Minggu, 27 Mei 2012

A Movie He Wants To Make

"We love the script," they said.


This comes from a company who produced 60 something movies worldwide.


"When I first heard the premis, I told them to set up the meeting right away."


This comes from the Weinstein of Singapore.


"I tell you ya, your project is the only one with genuine investment interest in it."


This comes from the festival guy who matchmakes many filmmakers and moneymakers. Even without the awards, people can smell the fun and the fortune in our project.


And all not because of me or the freakin diorama. It's all because of the script.


"His writing is really visual... and fun."


But still he doesn't think he is good enough.


Even after his first feature length script get into the competition in Berlinale.


But he is good. Even after the shabu-shabu and the constant typhoid and the death of his mother.  Still he thinks he is not good enough.


If I had his talent, and his heart... I woulda been making the best movies in the world. I would want to live after 40.


"Badan gue tambah parah," katanya. Life after 40 seems a lot further, as he wish. He wants to die gorgeous. Not old and weak and wrinkly.


I would tell him to take care more of his body so he can still live longer and keep me company. Life is a lot more fun with his witty remarks, good heart, and warm shoulder. Even if it's weak and wrinkly, the shoulder will neverlose its warmth.


But I tell him  "More reasons to make the mother movie of yours NOW" instead.


He laughs. Quietly.


He is 31.

 


Published with Blogger-droid v2.0.4

Happy Birthday, Babe

I missed your birthday.


So I don't expect a birthday card from you this year.


But you are not me. You won't forget my birthday just because I forget yours.


It's here, even if it's 20 days late.


"What? Padahal gue kirimnya express lho. Kok bisa baru nyampe?"


Padahal kartu itu lo bawa-bawa seminggu di tas. Maunya nulis pendek, tapi tiap mikirin gue lo jadi melankolik trus terbengong-bengong lama deh.


Geer;D


Bentar doang ... Pas inget lo lagi di New York sama suami lo, gak jadi geer lagi.


I was wondering, how does it feel to be married to someone yang bukan love of your life?


"When it's good, it's never really good. When it's bad, it's never really bad," kata lo di umur 29.


Tapi untuk seorang  arsitek umur 31, that might be what you need. A quiet and peaceful life in a beautiful place like Melbourne, with occasional trip to Beijing and New York. Not a passionate love affair with secret occasional rendezvous in  a hotel in  Hongkong... Or Germany.


I was wondering, will I feel the same when I was 31?


I am 29 years old. A quiet and peaceful life in Melbourne no longer looks as bad as when I was 23. But somehow my feet leads me to a more passionate life. A passion that might get me into more pain and suffering.


"In case you need a refugee, come to Melbourne. My door is always open."


Thanks, babe.


Gak sekarang tentunya. Situ lagi di New York.


In case you are in New York, that's okay. Whatsapp will always be enough.


In case you have no whatsapp, that's okay too. You are always here kok.


Aiyhhhhhh


So be it the grand confession or finding my Portia, you are rooting for me.


Now life seems a lot easier with you and whatsapp around.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sebentar Lagi...

Hari ini dia bikin coklat.


Bentuknya tai. Rasanya yummi.


"Gue jualin deh," kata salah satu ahli kaskus.  Harapannya kembali bersinar. Mungkin sebentar lagi cerah.


Dengan tekun dia membuat coklat semalaman. Mungkin ini personal legend-nya.


Kemaren aktor.


Kemarennya lagi  penyanyi.


Kemarennya lagi designer grafis.


Semuanya potentially brilliant.


Semuanya belum sampai ke brilian, sudah pindah haluan.


Mama mulai takut. Takut dia akan end up kaya papanya. Banyak bakat, tapi gak fokus. Semua mau, akhirnya semua nggak.


He doesn't know what he wants to be, but one thing for sure: He doesn't wanna be his dad.


Dia harus fokus.  Tanganku ingin menarik tangan kreatifnya dan mengarahkan mata baiknya ke tempat yang semestinya.


