Selasa, 04 Juni 2013

Power Walking


Sepuluh ribu langkah per hari ternyata tidak sulit di Korea. Tanpa usaha, tiap hari pedometer gue menunjukkan angka 11-12 ribu. Kembali ke Bandung, angkanya kembali menjadi 4000-5000.

Di sela-sela deadline seperti ini, tidak mungkin olahraga. Jeleknya kantor di rumah, tidak ada kewajiban power walking memenuhi kuota langkah per hari.  Solusi yang bisa gue lakukan adalah minum air sebanyak-banyaknya agar tiap jam gue harus pipis. Lumayan jalan melintasi kantor ke kamar gue  bolak balik dapat 500 langkah.

Tapi kan sehari gue gak mungkin pipis 20 kali. Paling 10. Karenanya pedometer tak pernah mencapai angka 6000.
 
Kalaupun gue jalan ke luar, belum tentu sehat uga.  Metabolisme lancar, tapi paru-paru dipenuhi polusi udara hasilpembakaran angkutan kota yang bebas uji emisi.

Ah nasib pekerja film tanpa asuransi jiwa seperti gua. Kesehatan menjadi penting karena gue pengen mati tanpa melewati pembakaran uang di rumah sakit. Gue pengen mati sehat plek di hari tua tanpa perlu pompa ini pompa itu dengan biaya ratusan juta.

Mungkin gue harus berhenti melangsingkan Mas Yusuf dan mulai ngepel kamar sendiri.

Another Fat Funny Girls

Tiap episode, gue dapat baju baru dari Lazuli Sarae. Desainnya edgy dan membuat gue terlihat berbudaya.  Satunya 600 ribu jadi kecil kemungkinan  ketemu Mbak-Mbak salon Anata berbaju sama.

Ternyata enak juga di depan kamera. Dapat banyak barang gratisan.

Dapat gym 6 bulan gratis juga!  Kayanya gue di akhir Demi Turki beneran melangsing nih.
 
"All just for the the free gym?" tanyanya concern.

Dia sudah melihat banyak sekali program TV yang membuat wanita tambah terobsesi untuk kurus dan gak suka badannya sendiri. Betapa besarya dosa gua kalau gue manambah daftar acara yang membenarkan kalau cantik itu harus kurus.

Memangnya kenapa kalau gendut?

Kegemukan adalah indikasi kalau gue punya masalah. Bisa fisik, bisa psikologis. Buat gue, gak ada masalah fisik. Gue gak pernah mencapai berat ideal karena gue pemalas dan gak sayang ama badan gue. Gue terlalu stres untuk tidak berembunyi di balik gula-gula dan karbo lainnya.

Tapi  biar gue bisa melangsing tanpa menimbulkan depresi baru, gue harus sadar betul kalau gue gak perlu berubah.

I don't have to be happy. I don' have to be healthy. I dont have to lose weight.

But I do want to. Cause I have the power over my body.

Hati-hati lo pada nambah naksir.

Pemungut Cukai

Digibeta Demi Ucok yang dikirim pulang dari Festival Amsterdam ditahan di bea cukai. Katanya film ini tergolong barang impor, dan harus membayar bea cukai film sebanyak 12 juta.

Impor? Ini kan barang gue yang dikembalikan festival. Bukan buat diperdagangkan. 

Ternyata semua barang yang masuk ke Indonesia dianggap barang impor.

Peraturan bea cukai entah buatan menteri pintar mana yang gak masuk logika ini benar-benar merusak hari. Satu hari gue dihabiskan bolak balik Bea Cukai dan Fed ex  melalui  panasnya cengakreng.

Drama bea cukai ini menambah daftar panjang kisah kelam perfilman Indonesia yang belum untung sudah dipajak. Boro-boro memimpikan pemerintah mengembalikan pajak tontonan dengan menyekolahkan filmmaker, atau memberi subsidi bikin film seperti negara-negara beradab lainnya, filmmaker di ini malah dibebani pajak berlipat even sebelum filmnya untung.

Pas minjem alat, bayar pajak. Pas nyewa kru, bayar pajak. Bikin copy distribusi film, bayar pajak. Pas jualan tiket di bisoskop,  bayar pajak. Jual ke TV, bayar pajak.

Tidak ada duit yang tidak dipalak kawanan Gayus Tambunan dan dkk.

Baru tahu kenapa di Alkitab, pemungut cukai digolongkan kepada kawanan terhina bersama perempuan Sammaria.

Tiba-tiba datang pemberitahuan dari Bea Cukai, kali ini digibeta Demi Ucok dilepaskan. Lain kali jangan lupa memberi tahu kalau barang itu akan diimpor balik.

Perempuan Sammaria melengos. Sesama pendosa tidak boleh saling menghakimi.

