Senin, 03 Juni 2013

Irama TV

Editor Sakit Perut. Sutradara panik. TV sudah mewanti-wanti, Rabu harus sudah jadi.

Pertama kalinya gue mengerjakan TV,  gue kira semua akan lancar. Isinya tentang gue yang pengen kurus, gue cuma perlu relax, jujur, dan keep a sense of humor in the shotlist. 

Ternyata tak ada kata relax di TV. Kita berlomba dengaan waktu. 15 Juni harus tayang, episode 1 belum terjabarkan.

Siapa suruh bikin program personal di TV?  Director lain bisa mengerjakan 1 episode dalam waktu 5 hari jadi. Gue gak bisa karena semua gue pikirkan dan jabarkan. Ini bukan proyek kejar tayang semata. Ini hidup gua dan saudara-saudara gua.

Terbiasa menulis film 80 menit berbulan-bulan, mengerjakan 2 episode x 24 menit dalam 3 hari bikin gue panik.

Ditambah editor sakit.

Dan komputer minta beli baru.

Di saat-saat menjelang deadline seperti ini, bukannya menulis, gue makan mengunyah keripik dan karbo tak kompleks lainnya sepanjang hari.

Profesionalisme dan masa depan gue dipertanyakan. Seharusnya gue mempersiapkan editor yang bisa menggantikan. Seharusnya gue bisa mengedit Avid. Jangan sampai tanpa jalan keluar seperti hari ini.

Atid, fokus. Kerjakan yang bisa dikerjakan. Sedikit demi sedikit. Mengunyah karbo tak bergizi tak menambah selesai.

Ah mungkin spesies personal kaya gue tak sebaiknya masuk ke TV.

Teringat pertama kali mengerjakan film cin(T)a, gue tertidur bermimpi shooting, terbangun teringat shotlist, dan terus berlanjut hingga setelah shooting berakhir. Gue berpikir gak akan lagi gue bikin film.

Dan sampai hari ini masih bikin film.

You are doing good, sayang. Don't be too hard on yourself, so you won't be too hard on your editor.

The worst thing you would get is not getting any TV job. And it is not the end of the world.  Selama masih ada Youtube, lo masih bisa bikin film.

Just focus on what you wanna say.

Tahun Baru

Keluarga bagi gua adalah wajah-wajah yang hanya gue temui tiap  malam Tahun Baru di Rumah Opung. Anak Opung ada sembilan, cucunya lima puluhan. Keluarga gue satu-satunya yang gak tinggal di Jakarta. Anak-anak Jakarta ini sepertinya lebih bahagia dari gua. Lebih terbuka, dan lebih bisa berbicara.

Setiap malam tahun baru, gua biasanya makan rendang dan  es krim walls kiriman tetangga sebelum diam-diam menyelinap ke atas  menghabiskan baca buku seharian di beranda atas. Baru turun kembali  ketika Opung bagi-bagi duit kepada deretan cucu. Sebenarnya gue berharap bisa menghabiskan malam tahun baru bersama sahabat-sahabat sekolah yang sepertinya lebih mengerti gua, tapi tidak bisa. Setiap Batak wajib bertahun baru di Rumah Opung.

Beranjak dewasa,  gue ada bahan obrolan. Gue bukan lagi anak daerah yang gak punya cerita. Sekarang gue baru pulang dari Amerika. Tapi sepertinya  mereka tetap tidak suka ngobrol dengan gua. Gue berubah dari anak daerah yang pemalu menjadi anak Amerika yang belagu.

Semakin dewasa, jumlah cucu semakin berkurang. Sebagian mulai menikah dan bertahun baru di rumah mertua mereka. Walaupun udah menjelang tiga puluh, gue tetap Batak dan gue tetap bertahun baru ke Rumah Opung.

Tahun ini isinya tinggal 2 keluarga, keturunan 2 anak lelaki Opung. Papi dan Bapak Tua.