Tapi apa tempat yang semestinya? The land where one pursues one's dream passionately?


Matanya bersinar girang kok.


What do I know? Mungkin ini memang proses yang harus dia lewati. Who am I to judge his ways?


If I were him, I woulda done the same thing.


Tangan gue gak jadi menarik, malah melipat dan diam.  Berharap, semoga benar sebentar lagi cerah.


Kalaupun nggak, setidaknya pasti ada satu yang beli coklatnya.


Nyummm.


 


Published with Blogger-droid v2.0.4

Wanita Jilbab Itu

"Kaka... Kaka... "


Aiyhhh. Suara annoying itu lagi.


Gue menoleh sebal. Siapa yang berani panggil gue kakak? Gue 29, situ 22. Cuma beda 7 tahun. Gak usah sok muda deh.


Gue jutekin, dia tetap tersenyum lebar, pamer gigi-gigi berantakan berpagar behel warna warni dan eye liner di balik kaca mata tebal. Inget betty laFea season 4, plus jilbab.


"Dia tuh Tracy Flick."


Tracy Flick adalah seorang karakter ambisius yang akan melakukan segala cara agar jadi ketua murid di high school-nya.  There is always a Tracy Flick in every click.


Ah tapi dia gak blonde dan gak kaya raya.  Rumahnya di gang belakang pasar sederhana. Lebih cocok Betty Lafea.


"Tapi dia ambisius banget. "


Well, she is. Emang dia selalu jadi ketua sih di forum filmmaker kota kembang. Udah bertahun-tahun gak ganti-ganti. Entah karena dia gak lulus-lulus atau emang addicted jadi ketua.


Pertama kali gue offer gaji 3 juta dan dia malah minta share dari profit film, gue tersinggung. Temen-temen gue yang udah bareng gue dari film pertama aja gak ada yang berani minta gitu.


Maybe she is a Tracy Flick.


Tapi Tracy Flick gak ditinggal ayahnya. Mamanya gak harus hidup dari bikin kosan dan katering. If I were her, I woulda done the same thing.


Bahkan gue akan minta 5 juta!


"Gue gak kaget kalau one day dia bakal ninggalin kantor lo."


She is a hard working girl and deserves the best. Kalau dia akhirnya cabut trus bikin sendiri, I will be the most proud boss in the world.


"Kaka... Kaka... "


Gue  menoleh tersenyum.


There is a reason there is always a Tracy Flick in every click.


Tracy Flick makes the world go round, and kepompong gendut masih berjalan.


Thank you, Tracy Flick.


Eh... Betty season 4.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Ayah

Ayah buat gue namanya Papi. Bagi mami, dia Bang Mondang. Bagi om-om tentara, dia Pak Juntak. Bagi tante Botox kaya raya mantan teman sebangkunya, dia si Gius. Bagi tante janda temannya maen guli dulu, papi si Abang.


Namanya entah siapa. 


"Pokoknya itulah, yang adek si Manarsar, yang rumahnya di belakang sana,di Pasar Empat."


Papi dilahirkan bukan di Medan, masih di kampung dekat Danau Toba di mana harimau belum dikebunbinatangkan.


Papi dilahirkan di saat Indonesia baru merdeka. Bapaknya pegawai pos. Mamaknya anak kepala negeri. Di Sigumpar tahun 47, siapapun yang bukan petani pastilah terpandang.



Papi mengaku selalu rajin membantu ibu. Rajin belanja. Rajin memasak. Uang di rumah dia yang megang. Bukan abangnya, bukan adik perempuannya yang ada  7. Tak heran cuma Papi yang diingat Opung ketika dimensia merubah semua orang  jadi Belanda di matanya. Hanya Papi si Mondang yang tetap dia sayang.


Sangkin sayangnya papi pada Opung, mami pun protes.


"Cuma mamaknya yang dipikirkannya. Istrinya nggak. "


Katanya.