Pijat Kurus


"Ayo kita ke pijat kurus...

Badan Kurus tanpa usaha..."

Chica bersenandung riang, siap-siap dipijat kurus.

Siapa bilang Pijat Kurus tanpa usaha?  Pertama kali gue pijat kurus, gue langsung curiga sejak di ruang tamu gue dihadang foto A1 pemilik klinik yang tak kurus.

Masuk ke dalam ruangan, gue dijajarkan bersama deretan ibu-ibu berlemak telanjang telungkup dan dipijit-pijit dengan tidak berpri-kelemakan. Yang terperas tidak hanya  lemak tapi juga sel-sel  darah putih dan sisa-sisa kesabaran. 

Pulangnya gue dibekali obat-obatan yang konon tidak membuat lapar berhari-hari. Memang benar tidak lapar.  Tapi di hari ke tiga selangkangan mulai dihadiri bercak-bercak darah padahal belum waktunya datang bulan.

Bisa kurus tanpa usaha? Bisa! Hanya bayarnya pakai sedikit liver dan sedikit ginjal.

Mungkin lebih baik berusaha, agar kita teap bersenandung riang dengan ginjal dan liver yang sempurna.

Senin, 03 Juni 2013

Jamila


Oh... da Jamila da Jamila da bintang pilim India
Boru Ni kalibat parumaen ni pandita
Asa godang do halak sega dibahen ho da Jamila
Diriphu anak boru ape naung ina-ina, oh Jamila...

Namanya bukan Jamila, tapi Imelda. Dia bukan bintang pilim India. Bukan anak kalibat, apalagi menantunya pendeta.

Tapi banyak laki-laki patah hati dibuatnya. Banyak yang tertipu mengira dia masih anak gadis, ternyata sudah ina-ina.

Tapi dulu.

Sekarang  Imelda bergoyang asyik diikuti lagu Jamila.  Walaupun dengan badan yang dua kali lipat masa lalu,  percaya dirinya masih seperti Imelda versi kilo 57.  Goyangnya gak kalah sama bintang pilim India.

Terbayang Imelda jadi bintang video klip Jamila di  Demi Turki. Harus banget ada lagu ini.

Hanya ternyata Jamila ini gak tahu siapa yang punya. Ada yang bilang Roy Sagala. Tihang Gultom. Ada juga yang bilang NN. 

Oh Jamila... Jamila. Ternyata tak hanya kamu yang membingungkan dan diperebutkan banyak lelaki. Lagumu pun demikian.

Patah Hati dan Herbalife


"Aturannya kan harus sehat! Gak boleh pakai obat-obatan," kata Bang Deden mengingatkan aturan maen Demi Turki mendengar Melda minum Herbalife tiap hari.

Dalam 8 bulan, kami harus turun 15 kilo seorang. 2 kilo sebulan seharusnya tidak mengancam kesehatan. Tapi 4 bulan berlalu, dan ternyata 4 Gondut belum juga mengurus.  Kecuali Atid yang patah hati dan turun 6  kg dalam seminggu.

Untung saja patah hati tidak termasuk dalam obat-obatan terlarang dalam pertaruhan Demi Turki, sehingga Atid tetap bisa melenggang kurus tanpa kena diskualifikasi.

Sekarang tinggal 4 bulan lagi. Sebenarnya menurunkan 15 kg dalam 4  bulan pun masih tidak membahayakan kesehatan. Dengan kedisiplinan dan olah raga, 4 kg sebulan bisa dicapai tanpa Herbalife.

"Ini kan herbal, bukan obat-obatan," tangkis Melda.

Akhirnya Deden menyerah. Asal tidak dikonsumsi pagi siang malam sebagai pengganti makanan, Herbalife tetap diperbolehkan.

Tapi gue tetap gak tertarik minum Herbalife. Bukan karena jelek bagi kesehatan tapi karena jelek bagi keuangan.

Pisang Lumut sesisir cuma 9000 ribu, bisa untuk sarapan 4 hari. Sementara Herbalife sehari 30 ribu.

Tapi paling  murah tetap patah hati. Hanya sayang, datang sepaket dengan ambeien.

5 Minutes of Me

Gue makan terus menerus. Kerjaan gue gak fokus. Gampang tersinggung dan menyalahkan sekitar.

Ini semua pasti karena Jakarta. Pemandangan kemacetan tanpa aturan dan jalan layang tak terselesaikan melintang siap mencederai kepala  mengacaukan inner peace dan kestabilan jiwa mahkluk-mahkluk eksternal seperti gua.  Gua butuh melihat yang teratur dan nyaman agar bisa bekerja dan menjaga kondisi badan dan pikiran tetap prima.

