Sabtu, 13 April 2013

Temu Lawak

Udah bukan jamannya melawan penyakit. Lebih baik mengajak mereka berteman, sehingga tidak merugikan tubuh kita. Itulah prinsip kerja pengobatan homeopati yang diimpor langsung dari Jerman, terbukti tidak meninggalkan efek samping pada tubuh, dan merugikan keuangan.  Karenanya gue melirik ke sebuah tanaman asli Indonesia yang cantik di atas dan koreng di akar. Tapi si korenglah yang ternyata banyak mendatangkan manfaat, si bunga cantik dipajang aja.

Temu Lawak.

Namanya saja sudah membuat ketawa, konon tawa adalah obat paling mujarab. Apalagi untuk penyakit-penyakit komedi seperti milikku.  Fatty Liver.

Bukan liver.Kalau liver, penyakitnya masih membanggakan. Karena Liver adalah lambang para pekerja keras yang bekerja sampai lupa makan minum. Atau lambang kegagahan karena identik dengan James Bond, alkohol, dan gonta ganti wanita.

Fatty liver identik dengan kerakusan dan kemalasan.

Karenanya mari kita tertawa bersama Temulawak agar lemak dan dendam segera menghilang dari bait allah gue yang 85.6 kg ini. Padahal kemaren-kemaren sempat 84. Damn.

Khasiat temulawak adalah:

1. Sebagai detox alami untuk liver atau hati.
Membersihkan lemak dan dendam dari hati yang luka. Andai Betharia Sonata kenal temulawak, mungkin dia tidak akan merana.

2. Sebagai antiseptik dan antibakteri alami terutama berguna untuk mengobati luka bakar.
Untuk hati yang terbakar dendam juga mungkin bisa.

3. Karena khasiatnya sebagai anti-peradangan alami, dapat mengatasi gejala peradangan sendi (rematik) & serangan asam urat.
Untuk hati yang meradang juga bisa.

4. Meningkatkan kualitas juga jumlah ASI.
Kata si Boru Raja, dia bisa kurus karena menyusui. Ada yang butuh ASI kualitas tinggi agak rasa temulawak dikit? yuhuuuu... Anyone?

5. Penawar rasa sakit alami, terutama ketika masa menstruasi pada wanita.
Tiap bulan gak ke  Anmo Peter Cung lagi dong?

6. Dapat membantu kontrol metabolisme lemak dalam tubuh dan kadar kolesterol.
Lemak dan kolesterol, hati-hati kalian! Temulawak mau datang.

7. Mengatasi maag, sakit kepala, masuk angin, sembelit juga jerawat di wajah.
Bah! Bebas jerawat juga? Cakep banget deh gue berkat temulawak. Mbok, beli temulawak  3 liter!

8. Dipercaya sebagai penambah nafsu makan untuk segala usia.
Eh,  Mbok. Gak jadi deh.

Jumat, 12 April 2013

Demi Senayan

Subuh-subuh Mak Gondut dan 2 anaknya sudah berangkat dari Bandung menuju Ibukota. Sehari sebelumnya Mak Gondut sudah mempersiapkan stick untuk bermain golop bersama ibu-ibu Kartini Cup. H-1 dibatalkan karena ada SMS berantai undangan penetapan calon legislatif  partai peserta pemilu nomor satu.

"Tapi undangannya untuk Linda Marpaung. Ini mami gak ya?" Tanya Mak Gondut harap-harap cemas. Namanya Lina, bukan Linda.

Gue melepas Mak Gondut ke kerumunann massa berjas biru, berharap mereka salah ketik. Kebayang kalau ternyata si Linda Marpaung datang dan  Mak Gondut pulang  tanpa nomor urut.

Kenapa Mak Gondut harus berpartai politik? Yang jelas bukan untuk menurunkan harga subsidi BBM atau mencegah pembotakan Babakan Siliwangi. Apakah dia kurang aktivitas karena anak-anaknya kurang sayang?

"Biarin ajalah dia. Asal gak gangguin kita," kata salah satu anak Mak Gondut.

Bukan pertama kalinya dia ikutan pemilu. Dulu dia pernah jadi caleg dan pulang membawa bon sticker dan kaos, tanpa kursi di DPRD Bandung.

"Ya dijagain aja sih dia," kata si Boru Raja simpatik di sela-sela tips menjaga berat badan.

Tunggu ditunggu sampai jam 7 Mak Gondut tak juga meraung minta dijemput. Pertanda Linda Marapaung memang dia adanya.