Padahal papi masih masak. Masih nyapu. Masih mandiin Bobot dan Boni. Masih cari uang. Tapi masih kurang.


Dulu papi lebih baik lagi.  Semuua gara-gara pelatihan tentara di suatu masa ketika pangkat papi belum berbunga. Kata komandannya, papi cocoknya jadi bapak rumah tangga. Gak cocok jadi tentara.


Semenjak itu papi dilatih untuk nyuruh-nyuruh. Semua perintahnya gak boleh dibantah. Bahkan gorden diatur papi. 


Mami terpaksa nurut, walaupun gorden ungu gak cocok ama sofa merah.  Demi karir papi.


Saat papi jadi siswa, di brain-wash tentara biar mampu mimpin negara, gue lahir.  Gue gak tahu sebaik apa papi dulu. Papi versi komandan yang semua perintahnya  dituruti, tetap manis dan baik hati. 


Wajahnya serem sih.


Kalau ketawa, gak cocok.


Papi yang  gue ingat adalah komandan yang dihormati orang.  Gue gak jadi ditilang kalau bawa nama papi. Nginep gratis kalau bilang ke temen papi. Dikasih Barbie ama om-om Cina teman Papi.


Tiap papi pulang kantor, nona kecil diajak 'beli-beli' naik mobil papi. Nona kecil duduk di depan, masuk toko makanan dan bisa beli apa aja yang nona kecil mau sementara papi menyetir pelan-pelan, memastikan kotanya aman dan premannya gak macam-macam.


Sekarang papi udah pensiunan, botak, dan ketinggalan topi melulu. Gak pernah  lagi ngajak 'beli-beli' karena nona kecil mintanya gak lagi bonbon, tapi mobil.


Tapi papi masih punya waktu.


Papi keliling menemui teman-teman lamanya, bawa map dan flyer.  Nyari coPro untuk nona kecil yang butuh 1M untuk filmnya.


"Laen kali gak usahlah lo bikin film pake copro-copro gini," kata anak sulung Papi, gak tega liat bapaknya bolak balik Jakarta dan ditolak-tolak orang.



"Ah kalau kerjain kayak gini mana ada capek," kata wajah seram Papi berusaha manis.


Tetap seram.


Kok Papi bisa gak malu?


Demi nona kecil katanya. Buat apa malu.


Nona kecil terharu. Habis ini nona kecil mau bikin film tentang ayah dan anak. Big budget. Gak pake copro-copro an.


Judulnya Raja Kata. Tentang memaafkan. Tentang seorang anak yang gak bisa maafin ayahnya.


I have a lot of those stories around me. Bitter son. Bitter daughter.  Tapi bukan gue. 


Gue gak tahu rasanya punya bapak kawin lagi. Gak tahu rasanya ditinggalin demi anak istri lain. Gak tahu rasanya punya mimpi gak disetujui ayah sendiri. Gak tahu rasanya punya keinginan dan gak dipenuhi papi. Gak tahu rasanya pengen ngebunuh ayah sendiri.


"Lo sih gak bitter. Papi yang banyak bitter ama lo."


Ah masa sih? Bukannya gue nona kecil yang selalu disayang papi? Yang udah dicariin duit, tapi ongkos papi pun gak pernah diganti. Yang udah selalu ditelpon, tapi gak pernah nelpon papi. Yang bahkan pas papi operasi, malah pergi ke Jakarta entah ngapain.


Papi senyum manis, bukan berarti papi hepi.


Coba dengerin papi. Tiga hari aja.


And maybe you will know what forgiving is dibalik wajah seram papi.


Tiga hari...


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 26 Mei 2012

Tears

I read my own writing and felt like somebody else. Was I ever been that joyful? Was I ever that bitter? Was I ever  that brilliant? Have I ever been that selfish?


Was I ever that girl?


I used to sing like no one hears. Dance like no one watches. Love like never been hurt. Live like heaven is on earth.


Write like no one will read.


