Minggu, 27 Mei 2012

Ayah

Ayah buat gue namanya Papi. Bagi mami, dia Bang Mondang. Bagi om-om tentara, dia Pak Juntak. Bagi tante Botox kaya raya mantan teman sebangkunya, dia si Gius. Bagi tante janda temannya maen guli dulu, papi si Abang.


Namanya entah siapa. 


"Pokoknya itulah, yang adek si Manarsar, yang rumahnya di belakang sana,di Pasar Empat."


Papi dilahirkan bukan di Medan, masih di kampung dekat Danau Toba di mana harimau belum dikebunbinatangkan.


Papi dilahirkan di saat Indonesia baru merdeka. Bapaknya pegawai pos. Mamaknya anak kepala negeri. Di Sigumpar tahun 47, siapapun yang bukan petani pastilah terpandang.



Papi mengaku selalu rajin membantu ibu. Rajin belanja. Rajin memasak. Uang di rumah dia yang megang. Bukan abangnya, bukan adik perempuannya yang ada  7. Tak heran cuma Papi yang diingat Opung ketika dimensia merubah semua orang  jadi Belanda di matanya. Hanya Papi si Mondang yang tetap dia sayang.


Sangkin sayangnya papi pada Opung, mami pun protes.


"Cuma mamaknya yang dipikirkannya. Istrinya nggak. "


Katanya.


Padahal papi masih masak. Masih nyapu. Masih mandiin Bobot dan Boni. Masih cari uang. Tapi masih kurang.


Dulu papi lebih baik lagi.  Semuua gara-gara pelatihan tentara di suatu masa ketika pangkat papi belum berbunga. Kata komandannya, papi cocoknya jadi bapak rumah tangga. Gak cocok jadi tentara.


Semenjak itu papi dilatih untuk nyuruh-nyuruh. Semua perintahnya gak boleh dibantah. Bahkan gorden diatur papi. 


Mami terpaksa nurut, walaupun gorden ungu gak cocok ama sofa merah.  Demi karir papi.


Saat papi jadi siswa, di brain-wash tentara biar mampu mimpin negara, gue lahir.  Gue gak tahu sebaik apa papi dulu. Papi versi komandan yang semua perintahnya  dituruti, tetap manis dan baik hati. 


Wajahnya serem sih.


Kalau ketawa, gak cocok.


Papi yang  gue ingat adalah komandan yang dihormati orang.  Gue gak jadi ditilang kalau bawa nama papi. Nginep gratis kalau bilang ke temen papi. Dikasih Barbie ama om-om Cina teman Papi.


Tiap papi pulang kantor, nona kecil diajak 'beli-beli' naik mobil papi. Nona kecil duduk di depan, masuk toko makanan dan bisa beli apa aja yang nona kecil mau sementara papi menyetir pelan-pelan, memastikan kotanya aman dan premannya gak macam-macam.


Sekarang papi udah pensiunan, botak, dan ketinggalan topi melulu. Gak pernah  lagi ngajak 'beli-beli' karena nona kecil mintanya gak lagi bonbon, tapi mobil.


Tapi papi masih punya waktu.


Papi keliling menemui teman-teman lamanya, bawa map dan flyer.  Nyari coPro untuk nona kecil yang butuh 1M untuk filmnya.


"Laen kali gak usahlah lo bikin film pake copro-copro gini," kata anak sulung Papi, gak tega liat bapaknya bolak balik Jakarta dan ditolak-tolak orang.



"Ah kalau kerjain kayak gini mana ada capek," kata wajah seram Papi berusaha manis.


Tetap seram.


Kok Papi bisa gak malu?


Demi nona kecil katanya. Buat apa malu.


Nona kecil terharu. Habis ini nona kecil mau bikin film tentang ayah dan anak. Big budget. Gak pake copro-copro an.


Judulnya Raja Kata. Tentang memaafkan. Tentang seorang anak yang gak bisa maafin ayahnya.


I have a lot of those stories around me. Bitter son. Bitter daughter.  Tapi bukan gue. 


Gue gak tahu rasanya punya bapak kawin lagi. Gak tahu rasanya ditinggalin demi anak istri lain. Gak tahu rasanya punya mimpi gak disetujui ayah sendiri. Gak tahu rasanya punya keinginan dan gak dipenuhi papi. Gak tahu rasanya pengen ngebunuh ayah sendiri.


"Lo sih gak bitter. Papi yang banyak bitter ama lo."


