Senin, 03 Juni 2013

5 Minutes of Me

Gue makan terus menerus. Kerjaan gue gak fokus. Gampang tersinggung dan menyalahkan sekitar.

Ini semua pasti karena Jakarta. Pemandangan kemacetan tanpa aturan dan jalan layang tak terselesaikan melintang siap mencederai kepala  mengacaukan inner peace dan kestabilan jiwa mahkluk-mahkluk eksternal seperti gua.  Gua butuh melihat yang teratur dan nyaman agar bisa bekerja dan menjaga kondisi badan dan pikiran tetap prima.

Tapi ternyata bukan salah ibu kota. Di Bandung pun gue mulai terganggu dan mengunyah tanpa henti. So there must be something wrong inside me, yang gak ada pengaruhnya dengan kinerja Jokowi.

Bagaimana cara agar gue bisa bekerja lebih efektif? 

Gue salah satu manusia paling beruntung yang tidak pernah perlu bekerja. Gue bersenang-senang  membuat karya yang gue suka dan dibayar dengan uang dan penghargaan.  Kenapa pekerjaan semenyenangkan ini tetap membawa tekanan?

Maybe I already work my body too hard. Badan gue bukan mesin. Dia butuh istirahat. Setiap jam. 5 Minutes of ME time. Sisanya gue bisa kembali fokus mengerjakan apapun yang dengan senang hati gue lakukan ketika badan tidak depresi.

5 menit ini bisa gue pakai untuk apa aja yang memanjakan badan dan pikiran gua. Bisa buat mendengarkan wahyu berlagu Jason Mraz, atau curhatan  New Radicals, atau jalan-jalan pipis ke kamar gue yang jauh dari kegalauan Kepompong Gendut.

Daripada bekerja 6 jam terus menerus, baru istirahat setengah jam, lebih baik gue istirahat 5 menit tiap jam. Biar badan gue lebih merasa sehat dan disayang, gak cuma dipecut terus berkarya berkarya dan berkarya as if hidup hanya untuk berkarya.  Badanku butuh berdendang bersama Jason Mraz.

Seleai berdendang,  bodi ini akan lebih hepi diajak bekerja. 55 Menit gue akan lebih bermanfaat.

From this minute on, I will enjoy every minute of my life.

Wedges, Crocs, dan Stilleto


Di atas stiletto 12 cm, dia berjalan dengan santai.

"Gue cuma pakai ini kalau ada acara doang. Sehari-hari ya gue pake wedges."

Sementara wedges buat gue sudah prestasi besar, lambang kewanitaan tingkat tinggi. Suatu hari gue terpaksa beli ankle boots wedges di saat kaki gue sudah beku akibat berjalan dengan sepatu basah di antara salju Perancis. Ternyata  wedges memperpanjang bagian bawah tubuh gue sehingga terlihat lebih ramping dan proporsional.  Tapi tidak buat dipakai sehari-hari melewati pedestrian tak kaki-awi di Jakarta. 

Sehari-hari gue pake sendal crocs item yang nyaman dan cocok dipakai untuk  semua jenis baju.

Hanya menurut gua, tentunya.

Banyak handai taulan yang terobsesi menggunting sendal crocs gue yang malang biar gak dipakai lagi.

Ada yang memberikan sepatu wakai kuning berdaun-daun hijau sebagai hadiah ulang tahun. Apakah ini cara Luckus mengatakan dia bosan liat sendal crocs gua tanpa silet dan gunting?

A woman is judged by the shoes she choose.

Apakah daily use of crocs hitam mendepak gue dari jejeran wanita sophisticated bercita rasa masa kini?

Apakah gue harus terlihat lebih ramping dan proporsional setiap hari dengan mengorbankan stuktur tulang telapak kaki?

Adakah sepatu nyaman yang bikin gue sophisticated ?

Ah terima saja memang gue bukan wanita sophisticated.

*kembali ke crocs hitam.

Menghakimi Opung Mak

Opung Mak memberikan cincin tunangannya kepada cucu kesayangan, Bang Deden. Tentunya harus laki-laki. Untuk yang perempuan, diberikanlah 3 gelang mas 24 karat kepada mereka yang paling baik  : Chica, Echa, dan gua.

Dari 50an cucu Opung, yang dikasih gelang hanya tiga. Chica dan Echa memang berbakti. Gue?