Keluarga Papi tetap datang lengkap karena gua dan Deden belum menikah. Chica mertuanya Jawa, gak wajib ngumpul tiap Tahun Baru.

Mak Gondut sebagai sintua  akan memimpin kebaktian dan membagikan fotokopian acara kebaktian template dari HKBP pusat di kampung sana. Keluarga bernyanyi tanpa gairah tanpa alat musik.

Hanya Opung yang berani bilang 'aminnnn' di saat Mak Gondut belum selesai berdoa dan diamini seluruh keluarga. Tentunya hanya dalam hati.

Siangnya lebih meriah. Bang Pinon bergitar diiringi suara-suara Namboru melagukan medley Alusiau Anjuahu Molo adong na salah blabla bla, bersaing dengan adzan mesjid tetangga.

Opung akan terduduk termangu-mangu, tidak lagi membagi-bagikan sangu. Sekarang ingatannya mulai terganggu. Dia tidak tahu kalau Jepang sudah berlalu.
 
Tahun depan tidak ada yang tahu apakah Opung belum berlalu.

Jika Opung berlalu, ke manakah gue bertahun baru? Kebut-kebutan dan party-party bersama sahabat yang gue impikan dulu tidak lagi menarik hati. Sahabat-sahabat itu pun sudah menikah dan tidak lagi saling mengerti. Mungkin mereka ada yang menikah dengan Batak jadi tak bisa keluar pas Tahun Baru.

Tahun ini gue tiga puluh. Mungkin sudah waktunya gue menentukan di mana gue bertahun baru. Tidak lagi di Rumah Opung.

Tapi ke mana gue harus pergi?

Menang

In a culture so obsessed with winning, gue gak suka jadi kalah.

Saat nama Herwin Novianto dibacakan, gue gak merasa kalah. Gue aware kalau piala-piala  ini ada maunya.  Herwin Novianto bukan sutradara yang lebih baik dari Hanung Bramantyo. Atau Garin Nugroho. Atau Sammario.

Tapi ketika dulu nama gue yang dibacakan,  sempat ada perasaaan senang dan harap-harap kalau memang gue lebih baik dari yang lainnya. Setidaknya sekarang gue ada pengakuan.

Apakah semua pemenang sebenarnya loser inside? Butuh pengakuan baru bisa bahagia? Butuh orang lain lebih buruk dari kita.

Adakah cara lain membahagiakan diri selain menang dan mengalahkan orang lain?

Memenangkan orang lain. Melihat Mak Gondut menang, gue merasa lebih menang dari semua pemenang. Gak semua orang bisa menghantar emaknya memenangkan Piala.

Apakah gue anak berbakti  atau another loser inside? Apakah orang lain kurang berbakti kalau gak memenangkan piala buat emaknya?

In a culture so obsessed with winning, satu-satunya cara biar lo bisa bilang menang itu gak penting tanpa terdengar jadi sore loser  adalah ketika lo pemenang.

Dan hari ini gue bukan pemenang, jadi sebaiknya gue diam aja.

Tapi gue anak pemenang.

Bangga?

Banget.

Ah, emang loser inside.

Make Up

Snow BB Soothing Cushion

Lumi Block Primer

Power Essential Skin Refiner

Snow BB Creaam SPF 30+ PA ++

Dan deretan nama-nama pesanan Chica di Korea yang tidak menunjukkan apa fungsinya. Tenyata Snow BB Something Cushion itu bedak dan Block Lumi Primer itu foundation.

"It's not foundation. The foundation is Snow BB Cream SPF 30+ PA ++"

Gue mengangguk pura-pura mengerti.

Di sepanjang satu jalan kecil ini, gue sudah menemukan setidaknya 5 brand make up Korea damping berdampingan jualan tanpa ada tanda-tanda kekurangan pembeli. Nature Republic.  Laneige.  Innisfree. Skinfood. Misha.  Belum lagi brand impor Face Shop Body Shop Estee Lauder dan dengan nama-nama beragam hanya untuk menyebut bedak.