Ah masa sih? Bukannya gue nona kecil yang selalu disayang papi? Yang udah dicariin duit, tapi ongkos papi pun gak pernah diganti. Yang udah selalu ditelpon, tapi gak pernah nelpon papi. Yang bahkan pas papi operasi, malah pergi ke Jakarta entah ngapain.


Papi senyum manis, bukan berarti papi hepi.


Coba dengerin papi. Tiga hari aja.


And maybe you will know what forgiving is dibalik wajah seram papi.


Tiga hari...


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 26 Mei 2012

Tears

I read my own writing and felt like somebody else. Was I ever been that joyful? Was I ever that bitter? Was I ever  that brilliant? Have I ever been that selfish?


Was I ever that girl?


I used to sing like no one hears. Dance like no one watches. Love like never been hurt. Live like heaven is on earth.


Write like no one will read.


But I no longer dance, no longer sing. No longer write cause I know someone will read. And they will think of me as a dissappointment.


No longer love cause I know how much it hurts.


No longer live cause I know heaven is not on earth.


So I tried to cry cause I am not supposed to like this me.


But I cry no more cause I know I will be one day dance again.


Even with the bitterness and the tears... I will dance like no one watches.


I will  sing like no one listens.


And I will write like no one will be dissappointed in me.


So one of these days, when it rains, I will dance and dance and dance...



So I won't feel the tears falling on my face.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 10 Maret 2012

Psalm 51

I wanted to dance and sing for you
But I feel like I will only bring you shame

I wanted to feel joy and share your blessing
But I feel like someone else deserves more

I wanted to weep and crush my bone
But you smile and want tears no more

I want to give you a broken spirit
But I have no longer have it

Does it mean I am not that sorry for my sin?
Or is it you being super nice?

That whenever I fall,
you just cleanse me with my tears
And suddenly I am fine

Broken yet smiling

Knowing you
How come I ever ask for more?

I wanna dance and sing again
So people will know how great you are
And sinners will praise your name

If there was such a thing as sin.

Teach me how to love you more.

Selasa, 06 Maret 2012

How can I benefit you?

Lima lebah gak ngerti marketing berkumpul berusaha mengumpulkan 10ribu madu.

How, mak.... how?

"We'll give you cool rewards exclusively designed for Demi Ucok, with personalized touch: your name on it," jawab kami manis.

No response...

"We'll give you 5% of the madu," jawab kami lebih manis...

Sedikit riak...

No response...

"Sekarang middle up people udah gak peduli ama reward merchandize atau duit. Yang kita butuhin aktualisasi diri," kata lebah dosen di salah satu sekolah bisnis dan manjemen di sebuah institut teknologi di bandung yang bertamu ke kepompong.

"Jadi apa yang bisa kita tawarkan agar lebah lain bisa aktualisasi diri?"

Either we are so cool that other lebah pengen banget jadi geng kita...

Which we are not.

Or we give them something that they can relate to.

Ah pusing kali aku. Gak ngerti aku merketing, Palingjuga cuma bikin lebah lain denger buzz-nya, not enough to get them to put honey on us. How can we get them to be us?

Enough. Mungkin pertanyaannya harus diganti. Lo gak bisa juga jawabnya. Malah stress sendiri.

Today we start our day with a question: "How can I benefit you?"

Uang kami tak punya. Gengsi pun kami tak ada. Selain tips kecantikan, apa yang bisa kuberikan padamu, lebah-lebahku?

All I have is the movie, in hope that you would relate to it.

Tapi gak bisa full. Kalau gak si bioskop 21 gak akan mau muterin filmnya. Tambah miskinlah aku.

"Ya kau potong-potonglah jadi video 2 menit-2menit," kata sutradara terkenal yang ngakunya gak tau cari duit tapi briliant.

Dan homo.

So, lebah-lebah Batak? How can I benefit you?

Gue bisa ngasih lo video pendek tentang 'nikahan batak didesain biar orang batak kapok kawin. Cukup sekali seumur hidup'.

Sounds familiar?

Atau gue bisa ngasih lo video pendek seorang emak yang akan ngasih anaknya apa pun tanpa harap kembali, asal.... kawin kau sama Batak.

Sounds familiar?

Gak cukup ya? Ya udah gue gak usah kasih apa-apa deh. Biar mamakku aja yang paksa kau. Dulu kan udah dicarikannya kau jodoh.

Atau I can give you Geraldine Sianturi and her adorable jutek face and divine voice.