Apa karena gua mijit-mijit Opung tiap ketemu? Itu kan karena gue malas ngobrol ama Opung. Yang dia tanyakan selalu sudah makan kau? Makan kau! Nanti kurus!

Atau menceritakan betapa brengseknya Opung Pak, kurang ajarnya janda belakang, dan sederet kejelekan bodat lainnya. Gak ada yang perhatian padanya.

Padahal dulu Opung gak negatif. Opung yang gue inget di masa kecil selalu baik dan datang membawa hadiah.

"Dari dulu emang kayak gitu dia!" seru salah satu cucu yang sempat dimaki-maki pelacur karena satu kali waktu SMP  dia pulang malam.

Mungkin memang gue gak kenal Opung. Gue selalu tinggal di Luar Jakarta. Mungkin karena itu ingatan gue soal Opung bukan nenek pemaki-maki yang lidahnya setajam bulu babi.

Dalam hati gue berjanji, gue gak mau self centered. Kalau nggak tuanya akan jadi seperti Opung. Selalu berasa gak disayang. Selalu berasa orang lain bodat.

Tapi gue gak cukup tahu Opung untuk bisa menghakimi.

Yang gue tahu katanya Opung anak kapala negeri. Di saat wanita belum berekolah, dia sudah tamat sekolah guru. Ditambah masa itu masyarakat Batak masih menganggap gendut dan dada besar sebagai  lambang kesuburan, sehingga Opung Mak menjadi kembang desa. Tapi Opung Mak menolak dijodohkan. Dia memilih malu karena  terlambat kawin dan menunggu pujaan hatinya, si Managara Washington Simanjuntak.

Di masa itu, gadis seprogressive Kartini saja akhirnya menyerah dijodohkan dengan Bupati beristri banyak. Opung Mak sudah bisa punya sikap dan berkata tidak.

Tapi sekarang Opung Mak  selalu mengeluh Opung Pak hidung belang yang main mata sama janda sebelah. Baguslah dia mati.

Di waktu lain dia selalu bersenandung lagu merindu sambil memandang mesra foto Opung Pak. "Na sonang do hita na dua..."

Sudah 20 tahun sejak Opung Pak meniggalkan dia. Berkali-kali ada indikasi dia segera menyusul kekasihnya, tapi tidak juga.

Papi sempat berpikir  gak mau hidup lama-lama dan ngerepotin orang. Apakah Papi merasa direpotin Opung? Apakah Opung merasa Papi ngerasa direpotin?

Gue sempat berpikiran kalau Opung meninggal sekarang, episode 1 Demi Turki akan menjadi lebih festive. Terbayang footage kematian Batak yang dirayakan 3 hari 3 malam dengan tarian. A great way to start a story.

Dan cucu seperti ini yang dia beri gelang 24 karat. Pantas saja doi nyinyir.

Gue kembali memijit Opung, sambil membayangkan gue 70 tahun lagi ngapain. Mungkin gua masih aktif jalan-jalan membuat  film dan menyemangati manusia-manusia tua yang ingin mengejar mimpi.

Atau mungkin gue akan bersungut-sungut betapa anak muda tidak menghargai  film gua.

Selagi muda, jangan hakimi yang tua. Lo belum pernah tua. Lo gak tahu rasanya jadi dia.

Tuhan saja gak menghakimi, kenapa gue merusak diri sendiri dengan menghakimi? Rempong deh ah.

Lebih baik mengajak Opung menyanyi.

"Na sonang do hita na dua..."

Irama TV

Editor Sakit Perut. Sutradara panik. TV sudah mewanti-wanti, Rabu harus sudah jadi.

Pertama kalinya gue mengerjakan TV,  gue kira semua akan lancar. Isinya tentang gue yang pengen kurus, gue cuma perlu relax, jujur, dan keep a sense of humor in the shotlist. 

Ternyata tak ada kata relax di TV. Kita berlomba dengaan waktu. 15 Juni harus tayang, episode 1 belum terjabarkan.

Siapa suruh bikin program personal di TV?  Director lain bisa mengerjakan 1 episode dalam waktu 5 hari jadi. Gue gak bisa karena semua gue pikirkan dan jabarkan. Ini bukan proyek kejar tayang semata. Ini hidup gua dan saudara-saudara gua.

Terbiasa menulis film 80 menit berbulan-bulan, mengerjakan 2 episode x 24 menit dalam 3 hari bikin gue panik.