Tapi ternyata bukan salah ibu kota. Di Bandung pun gue mulai terganggu dan mengunyah tanpa henti. So there must be something wrong inside me, yang gak ada pengaruhnya dengan kinerja Jokowi.

Bagaimana cara agar gue bisa bekerja lebih efektif? 

Gue salah satu manusia paling beruntung yang tidak pernah perlu bekerja. Gue bersenang-senang  membuat karya yang gue suka dan dibayar dengan uang dan penghargaan.  Kenapa pekerjaan semenyenangkan ini tetap membawa tekanan?

Maybe I already work my body too hard. Badan gue bukan mesin. Dia butuh istirahat. Setiap jam. 5 Minutes of ME time. Sisanya gue bisa kembali fokus mengerjakan apapun yang dengan senang hati gue lakukan ketika badan tidak depresi.

5 menit ini bisa gue pakai untuk apa aja yang memanjakan badan dan pikiran gua. Bisa buat mendengarkan wahyu berlagu Jason Mraz, atau curhatan  New Radicals, atau jalan-jalan pipis ke kamar gue yang jauh dari kegalauan Kepompong Gendut.

Daripada bekerja 6 jam terus menerus, baru istirahat setengah jam, lebih baik gue istirahat 5 menit tiap jam. Biar badan gue lebih merasa sehat dan disayang, gak cuma dipecut terus berkarya berkarya dan berkarya as if hidup hanya untuk berkarya.  Badanku butuh berdendang bersama Jason Mraz.

Seleai berdendang,  bodi ini akan lebih hepi diajak bekerja. 55 Menit gue akan lebih bermanfaat.

From this minute on, I will enjoy every minute of my life.

Wedges, Crocs, dan Stilleto


Di atas stiletto 12 cm, dia berjalan dengan santai.

"Gue cuma pakai ini kalau ada acara doang. Sehari-hari ya gue pake wedges."

Sementara wedges buat gue sudah prestasi besar, lambang kewanitaan tingkat tinggi. Suatu hari gue terpaksa beli ankle boots wedges di saat kaki gue sudah beku akibat berjalan dengan sepatu basah di antara salju Perancis. Ternyata  wedges memperpanjang bagian bawah tubuh gue sehingga terlihat lebih ramping dan proporsional.  Tapi tidak buat dipakai sehari-hari melewati pedestrian tak kaki-awi di Jakarta. 

Sehari-hari gue pake sendal crocs item yang nyaman dan cocok dipakai untuk  semua jenis baju.

Hanya menurut gua, tentunya.

Banyak handai taulan yang terobsesi menggunting sendal crocs gue yang malang biar gak dipakai lagi.

Ada yang memberikan sepatu wakai kuning berdaun-daun hijau sebagai hadiah ulang tahun. Apakah ini cara Luckus mengatakan dia bosan liat sendal crocs gua tanpa silet dan gunting?

A woman is judged by the shoes she choose.

Apakah daily use of crocs hitam mendepak gue dari jejeran wanita sophisticated bercita rasa masa kini?

Apakah gue harus terlihat lebih ramping dan proporsional setiap hari dengan mengorbankan stuktur tulang telapak kaki?

Adakah sepatu nyaman yang bikin gue sophisticated ?

Ah terima saja memang gue bukan wanita sophisticated.

*kembali ke crocs hitam.

Menghakimi Opung Mak

Opung Mak memberikan cincin tunangannya kepada cucu kesayangan, Bang Deden. Tentunya harus laki-laki. Untuk yang perempuan, diberikanlah 3 gelang mas 24 karat kepada mereka yang paling baik  : Chica, Echa, dan gua.

Dari 50an cucu Opung, yang dikasih gelang hanya tiga. Chica dan Echa memang berbakti. Gue?

Apa karena gua mijit-mijit Opung tiap ketemu? Itu kan karena gue malas ngobrol ama Opung. Yang dia tanyakan selalu sudah makan kau? Makan kau! Nanti kurus!

Atau menceritakan betapa brengseknya Opung Pak, kurang ajarnya janda belakang, dan sederet kejelekan bodat lainnya. Gak ada yang perhatian padanya.

Padahal dulu Opung gak negatif. Opung yang gue inget di masa kecil selalu baik dan datang membawa hadiah.

"Dari dulu emang kayak gitu dia!" seru salah satu cucu yang sempat dimaki-maki pelacur karena satu kali waktu SMP  dia pulang malam.

Mungkin memang gue gak kenal Opung. Gue selalu tinggal di Luar Jakarta. Mungkin karena itu ingatan gue soal Opung bukan nenek pemaki-maki yang lidahnya setajam bulu babi.