Apa? Dulu pacar lo pernah direbut doi? Hah? Nyebelin banget tuh anak?

Di film ini dia gendut kok, jadi lo tetep bisa sumsum madu demi bisa liat doi gendut di layar 9 meter.


Lebah-lebah wanita mandiri dan perkasa, how can I benefit you?

I can give you the new clip of 'Homogenic - Get Up and Go'. Dijamin lo pasti langsung tersenyum dan tambah ceria menjalani aktivitas lo yang segudang kapuk itu.

Untuk lo yang sudah beranak satu atau menjelang dua, gue punya video klip Homogenic lain. Mungkin abis liat ibu2 muda keren dan modis gendong anak tersenyum bahagia dalam sebuah pesta kebun disiram matahari sore, lo akan tambah bersyukur ama keluarga kecil bahagia lo.

Untuk lo yang masih mengejar mimpi dan gak peduli punya keluarga kecil bahagia, lo bisa tetap semangat setelah gue kasih lo video Glo mengejar mimpi dan gak mau cari aman dengan kawin.

So all you the cool ladies out there, I have anything you want. Cool itu pilhan.


Orang-orang yang mendukung kami sejak cin(T)a, how can I benefit you?


Oh you want nothing from us? Liat kami bikin film lagi aja udah senang? Bantuin yaaaa biar ntar tetap bikin film lagi.

In the meantime, I will give you Cina and Annisa reunited.

Gue akan kasih lo film pendek Emit, tentang 'If I could turn back time, I would never fall in love with you." A short simple movie about how to lose someone you love that you'd rather not to have it in the first place.

Atau sebuah film pendek lain yang belum ada judul tapi isinya 'If I could turn back time, I would always fall in love with you."

Tentang the worst mistake you made, tapi kalau waktu bisa diulang tetep akan lo lakukan juga. It was so beautiful. You were alive.

Or I will simply give you a short teaser of cin(T)a epilog... lo liatin deh tuh Cina dan Annisa kembali gak sengaja ketemu di Singapur. What will happen?

Kalau masih kangen juga, gue kasih deh lo teaser Cina dan Annisa berubah jadi Niki dan A Cun di fDemi Ucok. Beda banget ama karakter mereka di cin(T)a. So fun to see them evolve.

Atau kalau lo emang gak peduli ada wanita bernama Saira Jihan and all about Sunny Soon, gue kasih lo video klip Sunny menyanyi.

Yes, he has a lovely voice.

Yes, better than Delon.

Yes, you can so support him here.


So, queers all over the closets, I am not calling you to come out yet. How can I benefit you?


What? You wanna see 7 Deadly Kisses?

Nggak bisa. Unless lo ke Polandia, Rusia, atau Italia bulan depan.

Atau kalau lo stucked di Indonesia, mungkin lo bisa datangi gue and tawarkan how you can benefit me=D

So back to the question, how can I benefit you?

I have Niki (Saira Jihan) the cool pregnant lesbian yang menganggap cuma ada dua jenis cowo di dunia: those who wanna fuck me and those who wanna fuck men.

So those who wanna fuck men, Mama Pupa have plenty of love for you here. But Mama has to go and get Demi Ucok done first. So you'd better get those honey of yours here.

Pak pejabat, how can I benefit you?


Akan kubawakan kalian proposal dengan gaya orde baru yang tentunya isinya huruf semua dengan desain seadanya=D Asal bapak dan ibu senang, aku pun senang, semua senang... yeyyyyy=D

Teman-teman kreatifku, how can I benefit you?


Hmmm... I can give you a fun and entertaining short movie tentang cowo yang terobsesi ketemu Jupe. You guys understand obsession, right? Kalau nggak, gak mungkin kalian mencipta. Paling bisanya ngonesp and ngonsep doang. Gak pernah kejadian.

Atau gue akan kasih lo iklan Google-Google-an tentang seorang dreamer bernama Glo. I hope she's not the only one. She has you.

Aren't you?

And I will update you all the progress in this blog, ga pake tutup2an ga pake dibagus2in. So you don't have to go through the painful mistake I did. Bisa lebih bagus deh karya loooo=D


Dan untuk kalian wahai cast n crew Demi Ucok, how can I benefit you?

Ah tak usahlah kutanyakan itu. Kalau laku Demi UCok, laku juga kalian. Jadi gak usah sok diem2 sibuk2 malu2 gak mau promo deh. We love this film and we are proud of it.

