Senin, 27 Mei 2013
Gondut
Gue ketawa melihat namanya. Gondut. Tanpa Mak. RCTI tau aja doi tambah gondut akhir-akhir ini.
"Tahu Mami bakal menang dulu, gak Mami bikin nama Mami Mak Gondut'" katanya sambil menitahkan revisi poster Demi Ucok lengkap dengan gelar Doktor dan Master dari universitas di kawasan Pasar Baru.
Bangga bercampur takut menyusupi Sammaria di Korea, tempat di mana gak ada yang nonton RCTI atau SCTV. Tak ada TKI di sini.
Bangga: karena gue sekarang sejenis Gading Martin, species anak selebriti.
Takut: karena khawatir Mak Gondut terlalu terpesona dengan gemerlapnya 2 piala. Lupa kalau 5 menit kemudian orang akan lupa.
Tapi gak jadi khawatir melihat foto lainnya dengan telunjuk menunjuk ke atas, melambangkan nomor 1.
Ternyata doi tak lupa kampanye.
At least setahun ke depan gue tahu Mak Gondut gak akan dimensia.
Feminis
Begitu mendengar kata Feminis, yang terbayang di kepala gue adalah cewe-cewe galak pembenci laki-laki bersepatu boots butut yang ngegeng sama cewe galak lainnya.
Gak mungkin gue membenci laki-laki, tahu ada cowo kaya Papi. Papi gue baek banget. Walaupun dia masih bapak-bapak yang gak bolehin anak cewe naek angkot, gue tahu itu karena dia sayang. Bukan karena merasa cowo lebih baik. Gak mungkin gue jadi feminis.
Ternyata cewe-cewe galak yang nge-geng sendiri itu namanya separatis , bukan feminis. Banyak feminis yang pacarnya banyak, tasnya fendi, dan tiap hari pake SK 2.
Terlalu banyak label yang tidak gue mengerti.
Kalau untuk cewe-cewe yang merasa semua manusia itu berhak dipandang sama, labelnya apa?
Itu pluralis.
Bukannya pluralis itu buat kaum ekstremis yang menganggap semua agama sama saja?
Bukan. Pluralis itu sikap hidup yang tidak menyalahkan manusia lain (baik diam-diam atau terang-terangan) dan menganggap golongan kita paling benar.
Kalau gue merasa benar, gue bisa tetap pluralis?
Bisa, asal gak menganggap orang lain salah.
Kalau orang kaya Hitler, pasti salah dong?
Tergantung nanya ke siapa di zaman apa. Sejarah itu tergantung penulisnya.
Ah mending gue cari aman aja. Gak usah mikirin orang lain, fokus ke masalah sendiri. Gue masih bisa dianggap feminis?
Bisa. Bahkan bisa jadi penulis terkenal.
Kalau gue kawin aja dan cari aman, gue bisa dianggap feminis?
Bisa, bahkan bisa jadi pahlawan nasional.
Semua itu harus dilihat konteksnya. Kenapa dia menikah? Kenapa dia harus cari aman?
Ah sayang, semakin kamu menyadari semua manusia itu benar, semakin bebas hidupmu.
See you in heaven, Mas Adolf.
Minggu, 26 Mei 2013
Body Image
Mengikuti saran temannya, seorang ABG Korea gak pake celana dalam biar cowo mau ML ama dia. Seorang Nenek tato alis biar pacar Nepalnya gak cari pacar baru yang seumuran. Seorang anak pengen pake BH karena teman-temannya punya pacar setelah ber-BH.
Menonton semua film ini, gue marah. What do you wanna suggest to your audience? Loose your underwear to get a boy?
Pantesan banyak banget toko make up di Korea. Dengan berbagai packaging lucu-lucu tapi di baliknya messagenya cuma satu: You are not good enough to be loved. Wear this and get others to love you.
Dan Operasi Plastik jadi kaya belanja baju.
Dan culture seperti ini yang mulai digandrungi ABG Indonesia?
Gue kembali ke masa-masa SMP di mana yang keren masih didominasi Amerika. Gue gak suka badan gue. Terlalu gendut, terlalu lebar, terlalu hitam, terlalu berbulu, terlalu berminyak, terlalu gak kaya model-model majalah Amerika. Dan sialnya, semua ABG seumur gue saat itu pun terkontaminasi doktrin kecantikan versi Beverly Hills 90210, jadinya gue tersisihkan dari perdagangan bursa pacar.
Kali ini I should have known better. Gue dikasih kesempatan bikn 13 episode Demi Turki. Apa yang pengen gue suarakan?
Gue bukan lagi ABG insecure umur 13 tahun. Gue punya seribu satu alasan kenapa cantik itu tidak identik dengan kurus.
Tapi gue juga gak mau sembunyi di balik delusi 'Big Is Beautiful'. Big is full of health problem.