Ditambah editor sakit.

Dan komputer minta beli baru.

Di saat-saat menjelang deadline seperti ini, bukannya menulis, gue makan mengunyah keripik dan karbo tak kompleks lainnya sepanjang hari.

Profesionalisme dan masa depan gue dipertanyakan. Seharusnya gue mempersiapkan editor yang bisa menggantikan. Seharusnya gue bisa mengedit Avid. Jangan sampai tanpa jalan keluar seperti hari ini.

Atid, fokus. Kerjakan yang bisa dikerjakan. Sedikit demi sedikit. Mengunyah karbo tak bergizi tak menambah selesai.

Ah mungkin spesies personal kaya gue tak sebaiknya masuk ke TV.

Teringat pertama kali mengerjakan film cin(T)a, gue tertidur bermimpi shooting, terbangun teringat shotlist, dan terus berlanjut hingga setelah shooting berakhir. Gue berpikir gak akan lagi gue bikin film.

Dan sampai hari ini masih bikin film.

You are doing good, sayang. Don't be too hard on yourself, so you won't be too hard on your editor.

The worst thing you would get is not getting any TV job. And it is not the end of the world.  Selama masih ada Youtube, lo masih bisa bikin film.

Just focus on what you wanna say.

Tahun Baru

Keluarga bagi gua adalah wajah-wajah yang hanya gue temui tiap  malam Tahun Baru di Rumah Opung. Anak Opung ada sembilan, cucunya lima puluhan. Keluarga gue satu-satunya yang gak tinggal di Jakarta. Anak-anak Jakarta ini sepertinya lebih bahagia dari gua. Lebih terbuka, dan lebih bisa berbicara.

Setiap malam tahun baru, gua biasanya makan rendang dan  es krim walls kiriman tetangga sebelum diam-diam menyelinap ke atas  menghabiskan baca buku seharian di beranda atas. Baru turun kembali  ketika Opung bagi-bagi duit kepada deretan cucu. Sebenarnya gue berharap bisa menghabiskan malam tahun baru bersama sahabat-sahabat sekolah yang sepertinya lebih mengerti gua, tapi tidak bisa. Setiap Batak wajib bertahun baru di Rumah Opung.

Beranjak dewasa,  gue ada bahan obrolan. Gue bukan lagi anak daerah yang gak punya cerita. Sekarang gue baru pulang dari Amerika. Tapi sepertinya  mereka tetap tidak suka ngobrol dengan gua. Gue berubah dari anak daerah yang pemalu menjadi anak Amerika yang belagu.

Semakin dewasa, jumlah cucu semakin berkurang. Sebagian mulai menikah dan bertahun baru di rumah mertua mereka. Walaupun udah menjelang tiga puluh, gue tetap Batak dan gue tetap bertahun baru ke Rumah Opung.

Tahun ini isinya tinggal 2 keluarga, keturunan 2 anak lelaki Opung. Papi dan Bapak Tua.

Keluarga Papi tetap datang lengkap karena gua dan Deden belum menikah. Chica mertuanya Jawa, gak wajib ngumpul tiap Tahun Baru.

Mak Gondut sebagai sintua  akan memimpin kebaktian dan membagikan fotokopian acara kebaktian template dari HKBP pusat di kampung sana. Keluarga bernyanyi tanpa gairah tanpa alat musik.

Hanya Opung yang berani bilang 'aminnnn' di saat Mak Gondut belum selesai berdoa dan diamini seluruh keluarga. Tentunya hanya dalam hati.

Siangnya lebih meriah. Bang Pinon bergitar diiringi suara-suara Namboru melagukan medley Alusiau Anjuahu Molo adong na salah blabla bla, bersaing dengan adzan mesjid tetangga.

Opung akan terduduk termangu-mangu, tidak lagi membagi-bagikan sangu. Sekarang ingatannya mulai terganggu. Dia tidak tahu kalau Jepang sudah berlalu.
 
Tahun depan tidak ada yang tahu apakah Opung belum berlalu.

Jika Opung berlalu, ke manakah gue bertahun baru? Kebut-kebutan dan party-party bersama sahabat yang gue impikan dulu tidak lagi menarik hati. Sahabat-sahabat itu pun sudah menikah dan tidak lagi saling mengerti. Mungkin mereka ada yang menikah dengan Batak jadi tak bisa keluar pas Tahun Baru.

