Rabu, 17 April 2013

Dongeng

Dongeng berbeda dengan mitos. Mitos berkaitan dengan kepercayaan seseorang, jadi harus hati-hati karena menyangkut kebenaran versi seseorang. Salah-salah bisa didemo.

Dongeng berbeda karena dia bisa menceritakan kebenaran dengan cara yang menyenangkan. Tidak ada yang merasa kebenarannya diserang.

Dongeng punya 4 manfaat:
Manfaat sosial - merawat kedekatan masyarakat sekerabat
Manfaat psikologis - menuntun pendengar menjadi lebih tahu diri sendiri
Manfaat filosofis - menyamarkan arti hal-hal njelimet biar yang denger mikir sendiri
Manfaat hiburan - menyenangkan mata dengan gambar-gamabar imajinatif

Karenanya hari ini kami mau mendongeng kepada lingkaran teman terdekat sebelum Dongeng ini memasuki tahap yang lebih mahal, shooting. Mudah-mudahan bisa memenuhi 4 manfaat tadi, gak cuma jadi karnaval visual dengan tafsir suka-suka akibat riset pas-pasan.

Sebagai produser, gue seperti berdiri di dua tempat.  Satu kaki berdiri di dunia karnaval gambar keren yang memuaskan penonton muda dan menyenangkan dahaga para sutradara yang pengen bikin film yang ada UFO, alien, robot, dan baju-baju cantik. Kaki lain harus berdiri di pemahaman mendalam tentang substansi dongeng yang bukan milik kami sendiri. 

Menceritakan ulang dongeng bisa dengan dua cara. Cara pertama ya mendekatkan si dongeng  antah berantah ke penonton dengan menerjemahkannya ke kehidupan sehari-hari yang emang udah dekat dengan penonton. Tapi para sutradara centil ini pengennya bikin film science fiction. Jadi akan ada UFO alien dan robot yang jelas-jelas gak dekat dengan sehari-hari  penonton.

Robot alien UFO itu masih strata terendah dari science fiction. Science fiction itu all about cara pikir, bukan parade gambar doang. Logika sebab akibat  harus tetap jelas!

Ngik.

Lima sutradara terdiam, berpikir keras bagaimana caranya agar kecentilan visual mereka lebih bersubstansi.

Lutung Kasarung itu ternyata berasal dari pantun yang menceritakan rahasia Surgawi pada masyarakat terpilihnya : Sunda.  Dan banyak menceritakan etika perempuan Sunda.

Cinduo Mato ternyata menceritakan tentang perbatasan dua negeri yang tidak asal diberi nama Imbun Tulang. Kalau lewat dan gak cukup sakti, bisa jadi tulang belulang. Di negeri ini, perempuan punya peran besar karena berhak memilih jodoh sendiri.

Bawang Putih yang  diingat orang kerjaannya nyuci mulu, ternyata bisa nyambung dengan keinginan sutradara mengeksplorasi visualkain-kain nusantara.

Sigale-gale  ternyata gak terjadi di Batak saja. Di suku Asmat pun ada ritua menari menghidupkan kayu.

Timun Mas ternyata bisa jadi karakter yang lebih dark dan complicated karena penuh permainan psikologis.
     
Dan kita baru menyadari 5 dongeng kita ternyata diisi wanita-wanita yang penuh kemarahan. Ada yang marah karena orang tuanya hilang dan umur 17 tahun juga akan diambil. Ada yang marah karena iri dengan orang lain yang lebih disayang. Ada yang marah karena dijadikan property rebutan 2 pria. Ada yang marah karena diasingkan. Ada yang marah karena anaknya diambil Tuhan.

Seharusnya Dongeng Marah ini bisa menjadi dongeng yang kuat dan tidak cape ditonton asal kita bisa menggabungkan benang merah kemarahan ini dan menerjemahkannya lewat:

1.visual
Dominan Merah!   Ditambah karakter bulan merah yang mucul dari masa ke masa.

2. Musik
Belum tau nih. Pastinya dimulai dengan hening, dan tambah marah tambah ber-dentum.

3. Alur sambung menyambung
Dimulai dari cerita zaman dahulu kala, 1980an, 2100,  menjelang apocalypse, dan pasca apocalypse. Ending film ke 5 menjadi awal film pertama, karena dunia tetap berulang.