Dasar make up jaman sekarang. Bedak aja kok nyebutnya beda-beda. Gak boleh sama sama toko tetangga.

Belok sedikit, di jalan sebelah sudah berderet toko brand-brand make up yang sama.  Nature Republic.  Laneige.  Innisfree. Skinfood. Misha. Face Shop. Body Shop. Estee Lauder.

Sepertinya selama wanita masih insecure, pemerintah Korea tetap tidak akan pernah kekurangan devisa.

Baru sehari pakai make up, sudah muncul 2 jerawat di pipi gua. Jangan khawatir. Untuk mengobatinya, Laneige sudah menyiapkan obatnya yang akan membuat pori-pori tidak lagi tersumbat dan sekalian pembersihnya, yang sebaiknya dipakai tiap kita keringetan. Tentunya abis dibersihin pake make up lagi yaaaaa.

Gue menghela napas panjang dan berjanji besok gak akan pake make up lagi.

Gue cantik apa adanya.  

Dengan sedikit Sun block SPF 30 tiga puluh ribuan. Umur udah 30, Mbak. Butuh perlindungan.

Minggu, 02 Juni 2013

Out For Good

Gue pengen keluar dari  Indonesia. Gue pengen belajar bikin film.

Tapi film gue kurang arthouse untuk minta beasiswa dari festival, dan kurang komersil untuk berharap dilirik produser Hollywood.

Banyak filmmaker Iran minta suaka ke Paris, tapi negara gue kurang represif biar gue bisa kabur.

Pilihan terbaik saat ini adalah mengerjakan tugas gue sebaik-baiknya: Demi Turki, In The Absence Of The Sun, dan Dongeng Bawah Angin.

Mudah-mudahan angin akan membawa gue ke Paris.

Atau Amsterdam. New York. Seoul. Melbourne. Bombay. Toronto. Hong Kong. Bangkok.

Anywhere yang infrastruktur filmnya maju dan gay marriage legal.

Paris dong?

Sabtu, 01 Juni 2013

Narasi Frustasi

Mindfulness shows in everything you do. Not only eating.

"Hari ini semua lo makan," kata co-director lain mengingatkan, melihat gue menyambar kripik tempe sambil mengawasi monitor editor.

Hari ini dimulai dengan sebuah mindful banana sesuai doktrin breakfast Food Combining. Rencananya gue akan mulai merangkai narasi episode 3 Demi Turki dengan tenang agar Rabu nanti Kompas gak freak out ngeliat another rough cut tanpa storytelling yang gripping.

Begitu sampai di kepompong yang gendut dan berantakan, I lost my focus.

Oleh-oleh buat Daud ikut gue cicip. Kue-kue pasar yang rasanya biasa aja gue makan tiga. Seloyang pizza + french fries Daud + seperempat Calzone Deden + mojitos hijau artifisial + sisa milkshake Deden ikut masuk perut tanpa awareness. Pulang-pulang langsung menyambar tahu dan tempe goreng,dimakan sambil jalan naik tangga. Seporsi besar bihun goreng Naripan pun langsung disantap diiringi kicauan Mak Gondut. Diakhiri dengan kripik tempe dan sebuah peringatan dari Daud.

Gue menarik nafas panjang, mencoba fokus lagi. Biar gue gak merusak tubuh dan pikiran dengan racun-acun yang rasanya sebenarnya tak membuat perasaan bahagia, malah semakin frustasi. Tidak seperti soft tofu sopu dan green tea cookie kemarin. Hmmm...

Gue kembali ke kamar, meninggalkan para editor yang bekeja keras dengan alasan gak bisa menulis kalau berantakan.

Di kamar, gue tertidur dan baru bangun 11 jam kemudian.