Tahun ini gue tiga puluh. Mungkin sudah waktunya gue menentukan di mana gue bertahun baru. Tidak lagi di Rumah Opung.

Tapi ke mana gue harus pergi?

Menang

In a culture so obsessed with winning, gue gak suka jadi kalah.

Saat nama Herwin Novianto dibacakan, gue gak merasa kalah. Gue aware kalau piala-piala  ini ada maunya.  Herwin Novianto bukan sutradara yang lebih baik dari Hanung Bramantyo. Atau Garin Nugroho. Atau Sammario.

Tapi ketika dulu nama gue yang dibacakan,  sempat ada perasaaan senang dan harap-harap kalau memang gue lebih baik dari yang lainnya. Setidaknya sekarang gue ada pengakuan.

Apakah semua pemenang sebenarnya loser inside? Butuh pengakuan baru bisa bahagia? Butuh orang lain lebih buruk dari kita.

Adakah cara lain membahagiakan diri selain menang dan mengalahkan orang lain?

Memenangkan orang lain. Melihat Mak Gondut menang, gue merasa lebih menang dari semua pemenang. Gak semua orang bisa menghantar emaknya memenangkan Piala.

Apakah gue anak berbakti  atau another loser inside? Apakah orang lain kurang berbakti kalau gak memenangkan piala buat emaknya?

In a culture so obsessed with winning, satu-satunya cara biar lo bisa bilang menang itu gak penting tanpa terdengar jadi sore loser  adalah ketika lo pemenang.

Dan hari ini gue bukan pemenang, jadi sebaiknya gue diam aja.

Tapi gue anak pemenang.

Bangga?

Banget.

Ah, emang loser inside.

Make Up

Snow BB Soothing Cushion

Lumi Block Primer

Power Essential Skin Refiner

Snow BB Creaam SPF 30+ PA ++

Dan deretan nama-nama pesanan Chica di Korea yang tidak menunjukkan apa fungsinya. Tenyata Snow BB Something Cushion itu bedak dan Block Lumi Primer itu foundation.

"It's not foundation. The foundation is Snow BB Cream SPF 30+ PA ++"

Gue mengangguk pura-pura mengerti.

Di sepanjang satu jalan kecil ini, gue sudah menemukan setidaknya 5 brand make up Korea damping berdampingan jualan tanpa ada tanda-tanda kekurangan pembeli. Nature Republic.  Laneige.  Innisfree. Skinfood. Misha.  Belum lagi brand impor Face Shop Body Shop Estee Lauder dan dengan nama-nama beragam hanya untuk menyebut bedak.

Dasar make up jaman sekarang. Bedak aja kok nyebutnya beda-beda. Gak boleh sama sama toko tetangga.

Belok sedikit, di jalan sebelah sudah berderet toko brand-brand make up yang sama.  Nature Republic.  Laneige.  Innisfree. Skinfood. Misha. Face Shop. Body Shop. Estee Lauder.

Sepertinya selama wanita masih insecure, pemerintah Korea tetap tidak akan pernah kekurangan devisa.

Baru sehari pakai make up, sudah muncul 2 jerawat di pipi gua. Jangan khawatir. Untuk mengobatinya, Laneige sudah menyiapkan obatnya yang akan membuat pori-pori tidak lagi tersumbat dan sekalian pembersihnya, yang sebaiknya dipakai tiap kita keringetan. Tentunya abis dibersihin pake make up lagi yaaaaa.

Gue menghela napas panjang dan berjanji besok gak akan pake make up lagi.

Gue cantik apa adanya.  

Dengan sedikit Sun block SPF 30 tiga puluh ribuan. Umur udah 30, Mbak. Butuh perlindungan.

Minggu, 02 Juni 2013

Out For Good

Gue pengen keluar dari  Indonesia. Gue pengen belajar bikin film.

Tapi film gue kurang arthouse untuk minta beasiswa dari festival, dan kurang komersil untuk berharap dilirik produser Hollywood.

Banyak filmmaker Iran minta suaka ke Paris, tapi negara gue kurang represif biar gue bisa kabur.

Pilihan terbaik saat ini adalah mengerjakan tugas gue sebaik-baiknya: Demi Turki, In The Absence Of The Sun, dan Dongeng Bawah Angin.

Mudah-mudahan angin akan membawa gue ke Paris.

Atau Amsterdam. New York. Seoul. Melbourne. Bombay. Toronto. Hong Kong. Bangkok.