Berkat  masukan teman-teman hari ini, sepertinya karnaval visual kami akan menjadi puisi yang matang,

Tapi tetap. UFO robot dan alien harus ada.

Selasa, 16 April 2013

Casting

Teringat casting cin(T)a yang membutuhkan 4 bulan hanya untuk mencari pemeran Annisa, casting Dongeng Bawah Angin jauh lebih singkat dan menyenangkan.

Tinggal sebar informasi di Twitter, ratusan talent potensial berdatangan. Tinggal memilih  30 orang yang kira-kira cocok untuk beberapa peran di Dongeng Bawah Angin dan yang paling penting: menyenangkan untuk diajak kerja sama dan toleran dengan kepompong kita yang mungil tapi gendut ini.

"Saya ingin bertanya kepada Mbak Sammaria kenapa saya tidak dimasukkan dalam daftar casting dan kenapa email script saya tidak dibalas," kata salah satu peserta yang tiba-tiba muncul tanpa dipanggil. Satu dari banyak orang yang mengirimi gue script dan merasa gue wajib membuatkan filmnya untuk dia.

Gue menghela nafas panjang, tapi tertahan oleh amarah. Tadinya gue ingin menghargai usaha dia yang sudah jauh-jauh niat datang tanpa diundang dengan memberikan dia kesempatan casting. Tapi belum 1 menit dia sudah menjawab pertanyaan salah satu sutradara dengan nyolot. Emak-emak Batak inside me langsung terpancing untuk balas mengaum.

Acting is all about trust and patience, sayang. I don't trust you and I have absolutely no patience to work with you.

Ada juga talent tak diundang lainnya datang, jauh-jauh dari Jakarta. Full of talent and lack of anger. A good ending to the evening.

The rest of the 30's are great. Indri dan Deden did a good job picking them. Gak berasa casting, gue malah berasa terhibur dengan performance mereka.

Ada talent titipan Mak Gondut, anak Batak temannya yang sudah kita under appreciate pas liat CV, tapi ternyata mempesona di atas panggung dengan nyanyian selamat ulang tahun untuk Mak Gondut versi Bahasa Lutung.

Ada talent yang gerak tubuhnya menyihir, tapi aktingnya RCTI jam 8 malam.

Ada talent yang filmnya ke Sundance karena tariannya, usahanya tak dipertanyakan, tapi somehow ber-aura intimidasi ala Agnes Monica. Indri langsung nge-fans, tentunya.

Ada talent yang baru gerak dikit udah bikin gue ngakak, tapi gak tahu mau gue kasih peran apa.

Ada talent yang ternyata adiknya Jihan, kita suruh jadi Annisa. Doi cowo btw.

Dan malam itu diakhiri dengan nyanyian lagu baru ciptaan Acun, mau curi-curi kita masukin ke serial Demi Turki episode pas gue casting.  Biar Acun bisa curi-curi start promo album barunya.

Malam ini berakhir dengan bahagia, tapi harap-harap cemas.

Harap-harap cemas karena ini pertama kalinya gue galak menolak menjabarkan kenapa seseorang harus ditolak. Ternyata gue bukan seorang pendidik seperti yang selama ini gue khayalkan.

Oh well.

Harap-harap cemas karena banyak banget talent luar biasa yang gak bisa gue offer peran. Pikiran mulai merangkai cerita apa yang bisa gue buat diperankan mereka.

Harap-harap cemas  karena Acun sudah 29 tahun dan lagunya baru jadi satu bait. Dia harus langsung balik Jakarta karena mau mengurusi sebuah promo festival film, bukan menyelesaikan lagu.

Semua orang punya jalan masing-masing yang harus masing-masing mengerti dan hargai.

Teringat dulu gue juga pernah dicasting untuk masuk jadi pegawai di sebuah perusahaan advertising. Dunia berasa berakhir ketika visa gue tidak ditolak. Looking back, gue bersyukur ditolak. Kalau nggak, gue masih bikin iklan dan gak akan pernah bikin film.

Is it bad?

Semua baik, katanya.

Semua baik, adanya.

Kita butuh ditolak untuk tahu itu bukan yang benar-benar kita mau.

Rejection is God's way to tell us we have something else to do.


Senin, 15 April 2013

Satu

Buka berita pagi ini, mencoba memahami manusia-manusia dan motif mereka. Temukan betapa semua berita sebenarnya berhubungan. Ada sebab, ada akibat.

