Jumat, 24 Mei 2013

Sate Gereja

Jam 7 pagi, semua Sepupu Gondut sudah bersiap-siap ke Gereja. Terlalu telat untuk kebaktian jam 7.

Ternyata  4 Gondut langsung hadap kanan grak menuju Sate Gereja.

Sate itu sudah mereka makan sejak 1997. Saat tiap Senin Satu masih berrok merah-merah, dan  gereja masih jadi kewajiban yang bisa memerahkan rapor sekolah.

"Ah biasa aja rasanya," kata Kak Melda mengomentari sate. Mungkin Atid dan Chica terjebak nostalgia 1997, jadi tiap Minggu wajib ke  situ.

"Kalau yang ini enak," katanya berbinar-binar setelah mencicipi siomay yang konon tanpa babi. Melda langsung berburu di manakah dia berjualan. Minggu gereja, malamnya di kawasan pelacuran.

Siomay ternyata tidak mengenal  gelap terang kehidupan. Dari pendeta sampai pendosa, semua cinta.

Setengah jam kemudian, Bang Deden datang bergabung, langsung dijarah  4 Sepupu Gondut yang 5 menit yang lalu berikrar diet.

"Itu kan buat Kubus," protes Bang Deden.

Kubus dibungkusin sate baru.

Jam 10  bel berdentang, tanda kebaktian berikutnya akan dimulai.

4 Sepupu Gondut pulang dengan perut kenyang dan hati riang.

Manusia tidak hidup hanya dari firman saja.


Rabu, 15 Mei 2013

Echa

"Kak Atied...
Makasih bwt hari ini ya...
Aq senang..."

Echa whatsapp. Gak gue bales.

Makasih untuk apa? Tadi pagi gue shooting kegiatan dia mulai bangun pagi sampai ngantor buat footage Demi Turki. I didn't do anything worth her thank you.

Pagi-pagi Echa sudah bangun, nyapu halaman dan rumah yang tidak berpembantu. Dilanjutkan mencuci pakaian dan menjemur.

Konon Mamaknya punya harta berkarung-karung yang disimpan di bawah bantal dan 5 account bank BTN yang berbeda. Karenanya, tiap minggu Keluarga Simanjutak dapat gratis tiket Blitz Velvet 5 pasang. Sayangnya tidak ada tabungan berbonus pembantu. Echalah yang bertransformasi sementara adiknya yang di Kedokteran dibebastugaskan dengan alasan banyak tugas.

Gak kaya Echa. Akuntansi. Harus nyuci.


Baru sadar gak banyak yang gue tahu tentang Echa. Sepupu gue ada 50an. Gak semua gue kenal. Apalagi yang pendiam dan tersiksa seperti Echa.

Memori pertama gue tentang Echa adalah Echa Agustus 2010 di ruang tunggu Rumah Sakit Singapur, menunggu giliran  mendonorkan hatinya untuk Papa melalui operasi 10 miliar. Siap seumur hidup harus bolak balik rumah sakit sampai hatinya tumbuh lagi.

Tapi Papa keburu pergi, jadi hati Echa tak jadi dibagi.

Sekarang Echa rajin olahraga ke gym tetangga. Apakah karena tak ingin sakit seperti Papa?

"Si Meta masa nanya kaya gini sama aku kak. Kak, kalau aku kawin duluan gimana? Kan aku lebih cantik."

Tak terima dilangkahi adik, Echa berusaha cari pacar.

"Tapi yang aku sukak  sukanya cewek kurus," kata Echa.

Karenanya Echa ke gym kompleks tiap sore. Nyapu halaman dan mencuci baju tak cukup melangsingkan pantat Echa sesuai standar calon pacar.

Bukan pantat yang mengecil, Echa malah jadi bolot akibat kurang karbo.

"Aku sukanya anak band, kak. Kayak Kak Kutil inilah."