For the memeory of how happy we were doing this film, and how happy we will be looking back... gak perlulah gue speech panjang lebar ke kalian. Kusimpan aja untuk .... untuk siapa ya?

Ah emang gak perlu gue speech.


Conclusion...

So this art of 'how I can benefit you' leaves me a lot of homeworks to do. Dozens of videos to make. More words to say.

But it gives me joy=D

Daripada mikirin cara marketing yang gue juga gak ngerti. Pusing...

So this is what I can give you. I hope it serves you well=D

Jumat, 02 Maret 2012

2 Months of Humiliation

Hari Ibu 2011, gue bikin Layar Tancep di Bandung, terbatas untuk cast, crew, orangtua cast&crew, dan teman-teman. Review jelek ada. Review bagus ada.

Yang paling penting adalah Mak Gondut senang lihat filmnya. Kru bahagia.

I have a good feeling we are so gonna go high=D

Dimulailah perburuan gue mencari 10 ribu orang yang mau ngasih gue 100 ribu biar Demi Ucok bisa release di bioskop April 2011.

Di bayangan gue, I will make history. Biar gue ajarin tuh orang2 yang mengeluh susah cari duit kalau nyari duit itu gampang. Banyak cara. Lo doang yang loser, kebanyakan drama.

www.demiapa.com dikonsep untuk jadi komunitas. Dikasih personality test dan database manusia berdasarkan kepribadian. Web kita ngasih manfaat lebih buat kalian. Gak cuma buat tahu kami dan dimintain seratus ribu. Lo bisa lebih mengenal diri lo sendiri.

Keren kan website kami?

Ternyata malah jadi bumerang karena web-nya jadi gak fokus. Tes Kepribadian-nya gak jalan, nyari cara buat ikutan coProduser pun sulit.

Now I know that I know nothing about psychology of a website.

Akhir Januari, coPro Demi Ucok baru 3% dari target.

Beda dengan kickstarter.com yang sudah punya sistem pembayaran credit card dan budaya masyarakat yang tidak gagap online. Di Indonesia, ternyata lebih banyak yang ikutan jadi coProduser Demi Ucok tidak lewat online. Harus didatangi satu-satu.

Di ujung Februari, masih 700an. Butuh 9300an lagi untuk sampai 10 ribu.

Di ujung Februarui, gue menjadi salah satu orang yang mengeluh susah cari duit. Nyari duit itu gak gampang. Gak banyak cara. Gue jadi loser kebanyakan drama. Mending nyari 1M dari 1 orang daripada dari 10 ribu orang.

*tarik nafas panjang...

Ya udah kita mauin deh tawaran si Bapak yang mau nge-blow up film ini. Lelah begging 100 ribu ke orang. Malu ditolak. Gak mungkin kita bisa ngumpulin 9300 orang dalam 1 bulan.

Atau kita turunin aja angkanya? Jangan 10 ribu, kebanyakan. Kita tayang pake format digital aja, terbatas di beberapa kota.

Ya udah panjangin aja waktunya. Kalau 2300 orang per bulan masih mungkin kan?

Hmmmm... gak terlalu bikin sesak nafas.

Ayo kita perpanjang perburuan sampai Juni 2012=D

Hhhhhh... agak lega dikit.

Tiba-tiba muncullah situs-situs lain. Ada patungan.net dan WujudlkanID.com

Ternyata memang susah ya nyari uang yang tidak menyetir orang? Bahkan untuk sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana masih harus crowdfunding.

Ah andai saja mereka lebih cepat datang, seharusnya gue ikutan mereka aja. Gak perlu susah2 bikin web sendiri.

Tapi Demi Ucok beda dengan film-film lain yang melakukan crowdfunding untuk mendanai filmnya. Crowdfunding ini sudah menjadi bagian dari cerita di dalam film Demi Ucok itu sendiri. Si karakter Glo mencari 10ribu orang yang mau ngasih 100 ribu agar dia bisa mendanai film yang udah dia omongin dan gak pernah buat selama 4 tahun ini.

Dengan cerita yang integrated dengan cara pendanaan dan promosi, gue kira ini jadi cara baru promo yang unik dan menyenangkan untuk film ini.

The idea of communal funding is heart warming and brings smile to a hopelessly optimistic romantic.

Setelah 2 bulan, hhhh.....

Nafas lebih panjang...

No more smile on my face.

Tapi gue kembali tersenyum dan bersyukur gue memilih cara crowdfunding ini.