Muhammad Nuh harus bertanggung jawab karena tertundanya Ujian Nasional di 11 provinsi.

Kasus korupsi PON Riau mengungkap keterlibatan ketua fraksi sekaligus Bendahara Umum Golkar.

Grup Bakrie terancam sentimen negatif di Bursa Saham.

Kisruh PSSI.

Kurang dari setahun, tiga nyawa melayang di dunia tinju Indonesia. Tanda ada yang tak beres.

TNI menutup investigasi penyerbuan anggota Kopassus di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan. 

Adik Prabowo Subianto membeli saham Bumi.

Polo semakin digemari di Indonesia. Seperti golf, polo bukan sekedar olahraga melainkan gaya hidup dan tempat membangun jaringan.

Tarif penerbangan bakal naik.

Pertamina sumbang mobil ambulanz.

BBM subsidi akan beda harga bagi angkutan pelat kuning dan pelat hitam.

GE membeli perusahaan Shale Gas di Amerika.

Veteran menuding George W.Bush bertanggung jawab atas kerusakan dalam Perang Irak.

Amerika Serikat:  pertemuan rahasia dengan Korea Utara.

Warga merayakan wafatnya Margaret Thatcher di Glasgow, Skotylandia.

Maduro dan kisah burung kecil yang didatangi arwah Hugo Chavez.

Penghasil sampah terbesar dunia adalah AmerikaSerikat, Australia, dan Islandia. Sampah Indonesia 490.000 ton per hari.

Kuota haji Bandung dan Bekasi berkurang.

Mesjid Ahmadiyah di Bekasi ditutup. 

Toto Hutagalung disebut-sebut dalam kasus narkoba di Serang.

Partai berlomba mencapai kuota caleg 30% perempuan. Terganjal izin suami.

Istri Dada Rosada mencalonkan diri sebagai pasangan walikota Bandung.

Pembelian gedung Bank Jabar Banten di Jakarta mencurigakan.

Sapi impor yang didatangkan lewat program kredit usaha pembibitan sapi susah dikembangbiakkan.

Tidak ada yang kebetulan.

Ignorance is simply no more bliss.

Minggu, 14 April 2013

Creation

Creation - Uncreation - Recreation

Sebagai orang yang dilahirkan di suku Batak, dibesarkan secara Kristen Protestan,  dan dididik di sekolah yang mengutamakan Ilmu Pengetahuan Alam, gue mendapatkan setidaknya tiga versi sejarah penciptaan dan penghancuran dunia.

Sebagai orang Batak, gue diceritakan tentang si Naga Padoha  yang berhasil diikat si Boru Daek Parujar,  tapi masih suka goyang-goyang dan menyebabkan gempa di Dunia Tengah, tempat kita hidup. Setelah itu Si Boru Daek Parujar kawin dan menurunkan si Raja Batak langsung ke Pusuk Buhit, gak lewat Adam dan Hawa.

Sebagai  Orang Kristen Protestan versi HKBP, gue diceritakan tentang 6 hari penciptaan yang diakhiri dengan penciptaan manusia bernama Adam. Beberapa generasi setelah Adam, Tuhan membersihkan bumi besar-besaran lewat  banjir yang menyisakan hanya Nuh dan keluarganya.

Sebagai lulusan sekolah yang mengutamakan muridnya belajar IPA, gue diceritakan tentang Black Hole dan betapa dunia sesungguhnya sudah berumur jutaan tahun. 75000 tahun yang lalu,  Danau Toba meledak dan menghabisi 60% penduduk bumi dan bumi dilanda musim dingin selama 6 tahun.

Semua merasa ceritanyalah yang benar. Cerita lain hanya dongeng.

Dongeng menceritakan kebenaran dengan cara yang berbeda. Tidak semua orang mau mendengarkan kebenaran karena masing-masing punya kebanarannya sendiri.  Karenanya hari ini gue memilih untuk mendongeng, agar tidak ada yang tersinggung.

Settingnya di dunia kita, entah 75000 tahun sebelum masehi atau setelah masehi, or it can be both. Sebuah megavulkano meletus dan menghabisi 60% penduduk bumi. Sisa 40% selamat karena mereka berlindung dalam sebuah kubus melayang yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Sang Kapten. Sang Kapten mengajak istrinya, 3 anaknya bersama istri mereka, dan masing-masing sepasang dari tiap hewan.

