Senin, 18 Januari 2010

Wrong turn?

Setiap kali ada resign clubber yang berminat kembali bekerja di perusahaan yang dia tak suka demi sesuap gaji, I always have the urge to take their hand and shout.

"No! You are going the wrong way."

Atau memberi petuah kata-kata bijak mengutip Paulo Coelho.

"The darkest time of the night is when the sun is about to rise."

Atau setidaknya mendendangkan lagu Ronan Keating.

"I hope you never fear those mountains in the distance. Never settle for a path of least resistance."

Beberapa berbalik. Menolak menjual jiwa mereka demi dunia. Dan mereka tetap membuat lagu-lagu terindah di kuping gua.

Tapi kebanyakan tetap pergi menjauh, padahal pagi sudah dekat.

Dan gue tetap diam. Tidak berani membangkang alam. Maybe they have to take another wrong turn, if there was such a thing as a wrong turn.

I pray for you, my friend. May you find whatever thing you are looking for.

I'll meet you there.

Kamis, 07 Januari 2010

Happy new year, Happy new film

Hari ini draft 1 Demi Ucok selesai. Tanpa direncanakan, gue nulisnya di tepi Danau Toba. Tampaknya gue emang ada chemistry sendiri ama danau yang semakin tak berikan ini. Tanpa diajak, gue ikut nemenin kakak gue bulan madu. Hueh!

Tadinya mereka mo pegi bedua aja. Tapi terus mami inisiatif ikut serta karena mo jual tanah di Medan. Berhubung hasil jual tanah itu akan dibelikan rumah yang akan mereka tempati di Jakarta, terpaksa mami tak bisa ditolak ikut.

Tak mungkin Mak Gondut pergi tanpa asisten. Asisten mami (papi) juga ikut dibawa. Deden yang lagi di Indonesia juga diajak. Nona kecil papi gak mau ditinggal sendiri. Akhirnya kami sekeluarga berangkat bulan madu beramai-ramai hihihi=D

Sampai di Medan, kontingen Bulan Madu bertambah. Sepupu gue, si Ambo juga ikut berbagi 'kebahagiaan' cica igit. Bahkan Bulan Madu mereka ke Israel yang diundur jadi bulan April nanti berhubung Januari lagi dingin banget (I'm talking about the weatherm, not the war) pun direncanakan untuk disertai gue sebagai fotografer dan mak gondut sebagai penyandang dana.

Di sela-sela babi, ayam, babi, udang, babi, sapi, dan lemak yang kami punahkan... gue menyempatkan diri menulis Demi Ucok. Gak enak ama Bu Danti yang sudah menagih script yang seharusnya dah gue tulis sejak tahun lalu tetapi entah kenapa belum berani gue tulis. Memulai nulis selalu naro beban berat di pundak. Takut gagal. Takut garing. Takut salah. Takut bla bla bla. I thought the second one is gonna be easier.

No, it's not.

But once I get started, dalam hitungan 6 jam draft 1 Demi Ucok udah jadi. Tentunya dengan kualitas memalukan yang menjauhkan gue dari harap-harap dapet citra yang ke dua kalinya.

Oh iya. Did I tell you we get the citra for best original screenplay?

Lepas dari penyelenggaraan citra yang lebih mirip konser musik diselingi bagi-bagi piala, dan kemenangan skrip cin(T)a yang tidak lebih bagus dari Ruma Maida, gue tetep seneng dapet citra. Emak gue jadi agak tenang sedikit setelah dua tahun was was ngeliatin anaknya luntang lantung gak jelas tanpa pekerjaan bergaji tetap yang bisa dia pamerin ke tetangga. Sekarang piala citra nongkrong di ruang tamu mami. Bahkan mak Sally belum sempat liat pialanya karena keburu dimonopoli ama Mak Gondut. Pas gue mau bawa tuh piala ke kantor, doi malah merajuk dan minta perpanjangan waktu sebulan lagi... setidaknya sampai pesta kawin kakak gue. Biar Batak se-singapur dan sigumpar tahu kalau anaknya menang citra.

Gue juga bersyukur yang menang kali ini bukan nama-nama besar, tapi kami yang bukan siapa-siapa ini. Bayangin kalau Ayu Utami atau Aria yang menang.

"Ya iyalah .. ayu utami gitu lho."

That's it. Tapi kalau gue yang menang...

"ya elah script kaya gituan doang bisa menang. Yuk tahun depan kita bikin yuk."

Nah! Setidaknya jadi tambah rame kan tuh citra tahun depan. Makanya pidato kita isinya:

1) selamat kepada FFI karena tahun depan akan dibanjiri film dari wajah-wajah baru yang bukan siapa-siapa dan nekat bikin film. (sebenernya ini gak original. Kita plagiat pidato Robert Rodriguez pas menang Sundance. Dan tahun berikutnya beneran Sundance dibanjiri film-film indie sampe jurinya kebingungan)

2) masa lulusan fisika gak boleh bikin film? Undang-undangnya ganti dong, om. (Ini juga gak original. Nyadur aspirasi John Badalu, Nia Dinata, Mira Lesmana, dll)



Karenanya kami datang dari awal dengan niat kalo sampai menang, jangan sampai kesempatan emas ini dilewatin untuk thanks to-thanks to-an. Gak ada thanks to sama sekali. Soalnya waktunya cuma semenit. Tuhan dan teman-teman bisa kita ucapin terima kasih lewat berbagai media di jaman twitteria ini. Tapi ada beberapa mahkluk yang harus diteriakin di TV nasional dulu baru mau denger. Tadinya mau pake acara nangis-nangis dan pingsan biar dramatis. Tapi pas tau beneran menang, keburu grogi.

Padahal kita dah latihan lho bo. Hilang semua speech yang sudah dipersiapkan. Bahkan sweater pun lupa kubuka. Hilanglah lagi kesempatanku menipu lelaki dengan tabur pesona di TV nasional. Percuma hari sebelumnya sudah mendatangkan khusus dina dellyana untuk milihin baju yang akan gue pakai. Blink blink menyilaukan mata.

Apalah daya sweater lupa dilepas. Jadinya si blink blink gue tak terpamerkan. Untung bulu mata sudah direkayasa sempurna. Jadinya ada segelintir mahkluk yang tertipu pesona mata indah hasil jamahan dukun Anata.

Tampaknya bulu mata sudah menjadi isu besar di hidup gue akhir -akhir ini. Katanya kalau bulu mata rontok, tandanya ada yang kangen. KAlau bulu mata palsu yang rontok, adakah yang kangen padaku selain Mbak-mbak Anata?