But I no longer dance, no longer sing. No longer write cause I know someone will read. And they will think of me as a dissappointment.


No longer love cause I know how much it hurts.


No longer live cause I know heaven is not on earth.


So I tried to cry cause I am not supposed to like this me.


But I cry no more cause I know I will be one day dance again.


Even with the bitterness and the tears... I will dance like no one watches.


I will  sing like no one listens.


And I will write like no one will be dissappointed in me.


So one of these days, when it rains, I will dance and dance and dance...



So I won't feel the tears falling on my face.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 10 Maret 2012

Psalm 51

I wanted to dance and sing for you
But I feel like I will only bring you shame

I wanted to feel joy and share your blessing
But I feel like someone else deserves more

I wanted to weep and crush my bone
But you smile and want tears no more

I want to give you a broken spirit
But I have no longer have it

Does it mean I am not that sorry for my sin?
Or is it you being super nice?

That whenever I fall,
you just cleanse me with my tears
And suddenly I am fine

Broken yet smiling

Knowing you
How come I ever ask for more?

I wanna dance and sing again
So people will know how great you are
And sinners will praise your name

If there was such a thing as sin.

Teach me how to love you more.

Selasa, 06 Maret 2012

How can I benefit you?

Lima lebah gak ngerti marketing berkumpul berusaha mengumpulkan 10ribu madu.

How, mak.... how?

"We'll give you cool rewards exclusively designed for Demi Ucok, with personalized touch: your name on it," jawab kami manis.

No response...

"We'll give you 5% of the madu," jawab kami lebih manis...

Sedikit riak...

No response...

"Sekarang middle up people udah gak peduli ama reward merchandize atau duit. Yang kita butuhin aktualisasi diri," kata lebah dosen di salah satu sekolah bisnis dan manjemen di sebuah institut teknologi di bandung yang bertamu ke kepompong.

"Jadi apa yang bisa kita tawarkan agar lebah lain bisa aktualisasi diri?"

Either we are so cool that other lebah pengen banget jadi geng kita...

Which we are not.

Or we give them something that they can relate to.

Ah pusing kali aku. Gak ngerti aku merketing, Palingjuga cuma bikin lebah lain denger buzz-nya, not enough to get them to put honey on us. How can we get them to be us?

Enough. Mungkin pertanyaannya harus diganti. Lo gak bisa juga jawabnya. Malah stress sendiri.

Today we start our day with a question: "How can I benefit you?"

Uang kami tak punya. Gengsi pun kami tak ada. Selain tips kecantikan, apa yang bisa kuberikan padamu, lebah-lebahku?

All I have is the movie, in hope that you would relate to it.

Tapi gak bisa full. Kalau gak si bioskop 21 gak akan mau muterin filmnya. Tambah miskinlah aku.

"Ya kau potong-potonglah jadi video 2 menit-2menit," kata sutradara terkenal yang ngakunya gak tau cari duit tapi briliant.

Dan homo.

So, lebah-lebah Batak? How can I benefit you?

Gue bisa ngasih lo video pendek tentang 'nikahan batak didesain biar orang batak kapok kawin. Cukup sekali seumur hidup'.

Sounds familiar?

Atau gue bisa ngasih lo video pendek seorang emak yang akan ngasih anaknya apa pun tanpa harap kembali, asal.... kawin kau sama Batak.

Sounds familiar?

Gak cukup ya? Ya udah gue gak usah kasih apa-apa deh. Biar mamakku aja yang paksa kau. Dulu kan udah dicarikannya kau jodoh.

Atau I can give you Geraldine Sianturi and her adorable jutek face and divine voice.

Apa? Dulu pacar lo pernah direbut doi? Hah? Nyebelin banget tuh anak?

Di film ini dia gendut kok, jadi lo tetep bisa sumsum madu demi bisa liat doi gendut di layar 9 meter.


Lebah-lebah wanita mandiri dan perkasa, how can I benefit you?

