Selasa, 09 April 2013

Manis

"Tambahin satu karakter deh yang manis-manis biar penonton cewe betah," katanya merevisi reality show gue.

Gak reality show lagi dong kalau scripted?

Ternyata semua reality show scripted. 

Reality juga scripted kok. Buka aja scripture. Endingnya udah ada.

Jadi hari ini kita menambahkan seorang karakter manis, menggantikan posisi Bang Deden sebagai antagonis.

Untuk antagonis, mendingan cewe. Batak. Yang udah nikah ama Batak. Beranak dua. Tapi badannya masih singset. Lehernya masih angsa. Suaranya masih bikin merinding. Dan mengaku anaknya Raja.

Biar boru-boru Juntak lain di Demi Turki makin senewen. Makin drama. Makin seru ditonton.

"Itu mah bikin penonton cewe sebel, gak malah pada betah," kata gue melihat hasil search image si Boru Raja.

Boru Raja it is then. Pemanisnya nanti aja gonta ganti per episode.

Revenge is sweet but not fattening.

Senin, 08 April 2013

My Own Dystopia

"Film ini rawan banget looknya kejebak jadi  kaya film-film Dystopia 90an ya. Terminator. Robocop. Underworld...

"Underworld sih masih bagus ya," kata salah satu aktor gue.

Dystopia? Gak mau ketahuan gak tahu, gue langsung cek cek google, my savior.

Definition of DYSTOPIA
1: an imaginary place where people lead dehumanized and often fearful lives
2: anti-utopia

"Nggak akan kok, makanya lo ikutan aja hunting lokasi. Ntar kalau lokasinya udah ketemu, elemen-elemen lain akan mengikuti,"  kata gue mengutip aktor gue lainnya. Sudah 3 lokasi didatangi: hutan hijau bersungai bergua dan berkuburan batu, tempat pembuangan sampah akhir dengan sampah plastik sejauh mata memandang, dan gunung tempat penambangan batu dengan mesin-mesin. Belum ada yang memenuhi dystopia versi kita.

Working with 2 visual artists yang perfeksionis, sutradara diteror untuk lebih bervisi dan berimajinasi kalau gak mau didemo pemain di tengah shooting.

Ayo, sutradara. Bayangkan. Dalam beberapa ratus tahun ke depan, dunia akan menjadi seperti apa?

Dunia tinggal diisi segelintir wanita dan bencong. Laki-laki udah pada mati karena perang, bunuh diri kalah pemilu, atau mati ketimpa billboard kampanye sendiri. Mungkin masih ada Papi dan cowo-cowo non patriarki tersisa, tapi budget gue cuma buat 3 karakter, jadi anggap sajalah mati semua.

Dunia udah gak lagi berpohon. Udah jadi tempat pembuangan sampah buat planet-planet lain. Atau tanahnya abis ditutupin kuburan? Atau simply tandus tak berkehidupan? Yang tersisa hanya segelintir manusia yang menguasai Energi Terbarukan dan budayanya tidak tergantung bahan bakar fosil.

Atau mungkin Danau Toba meledak lagi, jadi 60% populasi dunia punah dan bumi diselimuti musim dingin selama 6 tahun? 40% persen yang tersisa ini siapa saja?  Mereka yang gak tinggal dekat Danau Toba? Tentunya mereka yang punya teknologi pemanas yang gak tergantung PLN karena PLN udah menghancurkan diri sendiri karena tak ada lagi minyak dan gas yang menghidupi. 

Atau mereka yang lemaknya tebal? Bah udah keburu mati kurang kardio.

Atau mereka yang  gak butuh makan banyak karena makanan udah pada abis?

Atau mereka yang bisa makan sesama manusia?

Atau binatang-binatang yang tahan api?  Kecoa?

Mereka yang punya teknologi sejenis kapal Nuh versi volcano resistant?

Lebih seru Bahtera Nuh! The Cube floating in a dystopian world. Nah, selama 6 tahun musim dingin, bukannya bekerja sama menghadapi bencana,  para penghuni Bahtera Nuh ini kemudian saling bertarung satu sama lain untuk mendapatkan kekuasaan.

Jadilah sisanya tinggal para wanita, anak-anak, dan bencong.

Mereka mengembangkan sebuah teknologi yang bisa menghidupkan manusia kembali seperti layaknya pohon. Hanya saja tidak sembarangan orang bisa dihidupkan kembali karena mereka takut kalau orang-orang penjahat bumi akan dihidupkan kembali.