"Tadi ada yang kenal lho Mami siapa. Katanya: yang maen pilim itu kan ibu?"  katanya bangga saat dijemput pulang, 2 jam setelah perjanjian.

Mak Gondut resmi jadi caleg nomor 3 setelah Ricky Subagja dan anak ketua cabang somewhere.

"Kita ajuin ajalah ke Surya Paloh biar dibikinin serial Mami," goda anaknya usil.

Mak Gondut tersenyum-senyum mau, "emang bisa?" tanyanya menyembunyikan harap.

Demi Senayan.

Emang bisa?

Selasa, 09 April 2013

Manis

"Tambahin satu karakter deh yang manis-manis biar penonton cewe betah," katanya merevisi reality show gue.

Gak reality show lagi dong kalau scripted?

Ternyata semua reality show scripted. 

Reality juga scripted kok. Buka aja scripture. Endingnya udah ada.

Jadi hari ini kita menambahkan seorang karakter manis, menggantikan posisi Bang Deden sebagai antagonis.

Untuk antagonis, mendingan cewe. Batak. Yang udah nikah ama Batak. Beranak dua. Tapi badannya masih singset. Lehernya masih angsa. Suaranya masih bikin merinding. Dan mengaku anaknya Raja.

Biar boru-boru Juntak lain di Demi Turki makin senewen. Makin drama. Makin seru ditonton.

"Itu mah bikin penonton cewe sebel, gak malah pada betah," kata gue melihat hasil search image si Boru Raja.

Boru Raja it is then. Pemanisnya nanti aja gonta ganti per episode.

Revenge is sweet but not fattening.

Senin, 08 April 2013

My Own Dystopia

"Film ini rawan banget looknya kejebak jadi  kaya film-film Dystopia 90an ya. Terminator. Robocop. Underworld...

"Underworld sih masih bagus ya," kata salah satu aktor gue.

Dystopia? Gak mau ketahuan gak tahu, gue langsung cek cek google, my savior.

Definition of DYSTOPIA
1: an imaginary place where people lead dehumanized and often fearful lives
2: anti-utopia

"Nggak akan kok, makanya lo ikutan aja hunting lokasi. Ntar kalau lokasinya udah ketemu, elemen-elemen lain akan mengikuti,"  kata gue mengutip aktor gue lainnya. Sudah 3 lokasi didatangi: hutan hijau bersungai bergua dan berkuburan batu, tempat pembuangan sampah akhir dengan sampah plastik sejauh mata memandang, dan gunung tempat penambangan batu dengan mesin-mesin. Belum ada yang memenuhi dystopia versi kita.

Working with 2 visual artists yang perfeksionis, sutradara diteror untuk lebih bervisi dan berimajinasi kalau gak mau didemo pemain di tengah shooting.

Ayo, sutradara. Bayangkan. Dalam beberapa ratus tahun ke depan, dunia akan menjadi seperti apa?

Dunia tinggal diisi segelintir wanita dan bencong. Laki-laki udah pada mati karena perang, bunuh diri kalah pemilu, atau mati ketimpa billboard kampanye sendiri. Mungkin masih ada Papi dan cowo-cowo non patriarki tersisa, tapi budget gue cuma buat 3 karakter, jadi anggap sajalah mati semua.

Dunia udah gak lagi berpohon. Udah jadi tempat pembuangan sampah buat planet-planet lain. Atau tanahnya abis ditutupin kuburan? Atau simply tandus tak berkehidupan? Yang tersisa hanya segelintir manusia yang menguasai Energi Terbarukan dan budayanya tidak tergantung bahan bakar fosil.

Atau mungkin Danau Toba meledak lagi, jadi 60% populasi dunia punah dan bumi diselimuti musim dingin selama 6 tahun? 40% persen yang tersisa ini siapa saja?  Mereka yang gak tinggal dekat Danau Toba? Tentunya mereka yang punya teknologi pemanas yang gak tergantung PLN karena PLN udah menghancurkan diri sendiri karena tak ada lagi minyak dan gas yang menghidupi. 

Atau mereka yang lemaknya tebal? Bah udah keburu mati kurang kardio.

Atau mereka yang  gak butuh makan banyak karena makanan udah pada abis?

Atau mereka yang bisa makan sesama manusia?

Atau binatang-binatang yang tahan api?  Kecoa?