I can give you the new clip of 'Homogenic - Get Up and Go'. Dijamin lo pasti langsung tersenyum dan tambah ceria menjalani aktivitas lo yang segudang kapuk itu.

Untuk lo yang sudah beranak satu atau menjelang dua, gue punya video klip Homogenic lain. Mungkin abis liat ibu2 muda keren dan modis gendong anak tersenyum bahagia dalam sebuah pesta kebun disiram matahari sore, lo akan tambah bersyukur ama keluarga kecil bahagia lo.

Untuk lo yang masih mengejar mimpi dan gak peduli punya keluarga kecil bahagia, lo bisa tetap semangat setelah gue kasih lo video Glo mengejar mimpi dan gak mau cari aman dengan kawin.

So all you the cool ladies out there, I have anything you want. Cool itu pilhan.


Orang-orang yang mendukung kami sejak cin(T)a, how can I benefit you?


Oh you want nothing from us? Liat kami bikin film lagi aja udah senang? Bantuin yaaaa biar ntar tetap bikin film lagi.

In the meantime, I will give you Cina and Annisa reunited.

Gue akan kasih lo film pendek Emit, tentang 'If I could turn back time, I would never fall in love with you." A short simple movie about how to lose someone you love that you'd rather not to have it in the first place.

Atau sebuah film pendek lain yang belum ada judul tapi isinya 'If I could turn back time, I would always fall in love with you."

Tentang the worst mistake you made, tapi kalau waktu bisa diulang tetep akan lo lakukan juga. It was so beautiful. You were alive.

Or I will simply give you a short teaser of cin(T)a epilog... lo liatin deh tuh Cina dan Annisa kembali gak sengaja ketemu di Singapur. What will happen?

Kalau masih kangen juga, gue kasih deh lo teaser Cina dan Annisa berubah jadi Niki dan A Cun di fDemi Ucok. Beda banget ama karakter mereka di cin(T)a. So fun to see them evolve.

Atau kalau lo emang gak peduli ada wanita bernama Saira Jihan and all about Sunny Soon, gue kasih lo video klip Sunny menyanyi.

Yes, he has a lovely voice.

Yes, better than Delon.

Yes, you can so support him here.


So, queers all over the closets, I am not calling you to come out yet. How can I benefit you?


What? You wanna see 7 Deadly Kisses?

Nggak bisa. Unless lo ke Polandia, Rusia, atau Italia bulan depan.

Atau kalau lo stucked di Indonesia, mungkin lo bisa datangi gue and tawarkan how you can benefit me=D

So back to the question, how can I benefit you?

I have Niki (Saira Jihan) the cool pregnant lesbian yang menganggap cuma ada dua jenis cowo di dunia: those who wanna fuck me and those who wanna fuck men.

So those who wanna fuck men, Mama Pupa have plenty of love for you here. But Mama has to go and get Demi Ucok done first. So you'd better get those honey of yours here.

Pak pejabat, how can I benefit you?


Akan kubawakan kalian proposal dengan gaya orde baru yang tentunya isinya huruf semua dengan desain seadanya=D Asal bapak dan ibu senang, aku pun senang, semua senang... yeyyyyy=D

Teman-teman kreatifku, how can I benefit you?


Hmmm... I can give you a fun and entertaining short movie tentang cowo yang terobsesi ketemu Jupe. You guys understand obsession, right? Kalau nggak, gak mungkin kalian mencipta. Paling bisanya ngonesp and ngonsep doang. Gak pernah kejadian.

Atau gue akan kasih lo iklan Google-Google-an tentang seorang dreamer bernama Glo. I hope she's not the only one. She has you.

Aren't you?

And I will update you all the progress in this blog, ga pake tutup2an ga pake dibagus2in. So you don't have to go through the painful mistake I did. Bisa lebih bagus deh karya loooo=D


Dan untuk kalian wahai cast n crew Demi Ucok, how can I benefit you?