Kenapa Gale harus dihidupkan?  

Kenapa dia gak boleh menari?
 
Kenapa semua harus mati?

Kenapa pohon bisa hidup lagi?

Just wait and see. Ceritanya akan tetapseru walau  endingnya kita sudah tahu.

Pelangi.





Minggu, 07 April 2013

Nafas

Gue terduduk, hampir blackout setelah beberapa pose sederhana di hari ke tiga latihan pelenturan Gale, pemeran Dancing Gale yang in real life beneran penyakitan. Harus dilenturkan.

Taunya sutradara yang tumbeng.

Apakah ini karena perut kegendutan? Kurang sarapan? Atau kemalasan badan?

"Makanan sebenarnya tidak pengaruh. Manusia bisa hidup berbulan-bulan hanya dengan air saja. Mungkin kemaren kurang istirahat?" tanya instruktur melambai yang ternyata beristri.

Gue selalu tidur 8 jam. Gak lihat kulit gue bersinar terang?

Mungkin karena gue tidak bernafas dengan benar. Asupan oksigen ke otak tidak lancar.

Nafas. Gus selalu lupa bernafas. Lupa memberikan nutrisi buat tubuh dan otak gue. Makanya dia selalu terbawa ke masa lampau dan lupa menikmati matahari kini.

Roh tubuh dan jiwa. Mind body spirit. Jiwa raga karsa.

Hidup itu seperti bernafas, ada harmoni. Berkarya juga. Film itu bernafas. Coba rasakan...

Tarik...

Buang...

Tarik...

"AH gue gak suka yoga! Gue tuh meditasi lari 10 kilo ampe ga bisa mikir lagi. Nah itu buat gue meditasi," kata penulis 43 tahun bersepatu boots bertetek kencang dan berlengan padat.

Makanya karyanya penuh passion, kasar, tapi tetap bernafas. Lari 10 kilo gak akan kuat tanpa nafas yang benar.

"Anjing pug emang nafasnya jelek," kata si Gale sambil tertawa mengejek.

Muka gue langsung berlipat-lipat. Tambah pug.

Hari ini gue gak mau lagi jadi pug. Gue mau di umur 43 nanti foto di majalah Tempo, pake boots, tank top ungu, dan pamer lengan.

10 kilo?

2 kilo dulu deh, Mbak.
 

Saboteur

Ada 7 kurcaci. Empat ingin menemukan emas, 3 ingin menghalangi. 4 kurcaci  pencari emas harus menyusun 7 kartu yang menghubungkan tangga awal dan lokasi emas. Yang membuat permainan kartu ini tambah full drama dan tawa karena tidak ada yang tahu siapa kawan dan lawan. Siapa kurcaci pencari emas dan siapa kurcaci saboteur.

It needs acting.

Karenanya gue selalu kalah dan 2 wanita di kanan kiri gue selalu menang berkat jago memalsukan senyum dan menyusun strategi penipuan.

Laen kali gue casting suruh maen ini aja deh.

"Gak seru kalau jadi kurcaci baek. Mending jadi Saboteur," kata si Kanan.

"Iya.. Kalau Saboteur lebih banyak tantangan," sambut si Kiri dengan mata nakal.

Pantesan gue selalu ketahuan. Gue suka yang aman-aman. Kecanduan dengan kemapanan. Dan selalu takut dikalahkan.

Sejak kapan gue suka yang aman-aman? Mungkin karena sejak kecil gue selalu jadi anak baik, disayang mami papi dan dipuji guru-guru. Overdosis approval, gue jadi selalu butuh approval orang lain.

Gak seperti 6 kurcaci lainnya.

Enam kurcaci lainnya lulusan sebuah sekolah seni rupa ternama di Bandung. Tiga dosen dan tiga mantan mahasiswa, tapi tak terasa beda kasta seperti hubungan dosen-mahasiswa di sekolah-sekolah Indonesia pada umumnya. Sepertinya memuja ketidakmapanan, sangat suka dengan tantangan, dan somehow terasa lebih menyenangkan.

Ada satu masa gue gak takut dengan ketidakmapanan. Resign, gak takut gak punya duit karena Tuhan pasti mencukupi. Gak takut gagal karena Tuhan gak peduli hasil akhir. Gak takut gak menyenangkan karena Tuhan gak menuntut gue fun.