Anywhere yang infrastruktur filmnya maju dan gay marriage legal.

Paris dong?

Sabtu, 01 Juni 2013

Narasi Frustasi

Mindfulness shows in everything you do. Not only eating.

"Hari ini semua lo makan," kata co-director lain mengingatkan, melihat gue menyambar kripik tempe sambil mengawasi monitor editor.

Hari ini dimulai dengan sebuah mindful banana sesuai doktrin breakfast Food Combining. Rencananya gue akan mulai merangkai narasi episode 3 Demi Turki dengan tenang agar Rabu nanti Kompas gak freak out ngeliat another rough cut tanpa storytelling yang gripping.

Begitu sampai di kepompong yang gendut dan berantakan, I lost my focus.

Oleh-oleh buat Daud ikut gue cicip. Kue-kue pasar yang rasanya biasa aja gue makan tiga. Seloyang pizza + french fries Daud + seperempat Calzone Deden + mojitos hijau artifisial + sisa milkshake Deden ikut masuk perut tanpa awareness. Pulang-pulang langsung menyambar tahu dan tempe goreng,dimakan sambil jalan naik tangga. Seporsi besar bihun goreng Naripan pun langsung disantap diiringi kicauan Mak Gondut. Diakhiri dengan kripik tempe dan sebuah peringatan dari Daud.

Gue menarik nafas panjang, mencoba fokus lagi. Biar gue gak merusak tubuh dan pikiran dengan racun-acun yang rasanya sebenarnya tak membuat perasaan bahagia, malah semakin frustasi. Tidak seperti soft tofu sopu dan green tea cookie kemarin. Hmmm...

Gue kembali ke kamar, meninggalkan para editor yang bekeja keras dengan alasan gak bisa menulis kalau berantakan.

Di kamar, gue tertidur dan baru bangun 11 jam kemudian.

Tidur dan makan kebanyakan: tanda-tanda frustasi?

Atid, don't be so tough on yourself.  You just had 7 days of  your first time being a jury in a festival far away from home,  a long hour flight, and a bus ride from Jakarta that takes longer than the flight. Thanks to kemacetan Jakarta di malam Jumat.

You deseve a lot of food and a lot of sleep. 

Don't judge yourself, so you won't judge others.

I love you.

Narasi Frustasi

Mindfulness shows in everything you do. Not only eating.

"Hari ini semua lo makan," kata co-director lain mengingatkan, melihat gue menyambar kripik tempe sambil mengawasi monitor editor.

Hari ini dimulai dengan sebuah mindful banana sesuai doktrin breakfast Food Combining. Rencananya gue akan mulai merangkai narasi episode 3 Demi Turki dengan tenang agar Rabu nanti Kompas gak freak out ngeliat another rough cut tanpa storytelling yang gripping.

Begitu sampai di kepompong yang gendut dan berantakan, I lost my focus.

Oleh-oleh buat Daud ikut gue cicip. Kue-kue pasar yang rasanya biasa aja gue makan tiga. Seloyang pizza + french fries Daud + seperempat Calzone Deden + mojitos hijau artifisial + sisa milkshake Deden ikut masuk perut tanpa awareness. Pulang-pulang langsung menyambar tahu dan tempe goreng,dimakan sambil jalan naik tangga. Seporsi besar bihun goreng Naripan pun langsung disantap diiringi kicauan Mak Gondut. Diakhiri dengan kripik tempe dan sebuah peringatan dari Daud.

Gue menarik nafas panjang, mencoba fokus lagi. Biar gue gak merusak tubuh dan pikiran dengan racun-acun yang rasanya sebenarnya tak membuat perasaan bahagia, malah semakin frustasi. Tidak seperti soft tofu sopu dan green tea cookie kemarin. Hmmm...

Gue kembali ke kamar, meninggalkan para editor yang bekeja keras dengan alasan gak bisa menulis kalau berantakan.

Di kamar, gue tertidur dan baru bangun 11 jam kemudian.

Tidur dan makan kebanyakan: tanda-tanda frustasi?

Atid, don't be so tough on yourself.  You just had 7 days of  your first time being a jury in a festival far away from home,  a long hour flight, and a bus ride from Jakarta that takes longer than the flight. Thanks to kemacetan Jakarta di malam Jumat.

You deseve a lot of food and a lot of sleep. 

Don't judge yourself, so you won't judge others.

I love you.