Dalam hati gue berjanji, gue gak mau self centered. Kalau nggak tuanya akan jadi seperti Opung. Selalu berasa gak disayang. Selalu berasa orang lain bodat.

Tapi gue gak cukup tahu Opung untuk bisa menghakimi.

Yang gue tahu katanya Opung anak kapala negeri. Di saat wanita belum berekolah, dia sudah tamat sekolah guru. Ditambah masa itu masyarakat Batak masih menganggap gendut dan dada besar sebagai  lambang kesuburan, sehingga Opung Mak menjadi kembang desa. Tapi Opung Mak menolak dijodohkan. Dia memilih malu karena  terlambat kawin dan menunggu pujaan hatinya, si Managara Washington Simanjuntak.

Di masa itu, gadis seprogressive Kartini saja akhirnya menyerah dijodohkan dengan Bupati beristri banyak. Opung Mak sudah bisa punya sikap dan berkata tidak.

Tapi sekarang Opung Mak  selalu mengeluh Opung Pak hidung belang yang main mata sama janda sebelah. Baguslah dia mati.

Di waktu lain dia selalu bersenandung lagu merindu sambil memandang mesra foto Opung Pak. "Na sonang do hita na dua..."

Sudah 20 tahun sejak Opung Pak meniggalkan dia. Berkali-kali ada indikasi dia segera menyusul kekasihnya, tapi tidak juga.

Papi sempat berpikir  gak mau hidup lama-lama dan ngerepotin orang. Apakah Papi merasa direpotin Opung? Apakah Opung merasa Papi ngerasa direpotin?

Gue sempat berpikiran kalau Opung meninggal sekarang, episode 1 Demi Turki akan menjadi lebih festive. Terbayang footage kematian Batak yang dirayakan 3 hari 3 malam dengan tarian. A great way to start a story.

Dan cucu seperti ini yang dia beri gelang 24 karat. Pantas saja doi nyinyir.

Gue kembali memijit Opung, sambil membayangkan gue 70 tahun lagi ngapain. Mungkin gua masih aktif jalan-jalan membuat  film dan menyemangati manusia-manusia tua yang ingin mengejar mimpi.

Atau mungkin gue akan bersungut-sungut betapa anak muda tidak menghargai  film gua.

Selagi muda, jangan hakimi yang tua. Lo belum pernah tua. Lo gak tahu rasanya jadi dia.

Tuhan saja gak menghakimi, kenapa gue merusak diri sendiri dengan menghakimi? Rempong deh ah.

Lebih baik mengajak Opung menyanyi.

"Na sonang do hita na dua..."

Irama TV

Editor Sakit Perut. Sutradara panik. TV sudah mewanti-wanti, Rabu harus sudah jadi.

Pertama kalinya gue mengerjakan TV,  gue kira semua akan lancar. Isinya tentang gue yang pengen kurus, gue cuma perlu relax, jujur, dan keep a sense of humor in the shotlist. 

Ternyata tak ada kata relax di TV. Kita berlomba dengaan waktu. 15 Juni harus tayang, episode 1 belum terjabarkan.

Siapa suruh bikin program personal di TV?  Director lain bisa mengerjakan 1 episode dalam waktu 5 hari jadi. Gue gak bisa karena semua gue pikirkan dan jabarkan. Ini bukan proyek kejar tayang semata. Ini hidup gua dan saudara-saudara gua.

Terbiasa menulis film 80 menit berbulan-bulan, mengerjakan 2 episode x 24 menit dalam 3 hari bikin gue panik.

Ditambah editor sakit.

Dan komputer minta beli baru.

Di saat-saat menjelang deadline seperti ini, bukannya menulis, gue makan mengunyah keripik dan karbo tak kompleks lainnya sepanjang hari.

Profesionalisme dan masa depan gue dipertanyakan. Seharusnya gue mempersiapkan editor yang bisa menggantikan. Seharusnya gue bisa mengedit Avid. Jangan sampai tanpa jalan keluar seperti hari ini.

Atid, fokus. Kerjakan yang bisa dikerjakan. Sedikit demi sedikit. Mengunyah karbo tak bergizi tak menambah selesai.

Ah mungkin spesies personal kaya gue tak sebaiknya masuk ke TV.

Teringat pertama kali mengerjakan film cin(T)a, gue tertidur bermimpi shooting, terbangun teringat shotlist, dan terus berlanjut hingga setelah shooting berakhir. Gue berpikir gak akan lagi gue bikin film.

Dan sampai hari ini masih bikin film.

You are doing good, sayang. Don't be too hard on yourself, so you won't be too hard on your editor.

The worst thing you would get is not getting any TV job. And it is not the end of the world.  Selama masih ada Youtube, lo masih bisa bikin film.

Just focus on what you wanna say.