Tapi setelah berjalan dalam lembah kekelaman dan nonton Borgias season dua, gue semakin curiga dengan semua yang memakai kata Tuhan. Mungkin karena dulu gue sering memakai kata Tuhan simply karena lingkungan  gue lebih menerima ketika gue ber-Tuhan.  I need my daily dose of approval.

Tapi gue suka berdoa. Gue suka ngobrol-ngobrol tiap pagi dengan Tuhan. Gue suka punya my own personal time dengan Tuhan, membuat gue lebih tahu siapa gue, apa gue, dan kenapa gue tanpa terpengaruh keinginan gue yang untuk selalu diterima lingkungan. 

Doa  adalah sumber kekuatan. Doa adalah sumber keyakinan. Dan doa adalah sumber penghiburan.

Cara gue berdoa mungkin tidak sama lagi dengan kalian. Tapi bukan berarti Tuhan tidak mendengarkan. 

"Oi. Nyangkul lo," si Kiri mentoel, melihat gue bengong.

Gue kembali ke kartu dan melanjutkan sabotase. Tuhan kembali menunggu.

Sabar ya. I'm working it out.

Jumat, 05 April 2013

Peta Di Awan

Pagi ini gue memandang awan. Putih tanpa biru, dengan gradasi kelabu. Hujan deras membuat Bandung Utara terasa dingin-dingin romantis , Bandung Selatan banjir-banjir tragis.

Seratus lima puluh tahun yang lalu, menantu seorang pedagang budak juga pernah memandang langit. Dia merasa waktunya sudah dekat, istrinya masih di seberang lautan. Satu-satunya yang bisa mengobati kerinduannya adalah langit, langit yang sama  yang akan dilihat istirnya. Untungnya dia pernah menolong seorang budak yang menyelundup ke kapal ini, sehingga si budak berbalik menolongnya. Sesampainya di daratan, hidupnya berubah. Dia mempelopori persamaan hak kulit hitam dan menuliskannnya dalam sebuah jurnal.

Selang setengah abad, kata-katanya dibaca seorang komponis muda yang kemudian menulis sebuah musik yang diberi judul Peta Atlas. Dia mati bunuh diri sebelum sempat mempublikasikan musiknya, sebelum Love of his life sempat melepas rindu.

Tapi musik ini  sampai ke telinga seorang jurnalis San Fransisco di tahun 1975. Musik ini tidak terkenal, tapi Rey merasa yakin dia mengenal musik ini. Tanda lahirnya pun sama dengan si komponis, kata kekasih si komponis yang 'kebetulan' terperangkap bersama Rey di dalam lift. Pertemuan kebetulan ini membawa Rey kepada penyelidikan  kolusi di perusahaan nuklir yang ternyata didanai duit minyak yang kemudian dituliskan Rey dalam sebuah novel.

Di London masa kini, novel ini dibaca seorang penerbit pengecut yang akhirnya berani membebaskan teman-teman jomponya dari Penjara Jompo. Pengalaman kabur ini  akhirnya menjadi sebuah film.

Filmnya ditonton di Neo Seoul oleh seorang manusia kloningan yang dianggap lebih rendah dari manusia beneran. Manusia kloningan boleh didaur ulang setelah 12 tahun hidup dan  dijadikan sebagai sumber protein murah yang dikonsumsi sesamanya. Sonmi akhirnya menuntut persamaan hak dan memimpin gerakan perubahan dan menyebarkan pidatonya lewat  internet.

2000 tahun kemudian, Sonmi sudah menjadi Tuhan bagi banyak orang. Pidatonya dituliskan sebagai kebenaran yang harus dihayati setiap pagi. Namanya disebut untuk meminta perlindungan dan kesembuhan.  Setelah dunia hancur, manusia pindah ke planet lain. Tapi tiap malam seorang pengikut Sonmi selalu menceritakan Bumi kepada anak cucunya. Semuanya mengelilingi dia di bawah ribuan bintang, persis seperti imajinasi gue tentang Abraham.

Cerita turun temurun, lewat jurnal, musik, novel, film, youtube, dan oral. The storyteller keeps generations in touch with each other. Lintas waktu. Lintas tempat. Lintas kulit. Lintas planet.