Tidur dan makan kebanyakan: tanda-tanda frustasi?

Atid, don't be so tough on yourself.  You just had 7 days of  your first time being a jury in a festival far away from home,  a long hour flight, and a bus ride from Jakarta that takes longer than the flight. Thanks to kemacetan Jakarta di malam Jumat.

You deseve a lot of food and a lot of sleep. 

Don't judge yourself, so you won't judge others.

I love you.

Narasi Frustasi

Mindfulness shows in everything you do. Not only eating.

"Hari ini semua lo makan," kata co-director lain mengingatkan, melihat gue menyambar kripik tempe sambil mengawasi monitor editor.

Hari ini dimulai dengan sebuah mindful banana sesuai doktrin breakfast Food Combining. Rencananya gue akan mulai merangkai narasi episode 3 Demi Turki dengan tenang agar Rabu nanti Kompas gak freak out ngeliat another rough cut tanpa storytelling yang gripping.

Begitu sampai di kepompong yang gendut dan berantakan, I lost my focus.

Oleh-oleh buat Daud ikut gue cicip. Kue-kue pasar yang rasanya biasa aja gue makan tiga. Seloyang pizza + french fries Daud + seperempat Calzone Deden + mojitos hijau artifisial + sisa milkshake Deden ikut masuk perut tanpa awareness. Pulang-pulang langsung menyambar tahu dan tempe goreng,dimakan sambil jalan naik tangga. Seporsi besar bihun goreng Naripan pun langsung disantap diiringi kicauan Mak Gondut. Diakhiri dengan kripik tempe dan sebuah peringatan dari Daud.

Gue menarik nafas panjang, mencoba fokus lagi. Biar gue gak merusak tubuh dan pikiran dengan racun-acun yang rasanya sebenarnya tak membuat perasaan bahagia, malah semakin frustasi. Tidak seperti soft tofu sopu dan green tea cookie kemarin. Hmmm...

Gue kembali ke kamar, meninggalkan para editor yang bekeja keras dengan alasan gak bisa menulis kalau berantakan.

Di kamar, gue tertidur dan baru bangun 11 jam kemudian.

Tidur dan makan kebanyakan: tanda-tanda frustasi?

Atid, don't be so tough on yourself.  You just had 7 days of  your first time being a jury in a festival far away from home,  a long hour flight, and a bus ride from Jakarta that takes longer than the flight. Thanks to kemacetan Jakarta di malam Jumat.

You deseve a lot of food and a lot of sleep. 

Don't judge yourself, so you won't judge others.

I love you.

Jumat, 31 Mei 2013

Kafe Sehat

"Press Here to know the Korean Tea that fits your personality."

Di duit-duit  won terakhir menjelang boarding, gue gak jadi beli hot choco Burger King, terbelokkan melihat sebuah kafe dengan interior kayu-kayu coklat muda dan kue warna warni yang menarik mata. Warna warninya sangat rendah hati, tidak mencrang  seperti kue-kue Perancis-Perancisan di sebelahnya.

Si komputer bersabda  sebaiknya orang dengan bentuk wajah dan temperamen seperti gue, sebaiknya minum  Korean Blackberry  Tea and live a stress free life.

Tarik nafas, buang stress. Korean Blackberry Tea 5000 won, duit tinggal 3000 won.

Gue mulai melihat-lihat deretan kuenya. Green tea selalu mengundang mata. Dan hanya 1500 won.

Beli 2. Green Tea dan Almond.

So worth my last won.

You are what you eat. I feel so good after eating this green tea cookie. Dan berasa punya jati diri, karena memakan sesuatuyang benar-benar Korea.

Jadi teringat Indonesia. Apakah  yang benar-benar Indonesia? Ah, kata Indonesia aja tidak benar-benar Indonesia.

If I am what I eat, what am I?

I do not want to be whatever the billboard tell me to. I want to be a healthy tasty and well designed food.