Ah tak usahlah kutanyakan itu. Kalau laku Demi UCok, laku juga kalian. Jadi gak usah sok diem2 sibuk2 malu2 gak mau promo deh. We love this film and we are proud of it.

For the memeory of how happy we were doing this film, and how happy we will be looking back... gak perlulah gue speech panjang lebar ke kalian. Kusimpan aja untuk .... untuk siapa ya?

Ah emang gak perlu gue speech.


Conclusion...

So this art of 'how I can benefit you' leaves me a lot of homeworks to do. Dozens of videos to make. More words to say.

But it gives me joy=D

Daripada mikirin cara marketing yang gue juga gak ngerti. Pusing...

So this is what I can give you. I hope it serves you well=D

Jumat, 02 Maret 2012

2 Months of Humiliation

Hari Ibu 2011, gue bikin Layar Tancep di Bandung, terbatas untuk cast, crew, orangtua cast&crew, dan teman-teman. Review jelek ada. Review bagus ada.

Yang paling penting adalah Mak Gondut senang lihat filmnya. Kru bahagia.

I have a good feeling we are so gonna go high=D

Dimulailah perburuan gue mencari 10 ribu orang yang mau ngasih gue 100 ribu biar Demi Ucok bisa release di bioskop April 2011.

Di bayangan gue, I will make history. Biar gue ajarin tuh orang2 yang mengeluh susah cari duit kalau nyari duit itu gampang. Banyak cara. Lo doang yang loser, kebanyakan drama.

www.demiapa.com dikonsep untuk jadi komunitas. Dikasih personality test dan database manusia berdasarkan kepribadian. Web kita ngasih manfaat lebih buat kalian. Gak cuma buat tahu kami dan dimintain seratus ribu. Lo bisa lebih mengenal diri lo sendiri.

Keren kan website kami?

Ternyata malah jadi bumerang karena web-nya jadi gak fokus. Tes Kepribadian-nya gak jalan, nyari cara buat ikutan coProduser pun sulit.

Now I know that I know nothing about psychology of a website.

Akhir Januari, coPro Demi Ucok baru 3% dari target.

Beda dengan kickstarter.com yang sudah punya sistem pembayaran credit card dan budaya masyarakat yang tidak gagap online. Di Indonesia, ternyata lebih banyak yang ikutan jadi coProduser Demi Ucok tidak lewat online. Harus didatangi satu-satu.

Di ujung Februari, masih 700an. Butuh 9300an lagi untuk sampai 10 ribu.

Di ujung Februarui, gue menjadi salah satu orang yang mengeluh susah cari duit. Nyari duit itu gak gampang. Gak banyak cara. Gue jadi loser kebanyakan drama. Mending nyari 1M dari 1 orang daripada dari 10 ribu orang.

*tarik nafas panjang...

Ya udah kita mauin deh tawaran si Bapak yang mau nge-blow up film ini. Lelah begging 100 ribu ke orang. Malu ditolak. Gak mungkin kita bisa ngumpulin 9300 orang dalam 1 bulan.

Atau kita turunin aja angkanya? Jangan 10 ribu, kebanyakan. Kita tayang pake format digital aja, terbatas di beberapa kota.

Ya udah panjangin aja waktunya. Kalau 2300 orang per bulan masih mungkin kan?

Hmmmm... gak terlalu bikin sesak nafas.

Ayo kita perpanjang perburuan sampai Juni 2012=D

Hhhhhh... agak lega dikit.

Tiba-tiba muncullah situs-situs lain. Ada patungan.net dan WujudlkanID.com

Ternyata memang susah ya nyari uang yang tidak menyetir orang? Bahkan untuk sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana masih harus crowdfunding.

Ah andai saja mereka lebih cepat datang, seharusnya gue ikutan mereka aja. Gak perlu susah2 bikin web sendiri.

Tapi Demi Ucok beda dengan film-film lain yang melakukan crowdfunding untuk mendanai filmnya. Crowdfunding ini sudah menjadi bagian dari cerita di dalam film Demi Ucok itu sendiri. Si karakter Glo mencari 10ribu orang yang mau ngasih 100 ribu agar dia bisa mendanai film yang udah dia omongin dan gak pernah buat selama 4 tahun ini.