Mereka yang punya teknologi sejenis kapal Nuh versi volcano resistant?

Lebih seru Bahtera Nuh! The Cube floating in a dystopian world. Nah, selama 6 tahun musim dingin, bukannya bekerja sama menghadapi bencana,  para penghuni Bahtera Nuh ini kemudian saling bertarung satu sama lain untuk mendapatkan kekuasaan.

Jadilah sisanya tinggal para wanita, anak-anak, dan bencong.

Mereka mengembangkan sebuah teknologi yang bisa menghidupkan manusia kembali seperti layaknya pohon. Hanya saja tidak sembarangan orang bisa dihidupkan kembali karena mereka takut kalau orang-orang penjahat bumi akan dihidupkan kembali.

Kenapa Gale harus dihidupkan?  

Kenapa dia gak boleh menari?
 
Kenapa semua harus mati?

Kenapa pohon bisa hidup lagi?

Just wait and see. Ceritanya akan tetapseru walau  endingnya kita sudah tahu.

Pelangi.





Minggu, 07 April 2013

Nafas

Gue terduduk, hampir blackout setelah beberapa pose sederhana di hari ke tiga latihan pelenturan Gale, pemeran Dancing Gale yang in real life beneran penyakitan. Harus dilenturkan.

Taunya sutradara yang tumbeng.

Apakah ini karena perut kegendutan? Kurang sarapan? Atau kemalasan badan?

"Makanan sebenarnya tidak pengaruh. Manusia bisa hidup berbulan-bulan hanya dengan air saja. Mungkin kemaren kurang istirahat?" tanya instruktur melambai yang ternyata beristri.

Gue selalu tidur 8 jam. Gak lihat kulit gue bersinar terang?

Mungkin karena gue tidak bernafas dengan benar. Asupan oksigen ke otak tidak lancar.

Nafas. Gus selalu lupa bernafas. Lupa memberikan nutrisi buat tubuh dan otak gue. Makanya dia selalu terbawa ke masa lampau dan lupa menikmati matahari kini.

Roh tubuh dan jiwa. Mind body spirit. Jiwa raga karsa.

Hidup itu seperti bernafas, ada harmoni. Berkarya juga. Film itu bernafas. Coba rasakan...

Tarik...

Buang...

Tarik...

"AH gue gak suka yoga! Gue tuh meditasi lari 10 kilo ampe ga bisa mikir lagi. Nah itu buat gue meditasi," kata penulis 43 tahun bersepatu boots bertetek kencang dan berlengan padat.

Makanya karyanya penuh passion, kasar, tapi tetap bernafas. Lari 10 kilo gak akan kuat tanpa nafas yang benar.

"Anjing pug emang nafasnya jelek," kata si Gale sambil tertawa mengejek.

Muka gue langsung berlipat-lipat. Tambah pug.

Hari ini gue gak mau lagi jadi pug. Gue mau di umur 43 nanti foto di majalah Tempo, pake boots, tank top ungu, dan pamer lengan.

10 kilo?

2 kilo dulu deh, Mbak.
 

Saboteur

Ada 7 kurcaci. Empat ingin menemukan emas, 3 ingin menghalangi. 4 kurcaci  pencari emas harus menyusun 7 kartu yang menghubungkan tangga awal dan lokasi emas. Yang membuat permainan kartu ini tambah full drama dan tawa karena tidak ada yang tahu siapa kawan dan lawan. Siapa kurcaci pencari emas dan siapa kurcaci saboteur.

It needs acting.

Karenanya gue selalu kalah dan 2 wanita di kanan kiri gue selalu menang berkat jago memalsukan senyum dan menyusun strategi penipuan.

Laen kali gue casting suruh maen ini aja deh.

"Gak seru kalau jadi kurcaci baek. Mending jadi Saboteur," kata si Kanan.

"Iya.. Kalau Saboteur lebih banyak tantangan," sambut si Kiri dengan mata nakal.

Pantesan gue selalu ketahuan. Gue suka yang aman-aman. Kecanduan dengan kemapanan. Dan selalu takut dikalahkan.

Sejak kapan gue suka yang aman-aman? Mungkin karena sejak kecil gue selalu jadi anak baik, disayang mami papi dan dipuji guru-guru. Overdosis approval, gue jadi selalu butuh approval orang lain.

Gak seperti 6 kurcaci lainnya.