Sejak ikutan Demi Turki, Echa berkenalan dengan teman selebriti pertamanya.  Kutil, yang sebenarnya nama aslinya Jarwo, mantan gitaris grup Naif.
 

Kutil tidak mengiyakan. Tapi Echa percaya.

Mungkin inilah mengapa Echa berterima kasih. Berkat gue, Echa jadi bisa kenalan sama Naif.

Oh well then...

You're most welcome, Echa.


Selasa, 14 Mei 2013

Chica

"Gue stress sampai perut gue melilit baru hari ini," kata Chica sebelum bobo.

Demi Turki di ambang perpecahan karena 2 saudara kita bertengkar di Whatsapp. Satu cabut dari Whatsapp Group dan mengancam cabut dari Demi Turki.

"Gue kasian ama lo. Ini kan kerjaan lo. Lo pasti kepencet banget di antara mereka berantem."

Dan gue seharian berbinar-binar makan ketan susu srikaya. Lupa ada yang berantem.

"Apalagi bosnya bilang ini buang-buang waktu. Itu kan sama aja bilang kerjaan lo buang-buang waktu. Kan kasian didenger kru lo, si Osman,si  Kutil... kalau buat kita sih ini have fun aja. Buat kalian kan ini kerjaan."

Buat gue ini have fun juga kok.

Baru nyadar ternyata Chica sesensitif ini.

Gue makan ketan susu bukan berarti gak peduli. Hanya gue yakin 2 saudara gue ini sebenarnya saling sayang dan gak akan tega membuat gue kehilangan pekerjaan. Jadi gue tetap fokus merencanakan shooting wiken ini tanpa pernah terlintas siapapun akan mundur.

Half full glass - type.

Beda dengan Chica, si half empty glass yang peduli sekitar dan baik hati. Gue lebih memilih menikmati setengah sisa gelas gue sendiri dan sering gak ngeh gelas sekitar gue setengah kososng.

"Hari ini gue pulang cepat..." kata Chica penuh senyuman.

Jam 8 malam.

Biasanya jam 10 malam.

"Lo gak resign aja, hur?" tanya gue. Pergi jam 6 pagi, sampai jam 11 malam. Gak ada waktu nonton X Factor atau treadmill. Weekdays-nya habis untuk memperkaya some rich American, dan  nanam Farmville di sisa-sisa malam.

"Kalau gue gak kerja, gue ngapain? " tanya Chica bingung.

Nanam Farmville seharian hanya akan membuat Chica kehilangan jati diri.

"Sebenernya gue pengen kerjanya yang sosial sosial.  Kalau aja gue ketemu bos kaya Rick Warren, gue mau bantuin dia. Tapi kan orang kalau mau bantuin orang harus punya uang. Harus kerja."

Sebenarnya Chica gak kekurangan. Bang Gigit udah dikasih naik gaji berlipat-lipat biar istrinya gak usah kerja. Tapi Chica gak juga resign.

Sekarang tiap jam 5 - hopefully 10 malam, Bang Gigit pulang kantor harus bobo di mobil, nungguin istrinya  pulang malam.

Entah kenapa Chica masih bertahan. Padahal karena pekerjaan ini, Chica jadi kurang perhatian ama badan sendiri. Stress pekerjaan, tiba-tiba Chica udah jadi 94 kilo dan tidak lagi memperhatikan penampilan. Ke kantor selalu pakai baju curian (dari lemari gue) dan gak pilih-pilih Apa aja asal muat.

Padahal dulu konon waktu kuliah, Chica 60kg berpantat bohai pernah disuitin anak-anak Teknik Mesin pas lewat kandang mereka.

Sekali, tentunya.

Dan sekarang akibat kegendutan, Chica divonis dokter gak bisa punya anak.

"Kurusin berat badan dulu baru balik kemari," kata Dokter Galak.