Cerita belum berakhir di sana. Setelah 150 hari, musim dingin belum juga berlalu. Mereka terperangkap di dalam kubus itu dan mulai kehabisan bahanmakanan. Satu per satu hewan yang mereka bawa beralih fungsi jadi makanan. Ketika jumlah hewan mulai sedikit, persaingan antar anak-anak  kapten mulai meruncing. Tidak hanya rebutan makanan, mereka juga bertengkar siapa yang berhak menguasai bumi setelah musim dingin berlalu.

Perang tak terhindarkan, menyisakan hanya para wanita dan anak-anak. Anak-anak lelaki punakhirnya ikut berperang. Tinggal tersisa seorang ibu dan anak perempuan, Gale.

Si anak terlahir lemah sehingga si Ibu melarang anaknya melakukan apapun, apalagi menari. Lebih baik menunggu sampai musim semi tiba.

Tapi si anak tetap menari. Untuk apa hidup kalau hanya diam seperti orang mati.

Si anak meninggal dengan bahagia, ketika menari, menyisakan si Ibu sebagai penghuni terakhir kubus. Uriel datang dan merasakan kesedihan si Ibu.Uriel mengingatkan si Ibu kalau Pencipta mereka sudah berjanji kalau keturunannya tidak akan selesai. Saat pelangi muncul, si Ibu harus menyusuri pelangi dan menemukan sebuah pohon yang masih tersisa di bumi.

Si Ibu pun berekreasi menyusuri pelangi sampai menemukan sebuah pohon di tengah padang tandus. Dia menanam anaknya di sana dan menunggu sampai ia tumbuh kembali.

Si anak tumbuh kembali, tapi tidak bisa ngapa-ngapain kecuali menari.

Aduh kok jadi menyeramkan ya? It's a story of recreation. It's supposed to be more fun. Namanya juga rekreasi.

Bisakah yang menyeramkan menjadi menyenangkan?

Sabtu, 13 April 2013

The World After Twitter

Awalnya bermotif narsis, pengen liat foto gue untuk pertama kalinya masuk majalah nasional 2 halaman penuh, gue keluar duit 33.000.  Duit yang terlalu besar buat membeli berita bagi generasi  biasa gratisan kaya gue.

Ternyata ada berita soal tiga kakak beradik lintas partai yang suka memancing ikan besar di tengah sungai miskin bernama Indonesia. Minggu itu majalah mereka digugat si adik. Karenanya minggu depannya gue beli lagi, walaupun muka gue gak lagi muncul. Lumayanlah nambahin 33 ribu buat mereka melawan.

Minggu depannya gue beli lagi. Gak lagi berpikiran berderma, karena sepertinya mereka gak butuh 33 ribu gue. Tapi nagih baca cerita mereka. Cerita tentang bawang merah, bawang putih, sapi, bapak-bapak billboard, dan curhat si Komo.

Dulu gue males baca majalah. Untuk apa? Cuma memperkaya bapak-bapak kaya yang mau meingisi otak gue dengan kebenaran versi mereka. Lebih seru baca informasi gratisan dari Facebook, Twitter, Wikileaks, hasil kreasi para  milioner muda, bersepatu kets, dan  bergadget.

Lama-lama informasi semakin banyak. Semakin sulit mengikuti semuanya. Semakin gue cuma baca yang bersangkutan dengan gue saja.

It's all about me.

Penjualan majalah dan koran semakin menurun. Iklan semakin menurun, lebih memilih masang di Google atau blog personal yang lebih murah tapi tepat target market. The New York Times harus mencari cara agar mereka bisa bertahan, membuat majalah versi online yang tetap berbayar.

Siapa yang mau bayar ketika kita bisa dapet berita gratisan?

Ternyata banyak bo. Dan mereka sekarang jadi situs berita terbesar di dunia.

Lo bisa dapet berita gratisan emang. Banyak banget tinggal click. Terlalu banyak malah. Ketika lo berlangganan majalah online, lo kaya membayar kurator berita. Lo gak usah susah-susah search, lo langsung disajikan berita-berita yang lebih menarik, lebih terpercaya, dan lebih mendalam.

Kedalaman, something 140 characters can't deliver.

Kalau perusahaan segendut The New York Times bisa survive jualan berita di tengah-tengah banjir berita, kenapa gue gak bisa jualan film di tengah-tengah banjir film? Gue kan gak segendut mereka, jadi harusnya bisa bergerak lebih lincah.