Jatuh bangun, gue jadi yakin online tidak lagi jadi andalan. Twitter, Facebook, dan Web hanya jadi tambahan.

It's the era of personal touch.

Kami harus kemballi ke pendekatan satu-satu dan bergantung pada hubungan antar manusia.

Sudah terbukti ada 2 film sepi penonton padahal jadi trending topic di twitter. Twitter and facebook can tell you things, but it doesn't move your heart (and your ass) to go and see a movie.

What will?

We don't know yet.

Banting setir, we'll go offline. Satu demi satu acara kecil kami datangi. Melelahkan dan lambat.

For now. Still waiting for the exponensial curve... the tipping point...

Kalau gak sampai tipping point?

Tetap bersyukur.

Gue melihat investasi yang lebih dari sekedar uang di tim gue. Mereka jadi lebih humble, hardworking, grateful, dan menyenangkan.

Prinsipnya:
Kalau gak menyenangkan, jangan dikerjakan.
Kalau kebayang akan gagal, berarti masih kurang sibuk.

Kesimpulannya:
nilai positif crowdfunding: filmmaker lebih mengenal penontonnya
Nilai negatif cowdfunding: cape... jiwa dan raga. Selling a film is all about humiliation.

Kalau lo bukan Riri Riza dan Mira Lesmana, crowdfunding ini bukan jalan gampang. Lebih gampang nyari 1M dari 1 orang daripada 10 ribu orang (sejauh ini udah ada 2 produser yang menawarkan untuk mendistribusikan Demi Ucok tanpa gue harus cape-cape crowdfunding)

Tapi gue akan jadi filmmaker memble yang gak percaya mimpi.

I am a dreamer and I am not the only one. At least gue tahu udah ada 725 lainnya.

Masa sih gak ada 9275 orang lain yang masih simpati ama mimpi dan para pemimpi?

Di draft akhir film Demi Ucok, karakter Glo akhirnya tidak berhasil mengumpulkan 100 persen dana untuk filmnya.

Film 'Demi Ucok' ini diakhiri dengan kalimat "somehow it's enough =D"

Enough dalam artian apa? Apakah Glo tetap berhasil bikin film dengan dana segitu? Apakah gak berhasil bikin film tapi Glo tetap puas? Enough seperti apakah yang dialami Glo?

Jangan diceritain dulu ya, nanti spoiler.

Kalau Sammaria? Akankah Sammaria berhasil mengumpulkan 10 ribu orang untuk filmnya?

Tuhan, jangan diceritain dulu ya. Nanti spoiler.

Tapi Sammaria sudah tahu semua hussle ini akan diakhiri dengan sebuah kalimat.

"Somehow it's enough..."

9275 coPro, come to Mama=D

Senin, 27 Februari 2012

no song

I woke up and write you a song
Song that glorify your name

My pride keeps telling me
How great I'll make you be

But then I just sing nothing
Write songs that sound like something
But then you just keep smiling
Cause all you want is nothing
From me

Cause you are great
And you love me
There is nothing I can do
There is nothing I don't do
To make it less

I was thinking to myself
Of ways glorifying your name
But all I glorify is myself

I was weeping and I was torn
Thinking of unworthy I am
But then you smile and say
It's okay

Cause you are great
And you love me
There is nothing I can do
There is nothing I don't do
To make it less

Sabtu, 25 Februari 2012

emotionally constipated

Apakah kehidupanmu hancur?
Ada yang memulihkan kehidupan.
www.TerangHidup.com


Too much book.

Too much movie.

Too much religion.

Too much voice.

Too much song.

Too much teranghidup.com

Too much people telling me how I feel, somehow it is hard to know what I really feel. Even harder to explain it in words.

I need the silence where I can hear your voice. The voice that never tells me what to do.

The voice that never tells me how to love how to act and how to be anything.

The voice that brings a smile to my face and brighten the skin without mercury.

The voice that makes every perih di hati worth having.

So what do you have to tell me today other than I love you?

And you keep silent cause there is no words needed.

Just feel the rain on your skin.

yesus dan yasmin ahmad

The problem with Jesus, Yasmin Ahmad, and all the coolest people on earth is they only start writing (or written) when they are great and adorable.

What happened to you when you were 27 ? Have you ever thought of killing yourself?

Have you had drugs?

Have you ever been in love?

Have you hated anyone?

Have you lied about your truest feeling?

Did you curse God?

Have you always been so cool?

Are you gay?