Di Demi Turki ini, Chica ceritanya pengen banget punya anak makanya dia mau ngurusin badan. Tapi apakah yang terjadi di episode 13? Gue belum tahu.

Mungkin Chica berhasil  nurunin berat badan. Mungkin Chica lebih berani ngomong ke bosnya biar pulang lebih cepat. Mungkin Chica berhasil punya anak.

Atau mungkin gak ada yang perlu dirubah. Semua sudah baik apa adanya.

Baru kali ini gue bikin film di mana endingnya gak suka-gua gue. Harusnya tagline 'God is a Director' lebih cocok buat Demi Turki.

Sekarang gue cuma bisa menanti dengan kamera sambil harap-harap cemas dan berusaha memahami kalau kenapa semua baik adanya. Tapi kalau boleh gue yang menulis, pasti episode 13 Chica gue bikin bahagia.

Dan baju gue balik semua.

Amin.

Woody Allen

Gue pengen jadi kaya Woody Allen, lucu. Dia pandai mengkomedikan diri sendiri bahkan di momen-momen hidup paling tragedi: dikatain Yahudi, bercerai, tulisannya dianggap gak lucu, dipecat kerjaan, dan Tuhan.

"I don't like his movies. They are way too self centered," kata seorang actress yang pendapatnya sangat gue dengarkan.

Gue gak mau ketahuan narsis. Gue selalu berusaha membuat cerita yang bukan tentang gue, tapi selalu ujung-ujungnya curhat. Jiwa narsis + kurang imajinatif + biaya minim, jadilah film gue selalu tentang gue.

Kali ini takdir membawa gue ke sebuah reality show scripted yang membuat orang lebih banyak alasan menuduh gue narsis karena diperankan gue sendiri.

Dan budget minim menaruh gue di spotlight sebagai narator utama Demi Turki.

Gue takut.

Gue takut dibilang narsis. Gue takut orang gak suka nonton gue. Gue takut gak lucu.

Apa yang orang mau nonton?

Hhhh... I can't believe gue kembali ke titik pertanyaan ini. Gue kira setelah Demi Ucok, gue gak akan peduli lagi penonton mau nonton apa. Gue tahu gue lebih baik memikirkan apa yang gue mau tonton, bukan yang orang mau tonton.

Apakah gue mau noton gue?

Jawabannya adalah ya. Kadang-kadang gue lucu dan inspiratif kok. Kadang-kadang intimidating dan menyebalkan. Tapi gue malu mengakui gue pengen nonton gue.

Gue malu mengakui gue narsis?

Narsis. Do I really love myself that much?

Setelah hidup 30 tahun dengan badan ini, dijodohin gak laku-laku, bohong kalau gue bilang gue cinta diri sendiri. Gue takut untuk tampil di depan kamera karena gue gak suka badan gue. Gue gak suka suara gue. Gue gak suka attitude gue.

Kalau gue aja gak suka, ngapain juga penonton harus suka?

Gue pengen suka ama badan gue. Gue pengen sayang ama badan gue. Gue pengen menghargai suara gue. Gue pengen gak masalah melihat gue yang pemalas dan lemak di mana-mana.

Narsis?

I would love to be narsis. I would love to love myself more.


This is my way to be narsis. This is my way to love myself more.

Kalau dengan bikin ini, gue bisa suka ama badan gue, Bring it on!


Yang pengen gue tonton adalah 13 episode yang jujur, menghibur, dan menyentuh tentang cewe-cewe yang gak suka ama badannya sendiri.

Gue gak butuh nonton yang lucu doang. Gue menderita 30 tahun hidup di badan ini.  Badan yang gak bakal pernah dipajang cover Cosmopolitan. Badan yang gak dilirik kalau jalan. Badan yang dijodohin gak laku-laku. Gue mau Dramaaaaaaaaaaaaaaaaa !

Pasti banyak cewe-cewe di luar sana yang gak suka ama badannya sendiri. Mudah-mudahan abis nonton ini mereka bisa lebih sayang sama badan sendiri.