OK. Penonton film kita adalah remaja yang hiburannya tidak lagi menonton. Ngapain bayar 25 ribu kalau lo bisa nonton Youtube gratisan? Ngapain macet-macet ke Grand Indo kalau lo bisa nonton di rumah? Ngebalesin mention di twitter aja udah abis waktu, gak perlulah nonton  ke bioskop.

Ngapain juga gue ke Bioskop? Pendapatan gue cuma 30% dari penjualan gara-gara bagi-bagi ama pajak dan yang punya bioskop. TV juga cuma mau nayangin materi-materi aman yang halal dikonsumsi pasar C dan D.

Mending gue bikin film langsung untuk penonton. Penonton yang biasa download film, gak betah berlama-lama, dan cuma mau keluar duit buat sesuatu yang nambah gengsi: outfit dan segelas kopi di kafe asik.

Nothing I can do to change them. Gue yang harus berubah. Film seperti apa yang mereka mau nonton, dan gue masih mau bikin?

Gak harus film kok. Cerita. Cerita seperti apa yang mereka mau nonton dan gue mau bikin?

Pendek. Penting. Penasaran.

Temu Lawak

Udah bukan jamannya melawan penyakit. Lebih baik mengajak mereka berteman, sehingga tidak merugikan tubuh kita. Itulah prinsip kerja pengobatan homeopati yang diimpor langsung dari Jerman, terbukti tidak meninggalkan efek samping pada tubuh, dan merugikan keuangan.  Karenanya gue melirik ke sebuah tanaman asli Indonesia yang cantik di atas dan koreng di akar. Tapi si korenglah yang ternyata banyak mendatangkan manfaat, si bunga cantik dipajang aja.

Temu Lawak.

Namanya saja sudah membuat ketawa, konon tawa adalah obat paling mujarab. Apalagi untuk penyakit-penyakit komedi seperti milikku.  Fatty Liver.

Bukan liver.Kalau liver, penyakitnya masih membanggakan. Karena Liver adalah lambang para pekerja keras yang bekerja sampai lupa makan minum. Atau lambang kegagahan karena identik dengan James Bond, alkohol, dan gonta ganti wanita.

Fatty liver identik dengan kerakusan dan kemalasan.

Karenanya mari kita tertawa bersama Temulawak agar lemak dan dendam segera menghilang dari bait allah gue yang 85.6 kg ini. Padahal kemaren-kemaren sempat 84. Damn.

Khasiat temulawak adalah:

1. Sebagai detox alami untuk liver atau hati.
Membersihkan lemak dan dendam dari hati yang luka. Andai Betharia Sonata kenal temulawak, mungkin dia tidak akan merana.

2. Sebagai antiseptik dan antibakteri alami terutama berguna untuk mengobati luka bakar.
Untuk hati yang terbakar dendam juga mungkin bisa.

3. Karena khasiatnya sebagai anti-peradangan alami, dapat mengatasi gejala peradangan sendi (rematik) & serangan asam urat.
Untuk hati yang meradang juga bisa.

4. Meningkatkan kualitas juga jumlah ASI.
Kata si Boru Raja, dia bisa kurus karena menyusui. Ada yang butuh ASI kualitas tinggi agak rasa temulawak dikit? yuhuuuu... Anyone?

5. Penawar rasa sakit alami, terutama ketika masa menstruasi pada wanita.
Tiap bulan gak ke  Anmo Peter Cung lagi dong?

6. Dapat membantu kontrol metabolisme lemak dalam tubuh dan kadar kolesterol.
Lemak dan kolesterol, hati-hati kalian! Temulawak mau datang.

7. Mengatasi maag, sakit kepala, masuk angin, sembelit juga jerawat di wajah.
Bah! Bebas jerawat juga? Cakep banget deh gue berkat temulawak. Mbok, beli temulawak  3 liter!

8. Dipercaya sebagai penambah nafsu makan untuk segala usia.
Eh,  Mbok. Gak jadi deh.

Jumat, 12 April 2013

Demi Senayan

Subuh-subuh Mak Gondut dan 2 anaknya sudah berangkat dari Bandung menuju Ibukota. Sehari sebelumnya Mak Gondut sudah mempersiapkan stick untuk bermain golop bersama ibu-ibu Kartini Cup. H-1 dibatalkan karena ada SMS berantai undangan penetapan calon legislatif  partai peserta pemilu nomor satu.

