik.
Echa dijodohin Mak Gondut dengan cowo yang gue yakin gak akan menghargai paha gempal Echa. Gue menentang habis-habisan dan malah dituduh Melda dan Chica pengen dijodohin juga.
Gue menepis tangan Chica dengan kesal.
"Tadi cuman adegan film kan?" tanya Chica.
Gue diam saja.
Setelah 30 tahun dijodohin dan ditolak dan membuat self image gue di ada di bawah batas kewarasan, gue tidak mau Echa melewati apa yang gue lewati. Echa butuh lelaki yang bisa menghargai dia apa adanya.
Dan dia juga harus belajar menghargai lelaki apa adanya. Jangan mencari Mr. Right hanya untuk menutupi ketidak pedean dia dan membiarkan The Geek In The Pink dan Skater Boy lewat begitu saja.
Ah kenapa ngurusin Echa? She has her own journey.
Gue harus belajar menghargai manusia apa adanya. Jangan mencari Miss Right hanya untuk menutupi ketidakpedean gue dan membiarkan The Geek In The Pink dan Skater Girl lewat begitu saja.
I love me.
Apocalypse
After Earth, another post-apocalyptic movie buatan Amerika. Semua penghuni Bumi sudah transmigrasi ke planet lain. Bukan karena Soeharto bangkit kembali dan menggalakkan Repelita V, tapi karena Bumi tidak lagi bisa dihuni. Semua mahkluk di bumi sudah berevolusi dengan satu tujuan, memusnahkan spesies rakus bernama Homo Sapiens yang sudah membuat Bumi menderita.
"Kenapa orang Amerika takut banget sama apocalypse?" tanyanya.
Mungkin karena American belum pernah mengalami apocalypse beneran. Karenanya kiamat menjadi begitu menakutkan. Yang kaya 9/11 saja dibuat jadi dama besar dan harus dibalas dengan membabibuta se-dasawarsadengan alasan nyari Osama.
Bandingkan dengan film-film apocalypse Jepang. Akhir dunia dihadaopi dengan hening dan puitis. Tidak ada jerit-jerit histeris dan efek-efek bombastis.
Mungkin karena orang Jepang sudah terbiasa dengan apocalypse. Nagasaki. Hiroshima. Meiji. Pearl Harbor.
Bagaimana kalau orang Indonesia yang bikin film apocalypse?
Setiap hari kita sudah dibombardir dengan apocalypse sehingga sudah imune dengan segala hal yang tidak berjalan seperti seharusnya.
Mungkin filmnnya isinya twitter semua.
Jumat, 07 Juni 2013
Sahabat
"Lo catet kata-kata gue. Gue punya feeling kita pasti nanti jadi sahabat," katanya yakin. Setelah merangkak dari bawah di industri showbiz, dan berkali-kali gagal dan tertipu, dia lebih memilih mengikuti kata hati daripada otak.
Tapi hati harus dilatih, dengan tiap hari meditasi.
Senang sekali kalau bisa bersahabat dengan dia. Artisnya hanya 12, tapi berkualitas.
"Kayanya semua orang sahabat dia deh," kata sahabat gue yang mengamati tweetnya.
Kembali ke bumi, gak lagi geer.
Kamis, 06 Juni 2013
IQ 75
"The World will never be the same once you see it through the eyes of Forrest Gump."
Pertama kali gue melihat dunia melalui pandangan Forrest Gump, gue SMP kelas 1. Gue tertidur di bioskop murah dekat Pasar Kosambi yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Baru bangun ketika Jenny bercinta dengan Forrest Gump dan pergi begitu saja di pagi hari. Atid kecil tidak mengerti kenapa ada yang mau bikin film tak happy ending seperti ini.
19 tahun kemudian, gue kembali melihat dunia lewat mata Forrest Gump lagi. Dua setengah jam berlalu penuh tawa haru dan diakhiri dengan gue pengen bikin film kaya gini.
Dunia di mata Forrest Gump sangat sederhana. IQ-nya 75. Forrest gak akan bisa masuk sekolah dasar biasa kalau saja Sang Mama tidak 'ee ee ee ee' sama Pak Kepala Sekolah.
Forrest kecil tidak bisa berjalan lurus tanpa bantuan kawat kaki. Tapi Mama selalu bilang Forrest itu berbeda memang begitu seharusnya. Kalau Tuhan mau menciptakan semua orang sama, semua pasti diciptakan dengan kawat kaki.
Di akhir film, gue menyadari IQ 75 ternyata berkah luar biasa bagi Forest. Pikirannnya tidak cukup kompleks untuk menciptakan skenario buruk sangka. Dia hanya jalani hidup dengan hati lurus tanpa pretensi. Tau -tau dia jadi bintang football kuliah, pahlawan perang Vietnam, juara pingpong sampai ke Cina, milioner udang, nabi berlari, sampai pemilik saham perusahaan Apple yang dikiranya memproduksi buah-buahan. Jualan 'buah' ini membuatnya tak pernah harus mencari uang lagi.
Terberkahilah semua yang ber-IQ rendah, karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka sombongkan.
Setelah melihat dunia di mata forrest Gump ke dua kalinya, Atid 30 tahun memang tidak lagi sama. Dunia terlihat lebih sederhana. Tidak perlu dipahami, hanya perlu dijalani.
Sayangnya IQ gue 161, sehingga semua yang datang pasti diproses dan dianalisis dan tak jarang menghasilkan kemungkinan-kemungkinan ke depan yang menakutkan.
"Kerjakan saja apa yang sudah Tuhan berikan," kata Mama Forrest sebelum meninggal, tanpa mengutip khotbah-khotbah rumit tentang talenta.
Gue pengen bercerita seperti Forrest Gump.
Hi, I'm Sammaria. Sari Astrid Mananda Maria.
The Wizard
"Mending 1 menit pertama dibuka dengan premis film ini. 4 gondut pengen kurus biar menang taruhan ke Turki."
Komen begini sih masih terbayangkan.
Fiuh. Setelah minggu lalu dikirimi email undangan duduk bareng melihat rough cut Demi Turki, meeting hari ini berbuah senyuman.
Semua terselamatkan berkat seorang penyihir yang menyamar jadi graphic designer.
Erickson.
Di dunia film di mana kesan pertama dan branding itu penting, Erickson tampil tanpa banyak bicara.
Tau-tau karyanya menebus dosa kami pada Kompas TV.
Ntar gue tambahin bonus deh buat Erickson.
Duit dan sesosok Boru Hutapea.