Kamis, 11 November 2010

a, b

“Lo suka gak ama gue?”

“Lo mau yang jujur atau yang boong?”

“Yang menyenangkan didengar.”

“Gimana gue bisa tahu?”

“Take risk. Jadi ?”

a. Suka banget.
b. Suka banget. Kalau lo suka gue.

“Kenapa lo suka ama gue?”

a. Emang bisa tahu ya?
b. Karena lo suka ama gue. Or I thought so.

“Lo mau nyium gue?”

a. Yes.
b. Mau kalau lo mau.

“Will you love me forever?”

a. If I don’t find anyone better.
b. Huahahahhahaaha. You're funny.

“Kenapa sih semua orang ada maksud ?”

a. Cause you are fucking beautiful.
b. Cause we are human.

"Do you think I'm beautiful?"

a. You're beautiful.
b. Huahahahhahaaha. You're funny.

“Why can’t we just be friends?”

a. Cause you are fucking beautiful.
b. Cause we are human.

“Do you wanna be more than friends?”

a. Yes.
b. Yes.

“Then I can’t see you anymore.”

"Is this what I get for taking the risk?"

"I only hear what I want to hear."

“That's ok. I’ll turn you into a movie.”

Silent.

“I hate you.”

“I love you too.”

Obama, Koil, and European Union.

Hari ini mereka bertiga berusaha menyemangati gue untuk berkarya bagi Indonesia.

Indonesia adalah bagian diri saya.

Entah politis entah tulus, yang pasti kata-kata Obama membuat banyak manusia Indonesia bangga.

Indonesia juga bagian diri saya, Mister. Sebagian diri saya berteriak menyesal. Dan sebagian lagi berusaha bersyukur.

Kita orang pintar dengan otak bersinar
Hanya butuh semangat untuk hidupi rakyat


Ah Otong. Ternyata tak hanya rambutmu yang bersinar. Otakmu juga. Membuatku jatuh hati.

Sayangnya hidup tak semudah menyanyi. Sulit merasa bersinar ketika berkali kali dirimu disebut third world country oleh mas-mas European Union ini.

Mereka akan bantuin kita, para penduduk third world country, dengan memberikan dana film financing total 15 juta euro per tahun.

Kenapa?

Karena kita orang pintar dengan otak bersinar. Siap diekspor untuk memajukan negara mereka.

vanity

Produser terkenal itu memberi gue kartu nama.

She knows my name.

I was happy.

I was always a straight A student. This part of me was always glad to get approval from the teachers.

I am so ashamed of myself.

Temen gue cantik. Temen gue ganteng.

He knows my name.

Cipika-cipiki.

I was happy.

I was a nerd. This part of me was always glad to hang out with the populars.

I am so ashamed of myself.

Why do I make movies?

She wanted to make a movie simply for 2 audiences: her parents. Yet it touched so many hearts.

He wanted to make a movie to distract people. He created characters whom people cannot relate so we won’t see into oursevelves all the time.

Why do I make movies?

The fame. The fortune. The feeling of doing something for others.

All is vanity and striving after wind.

Even making movie just for the sake of me is vanity and striving after wind.

Oh shut up and do it.

Domba-Domba Tersesat

Gereja.

Di ruangan ini gue biasa mendengar pendeta bersabda hanya Yesus satu-satunya jalan.

Di ruangan ini gue biasa mendengar putuskan pacarmu yang beda agama.

Di ruangan ini gue biasa mendengar selamatkanlah domba-domba yang tersesat.

Hari ini ruangan megah berlangit-langit tinggi ini dipenuhi dialog Cina dan Annisa. Mereka meneriakkan pertanyaan-pertanyaan yang gak pernah berani gue tanyakan dengan mulut gue sendiri.

Rencananya film ini tidak diputar di dalam gereja tetapi di ruangan kecil belakang gereja, tempat biasa para pemuda mendalami alkitab setiap hari Sabtu. Ternyata yang dateng banyak sekali.

Mungkin karena filmnya tenar. Mungkin karena murid-murid Mak Gondut terancam dapet E kalau gak nonton. Mungkin juga karena Tuhan sedang jahil.

Gue bikin film ini karena gereja tidak memberi ruang untuk gue bertanya mengapa kita diciptakan beda-beda kalau Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara.

Dan hari ini gue dikasih ruang.

The big one.

Gue berdiri di depan gereja, bercerita betapa hebatnya Tuhan yang kita sembah dengan berbagai nama dan dengan berbagai cara.

Seekor domba tersesat berdiri di samping gue sambil tertawa-tawa.

Di belakang sana another domba tersesat berjilbab menonton.

And I thank God, knowing I have no need to save them.

A Healthy Suicide

Hari ini gue mau bunuh diri. Bunuh diri in a healthy way.

Writing.

Sayangnya bunuh diri gue membosankan. Terutama karena karakternya utama ceritanya membingungkan. Dramanya gak jelas. Malu-malu. She is not interesting enough.