Cerita yang sama terus berulang. Manusia terus saja mengulangi kesalahan yang sama. Menganggap orang lain lebih rendah daripada dirinya.  Ada suatu masa kulit hitam dianggap halal dibunuh. Ada satu masa homo dianggap halal dibunuh. Ada satu massa ketika manusia miskin halal dibunuh, demi kepentingan para milioner pemilik saham minyak. Ada satu masa, manusia tua halal dibunuh, pelan-pelan lewat Panti Jompo yang dibayar mahal oleh anak-anak mereka. Ada satu masa, manusia kloningan halal dibunuh. Dan ada satu massa, manusia lemah halal dibunuh. Yang kuat yang berhak hidup.

Tapi ada satu yang tetap membuat mereka bertahan hidup, dan tak keberatan berjuang walau tahu akhirnya akan dihukum mati di kursi listrik. Kebenaran harus diceritakan.

"What if nobody believes your story?" kata si pemeriksa kepada Sonmi sebelum dia dieksekusi.

"Somebody already has." jawab Sonmi sambil memandang mata penyidiknya.

Dan penyidik hanya terdiam. Tapi tidak selamanya dia diam. Karena 2000 tahun kemudian cerita Sonmi terus diceritakan, padahal gerombolan Sonmi sudah habis dieksekusi.

Manusia datang dan pergi. The truth is always passed on.

I wanna tell you a story.

Kamis, 04 April 2013

Sepertiga Jiwa

"Tahun depan gue mau kejar setoran, 3 film langsung!!!" sesumbar gue tahun lalu, setelah setahun gak bikin film. Setahun gue tersita mengais seratus ribuan dari 10 ribu orang. My Begging Pilgrimage.

Tahun ini : Oma Kepo, Love Expired, dan Amok. My Big Budget Pilgrimage.

Ternyata takdir berkata beda. Film-film berbiaya besar terpaksa gue tunda ke tahun depan, saat pemilik kapital negara ini tidak lagi bertanya-tanya siapa ketua preman nasional selanjutnya. But no more begging pilgrimage.

Let's start a low pilgrimage.  Low budget, Low carbo, low iron, but high in return.

Yeah, baby! Amen to that.

Tahun ini kita mulai dengan Amok, yang termurah di antara ketiganya.

"Kok judulnya Amok tapi di dalamnya gak ada amuk massa?" tanya koko ganteng pendana kita.

Maklum budgetnya mengharamkan scene-scene bermassa lebih dari lima. Gak bisa ganti budget, terpaksa ganti judul.

Dongeng Bawah Angin.

Lebih puitis. Lebih Indonesia. Lebih ramah adegan sepi.

Isinya kumpulan 5 film pendek berdasarkan 5 cerita rakyat dari Bawah Angin: Timun Mas, Lutung Kasarung, Cinduo Mato, Bawang Merah Bawang Putih, dan Sigale-Gale.

Punya gue tentunya Sigale-Gale versi masa depan. Judulnya The Dancing Gale. Settingnya di dunia sampah di mana cuma tersisa cewe-cewe dan bencong. Semua cowo udah pada mati karena perang atau bunuh diri kalah pemilu.

It's a haunting and less dialog film. Shooting Juni.

Yang ke dua ternyata Demi Turki, reality show 13 episode berdasarkan sepupu-sepupu gue yang taruhan bakal kurus dengan hadiah ke Turki. Iseng-iseng cerita ke TV, malah mereka minta tayang Juni.

Gak ada haunting-haunting-nya  dan dialog di mana-mana. Gak mungkin mendiamkan Batak-Batak kalau udah terlanjur ngumpul. Shooting April.

Yang ketiga adalah In The Absence Of The Sun, supposed to be film pertama Lucky Kuswandi sebelum akhirnya bikin Madame X duluan. Dari judulnya aja gue udah langsung jatuh cinta. Apalagi pas baca script-nya. Sudah direvisi dari script darft 1-nya yang konon menang Jiffest masa lalu.  Dengan Black Magic Cinema Camera akan kita telanjangi malam-malam Jakarta sampai pagi.

Tapi itu simpan  dulu. Shootingnya masih Agustus. Hari ini gue membagi dua jiwa gue: separuh komedi separuh tragedi.

Separuh imajinasi membayangkan para penari wanita bertulang menonjol tak berlemak, separuh lagi dipenuhi lemak-lemak Sepupu-Sepupu Gondut.

Satu tabs berisi tarian telanjang manusia dengan gerak patah-patah slomo, tabs lain reality show cewe-cewe cakar-cakaran.

Sejam merinding, sejam tertawa.

And I like both part of me.  Juggling 2 projects at the same time. Jadi mengerti kenapa Robert Rodriguez gak bisa cuma ngerjain satu proyek di satu saat. Dancing Gale gue jadi lebih nakal, dan Demi Turki gue jadi lebih artistik.