No!

Ini bukan buat orang lain. Gue bikin ini biar gue lebih bisa sayang sama badan gue sendiri.

Welcome me! The main narrator of Demi Turki. Mulai Juni di Kompas TV.

Sejenak menciut lagi. Orang udah pada sibuk. Ngapain juga mereka harus nonton gua?

Siapa bilang orang harus nonton?

Nggak harus kok. Kalau mereka gak mau, tinggal pindah channel.

Ribet amat.

Tapi...

I have a feeling you would not want to change the channel. It's a very interesting program indeed.

Dasar narsis.

Selasa, 07 Mei 2013

Melda

"Hari ini gue jalan pagi.  Dapet 7000 langkah!" whatsapp Melda di pagi hari. 

Melda, mantan figuran model iklan minuman energi yang mendadak jadi pemeran utama setelah sang bintang dicekal FPI,  kini melipat dua menjadi 100 kg.

"97 kg!"

Oh iya. 97 kg.  

Melda merindukan kejayaan masa mudanya, ketika semua mata lelaki menoleh dan dia dimusuhi semua cewe-cewe Naposo. Melda bertekad  akan merubah mindset dietnya dengan lebih menikmati makanan dan bergerak lebih banyak.

Melda rela melewati angsa tetangga yang mengancam jiwa demi jalan pagi. Terpaksa Melda jalan berpegangan tangan dengan tukang bangunan sebelah.

Harus 10 ribu langkah!

Walau hari ini lupa bawa pedometer.

Kemaren juga lupa.

"Ahhh paling ini euforia sesaat," sahut Bang Gigit, geng lelaki beristri gemuk yang tak lain sepupu Melda.

Sudah 10 tahun Melda diet, tapi tak kunjung terlihat. Turun 5 kilo, naek 10 kilo.

Kemaren Melda berhasil makan HANYA juice buah, juice sayur, pisang, 4 sendok nasi merah, salmon panggang, 1 biji baso ita suki, dan 1 lumpia duren.

Dan nyicip Red Bean #sumpeh! Cuman dikit!#

Total power walking 2,5 jam

Hari ini Melda mau foto passport sama suami. Kemaren sayang otaknya terlanjur sudah menerima info kalau di dekat pembuatan passport Depok ada duren buah enak.  Setelah browsing ketahuan namanya Sop Duren. Ada yang pake brownies, roti, ketan keju, dan  kelapa.

"Kenapa laki gue ngajaknya mesti di Imigrasi Depok?" kelluh Melda tak mampu menolak Duren Ketan Keju.

Ketemu klien, Melda menularkan body mind dialog sebelum makan pada para calon nasabah.   Singkong dan kue nampan benar-benar dicicip dikit doang.

Ketemu klien lagi. Kali ini Starbucks. Frappucino Red Bean ternyata tak bisa ditolak hanya dengan Body Mind Dialog.

Dua Frappuciono green tea dengan Red Bean pun dibawa pulang. Si Hani kegirangan seumur-umur baru sekali kebagian Green Tea Frappucino dari si majikan.  Hanya Red Bean  keliatannya  enak.

Diicip dikit=D

Jatah nasgor dari Hermina,mata Melda bilang aih aih aih... hidung slurrrpp....  Lambung bilang monggooo...

Cuma dimakan setengah.

Hubby Bernard bertanya, "Tadi nasgor sisa banyak banget?  Kirain lo lapar bgt."

Melda tersenyum bangga. Malamnya pun mie tiongsim cuma dimakan setengahnya.

"Ya udah sianya buat gue aja," hubby mencoba mengambil mie. 

Eits!

"Ntar malam mau gue makan lagi!Sekarang mau treadmill dulu sambilnonton DVD,"  kata melda sungguh-sungguh.

Nonton Silver Lineing Playbook sambil treadmill 2 jam. Romantis...