Girls, get on your grip. We are blessed with a very beautiful Asian body. Take care of it. Love it. Jangan ditimbun lemak.
Gak perlu putih. Gak perlu ceking. Gak perlu perut rata. Kita bukan orang Eropa. Apalagi Korea.
Kulit kita kuning langsat. Tulang kita besar. Kulit kita berminyak. Rambut kita bergelombang. Berbulu banyak. Asal tanpa lemak berlebih, pasti akan tetap mempesona.
Tiba-tiba 13 episode jadi berasa kurang.
Sabtu, 25 Mei 2013
Lost In Translation
English cannot take you around the world. Not in Korea.
Di sini lebih baik gue berbahasa Indonesia. Aksen Wisconsin gue gak berguna menghadapi generasi K pop yang berusaha melatih Inggris mereka. Lebih baikbicara sepelan mungkin dengan bantuan gerakan tangan dan kaki.
Gue ditemani seorang volunteer mantan NAVY bertato love love di leher. Bahasa Inggrisnya bolelebo untuk ukuran Korea. Hari-hari pertama gue masih mengingat masa-masa susah gue di Amerika gak dimengerti lawan bicara, jadi gue berusaha meladeni Inggris Gangnam style-nya. Di hari ke tiga gue lebih banyak tersenyum dan tertawa, tidak berusaha berbicara.
Di hari ke empat gue udah menjelma menjadi Scarlett Johansen dalam Lost In Translation. Lebih banyak menatap kosong ke jendela sambil membayangkan di samping ada kamera.
Eh apa gue Bill Murray ya?
Strong Women Of The World
Film mereka penuh perjuangan. Mereka penuh perjuangan. Pantas wajah mereka keras dan tanpa basa-basi. Wajah-wajah gak berusaha disukai, karena hidupnya terlalu banyak konfrontasi.
Dan di antara mereka ada gue, dengan film remeh temeh yang dibintangi emak sendiri. Berusaha berwajah keras pun tidak ada gunanya. My life has been a series of joy.
Ah tapi kan mereka gak pernah direcokinMak Gondut 30 tahun. So I have an excuse dong to be bitchy.
*pasang wajah keras
Jumat, 24 Mei 2013
Komunikasi
Bentuk komunikasi paling primitif adalah kata-kata. Begitu banyaknya kata, tidak mampu mewakili perasaan kita. Kalaupun mampu, bibir bicara beda.
Kita diciptakan untuk saling mengerti satu sama lain. Percuma bicara.
Tatap mata ini, kamu pasti mengerti. Jeritan hati yang ingin mencintai walaupun bibir berkata benci.
Hari ini malam bulan purnama. Kalau sarigala melolong, belum tentu dia lapar.
Mungkin dia merindu sepasang mata mahkluk galak lainnya.
Gym
Dulu gue tergabung dalam Masyarakat Anti Gym. Sebegitu luasnya Indonesia yang belum dijalani, ngapain gue lari di tempat di atas mesin jutaan rupiah? Bayangkan jika semua energi hasil treadmill kaum urban Jakarta dijadikan satuan listrik, mungkin pemadaman giliran tak lagi memusingkan Jokowi. Dan bahan bakar fosil tak perlu lagi disubsidi, digantikan energi terbarukan hasil pembakaran lemak para selebriti.
"Itu fitness model lama, Mbak. Fitness sekarang udah lebih banyak metoda dan kelasnya," tangkis instruktur ganteng berjiwa GKI ber-raga selebriti.
Dengan bermodal 6 bulan keanggotaan gratis, gue akhirnya mau nyobain.
Ternyata banyak kelas yang gue suka. Kelas seduce: bisa menari seksi bersama lagu terbaru Britney.
Kelas body combat: bisa mukulin musuh bayangan tanpa pernah dipukul balik.
Kelas core ball: bisa maen bola-bolaan tanpa tuntutan menjadi dewasa dan bonus perut rata.
Kelas RPM: udah ah. Gak kuat...
Selesai fitness, gak ada lagi sisa tenaga untuk menghina kaum urban Jakarta.
Mungkin kalau Obama, SBY, dan semua pemimpin dunia fitness, gak akan ada lagi tenaga memikirkan perang berikutnya.
Let there be peace on earth, and let it begin with gym.
Grekka
4 Sepupu Gondut rela nge-gym 2 hari demi mengejar Instruktur E yang indah dipandang tapi ternyata sudah ada yang memiliki.
Rencana jual pesona belanja oleh-oleh ke toko yang dimiliki Instruktur E dan istri dibatalkan. 4 Gondut Patah Hati melarikan diri ke kedai teman sendiri.
Namanya Grekka, kedai makanan Yunani dengan harga kaki lima.
One step closer to Turki, one step away from Turun Kiloan?