Tahun depan 4 film?

Bring it on, Baby.

Rabu, 03 April 2013

Memilih

"Bikinin iklan untuk campaign-ku dong. Untuk Bandung," BBM dosen gue yang kaca matanya paling keren. Dasinya juga. Beli di Tokyo. Bukan dengan dana studi banding tentunya. Doi arsitek ahli tata kota yang sudah melanglang buana ke berbagai pelosok dunia untuk mendesain kota-kota mereka agar lebih sustainable.

Sekarang dia ingin menata kotanya sendiri, Bandung, dengan mencalonkan diri menjadi walikota.

Sudah cukup sepuluh tahun Bandung dihiasi foto bapak-bapak berwajah template yang maksa muncul di tiap billboard kota, walaupun isinya tentang uji emisi kendaraan sekalipun.   Sudah saatnya Bandung dipimpin walikota baru yang bukan istrinya.   

Gue ingin mendukung. Dari pemilihan kacamata, terbukti kalau bapak ini setidaknya mempunyai taste lebih cantik. Kalau sampai suatu hari dia terjatuh dalam dosa narsis para pejabat negara, setidaknya Bandung tidak dihiasi billboard diri dengan keahlian photoshop pas-pasan. 

Tapi jempol gue tidak kunjung menekan O dan K  , teringat jengah dengan tim pendukungnya yang tak berkacamata sekeren si Bapak.

Wakil walikotanya bukan Ahok. Cuma another bapak-bapak bermuka template. Didukung partai yang menghidupi diri dari bikin harga daging sapi dan bawang melonjak. Partai lainnya mendanai diri dari harta seorang tentara pintar nan bengis zaman orde baru. 

Tapi kalau gak kompromi ama partai ya dia gak bisa maju. Jokowi aja didukung partai kok. 

Kalau dua-duanya gak oke, ya pilih yang lebih bagus dari dua itu.  Di saat Wakil Ketua Pengadilan Bandung sudah ditangkap tangan menghitung duit suap dari 7 kader Pak Walikota yang nyaplok duit bantuan sosial masyarakat, tentunya memilih tidak sulit.

Dengan yakin gue akan mencoblos kacamata si Bapak dalam pemilihan nanti, tapi untuk ikut dalam tim kampanyenya?

Terbayang gue di antara sapi-sapi berjanggut dan tawa mantan tentara kaya. Yang akan gue promosikan tidak hanya si bapak, tapi wakilnya juga.

Hari ini gue sudah memilih. Gue akan menggarap lahan yang sudah diberikan kepada gue.

Film. Bukan iklan kampanye.
 

Selasa, 02 April 2013

Low Iron Diet

Women with low iron diet are 30 % more likely to have PMS : keram perut, buas kepada sesama, ganas kepada coklat dan karbohidrat sederhana lainnya.

Women with low iron diet are more likely to soften  all of her edges and forget to remember it as it really was: Fucking Hell!

So, Iron. Come to mama! Hari ini gue akan makan kalian, wahai  kangkung bayam brokoli dan segala makanan Popeye.

Eh, tapi gak boleh yang kalengan. Lebih sehat yang organik.

Makanan Popeye, coret. Kangkung bayam brokoli, masuk.

Malam ini gue wanita besi, tidak lagi mimpi tentang dia.

Hihiyyy.  I'm free. I'm tough. I'm the iron lady.

Semenit.

Semenit kemudian merasa bersalah kok gak mimpi tentang dia.

Check baby check, boker gue isinya kangkung semua. Ternyata tubuh kita gak bisa mengkonsumsi kangkung kebanyakan.

Memang aku ini wanita lemah. Hik.



Senin, 01 April 2013

A Little Bit Of Magic

"Tahu Marina Abromovich?" tanya soerang performer yang bellum pernah main film.

Si anak tentara tak berbudaya  menggeleng.

Pina Bausch? Santa Sangre? Suspiria?

Kalau  Black Swan, dia tahu.

Baraka? Akira Kurosawa yang Dreams?

"Iya itu film wajib pas kuliah," kata seorang lulusan Fakultas Film dan Televisi.

Anak tentara menggeleng.

Frida?

Gue mengangguk bahagia. Akhirnya ada juga yang gue tahu.

"Inget scene pas bus-nya ketabrak gak? Itu kan indah banget."