Langsung mandi, siap-siap lapar. Ada klepon, sisa tiongsim, dan lupis. Malam ini ditutup agak nakal. Tiongsim dilahap dengan alasan sayang. Mulai besok mental kaya-nya mesti diasah lagi.

Lebih sayang makanan atau sayang tubuh? Buanglah sampah pada tempatnya, bukan ke tubuh sendiri.

Melda tambah sayang tubuhnya sendiri.

"Itu Ibu beli baju melulu ya?" tanya Hubby pada Hani di sela-sela Frappucino Green Tea.

"Iya pak... mau aku bilangin jangan?"

"Nggak. Biarin aja."

Melda semakin kece, suami tambah naksir.

Sebelum ikutan Demi Turki, Melda jadi banyak hunting baju. Selama ini bajunya udah jelek semua, dan  nunggu beli dengan alasan nunggu kurus dulu. Ternyata efeknya bagus.

Pas ditanya dalam skala 10, berapakah self esteem Melda? Tadinya 2, sekarang 6.

Sebenarnya Melda mau jawab  8 tapi takut dibilang kepedean.

"Di Ambas banyak ternyata  jual baju besar cantik-cantik.

Belum kurus, sudah berasa pede. Kalau sudah ada cowo yg melirik lagi, artinya aku sudah melangsing #cant wait that to have that moment back #"

"Ih kayanya nanti paling kece bakal kak melda nih."

"Kalau udah kece, gue kuras duit si Bernard. Sekarang aja udah kleper2 dia ama aku."

"Kayanya gue tambah kece juga kak. Siap2 banyak yg minta ke lo kenalan ama gue ya. Bolehlah ntar lo prospek asuransi."

"Selama masih bisa tandatangan, pasti gue prospek!" seru Melda semangat.

Hari ini Melda mengakhiri hari dengan mendengarkan CD goLangsing. Posisi lagi gak emosional dan gak lapar berkat tiongsim. Malah ngantuk. 

Nite all... Janjian ya besok jalan pagi jam 5.30

Soang dan tukang bangunan, here I come!


Inferior Complex

"Di Lampung ini kan fasilitas belum maju, Mbak. Nggak kaya Jakarta,"  kata seorang filmmaker Lampung. Entah orang ke berapa yang ngomong dengan nada sama.

Di jaman Google dan BB High Definition,  apalah artinya fasilitas. Kenapa harus melihat ke Jakarta sementara di sekitar kita banyak yang harus diceritakan?
Baligo seorang putra daerah ARB bersama ketua KAMI yang mulai luntur warnanya.

Kopi Lampung yang gak boleh ketahuan kopi lampung karena tumbuh di Taman Nasional.

Gajah yang semakin terdesak.

Sambal Tempoyak  yang membuat rela sembelit.

Universitas daerah yang didominasi duit borjuis lokal.

Di antara sebegitu banyak cerita, kenapa kita harus seperti Jakarta? Kenapa harus Dewi Lestari yang berfilosofi kopi?

Tapi gue diam saja karena Jakarta juga sama saja. Selalu melihat ke Amerika. Atau Eropa. Atau Korea.

Setelah feodalisme berabad-abad, disambung penjajahan 3,5 abad, mungkin kita memang terlahir untuk diperbudak.

Hari ini gue gak mau menjadi budak. Gue akan bercerita apa yang mengganggu gue. Tidak didikte Jakarta, Amerika, dan semua film festivalnya.

Gak usah bikin film bagus.  Bisa jujur aja udah bagus.

Tidur

Semalam kurang tidur, gantiinnya harus 3 malam.

Tidur harus 6-8 jam biar kulit dan pencernaan tetap terjaga.

Tidur itu adalah cara jiwa kembali kepada penciptanya, setelah lelah dengan kepalsuan ragawi.

Kurang tidur bisa bikin orang berubah singa.