Kamis, 30 Mei 2013

Confession Of A Fat Feminist

Namanya Ap Gu Jeong. Begitu keluar subway, dia sudah dihadang 3 rentetan billboard dokter-dokter pria bersenyum profesional lengkap dengan bukti-bukti foto  before after pasien mereka.

Berjalan naik tangga keluar dari bawah tanah, kiri kanannya berjejer iklan-iklan operasi pelastik dari ujung rambut sampai ujung perut. Kaki jarang yang mau operasi. Siapa yang mau liat kaki?

Ternyata ada.

Begitu keluar dari bawah tanah, kita disambut jalan besar terang benderang yang dihuni deretan gedung operasi pelastik dengan desain K pop sampai Renaissance,  lengkap dengan rekomendasi bintang lima dari Pemerintah Korea yang dengan senang hati menambah devisa negara.

One stop shopping for plastic surgery. Semua bisa dioperasi di sini, bahkan kaki.

Dia memandang refleksinya sendiri di kaca salah satu klinik. Apa yang ingin dia rubah? Wajahnya gak cantik tapi dia gak perlu cantik-cantik amat. Segini cukup. Tapi perut? Dia memandang perut buncit menahunnya yang udah diet 4 bulan dan sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda pengempisan.

Apa sebaiknya dia sedot lemak?

Gak akan ada yang tahu. Bisa disamarkan. Gak kaya mbak-mbak berkacamata hitam atau bermasker yang banyak seliweran  di jalanan mendung ini. Dicurigai  baru operasi kelopak mata, hidung, dan sekitarnya.

Tapi cewe-cewe Korea tidak malu mengakui mereka operasi pelastik. 73 persen sudah terjamah tangan dokter. Terutama kelopak mata.

Ah lebih baik yang natural aja. Dia baru diet 4 bulan.  Murah dan menyehatkan.

"I really don't get why people go on diet. You should eat whatever you enjoy,"  kata seorang feminis.

Gampang buat dia ngomong gitu. Si feminis tinggi langsing pirang dan gak kelihatan 43.

Dia kembali memandang perut buncit menahunnya, dan menangkis tuduhan si Feminis dengan jurus-jurus demi kesehatan. Perut buncit rawan penyakit. Jadi dietnya beralasan. Dia berbeda dengan cewe-cewe insecure korban doktrin kecantikan versi industri kosmetik.

Tapi dalam hati dia tahu pasti. Ini bukan tentang kesehatan.

Dia pengen cantik.

Gue pengen cantik.



Rabu, 29 Mei 2013

The Jury

"The film is a fake. It doesn't have a feminist perspective, and the camera work is very sexist. I don't believe the film is made by a real lesbian."

"Don't you guys love this film? The director is very brave in terms of storytelling"

"There are too many technical problem."

"It observes the women problem in Asia. It should get a special mention."

"We should judge it by the work, not by the hiddden potential."

Pertama kalinya jadi juri, gue dimasukkan ke kumpulan 2 festival director yang sangat artikulatif dan 2 sutradara yang tak kalah artikulatif walau tak berbahasa inggris.

Semakin menyadari betapa pentingnya menjadi artikulatif dalam industri ini. Kita harus bisa menjelaskan perasaaan kita.

"Jangan kasih gue skrip, kasih gue gambar,"  teringat seorang sutradara yang tak bisa berkata-kata. Tapi filmnya tetap menyentuh.

Mungkin bukan artikulatif, tapi sensitif. Sutradara harus tahu apa yang ingin dia bicarakan.

Visually.

Kalau bisa verbally, lebih baik lagi.

Kaya Park Chan Wook. Visualnya sudah membangkitkan emosi yang tidak bisa gue mengerti. Mendengar dia berbicara dan menjelaskan perasaaan gue dalam kata-kata , visualnya jadi lebih mempesona.

So many things to observe before I can make Raja Kata.