Jangan salah! Konon travelling ke Yunani malah bisa menurunkan kiloan. Tradisi makan di Yunani udah 4.000 tahun, lebih tua dari Perjanjian Baru. Bahan-bahannya menyehatkan: gandum, minyak zaitun, ikan, wine, madu, sayuran dan buah-buahan.
Lo kira kenapa dewa dewi Yunani pada kece-kece? Makan Souvlaki tiap hari.
Ayo pesan-pesan.... Didiskon 50% amayang punya ;D
Souvlaki, daging. Gue makan nasi menteganya aja. Mmmmm...
Moussaka, keju... Dikit gapapalah.
Loukoumades... Penuh gula... tapi yang ini beda. Fusion ama peyeum, harus dicoba!
"Bikinin yang vegetarian dooong," protes gue pada yang punya.
Cream Spinach... Lezat dan kaya zat besi.
Memandang body di kaca, kok belum kaya Athena?
Mungkin bayamnya kurang banyak.
"Mas, satu lagi ya!"
Ambeien
Empat botol besar Aqua per hari. Makan hijau-hijau. Power walking 5000 langkah. Kenapa 3 hari ini boker gue susah dikeluarkan, vbetah banget nongkrong di ujung usus. Semakin hari semakin mengeras, menghambat antrian pengeluaran tai-tai baru.
"Ambeien gak cuma kurang minum atau kebanyakan duduk. Bisa juga karena susah let go," kata si Kunyir.
Damn.
Curiga seluruh populasi Jakarta ambeien. Kecuali SBY. Masalah hidupnya hanya Yenny Wahid gak jadi masuk Demokrat. UN kacau dan Freeport mematikan tak mengganggu hidup.
"Perasaan terintimidasi juga bisa membuat infeksi saluran kencing."
Pipis gue baik-baik aja.
*lirik kanan kiri.
Fatwa stress ngerjain laporan keuangan bulanan sendirian.
Mungkin Fatwa dan seluruh populasi radius Sammaria yang bermasalah pipis.
Kita memang terdiri atas body mind and soul, masuk akal banget masalah pantat ini akibat perih di hati.
Jadi mana yang harus gue benerin dulu biar selalu cantik walafiat? Body, mind, atau soul?
Tiga-tiganya dong. Di dalam tubuh yang sehat pasti terdapat jiwa yang kuat. Mensana pasti inkorporesano.
Ah tapi instruktur gym berdada bidang banyak yang galau tuh?
Sehat ya. Bukan six pack.
Healing
"Katanya gue bisa jadi healer," katanya mengutip seorang healer tebengannya di Pulau Dewata yang konon pernah membaca Lola Amaria dan Nicolas Saputra.
Dulu juga pernah ada yang bilang gue bisa jadi healer. Bukan karena jempol gue besar dan enak mijitin punggung Mak Gondut, ndut ndut kaya kepompong. Tapi karena perut gue besar.
"Energi dalam itu nyimpennya di perut," katanya sambil merokok. Dia tidak pernah makan di sela-sela pengobatan. Metabolisme menyerap terlalu banyak energi.
Makanya Plato dan Socrates selalu puasa menjelang berkarya. Lebih baik energinya dipakai berpikir daripada habis mengolah souvlkaki.
Sejak bergaul dengan mahkluk-mahkuk pemikir, gue mulai percaya manusia bisa menyembuhkan diri sendiri. Kalau batuk gak harus langsung sedia OBH.Demam gak harus Termos Es. Mens gak harus feminax. Maag gak harus promag.
Lihatlah Bobot dan Boni. Kalau sakit tinggal makan rumput dan sembuh sendiri. Kalau Bobot dan Boni dianugerahi kemampuan menyembuhkan diri sendiri, kenapa kita tidak?
"Gue gak pernah minum obat. Kalau sakit, gue minum brotowali yang tanam sendiridi belakang rumah."
Atau beli di Pasar Dago. Belinya jalan kaki pagi-pagi, gak nyuruh bibi.
Pantesan 53 kulitnya masih sehat benderang.
Ketika sakit, yang dibutuhkan tubuh bukan obat, tapi istrirahat. Tubuh butuh konsntrasi energi membentuk sel-sel baru, jangan diganggu dengan aktivitas yang tak perlu.
Seperti mikirin jadwal film baru.
Ngik.
Makan apa kita besok?
Makanan: sumber penyakit nomor satu. Tubuhmu adalah Bait Allah, jangan dirusak dengan kolesterol dan karbo tak kompleks.
Kali ini gue bersyukur diberi penyakit. Sementara sel-sel merenovasi diri, otak bisa flashback dan merenungi kenapa gue diberi kesehatan.
Untuk menyembuhkan?
Tapi kan Agustus nanti perut gue gak besar lagi...
Amin.