Si lulusan FFTV mengiyakan. Gue lupa.

"Inget scene ending yang di tempat tidur?"

Si lulusan FFTV mengiyakan. Gue lupa.

Dan gue mengaku sutradara.

Kadang-kadang gue merasa kok bisa si anak tentara tak berbudaya ini of all people punya portfolio 2 film panjang, sementara lulusan FFTV yang sangat berbakat dan berbudaya ini  belum. Mungkin emang bikin film gak butuh bakat, cuma butuh nekat.

Gue pulang dibekali Baraka dan Akira Kurosawa. Dan ketika ditonton, gue menganga kagum. Sebentar. Tertidur, sebentar. Dan bangun-bangun mengutuki referensi gue yang sangat Hollywood.

Cek BB, Beberapa email muncul, ternyata dari aktor-ku. Isinya alternatif setting, alternatif kostum, alternatif topeng, dan alternatif awan.

Kalau kata Elia Kazan, tugas sutradara 80% selesai ketika kita memilih aktor yang tepat. In my case, tugas gue 98% selesai karena si aktor datang sepaket dengan alternatif awan. Gue tinggal jaga monitor dan bilang cut.

Semua berkat memilih aktor yang tepat.

Tapi benarkah gue yang memilih?

It's a little bit of magic that takes me here.

More reasons not to put 'a film by sammaria'.




Minggu, 31 Maret 2013

The Art Of Doing Nothing

Hari ini membership renang gue berakhir, setelah 15 bulan jarang dipakai. Rencananya hari ini mau berenang, steam room, sauna, dan maksimalisasi 5 juta gue yang baru terpakai di bulan terakhirnya. Gak kesampaian gara-gara hujan.

Lebih baik gue membaca, mencoba memahami gerak politik Si Komo dan Para Sengkuni, mengapa minyak tetap disubsidi, dan mengapa Para Menteri Demokat semakin gemar muncul di billboard. Di catatan pinggir, Zuangzhi meyakinkan gue untuk menutup buku dan mencoba menikmati kesunyian dan hal-hal yang konon tak produktif lainnya. 

Sambil memandangi langit mendung  bandung dari lantai tiga sebuah kamar berkayu, gue mendengarkan playlist BB yang gak berubah sejak lebaran tahun lalu. Musik-musik penuh kemarahan yang membuat gue ingin menari berjam-jam, turun 26 kilo, dan pamer pacar baru.

Sejak kapan gue jadi pendendam?

Hujan mulai turun, tapi gue gak menangis. Udah abis.

Makanya gue gak suka kesunyian dan perenungan, hanya akan membawa pikiran gue  bolak balik kepada dia yang harus disyukuri, tidak boleh dibenci, tapi selalu memuakkan hati. Apalagi menjelang pendarahan bulanan.

Lebih baik gue  mengedit teaser 2 menit, biar mereka tahu betapa serunya keluarga gue. Seru, hanya ada satu yang nggak. Wajah gue  marah permanen, lebih kurus 8 kg tapi tidak semenarik dulu.

I don't like me this way.

Gue membuka twitter, yang sudah berbulan-bulan tidak dibuka dan membaca timeline-nya yang penuh kepalsuan. Semenit bersyukur gue gak harus lagi bolak-balik Tangerang cuma meladeni kemanjaannya yang ternyata gak cuma sama gua. Semenit lagi marah kenapa gue begitu sembarangan mempergunakan BBM  subsidi negara atas nama cinta. Semenit lagi pengen manjain dia, lupa kalau dia punya dua.

Fokus! Back to art of doing nothing.

Sudah jam 10, gue gak mau my only 31 Maret 2013 gue akhiri dengan rasa benci. Apakah ini efek samping dinding vagina yang meluruh tak dibuahi, atau kekerdilan mental yang tak rela memaafkan?

Gue mengulang hari dan coba mensyukuri.

Thanks God untuk hujan deras yang tak berhenti-berhenti, sehingga gue gak perlu berenang dan menjawab  rentetan rayuan perpanjangan membership.

Thanks God untuk wajah yang penuh kemarahan, sehingga karakter Demi Turki jadi lebih berwarna.

Thanks God karena dia pernah ada. Thanks God dia sudah gak ada.

Tiba-tiba whatsapp berbunyi:

"Hey babe, 5 Juni gue ke Indonesia. Pokoknya gue booking ya! Bilang dari sekarang ama pacar."

Thanks God gue gak punya pacar :D