Setelah bermalam-malam kurang tidur,  di malam ke lima gue tidur 10 jam. Terbangun hanya karena jadwal shooting memanggil.

Hari ini badan gue lelah setelah lima hari jarang bertemu pencipta. Tinja 3 hari tertimbun di pantat. Jerawat muncul 2 di muka. What a perfect day to start a shooting day.

Hari ini bukan shooting biasa. Hari ini gua muncul bukan hanya sebagai sutradara, tapi juga di depan kamera. Tidak bersembunyi di nama lain, tapi tetap sebagai Sammaria.

Hari ini gue ingin tampil sebagai Sammaria yang kocak dan tidak menganggap susah dunia. Tapi sepertinya Sammaria yang jenaka tak akan muncul di episode ini. Cuma Sammaria yang pendendam dan kurang tidur, siap memakan siapa saja yang lewat di hadapannya. 

Aummmm.

Itu raungan macan. Bukan nguap. Hati-hati lo semua.

Aum.

Mindful Eating

Target minggu ini:
Naek angkot, biar lebih banyak gerak.
Nulis tiap hari, biar gak tambah gila.
Mindful eating, menikmati setiap gigitan.

Target 6 bulan ke depan:
bertahan di kilo  60 dan tetap sehat.
Pakai baju yang nyaman, fabulous, dan paling penting: GUE banget. Gak ada lagi apa aja asal muat.
Mindful di apapun yg gue lakukan.

Pagi ini gue awali dengan doa setelah training Go Langsing 2 hari. Awalnya gue skeptis dengan program menemukan diri sendiri seperti ini. Why would I need anyone to help me find myself?

Ternyata butuh.

Selama ini gue kira gue bisa langsing dengan tekad gue sendiri. 2 bulan diet gue jalani dengan modal revenge.

The best revenge is to look good.

"Muka kamu sedih terus," kata instrukturnya.

Dua bulan kemarin marah terus. Dua bulan tanpa dia, gue turun 14 kilo.

No more denial. Setelah gue tahu caranya bahagia,  tampaknya hidup gue hari ini akan lebih sederhana.

Sampai sebuah sms mengganggu.  Hari yang diawali doa berakhir dengan makian.

Sampai kapan gue menggantungkan kebahagiaan gue pada manusia malang lainnya? Berat badan gue pun tergantung orang?

Sudah cukup gue menyiksa badan gue. Badan gue bukan besi berani yang siap dikasih makan apapun di kala hati merana.  Pikiran gue bukan kaen Mangga Dua yang siap dirinso tiap terkena noda.

Sayang, sayangi badanmu. Sayangi hatimu. Udah tau gak ada yang mau. Siapa lagi yang sayang kalau bukan kamu?

Lebih baik jalan kaki,  hilangkan sedih di hati dan ambeien di pantat .

Tanpa ambeien, siapa tahu ada yang mau.

Selasa, 23 April 2013

Chain Of Ignorance

Sejarah terus berulang karena manusia tetap melakukan kesalahan yang sama: Gak peduli sesama.

The Chain Of Ignorance menjauhkan manusia dari  Enlightment.

It's hell on earth. Bukan neraka versi bakaran api abadi buat manusia-manusia berdosa dari agama yang berbeda. Hell is an inability to love which turns people from bearing each other's burdens into Isolated Individuals no longer related to each other but alone with their own selfish interest.

Love is replaced by its lowest form, Fear. Isolated individuals ini tidak lagi saling peduli sesama karena takut kekurangan. Ignorance bahkan sudah menjalar ke unit manusia yang dulunya pernah satu materi, orang tua dan anak.