"Tapi undangannya untuk Linda Marpaung. Ini mami gak ya?" Tanya Mak Gondut harap-harap cemas. Namanya Lina, bukan Linda.

Gue melepas Mak Gondut ke kerumunann massa berjas biru, berharap mereka salah ketik. Kebayang kalau ternyata si Linda Marpaung datang dan  Mak Gondut pulang  tanpa nomor urut.

Kenapa Mak Gondut harus berpartai politik? Yang jelas bukan untuk menurunkan harga subsidi BBM atau mencegah pembotakan Babakan Siliwangi. Apakah dia kurang aktivitas karena anak-anaknya kurang sayang?

"Biarin ajalah dia. Asal gak gangguin kita," kata salah satu anak Mak Gondut.

Bukan pertama kalinya dia ikutan pemilu. Dulu dia pernah jadi caleg dan pulang membawa bon sticker dan kaos, tanpa kursi di DPRD Bandung.

"Ya dijagain aja sih dia," kata si Boru Raja simpatik di sela-sela tips menjaga berat badan.

Tunggu ditunggu sampai jam 7 Mak Gondut tak juga meraung minta dijemput. Pertanda Linda Marapaung memang dia adanya.

"Tadi ada yang kenal lho Mami siapa. Katanya: yang maen pilim itu kan ibu?"  katanya bangga saat dijemput pulang, 2 jam setelah perjanjian.

Mak Gondut resmi jadi caleg nomor 3 setelah Ricky Subagja dan anak ketua cabang somewhere.

"Kita ajuin ajalah ke Surya Paloh biar dibikinin serial Mami," goda anaknya usil.

Mak Gondut tersenyum-senyum mau, "emang bisa?" tanyanya menyembunyikan harap.

Demi Senayan.

Emang bisa?

Selasa, 09 April 2013

Manis

"Tambahin satu karakter deh yang manis-manis biar penonton cewe betah," katanya merevisi reality show gue.

Gak reality show lagi dong kalau scripted?

Ternyata semua reality show scripted. 

Reality juga scripted kok. Buka aja scripture. Endingnya udah ada.

Jadi hari ini kita menambahkan seorang karakter manis, menggantikan posisi Bang Deden sebagai antagonis.

Untuk antagonis, mendingan cewe. Batak. Yang udah nikah ama Batak. Beranak dua. Tapi badannya masih singset. Lehernya masih angsa. Suaranya masih bikin merinding. Dan mengaku anaknya Raja.

Biar boru-boru Juntak lain di Demi Turki makin senewen. Makin drama. Makin seru ditonton.

"Itu mah bikin penonton cewe sebel, gak malah pada betah," kata gue melihat hasil search image si Boru Raja.

Boru Raja it is then. Pemanisnya nanti aja gonta ganti per episode.

Revenge is sweet but not fattening.

Senin, 08 April 2013

My Own Dystopia

"Film ini rawan banget looknya kejebak jadi  kaya film-film Dystopia 90an ya. Terminator. Robocop. Underworld...

"Underworld sih masih bagus ya," kata salah satu aktor gue.

Dystopia? Gak mau ketahuan gak tahu, gue langsung cek cek google, my savior.

Definition of DYSTOPIA
1: an imaginary place where people lead dehumanized and often fearful lives
2: anti-utopia

"Nggak akan kok, makanya lo ikutan aja hunting lokasi. Ntar kalau lokasinya udah ketemu, elemen-elemen lain akan mengikuti,"  kata gue mengutip aktor gue lainnya. Sudah 3 lokasi didatangi: hutan hijau bersungai bergua dan berkuburan batu, tempat pembuangan sampah akhir dengan sampah plastik sejauh mata memandang, dan gunung tempat penambangan batu dengan mesin-mesin. Belum ada yang memenuhi dystopia versi kita.

Working with 2 visual artists yang perfeksionis, sutradara diteror untuk lebih bervisi dan berimajinasi kalau gak mau didemo pemain di tengah shooting.

Ayo, sutradara. Bayangkan. Dalam beberapa ratus tahun ke depan, dunia akan menjadi seperti apa?