Berhubung script ini cerita personal gue, I learn something today about myself.

Gue membingungkan. Gue gak jelas. Gue malu-malu. I am not interesting enough.

Ingin ngotot bertahan dengan visiku sebagai sutradara muda, tapi hati kecilku bekata dia benar juga. She really is not interesting enough.

I really am not interesting enough.

Ouch.

Sekarang gue mengerti kenapa dia gak pernah bikin cerita personal. Lebih mudah bunuh diri daripada menulis jujur.

Gue berusaha mengubah karakter utama, tapi sulit menulis karakter utama yang lebih interesting sementara gue sendiri gak interesting.

Karenanya gue membuat karakter utama yang super lame. That I can do.

Anehnya, my script gets to be more interesting.

Selain lame, ternyata gue juga rempong. Gak rela membunuh all the little darlings dan memilih satu tema saja agar fokus, gue malah bikin 2 film.

1 Resign Club
2 Demi Ucok

Karakternya sama. Sama-sama komedi. Sama-sama tentang pencarian jati diri.

Yang pertama tentang passion. Yang ke dua tentang sexuality.

Lumayan booo jadi dua film. Jadi kita bisa cut ongkos pre produksi untuk produksi film ke dua kita.

Dan dua-duanya tetap personal.

Dua-duanya tetap bunuh diri.

Bunuh diri berkali-kali. Seperti Alain de Botton. Satu-satunya cara biar dia bisa nulis jujur adalah menganggap ini adalah cerita terakhirnya. Habis ini, either he is dead or his career is dead.

And you know what the scary part is?

Ternyata doi gak mati-mati juga.

Social Network

I learn more about promo and marketing watching Social Network.

Keep it simple. Keep it cool. Listen to what your audience want.

I learn more about self pride watching Social Network.

No name card. No time impressing others. Just do it and get your 250 billion.

I learn more about myself watching social network.

I will definitely choose Sean Parker over Eduardo. I will definitely choose achievement over friendship.

I will definitely be antisocial to create the largest social network in the world.


Damn.

I am scared of myself watching social network.

God, I don’t need 250 billion dollars.

I don't mind 1 billion only if I still get to keep Eduardo.

Seni

Hari ini pertama kalinya gue menonton sebuah pertunjukan teater di komunitas seni terkenal di Jakarta.

Pengen tertidur, rugi udah bayar 100 ribu. Pengen nonton, tak tahan ingin memaki.

“Give me back my 100ribu!”

Not my 100 ribu. Gue dibayarin Bang Ucok. So it’s not mine to ask.

“Give him back his 200 ribu!”

Gak bisa. Pertunjukan sudah usai. Tirai sudah turun.

Wait. No tirai di teater ini. Maklum teater dadakan di gedung serba guna.

You shut up sajalah. Masih untung ada teater. Namanya juga seni di negara berkembang.

Penyuluhan AIDS campur sinetron ini menyebut diri seni?

Gue gak ngerti apa itu seni. Tapi kalau teater inilah yang kita sebut seni,
seni menjadi kehilangan kuasa menarik simpati.

Seni itu membosankan.

Seni itu tidak bisa kupahami.

Seni itu eksklusif, hanya untuk kita yang berbudaya dan pintar.

Adakah seni untuk masyarakat bodoh sepertiku?

Aku butuh seni yang tidak sombong. Seni yang bisa membuatku tertawa. Seni yang membuatku merasa.

I need my Little Miss Sunshine.

Seni, kalau kita masih tinggi hati dan tidak mau mendengar mereka, hanya sibuk mendengar apa yang bagus di kita kita kita dan Eropa, lama-lama kita akan semakin tidak berseni.

Aku kangen karismamu, Seni.

The Day I Stop Trying

There are so many interesting people here.

A 21 year old with an Oscar.
A 30 year old with a Sundance grand jury prize.
A first time filmmaker competing for the best movie with his USD 2000 feature.
A 26 year old with 23 international awards.

This nerd inside me thinks I will look more interesting if I hang out with them.

But it doesn’t work. They are still cool. They do not mind hanging out with me. And I am still a nerd.

So I stop trying to be interesting and start to be interested in them. Not a hard job to do.

Suddenly I became more interesting.

then I wanna be me

If Ellen de Generes had to be gay to be somebody like herself, then I wanna be gay.

If Yasmin Ahmad had to be a woman to be somebody like herself, then I wanna be a woman.

If Paulo Coelho had to give himself to the devil to be somebody like himself, then I wanna give myself to the devil.

Even Your perfect Rick Warren will never take anyone who have never had a major breakdown in their life cause they will be more judgemental and have no simpathy toward us, the sinners.

You’ve got to fall apart and put it back together again.

If I have to be me to be somebody like them, then I wanna be me.

Don't See Me

Don’t see me

You will see all lies

A hopeless attempt to impress you

Knowing the moment I stop trying

Is probably the moment I get you

Or the moment I lose you

But that’s ok

Cause the moment I stop trying

At least I won’t lose myself