Dongeng dimulai di suatu waktu ketika dunia masih matriarki dan mitologi didominasi dewi-dewi. Bulan masih berwarna oranye. Seorang anak laki-laki bernama Merah berusaha mendapatkan pujian Ayah dengan memanah seekor peacock jantan nan cantik. Gagal. Dia semakin haus kasih sayang ketika kemudian harus berbagi cinta Sang Ayah yang dipersunting Ibu Putih. Merah kemudian membunuh Ibu Putih dan dimulailah mitologi Patriarki lengkap dengan dewa-dewa pencemburu dan pemarah. Bulan berubah merah.

Lompat ke 1980, masa di mana Bumi masih dihuni manusia dan alien dianggap khayalan kosong. Seorang anak perempuan  kehilangan ayah dan ibunya sejak bayi. Dia tumbuh bersama buku harian sang Ayah dan percaya kalau mereka pergi diculik UFO. Dia menantikan ulang tahun ke17 saat dia akan dijemput Ayah.

Lompat ke masa Pasca Migrasi Alien. Seorang Ibu dituduh akan melahirkan monster karena kawin dengan Alien, spesies imigran dari galaksi lain yang dianggap lebih rendah dari manusia. Si Ibu dan Alien melakukan apapun untuk melindungi buah cinta mereka walaupun anaknya dituduh akan membawa kehancuran di Bumi.

Lompat ke masa sebelum Apocalypse. Dunia sudah hampir hancur dan tinggal menunggu sebuah megavulkano meletus untuk menghabisi 60% umat manusia. Para penasihat Raja menyarankan untuk menumbalkan salah satu putrinya untuk mencegah kehancuran. Mengira dia menyelamatkan umat manusia, Sang Ayah merelakan salah satu putrinya dibunuh.

Lanjut ke masa setelah Apocalypse. 40% mahkluk Bumi  yang tersisa berlindung di dalam sebuah kubus. Selamat dari kehancuran, mereka malah terjatuh kepada ego lama: siapa yang berkuasa setelah 6 tahun Musim Salju berakhir? Saling bunuh saudara seayah menyisakan 2 manusia terakhir di Bumi: seorang Ibu dan anak perempuannya yang lemah. Sang Anak ingin menari, tidak peduli permohonan Ibunya agar tetap berdiam diri dan menghemat oksigen. Sebentar lagi musim semi. Si anak tetap menari. Buat apa hidup kalau diam saja seperti orang mati.

Lima cerita di atas diisi dengan manusia-manusia yang tidak bisa menerima dirinya. Ada suatu masa di mana pria ingin jadi wanita dan merebut kekuasaan yang terlalu didominasi wanita.  Ada suatu massa di mana manusia dibohongi dengan kebenaran-kebenaran versi Penguasa. Ada suatu massa ketika manusia punya versi kebenarannya masing-masing. Dan ada satu massa ketika manusia menganggap dirinya lebih mulia dari mahkluk lain. Tapi semuanya diakhiri dengan sebuah cinta yang tak terbantahkan.

A mother's unconditional love for her daughter.

Dan bulan kembali oranye.

Bah serius kali jadinya? Kayanya butuh ngobrol ama Sali biar gak terlalu sublim. Butuh sentuhan-sentuhan duniawi dari otak penggemar MSG.

Atau yang maen Mak Gondut aja? Dijamin gak akan sublim.

Ah kenapa sih gue takut banget jadi sublim?
  

 

Senin, 22 April 2013

Menyutradarai Sutradara

"Kalau filmnya kaya gitu, gue gak mau ada di tim lu," katanya setelah menonton Demi Ucok.

Penyutradaraan, Script, dan Akting memang menjanjikan. Karenanya Demi Ucok menjadi sebuah komedi yang berhasil. Tapi di bagian-bagian yang dia sangat peduli: artistik dan kamera, Demi Ucok berantakan.

"Contohnya ya, di bagian Lapak DVD. Keliatan banget dari bayangan wajahnya take-nya beda-beda waktu."

Ngik.

"Padahal pas cin(T)a bagus. Mungkin karena kameraman dan art-nya berbeda," katanya.