Enam kurcaci lainnya lulusan sebuah sekolah seni rupa ternama di Bandung. Tiga dosen dan tiga mantan mahasiswa, tapi tak terasa beda kasta seperti hubungan dosen-mahasiswa di sekolah-sekolah Indonesia pada umumnya. Sepertinya memuja ketidakmapanan, sangat suka dengan tantangan, dan somehow terasa lebih menyenangkan.

Ada satu masa gue gak takut dengan ketidakmapanan. Resign, gak takut gak punya duit karena Tuhan pasti mencukupi. Gak takut gagal karena Tuhan gak peduli hasil akhir. Gak takut gak menyenangkan karena Tuhan gak menuntut gue fun.

Tapi setelah berjalan dalam lembah kekelaman dan nonton Borgias season dua, gue semakin curiga dengan semua yang memakai kata Tuhan. Mungkin karena dulu gue sering memakai kata Tuhan simply karena lingkungan  gue lebih menerima ketika gue ber-Tuhan.  I need my daily dose of approval.

Tapi gue suka berdoa. Gue suka ngobrol-ngobrol tiap pagi dengan Tuhan. Gue suka punya my own personal time dengan Tuhan, membuat gue lebih tahu siapa gue, apa gue, dan kenapa gue tanpa terpengaruh keinginan gue yang untuk selalu diterima lingkungan. 

Doa  adalah sumber kekuatan. Doa adalah sumber keyakinan. Dan doa adalah sumber penghiburan.

Cara gue berdoa mungkin tidak sama lagi dengan kalian. Tapi bukan berarti Tuhan tidak mendengarkan. 

"Oi. Nyangkul lo," si Kiri mentoel, melihat gue bengong.

Gue kembali ke kartu dan melanjutkan sabotase. Tuhan kembali menunggu.

Sabar ya. I'm working it out.

Jumat, 05 April 2013

Peta Di Awan

Pagi ini gue memandang awan. Putih tanpa biru, dengan gradasi kelabu. Hujan deras membuat Bandung Utara terasa dingin-dingin romantis , Bandung Selatan banjir-banjir tragis.

Seratus lima puluh tahun yang lalu, menantu seorang pedagang budak juga pernah memandang langit. Dia merasa waktunya sudah dekat, istrinya masih di seberang lautan. Satu-satunya yang bisa mengobati kerinduannya adalah langit, langit yang sama  yang akan dilihat istirnya. Untungnya dia pernah menolong seorang budak yang menyelundup ke kapal ini, sehingga si budak berbalik menolongnya. Sesampainya di daratan, hidupnya berubah. Dia mempelopori persamaan hak kulit hitam dan menuliskannnya dalam sebuah jurnal.

Selang setengah abad, kata-katanya dibaca seorang komponis muda yang kemudian menulis sebuah musik yang diberi judul Peta Atlas. Dia mati bunuh diri sebelum sempat mempublikasikan musiknya, sebelum Love of his life sempat melepas rindu.

Tapi musik ini  sampai ke telinga seorang jurnalis San Fransisco di tahun 1975. Musik ini tidak terkenal, tapi Rey merasa yakin dia mengenal musik ini. Tanda lahirnya pun sama dengan si komponis, kata kekasih si komponis yang 'kebetulan' terperangkap bersama Rey di dalam lift. Pertemuan kebetulan ini membawa Rey kepada penyelidikan  kolusi di perusahaan nuklir yang ternyata didanai duit minyak yang kemudian dituliskan Rey dalam sebuah novel.

Di London masa kini, novel ini dibaca seorang penerbit pengecut yang akhirnya berani membebaskan teman-teman jomponya dari Penjara Jompo. Pengalaman kabur ini  akhirnya menjadi sebuah film.

Filmnya ditonton di Neo Seoul oleh seorang manusia kloningan yang dianggap lebih rendah dari manusia beneran. Manusia kloningan boleh didaur ulang setelah 12 tahun hidup dan  dijadikan sebagai sumber protein murah yang dikonsumsi sesamanya. Sonmi akhirnya menuntut persamaan hak dan memimpin gerakan perubahan dan menyebarkan pidatonya lewat  internet.

2000 tahun kemudian, Sonmi sudah menjadi Tuhan bagi banyak orang. Pidatonya dituliskan sebagai kebenaran yang harus dihayati setiap pagi. Namanya disebut untuk meminta perlindungan dan kesembuhan.  Setelah dunia hancur, manusia pindah ke planet lain. Tapi tiap malam seorang pengikut Sonmi selalu menceritakan Bumi kepada anak cucunya. Semuanya mengelilingi dia di bawah ribuan bintang, persis seperti imajinasi gue tentang Abraham.