But they are just there, showing us the perfect path they chose. Died peacefully in the height of their true calling. No one knows what happened before.

All we have is the Davids, and the Jonahs, the Salomons, the Steve Jobs, and all the fucked ups that screwed up their life and still loved and blessed. Fuck Batsheba, weep emotionally, yet fuck 4000 something others afterwards.

yet blessed and loved.

not by your children, though.

am i not humble enough to know your way? after all this, how come i still have the pride not to go your way?

but you told me you want it my way. my way is your way. you and your beautiful blessing of free choice remind me more of how much a jerk i am.

yet blessed and loved.

yet blessed and loved.

I don't wanna love like david.

remuk

tuhan ambil mimpiku
tolak semua inginku

tuhan hempas anganku
patahkan seluruh hasratku

tuhan hancur diriku
bentuk sesuai inginmu

tapi jangan tinggalkan aku...

dalam putus asaku
kukan puji namamu

dalam kesesakanku
kubermazmur bagimu

tuhan basuh hatiku
dengan air mataku

tapi jangan tinggalkan aku
tolong jangan tinggalkan aku
tuhan jangan tinggalkan aku



(untuk hati yang remuk redam dan lelah menangis)

Senin, 06 Februari 2012

Demi Apa?

"Kok judulnya 'Demi Ucok' sih mbak? Kan ini film Bandung," sms salah satu pendengar salah satu radio ternama di Bandung.

"Kita kan bukan Bandung, kita Indonesia, bla bla bla," jawab gue setelah terlatih berbulan-bulan roadshow cin(T)a.

Berbeda-beda tetapi satu jua, cyin.

But now it keeps me thinking about the title. Kenapa judulnya Demi Ucok ?

Judul 'Demi Ucok' ini udah ada sejak 2006, di saat Kak Ria ulang tahun dan gue gak tau mau ngasih kado apa_since she has everything_jadi gue gambarin aja sebuah poster film bersutradara gue_since all I could is daydreaming_ jadilah sebuah poster film khayalan berjudul Demi Ucok.

It seemed like a perfect title for a movie. Dan tetap gue pake walaupun ceritanya tak ada yang bernama Ucok.

Karena Bang Ucok senang. Karena Kak Ria senang.

"Ucok ini adalah menantu impian Mak Gondut, sebuah keadaaan utopia di mana semua berjalan sesuai kata orang tua, dan anak gak punya ambisi lain selain menyenangkan orang tua," jawab gue diplomatis, berusaha menyambungkan Ucok dengan lagu tema trailer yang berjudul Utopia.

"Jago deh mbak ngelesnya. Harusnya jadi penyiar."

Yeah. Harusnya gue jadi penyiar. Bukan sutradara. I speak better than the real me.

Sekarang di saat Bang Ucok males namanya dipakai di judul film, Kak Ria merasa ini bukan tentang dia, film ini gak ada Batak-Bataknya, dan gak mungkin dipromokan lewat gereja karena ada adegan nikah beda agama dan lesbian hamil_ gue jadi bertanya kenapa film ini tetap harus tayang.

Kenapa gue masih percaya kalau film ini bakal ada yang nonton?

Or even worse. Gak cuma nonton. Gue percaya ada 10 ribu orang yang akan rela memberi 100 ribu dan menempelkan namanya di poster Demi Ucok. Kalau cuma untuk datang ke bioskop dan menonton sih gue cukup pede dengan film ini. Tapi untuk membayar dan naroh nama?

Why in the world would anyone do that?

Demi apa ?

Demi elo?

Elo tuh perusak rumah tangga orang, penyebab temen lo dapet E karena ngasih contekan ama lo, tukang ngerokok di musholla sekolah, pemalas yang gak pernah naik angkot, why would anyone spare their 100.000 for you?

Demi apa?

Demi film Indonesia?

Aiyhhhhhhh. Indonesia masih butuh makan, kok malah bikin film..

"Kita butuh harapan, gak butuh makan," says Niki, the pregnant lesbian character wisely. Sambil makan ayam.

Demi eksis?

Please deh. We have all the facebook and the twitter. Why would we need more programs consuming our time from reality?

Saat ini gue nggak tahu kenapa orang harus dukung film ini. bahkan gue gak tahu kenapa gue masih harus mempromosikan film ini. Apa lagi yang gue tawarkan selain hati? Dan hati, gue gak punya lagi.

Tapi gue masih dikasih kaki dan mata, jadi belum saatnya berhenti.

Demi kian.