Padahal Art-nya sama, kamera yang beda.  Gue berusaha membela diri dengan mengatakan kalau angle kamera itu tergantung sutradara, bukan kameraman. Demi Ucok berantakan di artistik dan kamera karena untuk film komedi prioritasnya beda. Yang paling penting untuk komedi adalah timing dan akting. Jadi selama comedic timing udah kena, Mak Gondut langsung gue istirahatkan. Art dan kamera bagus prioritas terakhir, lebih penting Mak Gondut bobo.

Tapi tetep. Art dan kameranya parah, walaupun dinominasikan untuk Best Art.

"Dan dari presentasi lima sutradara kemaren, kerasa banget punya lo mateng sendiri. Yang  lain masih kebanyakan mau, belum tau bikinnnya gimana," tambahnya.

And this is not a compliment. Gue produser lima-limanya. Kalau satu saja gagal, berarti produser yang gagal.

Tugas utama produser cuma dua: cari script dan cari sutradara. Gue yang memilih mereka semua sebelum gue mendengar konsep dan script mereka.

"Gue ngerti sih dari awal lo emang bilang pengen ngembangin teman-teman lu yang kata lu potensial. Gue juga liat mereka asik-asik dan potensial. Tapi gue kan bikin karya jarang ya. Tapi sekalinya bikin gue gak mau asal bikin. Nah dari presentasi terakhir, gue gak yakin akan jadi bener."

Gue terdiam memikirkan kata-katanya, berusaha tidak defense dan mensyukuri ada yang mengingatkan. Yang satu script-nya sempurna, tapi gak kelihatan yakin bagaimana merealisasikannya. Yang satu ilustrator yang hebat, tapi message-nya kebanyakan dan semuanya tidak diolah dalam cerita. Yang satu masih tahap riset kain dan belum pernah tahu rumitnya membuat stop motion. Yang satu bahkan belum tahu ceritanya berasal dari Padang bagian mana.

"Gue gak masalah kalau harus diundur, yang penting film ini jadinya bagus,"  setelah menjelaskan panjang lebar kalau keraguannya bukan hanya pada konten. Achievement visual pun demikian.

Gue menatap deretan angka  tanggal di kalender 2013, sambil angka-angka budget menunda produksi berenang di kepala.

"Kalau ditunda, seberapa lama ya kira-kira? "

"Ya tergantung progress sutradaranya. Gue perkirakan sih setahun."

Ngik.

Kepompong Gendut setahun hidup tanpa film?

"Ya lo bikin aja film lain dulu. Tapi terserah lu sih. Kalau mau tetap jalan dengan keadaan kaya gini ya boleh. Tapi gue gak mau ikut-ikutan," katanya tegas sambil tetap tersenyum.

"Atau mau ngembangin bareng-bareng dulu?  Paling penting sih emang duduk bareng, diskusi, nyamain referensi..."

Kembali melihat kalender. 

"Film Indonesia itu udah terlanjur jelek, jadi ada yang beda dikit udah dibilang bagus. Padahal kan udah mau globalisasi, jadi saingan kita mah gak akan film Indonesia lagi," katanya.

Dan selama ini gue selalu menyalahkan penonton yang tidak menghargai usaha gue.  Penonton mau dihibur dengan sesuatu yang matang, gak mau dengar cerita betapa segini aja udah bagus banget untuk Indonesia. Manusiawi.

"Sekarang ya lo harus lebih banyak turun tangan. Sutradaranya ya harus di-direct, biar frekuensinya sama."

Mendirect spesies kreatif memang butuh frekuensi tersendiri. DoP, art, actor, gue udah pernah gue direct. Tapi mendirect sutradara? Ini spesies baru yang udah punya ego kreatif masing-masing.

Teringat cerita Lucky tentang seorang produser badak yang harus berani dibenci.Makanya yoga tiap hari biar tetap bisa menikmati hari di tengah caci maki.

Am I Badak enough?
  
Ngik.