Cerita turun temurun, lewat jurnal, musik, novel, film, youtube, dan oral. The storyteller keeps generations in touch with each other. Lintas waktu. Lintas tempat. Lintas kulit. Lintas planet.

Cerita yang sama terus berulang. Manusia terus saja mengulangi kesalahan yang sama. Menganggap orang lain lebih rendah daripada dirinya.  Ada suatu masa kulit hitam dianggap halal dibunuh. Ada satu masa homo dianggap halal dibunuh. Ada satu massa ketika manusia miskin halal dibunuh, demi kepentingan para milioner pemilik saham minyak. Ada satu masa, manusia tua halal dibunuh, pelan-pelan lewat Panti Jompo yang dibayar mahal oleh anak-anak mereka. Ada satu masa, manusia kloningan halal dibunuh. Dan ada satu massa, manusia lemah halal dibunuh. Yang kuat yang berhak hidup.

Tapi ada satu yang tetap membuat mereka bertahan hidup, dan tak keberatan berjuang walau tahu akhirnya akan dihukum mati di kursi listrik. Kebenaran harus diceritakan.

"What if nobody believes your story?" kata si pemeriksa kepada Sonmi sebelum dia dieksekusi.

"Somebody already has." jawab Sonmi sambil memandang mata penyidiknya.

Dan penyidik hanya terdiam. Tapi tidak selamanya dia diam. Karena 2000 tahun kemudian cerita Sonmi terus diceritakan, padahal gerombolan Sonmi sudah habis dieksekusi.

Manusia datang dan pergi. The truth is always passed on.

I wanna tell you a story.

Kamis, 04 April 2013

Sepertiga Jiwa

"Tahun depan gue mau kejar setoran, 3 film langsung!!!" sesumbar gue tahun lalu, setelah setahun gak bikin film. Setahun gue tersita mengais seratus ribuan dari 10 ribu orang. My Begging Pilgrimage.

Tahun ini : Oma Kepo, Love Expired, dan Amok. My Big Budget Pilgrimage.

Ternyata takdir berkata beda. Film-film berbiaya besar terpaksa gue tunda ke tahun depan, saat pemilik kapital negara ini tidak lagi bertanya-tanya siapa ketua preman nasional selanjutnya. But no more begging pilgrimage.

Let's start a low pilgrimage.  Low budget, Low carbo, low iron, but high in return.

Yeah, baby! Amen to that.

Tahun ini kita mulai dengan Amok, yang termurah di antara ketiganya.

"Kok judulnya Amok tapi di dalamnya gak ada amuk massa?" tanya koko ganteng pendana kita.

Maklum budgetnya mengharamkan scene-scene bermassa lebih dari lima. Gak bisa ganti budget, terpaksa ganti judul.

Dongeng Bawah Angin.

Lebih puitis. Lebih Indonesia. Lebih ramah adegan sepi.

Isinya kumpulan 5 film pendek berdasarkan 5 cerita rakyat dari Bawah Angin: Timun Mas, Lutung Kasarung, Cinduo Mato, Bawang Merah Bawang Putih, dan Sigale-Gale.

Punya gue tentunya Sigale-Gale versi masa depan. Judulnya The Dancing Gale. Settingnya di dunia sampah di mana cuma tersisa cewe-cewe dan bencong. Semua cowo udah pada mati karena perang atau bunuh diri kalah pemilu.

It's a haunting and less dialog film. Shooting Juni.

Yang ke dua ternyata Demi Turki, reality show 13 episode berdasarkan sepupu-sepupu gue yang taruhan bakal kurus dengan hadiah ke Turki. Iseng-iseng cerita ke TV, malah mereka minta tayang Juni.

Gak ada haunting-haunting-nya  dan dialog di mana-mana. Gak mungkin mendiamkan Batak-Batak kalau udah terlanjur ngumpul. Shooting April.

Yang ketiga adalah In The Absence Of The Sun, supposed to be film pertama Lucky Kuswandi sebelum akhirnya bikin Madame X duluan. Dari judulnya aja gue udah langsung jatuh cinta. Apalagi pas baca script-nya. Sudah direvisi dari script darft 1-nya yang konon menang Jiffest masa lalu.  Dengan Black Magic Cinema Camera akan kita telanjangi malam-malam Jakarta sampai pagi.