Dengan cerita yang integrated dengan cara pendanaan dan promosi, gue kira ini jadi cara baru promo yang unik dan menyenangkan untuk film ini.

The idea of communal funding is heart warming and brings smile to a hopelessly optimistic romantic.

Setelah 2 bulan, hhhh.....

Nafas lebih panjang...

No more smile on my face.

Tapi gue kembali tersenyum dan bersyukur gue memilih cara crowdfunding ini.

Jatuh bangun, gue jadi yakin online tidak lagi jadi andalan. Twitter, Facebook, dan Web hanya jadi tambahan.

It's the era of personal touch.

Kami harus kemballi ke pendekatan satu-satu dan bergantung pada hubungan antar manusia.

Sudah terbukti ada 2 film sepi penonton padahal jadi trending topic di twitter. Twitter and facebook can tell you things, but it doesn't move your heart (and your ass) to go and see a movie.

What will?

We don't know yet.

Banting setir, we'll go offline. Satu demi satu acara kecil kami datangi. Melelahkan dan lambat.

For now. Still waiting for the exponensial curve... the tipping point...

Kalau gak sampai tipping point?

Tetap bersyukur.

Gue melihat investasi yang lebih dari sekedar uang di tim gue. Mereka jadi lebih humble, hardworking, grateful, dan menyenangkan.

Prinsipnya:
Kalau gak menyenangkan, jangan dikerjakan.
Kalau kebayang akan gagal, berarti masih kurang sibuk.

Kesimpulannya:
nilai positif crowdfunding: filmmaker lebih mengenal penontonnya
Nilai negatif cowdfunding: cape... jiwa dan raga. Selling a film is all about humiliation.

Kalau lo bukan Riri Riza dan Mira Lesmana, crowdfunding ini bukan jalan gampang. Lebih gampang nyari 1M dari 1 orang daripada 10 ribu orang (sejauh ini udah ada 2 produser yang menawarkan untuk mendistribusikan Demi Ucok tanpa gue harus cape-cape crowdfunding)

Tapi gue akan jadi filmmaker memble yang gak percaya mimpi.

I am a dreamer and I am not the only one. At least gue tahu udah ada 725 lainnya.

Masa sih gak ada 9275 orang lain yang masih simpati ama mimpi dan para pemimpi?

Di draft akhir film Demi Ucok, karakter Glo akhirnya tidak berhasil mengumpulkan 100 persen dana untuk filmnya.

Film 'Demi Ucok' ini diakhiri dengan kalimat "somehow it's enough =D"

Enough dalam artian apa? Apakah Glo tetap berhasil bikin film dengan dana segitu? Apakah gak berhasil bikin film tapi Glo tetap puas? Enough seperti apakah yang dialami Glo?

Jangan diceritain dulu ya, nanti spoiler.

Kalau Sammaria? Akankah Sammaria berhasil mengumpulkan 10 ribu orang untuk filmnya?

Tuhan, jangan diceritain dulu ya. Nanti spoiler.

Tapi Sammaria sudah tahu semua hussle ini akan diakhiri dengan sebuah kalimat.

"Somehow it's enough..."

9275 coPro, come to Mama=D

Senin, 27 Februari 2012

no song

I woke up and write you a song
Song that glorify your name

My pride keeps telling me
How great I'll make you be

But then I just sing nothing
Write songs that sound like something
But then you just keep smiling
Cause all you want is nothing
From me

Cause you are great
And you love me
There is nothing I can do
There is nothing I don't do
To make it less

I was thinking to myself
Of ways glorifying your name
But all I glorify is myself

I was weeping and I was torn
Thinking of unworthy I am
But then you smile and say
It's okay

Cause you are great
And you love me
There is nothing I can do
There is nothing I don't do
To make it less