Dunia tinggal diisi segelintir wanita dan bencong. Laki-laki udah pada mati karena perang, bunuh diri kalah pemilu, atau mati ketimpa billboard kampanye sendiri. Mungkin masih ada Papi dan cowo-cowo non patriarki tersisa, tapi budget gue cuma buat 3 karakter, jadi anggap sajalah mati semua.

Dunia udah gak lagi berpohon. Udah jadi tempat pembuangan sampah buat planet-planet lain. Atau tanahnya abis ditutupin kuburan? Atau simply tandus tak berkehidupan? Yang tersisa hanya segelintir manusia yang menguasai Energi Terbarukan dan budayanya tidak tergantung bahan bakar fosil.

Atau mungkin Danau Toba meledak lagi, jadi 60% populasi dunia punah dan bumi diselimuti musim dingin selama 6 tahun? 40% persen yang tersisa ini siapa saja?  Mereka yang gak tinggal dekat Danau Toba? Tentunya mereka yang punya teknologi pemanas yang gak tergantung PLN karena PLN udah menghancurkan diri sendiri karena tak ada lagi minyak dan gas yang menghidupi. 

Atau mereka yang lemaknya tebal? Bah udah keburu mati kurang kardio.

Atau mereka yang  gak butuh makan banyak karena makanan udah pada abis?

Atau mereka yang bisa makan sesama manusia?

Atau binatang-binatang yang tahan api?  Kecoa?

Mereka yang punya teknologi sejenis kapal Nuh versi volcano resistant?

Lebih seru Bahtera Nuh! The Cube floating in a dystopian world. Nah, selama 6 tahun musim dingin, bukannya bekerja sama menghadapi bencana,  para penghuni Bahtera Nuh ini kemudian saling bertarung satu sama lain untuk mendapatkan kekuasaan.

Jadilah sisanya tinggal para wanita, anak-anak, dan bencong.

Mereka mengembangkan sebuah teknologi yang bisa menghidupkan manusia kembali seperti layaknya pohon. Hanya saja tidak sembarangan orang bisa dihidupkan kembali karena mereka takut kalau orang-orang penjahat bumi akan dihidupkan kembali.

Kenapa Gale harus dihidupkan?  

Kenapa dia gak boleh menari?
 
Kenapa semua harus mati?

Kenapa pohon bisa hidup lagi?

Just wait and see. Ceritanya akan tetapseru walau  endingnya kita sudah tahu.

Pelangi.





Minggu, 07 April 2013

Nafas

Gue terduduk, hampir blackout setelah beberapa pose sederhana di hari ke tiga latihan pelenturan Gale, pemeran Dancing Gale yang in real life beneran penyakitan. Harus dilenturkan.

Taunya sutradara yang tumbeng.

Apakah ini karena perut kegendutan? Kurang sarapan? Atau kemalasan badan?

"Makanan sebenarnya tidak pengaruh. Manusia bisa hidup berbulan-bulan hanya dengan air saja. Mungkin kemaren kurang istirahat?" tanya instruktur melambai yang ternyata beristri.

Gue selalu tidur 8 jam. Gak lihat kulit gue bersinar terang?

Mungkin karena gue tidak bernafas dengan benar. Asupan oksigen ke otak tidak lancar.

Nafas. Gus selalu lupa bernafas. Lupa memberikan nutrisi buat tubuh dan otak gue. Makanya dia selalu terbawa ke masa lampau dan lupa menikmati matahari kini.

Roh tubuh dan jiwa. Mind body spirit. Jiwa raga karsa.

Hidup itu seperti bernafas, ada harmoni. Berkarya juga. Film itu bernafas. Coba rasakan...

Tarik...

Buang...

Tarik...

"AH gue gak suka yoga! Gue tuh meditasi lari 10 kilo ampe ga bisa mikir lagi. Nah itu buat gue meditasi," kata penulis 43 tahun bersepatu boots bertetek kencang dan berlengan padat.

Makanya karyanya penuh passion, kasar, tapi tetap bernafas. Lari 10 kilo gak akan kuat tanpa nafas yang benar.

"Anjing pug emang nafasnya jelek," kata si Gale sambil tertawa mengejek.

Muka gue langsung berlipat-lipat. Tambah pug.

Hari ini gue gak mau lagi jadi pug. Gue mau di umur 43 nanti foto di majalah Tempo, pake boots, tank top ungu, dan pamer lengan.

10 kilo?

2 kilo dulu deh, Mbak.