Tapi itu simpan  dulu. Shootingnya masih Agustus. Hari ini gue membagi dua jiwa gue: separuh komedi separuh tragedi.

Separuh imajinasi membayangkan para penari wanita bertulang menonjol tak berlemak, separuh lagi dipenuhi lemak-lemak Sepupu-Sepupu Gondut.

Satu tabs berisi tarian telanjang manusia dengan gerak patah-patah slomo, tabs lain reality show cewe-cewe cakar-cakaran.

Sejam merinding, sejam tertawa.

And I like both part of me.  Juggling 2 projects at the same time. Jadi mengerti kenapa Robert Rodriguez gak bisa cuma ngerjain satu proyek di satu saat. Dancing Gale gue jadi lebih nakal, dan Demi Turki gue jadi lebih artistik.

Tahun depan 4 film?

Bring it on, Baby.

Rabu, 03 April 2013

Memilih

"Bikinin iklan untuk campaign-ku dong. Untuk Bandung," BBM dosen gue yang kaca matanya paling keren. Dasinya juga. Beli di Tokyo. Bukan dengan dana studi banding tentunya. Doi arsitek ahli tata kota yang sudah melanglang buana ke berbagai pelosok dunia untuk mendesain kota-kota mereka agar lebih sustainable.

Sekarang dia ingin menata kotanya sendiri, Bandung, dengan mencalonkan diri menjadi walikota.

Sudah cukup sepuluh tahun Bandung dihiasi foto bapak-bapak berwajah template yang maksa muncul di tiap billboard kota, walaupun isinya tentang uji emisi kendaraan sekalipun.   Sudah saatnya Bandung dipimpin walikota baru yang bukan istrinya.   

Gue ingin mendukung. Dari pemilihan kacamata, terbukti kalau bapak ini setidaknya mempunyai taste lebih cantik. Kalau sampai suatu hari dia terjatuh dalam dosa narsis para pejabat negara, setidaknya Bandung tidak dihiasi billboard diri dengan keahlian photoshop pas-pasan. 

Tapi jempol gue tidak kunjung menekan O dan K  , teringat jengah dengan tim pendukungnya yang tak berkacamata sekeren si Bapak.

Wakil walikotanya bukan Ahok. Cuma another bapak-bapak bermuka template. Didukung partai yang menghidupi diri dari bikin harga daging sapi dan bawang melonjak. Partai lainnya mendanai diri dari harta seorang tentara pintar nan bengis zaman orde baru. 

Tapi kalau gak kompromi ama partai ya dia gak bisa maju. Jokowi aja didukung partai kok. 

Kalau dua-duanya gak oke, ya pilih yang lebih bagus dari dua itu.  Di saat Wakil Ketua Pengadilan Bandung sudah ditangkap tangan menghitung duit suap dari 7 kader Pak Walikota yang nyaplok duit bantuan sosial masyarakat, tentunya memilih tidak sulit.

Dengan yakin gue akan mencoblos kacamata si Bapak dalam pemilihan nanti, tapi untuk ikut dalam tim kampanyenya?

Terbayang gue di antara sapi-sapi berjanggut dan tawa mantan tentara kaya. Yang akan gue promosikan tidak hanya si bapak, tapi wakilnya juga.

Hari ini gue sudah memilih. Gue akan menggarap lahan yang sudah diberikan kepada gue.

Film. Bukan iklan kampanye.
 

Selasa, 02 April 2013

Low Iron Diet

Women with low iron diet are 30 % more likely to have PMS : keram perut, buas kepada sesama, ganas kepada coklat dan karbohidrat sederhana lainnya.

Women with low iron diet are more likely to soften  all of her edges and forget to remember it as it really was: Fucking Hell!

So, Iron. Come to mama! Hari ini gue akan makan kalian, wahai  kangkung bayam brokoli dan segala makanan Popeye.

Eh, tapi gak boleh yang kalengan. Lebih sehat yang organik.

Makanan Popeye, coret. Kangkung bayam brokoli, masuk.

Malam ini gue wanita besi, tidak lagi mimpi tentang dia.

Hihiyyy.  I'm free. I'm tough. I'm the iron lady.

Semenit.

Semenit kemudian merasa bersalah kok gak mimpi tentang dia.

Check baby check, boker gue isinya kangkung semua. Ternyata tubuh kita gak bisa mengkonsumsi kangkung kebanyakan.

Memang aku ini wanita lemah. Hik.